
“Bu guru? Di sini ada soal yang belum saya mengerti, bu. Bisa dikasih sedikit contohnya? Agar aku bisa mengerjakan soal yang terakhir ini.”
Salah satu dari teman sekelasku pun bertanya dengan tampang tidak yakin. Memang benar, perasaan unik yang dihasilkan dari pemikiran yang berat sebelah itu akan bisa membuat orang merasa tidak nyaman.
“Ohhhh… Soal itu tidak terlalu rumit, kok. Oh yeah, contohnya, seperti seseorang berusaha memakai baju. Kalau seseorang punya penopang cosX dan Y yang hanya seperti itu, tidak akan ada hasil yang tidak diinginkan. Tapi, kalau kamu menggunakan ukuran yang salah sampai bentuknya, maka…”
Tanpa sengaja, mata kami pun bertemu, dan bu Ani hanya bisa terdiam, membeku. Dan beberapa detik kemudian, pipinya pun memerah.
“Yah, soal itu, enggak, itu, Ratna, kamu tidak perlu tahu soal itu. Aku, entahlah. Contoh yang aneh ini. Ah… Hahaha...!”
Ibu Ani hanya bisa tertawa hampa dan datar, tanpa sadar telah menciptakan suasana aneh di dalam kelas. Tidak sepertiku, beberapa gadis sepertinya mulai menyadari sesuatu, sepertinya mereka melipat tangan ke arah di depan dada mereka, seperti ingin menutupinya. Dan para lelaki hanya diam saja sambil melihat ekpresi wajah dari wanita yang ada di kelas ini.
Tiba-tiba, salah satu siswa dari kelas ini mengangkat tangannya.
“Bu Ani, apa itu, ada hubungannya sama laki-laki dan perempuan?”
__ADS_1
“Heee…? Pertanyaan itu...?”
Dan dalam sekejab, kelas pun terisi dengan kesunyian yang kejam.
Pengalaman yang sedang disebut-sebut ini pasti tentang seorang lelaki dan seorang gadis dalam hubungan. Tanpa memperdulikan bu Ani, yang menundukan kepalanya sambil tersipu-sipu malu, para gadis dikelas ini pun mulai mengobrol tentang para laki-laki dengan hawa yang sedang terjadi ini.
“Sudah, jangan dibahas lagi ya! Ah… Hahaha...”
Ibu Ani hanya membalas dengan tertawa hampa dan datar lagi.
Aku jujur deh, kelas ini, yah, tidak hanya diisi dengan laki-laki, tapi seluruh udara disekolah ini sudah dipenuhi dengan aroma keimutan. Tidak hanya keimutan biasa. Tapi, keimutan yang benar-benar hakiki. Ada yang bisa bantu untuk aku menjelaskannya? Hmmm… Aroma yang hanya para gadis miliki. Pokoknya, aroma keimutan ini ada dimana-mana. Sebenarnya, lebih seperti ini, aromanya memenuhi isi dadaku, sampai aku sedikit di buat gugup.
Atmosfer abnormal ini terus berlanjut selama 1 sampai 2 menit.
“Ahem, bu Ani, tolong lanjutkan contohnya dengan topik berbeda.”
__ADS_1
“Ah, okay.”
Pura-pura batuk untuk mengembalikan keadaan. Di bawah perintah Ratna, bu Ani pun kembali ke topik semula, walaupun di sini dia kelihatan seperti ingin mengubur dirinya sendiri kedalam buku yang sedang dia pegang.
“Kalau begitu, yah, akan kuberitahukan sesuatu yang penting…”
Jadi begitu. Dalam kata lain, artinya aku tidak boleh malas-malasan saat latihan mengerjakan soal. Semakin aku mengerti satu sama lain, semakin bisa kalian menggunakan kemampuan untuk mengerjakan soal sesulit itu.
“Ibu Ani?”
“Apa ada sesuatu yang perlu dipertanyakan, Aam?”
Apa yang sedang ingin aku tanyakan ya? Begitulah pertanyanku yang terlintas di dalam pikiranku. Tiba-tiba, pertanyaan itu menghilang begitu saja.
“Ehhh…? Enggak bu. Maaf, tidak ada apa-apa.”
__ADS_1
Setelah mendengar kata-kataku yang sedikit panik, bu Ani pun sedikit mengayunkan tangannya. Tapi, entah kenapa rasanya seperti ada yang sedang menatapku dari arah sudut sisi yang lain, yah memang begitu sejak kemarin.