2 Meter per Second

2 Meter per Second
Informasi Ida


__ADS_3

“Hei, kamu sudah disucikan dari roh-roh jahat oleh nenekmu, kan?”


“Disucikan? Apa maksudmu itu, Ari?”


Bentuk wajah yang polos, Novi sepertinya tidak mengerti akan hal itu.


“Iya, disucikan dari segala, dosa berat badan.”


Dengan jeda pendek, Ari pun langsung tertawa nyengir menghina.


“... Hah?”


Novi hanya mengerutkan alisnya setelah mendengar perkataan Ari.


Aku akan berkata menggantikan Novi, kedengaran dia telah muak. Bisakah kau berhenti menyebutkan tentang semuanya pada hal berbau berat badan? Sedangkan, Ari mungkin hanya sedang stress saja, cuma itu, iya kan?


“Dia benar-benar stress.”


“Aku sedikit merasa kasihan kepadanya.”


“Ini sudah jelas, parah sekali.”


Musik latar belakang yang berputar di kepalaku, dan beberapa menit yang lalu sudah menghilang, lalu aku kembali mengingat bahwa kota ini, tanpa musik latar belakang, adalah tempat yang sangat menyesakkan.


“Aam pasti kamu ini, langsung pergi ke rumah sakit, iya kan?”


“Iya, seperti biasa, menjenguk adikku.”


“Kamu harus tetap tegar dan terus berdoa ya, Aam.”

__ADS_1


Aku menatap kumpulan awan yang ada di langit lalu berbicara.


“Terima kasih ya, kalian adalah teman terbaik yang aku miliki, deh.”


Hatiku sempat sedikit sakit, pada saat memikirkan kesehatan adikku.


Secara instan, aku mencoba untuk mengingatnya, tajam, lurus, rasa sakit yang dingin seperti pecahan kaca menggores melalui punggungku lalu di tembak tepat melalui rasa hatiku dan tembus sampai ke dalam otakku sendiri.


Aku ingin mengabulkan sebuah keinginan kecil adikku itu. Keinginan itu hanya terkabul, apabila ketika aku sudah bersama dengan adikku Lia.


Setiap saat aku berpikir sesuatu mengenai adikku, apa rasa sakitnya itu berjalaran di seluruh tubuhnya, tetapi ini tidak. Ini hanyalah sebuah fakta, tidak akan sakit ketika dia melalui itu, di karena dia sudah merasa senang.


“Apa kamu saja yang menjenguk adikmu, sedangkan ibumu?”


Dan sepertinya, Ari juga memikirkan kehidupanku yang sudah akan di landa namanya bisa di bilang dilemma hati itu. Dia penuh perasaan, dan akan mengajukan pertanyaan lagi ke arahku, karena ingin tau, itu sudah pasti.


“Wah itu pasti sedikit berat dong, Aam.”


Karena ada sedikit rasa sakit yang tersamarkan ini, aku mulai menjadi terhentikan dari waktu. Aku sempat merasa sedikit sedih tentang ibuku. Hal yang aku tahu adalah waktu yang telah berlalu sejak saat itu. Aku mengenang begitu ibu membuatkan sarapan untuk anaknya dengan penuh kasih sayang.


“Ibuku selalu begitu, dia ingin memastikan kesehatan anaknya, juga.”


Dan pada saat sudah selesai, dalam perjalanan pulang dari sekolah, kami bertiga masih dalam mode membahas adikku. Ya, mereka berdua sempat sedikit sedih sih, pada saat aku menceritakan tentang kondisi adikku yang sekarang ini. Dia yang berbaring sendirian sambil melihat indahnya awan.


Pada saat memikirkan kesehatan adikku, tiba-tiba isi pikiranku pun secara perlahan tertujuh tepat kepada Ida, lalu terbayang-bayang wajahnya.


“Novi dan Ari, aku mau tanya kepada kalian?”


“Iya tanya aja, asal pertanyaan itu tidak susah.”

__ADS_1


Aku tersenyum sedikit sambil melihat ke wajahnya Novi dan berkata.


“Ah, bisa aja kamu. Hmmm… Apa di kelas kamu ada seorang murid perempuan cantik yang bernama Ida Permatasari?”


Dengan jeda yang pendek, aku pun memulai mengajukan pertanyaan, sambil bentuk wajahku yang sudah penuh penasaran dan ingin cepat tau.


“Ida Permatasari...? Murid cantik, ya? Hmmm…?”


“Ida permatasari…? Apa dia itu, yang…?”


Pada saat ini, mereka berdua yang lagi berjalan dengan santainya tersebut juga berpikir hal yang sama seperti yang aku katakan ini, mungkin karena waktu itu adalah tujuan terakhir yang mereka ingin tahu tentang dia.


“Ohhh… Aku ingat, dia itu orangnya pendiam, betul wajahnya itu cantik, putih, rambutnya hitam lurus, tubuhnya langsing, dan dadanya…”


Wajah Ari tertawa dari balik cahaya seluruh pengelihatan warna putih yang bersinar terang dari arah matanya. Itu adalah tawa yang sangat sadis.


“Ohhh… Kamu suka wanita dengan dada yang…”


“B-bukan begitu, Novi. Ini hanya perumpamaan saja, umpama.”


“Umpama saja, kok, sampai sedetailnya itu, dan kamu juga sampai menyebutkan dada segala, betul ya, ternyata laki-laki suka dada yang besar.”


“Bukan begitu maksutku, Novi. Jangan marah disini! Tidak baik.”


Kalian dengar kan, hanya permasalahan sedikit aja, mereka berdua itu selalu terlihat berkelahi, tetapi melihat bagaimana percakapan mereka selalu nyambung dengan sempurna. Aku dibuat diam, tanpa ada kata yang keluar, sambil merasa sedikit bingung tentang tingkah laku mereka berdua.


Aku menatap Novi dan Ari secara bergantian tapi, aku akan terus mengirim isyarat kepada Novi agar tetap tenang, kenapa bisa jadi begini, ya?


Atmosfer abnormal ini terus berlanjut selama 1 sampai 2 menit.

__ADS_1


__ADS_2