
Keesokan harinya lagi, yaitu hari ke tiga setelah bertemu dengan Ida.
Aku berjalan sendirian menuju ke sekolah dengan langkah kaki yang lemas lesu, aku akan melewati jalan yang sama saat awal bertemu dengan Ida.
Menggunakan seragam SMA seperti ini rapi dari atas sampai ke bawah, rambutku yang lumayan acak-acakan, sambil aku berjalan ke arah sekolahku berteduh di bawah kepakan payungku, mengingatkan aku sendiri bahwa sekolah sudah benar-benar akan segera di mulai. Dan di saat yang sama, aku melihat ke arah jam tanganku, jam enam empat puluh menit.
Saat mendekati belokan yang sudah hampir menyepit setipis gang kampung, angin kuat dari sisi belakang semakin mendorong baju seragamku.
Daun hijau yang melambai-lambai beterbangan dari barisan pohon tinggi di sisi jalan semakin menambah rasa dingin dan kegelisahan di hatiku.
Didorong embusan angin dari sisi pohon yang dapat menurunkan semangat pagiku seperti itu dari arah belakangku, hal ini juga sempat mendadak memperpendek jarak langkahku, aku keluar dari jalan sempit ini.
__ADS_1
Setelah beberapa deretan pemikiranku yang membuatku dingin karena cuaca hujan yang ada di sekitar, aku berhenti sementara. Sebuah taksi biru melaju masuk ke dalam lingkaran sebuah taman kota dan berhenti di bahu jalan, sekitar dua puluh meter dari arah sudut lain aku melihat taksi itu.
Kenapa cerita ini bisa terulang lagi? Aku melihat ke arah taksi itu lalu ke arah pohon, yang kebetulan di situ tempat saksi aku bertemu dengannya.
Dan di situlah aku tidak sengaja menangkap pandangan seorang gadis muda yang mengenakan seragam SMA yang terlihat akrab di bagian bawah pohon, dia yang bernamakan lengkap Ida Permatasari. Aku bertemu dengan Ida yang dapat membuat hatiku terguncang, rambut hitam dan elegannya. Postur berdirinya yang anggun bagaikan bunga lily, aura yang rapuh bagaikan ilusi atau mimpi. Dia telah mencuri hatiku, bahkan dari kecepatan 2 Meter per Second. Ups tunggu kecepatan itu adalah kecepatan air hujan loh ya.
Aku sempat merasakan hawa kehadirannya dari arah belakangku, rasa kangenku kepadanya masih terasa hingga sekarang ini. Dia akan berlari kearahku, aku akan berpura-pura tidak tau, lalu tangannya melingkar ke kepalaku seperti menutupi mataku, sambil dia berkata, hayo… siapa aku? Aku akan menjawab, aku kangen kepadamu Ida, sambil memeluknya erat-erat.
Kenapa aku malah senyum-senyum sendiri gak jelas gini ya ***!
Setelah sampai di sekolah, duduk bosan di bangkuku, dan menunggu pelajaran ke dua selesai. Aku sempat memikirkan untuk pertanyaannya Ida yang sampai sekarang ini belum terpecahkan. Sebelumnya aku masih belum tau arti dari, awan yang sedih itu tidak lagi menurunkan air hujannya.
__ADS_1
Mengingat buku novel yang berjudul Broken Heard on Rainy Season.
Buku yang aku baca ini adalah buku novel yang menceritakan kisah sedih karakter utama telah ditolak cintanya oleh gadis yang dia sukai.
Gak ada tuh yang namanya sedih tanpa mengeluarkan air mata, dan ujung-ujungnya si cewek akan menangis sambil berlinangkan air matanya.
Aku skip dulu lah yang pertama ini, soalnya sedikit aneh dan sulit sih. Lalu akhirnya aku akan mencoba memikirkan baris yang kedua yaitu, saat dia senang, dia tidak tersenyum, tapi mengeluarkan air matanya? Hmmm…?
Waduh! Ini lagi yang kedua malah semakin aneh. Dia senang, tidak tersenyum, tapi malah menangis. Ini mah kebalik mungkin… Pasti kebalik!
Seharusnya itu. Kenapa awan yang sedih itu masih menurunkan air hujannya, namun pada saat senang, dia tidak mengeluarkan air matanya, tapi malah mendatangkan warna-warni pelangi? Kalau itu aku pasti tau. Dan orang yang gak peka sekaligus terhadap perasaan seorang gadis mah pasti tau tuh.
__ADS_1
… Beberapa jam kemudian.
Pelajaran ke dua telah selesai seratus persen, artinya jam selanjutnya ialah jam istirahat. Saatnya bagiku untuk pergi ke kelasnya Ida. Asikkk…!