
“Bercanda. Tadi hanya lelucon. Favoritku adalah drama romance.”
“Le-lelucon... Hahaha... Benar. Tadi itu sangat mengejutkan.”
Tubuh Lia yang semula kaku menjadi santai seakan kelelahan.
“Ngomong-ngomong, Lia. Darimana kamu tahu kalau kesukaanku itu acara TV drama romance?”
“I-ituuu… Itu ummm... Ah! Benar, ada acara bagus, kak.”
Lia mengambil remot itu dengan cepat, seolah ingin melarikan diri.
Sepertinya benar, Lia tidak tau akan hal itu. Dan juga, dia tidak bisa berimprovisasi dirinya sendiri. Kalau memang begitu, aku tidak tahu seperti apa dirinya yang sebenarnya kalau selama ini dia berada di rumah sakit.
Beberapa saat kemudian, dan waktu sudah hampir sejam.
Ketika acara TV yang dia tonton sekarang ini sudah hampir selesai, Lia sudah menguap lesu dan kini duduk sambil berpegangan ke arah bantalnya.
“Te-tentang sebelumnya, saya minta maaf kepada kakak. Saat aku memikirkan tentang acara kesukaan kakak, ummm… Aku menjadi lupa diri... dan artinya... Aku sudah kehilangan kendali.”
“I-iya. Jangan terlalu banyak di pikirkan. Aku juga minta maaf. Apa kamu sudah mengantuk, bagaimana kalau kamu ganti baju saja dulu?”
“Baiklah. Akan saya lakukan sesuai perintah kakak.”
__ADS_1
Dengan bentuk wajah yang murung sambil menurunkan bahunya, Lia mengambil baju tidur untuk salin dan pergi
menuju ke kemar mandi.
Membuat seseorang mengubah dirinya sendiri itu tidak baik, itulah yang kupikirkan sekarang ini, namun aku tidak bisa membiarkannya. Karena, Lia adikku bukan orang asing di mataku, tapi dia adalah keluargaku.
Setelah Lia keluar dari kamar mandi, aku mencoba membuat dirinya lupa tentang apa yang terjadi dan memikirkan tentang topik yang umum. Tetapi, dia enggan untuk berbicara dan saat waktu terus berjalan aku tetap tidak bisa memahami perasaan Lia yang sesungguhnya.
Aku yang masih merapikan tempat tidurnya, sambil melihat pola jalannya yang sudah sempoyongan, dengan lemasnya dia menghampiriku.
Sekarang pukul delapan malam. Saat dia pindah ke bantal kecil yang berada di dekatku, dia merasa sudah mengantuk lemas, dan cepat ingin tidur.
Untuk aku sendiri, dapat terjaga hingga waktu sampai seperti ini dan selanjutnya bisa dikatakan begadang, karena sudah terbiasa tentang hal ini.
“Kamu yakin tidak mau tidur? Jam berapa biasanya kamu tidur, Lia?”
“Tidur… Jam sembilan.”
“Jangan paksakan dirimu dan tidurlah!”
“Akhirnya… Takdir... Meskipun kakak hanya mampir… Setelah kakak pulang… Dari sekolah... Aku ingin... Lebih dekat lagi... Kak...”
Bahu Lia jatuh ke arahku lalu dengan lembut kutopang.
__ADS_1
Saat bersandar pada dadaku, dia mulai tidur dengan nyenyak. Wajah tidurnya terbebas dari ketegangan dan terlihat seperti wajah anak kecil. Ini mungkin Lia yang sebenarnya, sungguh wajah yang imut kalau dia sudah tidur.
Takdir, huh. Lia juga telah mengatakannya. Aku... tidak, kita semua tidak berdaya kalau sudah dihadapan dengan kata takdir.
Seperti yang sudah kuduga dari awal, aku tidak bisa membiarkan Lia seperti ini. Aku mengelus lalu menggendonggnya dengan kedua lenganku.
Dengan lembut kubaringkan Lia ke kasur tempat tidurnya ini, lalu menyelimutinya. Saat selesai melakukan itu, aku berpikir lagi kepadanya.
Menyembunyikan buku catatan kecil yang tidak boleh dilihat orang lain adalah peraturan paling dasar oleh seorang
pria.
Aku tidak berpikir gadis kecil seperti Lia adikku melakukan hal seperti itu lagi, kuulurkan tanganku begitu saja ke bawah kasur tempat tidurnya.
Buku catatannya Lia ketemu. Ada penanda buku di dalamnya, dan hal-hal yang penting di stabilo. Lia telah menyiapkan dirinya tanpa ragu.
Pelan-pelan kutaruh buku catatanya itu ke dalam kasur. Semua sikapnya yang dia tunjukan tadi adalah diri Lia yang hampir sesungguhnya. Ketika kukatakan pretty girls heroes fruity adalah acara TV kesukaanku, bagaimana dia menunjukan ekspersi kesalnya sangatlah luar biasa.
Dia bisa melakukan semua persis seperti yang ada di buku petunjuk miliknya itu, namun sangat lemah saat dihadapkan dengan peristiwa yang tidak diperhitungkan... Itulah adikku Lia yang aku punyai sekarang ini.
Setelah selesai dan ingin lekas keluar dari ruangan ini, aku akan menghabiskan waktu sendirian dengan melihat ke arah wajahnya Lia yang manis saat tertidur lelap, sambil berdoa agar Lia adikku cepat sembuh.
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tantang keamanan ruangan ini, karena pintunya terkunci otomatis, jadi saat tengah malam tiba, aku bisa keluar dari ruangannya tanpa menimbulkan suara.
__ADS_1
Aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri, apa yang harus kulakukan tentang Lia. Meski sikapnya yang sopan dan rapi hanya di permukaan, dan bisa jadi, dia lebih sulit untuk di tangani dari sisi dalam hatinya.