
Makan malam selesai setelah sepuluh menit. Menunya adalah nasi bubur dengan tahu dan rumput laut, irisan kecil ayam goreng dan salmon asin, aku juga siapkan di akhir adalah permen coklat manis yang barusan aku beli.
Ini adalah menu yang sangat cocok dengan keadaannya yang sekarang ini. Hidangan ala orang sakit, semangkok nasi bubur dan teh hangat.
Uap putih keluar dari piring yang bertanda makanan ini masih keadaan panas, aroma yang enak menyebar ke seluruh ruangan.
“A-adik. Silakan dinikmati selagi masih hangat!”
“Kalau begitu, selamat makan.”
Dia mengucapkan dengan semangat sambil wajahnya tersenyum gembira. Setiap gerak tubuhnya sungguh imut, suasana yang damai.
“Apakah rasanya sudah cocok dengan selera kamu, adik?”
“Ini sangat enak. Kakak sudah menjadi kakak yang baik untuk aku.”
“Terima kasih banyak.”
Setelah selesai dia makan nasi buburnya, lalu aku dengan cepat membersihkan piringnya, menyiapkan segelas teh dan juga permen coklat.
“Apa kakak tidak pulang? Sepertinya kakak sudah kelelahan.”
“Tidak. Kakak maunya di sini dulu, nungguin kamu?”
“Nunggin aku melakukan apa kak?”
__ADS_1
Mungkin sesuatu seperti mengamati dirinya yang sedang tidur, aku ingin melakukan sesuatu yang biasa dilakukan kakak pada adiknya, tetapi aku takut akan menjadi kakak yang payah buat dirinya.
“Baiklah, apa yang akan kita lakukan sekarang ya?”
Terdengar suara batuk, dan hal itu bertanda mulai ada percakapan.
“Bagaimana kalau menonton TV, kak?”
Lia menekan remote dan menyalakan TV nya. Pada saat yang benar-benar pas, sebuah drama romance dimulai. Selagi lagu pembuka terdengar, pria yang lagi berpegangan tangan dengan wanita sedang melintas di pantai.
Aku bertanya pada adikku Lia dengan wajah yang menyakinkan ini.
“Adik, apa kamu suka drama romance?”
Aku mulai merasa khawatir. Bukankah menonton drama romance dengan niat mempelajarinya terasa sedikit menyakitkan? Aku merasa sedikit bersalah, tetapi akan kucoba menjadi sedikit lebih santai saja.
“Aku tidak terlalu suka dengan jalan cerita soal drama romance, sih. Acaranya itu seperti berbau percintaan dan terkadang berakhir kesedihan.”
Sesaat kemudian, cahaya dari TV telah menghilang dari pupil mata Lia dan otot di sekitar tubuhnya mulai menegang.
“T-tidak mungkin. Drama romance seharusnya adalah favorit kakak.”
“Jika memang kakak boleh memilih, aku akan mengatakan anime pretty girls heroes fruity adalah acara favoritku.”
“A-apa itu?”
__ADS_1
Ketika Lia perlahan mengerutkan dahinya seperti tidak tau, aku telah merasakan sebuah perasaaan yang kompleks datang dari nada bicaranya.
“Kamu tidak tahu, Lia?”
“A-aku tahu itu. Itu ada... ada kaitannya dengan buah, kan? Umm, armada... mobil dan pesawat, benar kan, kak? Tentang seorang gadis yang mengantarkan buah dengan mobil dan pesawat... Tu-tunggu sebentar, aku mohon, aku pasti dapat menjelaskannya sekarang juga.”
Suara milik Lia bergetar dan matanya melihat ke kanan dan ke kiri. Dia tidak menyembunyikan kerisauannya sedikit pun.
“Apa kamu benar-benar tahu tentang itu, Lia?”
“Tentu saja kakak. Sebagai seorang adik perempuan mustahil aku tidak tahu kesukaan kakak. Buktinya bahwa aku berada di sisi kakak saja sudah diputuskan oleh takdir dari roda kehidupan ini.”
Mengatakan kalau ini adalah takdir adalah terdengar berlebihan. Lia sama sekali tidak curiga kalau yang aku katakan barusan itu terasa aneh.
“Lalu, siapa yang paling Lia suka dari kelima fruity heroes?”
Jeruk yang memiliki sifat ceria, Apel adalah karakter utama yang berdedikasi, Anggur dengan tipe kakak perempuan, Persik yang bertingkah seperti anak manja dan Nanas si pengubah suasana. Saat membicarakan buah-buahan, pasti merujuk ke mereka berlima. Aku sudah tau dari bukunya, sih.
“D-durian.”
“Heee… Apa benar ada durian di kelompok itu?”
“Eh…? A-ada. Hanya kakak saja yang belum tahu tentang dia.”
Barusan, bahasa Indonesia milik Lia buruk. Kelihatannya itu membuat dirinya kesal. Akan berbahaya jika aku memojokannya lebih jauh lagi.
__ADS_1