2 Meter per Second

2 Meter per Second
Alasanku kepadanya


__ADS_3

“Karena aku sendiri tidak bisa membiarkan seorang gadis sendirian berteduh di bawah pohon, apalagi dalam keadaan yang seperti sekarang ini.”


“Kalau begitu aku mengajukan satu pertanyaan sekali lagi.”


Wajahnya yang serius memperhatikan setiap gerakan wajahku, dan sekarang perasaanku sudah di buat bingung oleh dirinya yang sekarang ini.


“Partanyaan apa lagi…?”


Kali ini aku akan menyerah dan siap menjawab dari pertanyaannya.


“Misalkan, kalau aku dengan keadaan yang sudah tidak bisa apa-apa, apa kamu masih mau menghampiri aku?”


Tunggu… Pertanyaan itu sudah di luar topik pembicaraan ini kan, dan sekarang pertanyaan itu membuatku dalam keadaan titik penentuan.


“Tidak bisa, seperti apa?”


Pada saat dia mempertanyakan sebuah hal, aku sedikit tidak mengerti sama sekali. Aku berpikir lama, sambil mengambil kata dan alasan yang tepat.

__ADS_1


Dengan jeda waktu yang sedikit lama, gadis itu menahan nafasnya, menggerakkan tangannya ke arah rambutnya tiga kali, dan karena sekarang merapikan rambutnya yang tadi berantakan, saat dia langsung melihat ke arah ku, seakan-akan dia seperti seorang putri yang sedang memarahi bawahannya.


“Sudah jangan di teruskan, kamu tidak akan bisa mengerti. Laki-laki itu sama saja, kalau dia tidak bisa apa-apa, pasti langsung meninggalkannya.”


Memikirkan hal yang tidak aku pahami lagi tentang dirinya, seperti dia sedang memiliki sebuah permasalahan yang belum terselesaikan.


“Tunggu! Tunggu! Aku jadi tidak bisa mengerti apa yang sedang kamu bicarakan itu. Tidak bisa apa-apa? Meninggalkannya? Siapa?”


“Sudah, cukup!”


Dia tiba-tiba mengeraskan suaranya begitu saja, seperti mau marah.


“Sudah, jangan di bahas lagi. Tingalkan aku sendirian!”


Setelah dia mengajukan sebuah permintaan itu. Tiba-tiba hatiku langsung sedikit perih dan terasa sakit, itu sakit sekali, seakan-akan dia telah menolak secara rasional keberadaanku yang akan bertemu dengannya.


Dia masih marah sambil bersuara yang dingin, tajam setajam pisau, menekuk tangannya. Berpose menyerang dengan dagunya sedikit terangkat, dia menatap rendah ke arahku. Mata hitamnya yang besar bersinar seperti permata hitam, memantulkan bayangan dari bulu mata panjangnya. Dalam semua ini, sepertinya dia sama sekali tidak memperhatikan wajahku.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, setelah aku berpikir dengan perasaan yang sudah tenang dan sedikit sabar. Sedikit demi sedikit aku hampir mengerti tentang pertanyaannya itu, lalu aku mengajukan pertanyaan lagi dengan serius kepadanya. Supaya pertanyaan ini akan membuat dirinya sedikit tenang.


“Ok kalau begitu, aku akan mengajukan pertanyaan kepadamu. Jika ada seseorang yang sudah terbiasa dengan keadaan yang kamu bicarakan itu, apa kamu akan bersedia menerimanya sebagai teman?”


Tanpa di sadari, dia merasa terkejut dan perlahan-lahan membuang muka dariku, lalu dia mengatakan satu kata dengan sedikit pelan.


“Teman?”


Tapi entah kenapa setelah dia mengatakan satu suku kata itu, dia mengeluarkan sedikit air mata, aku tidak tau apa dia senang atau sedih.


Dan aku akan berusaha tidak pernah tau tentang hal ini.


“Iya, sebagai teman, apa kamu mau menjadi temanku?”


Aku mengulangi sekali lagi sambil menaruh penuh kegelisahan dan ketakutan. Semua yang menjawab dengan suara kesunyian yang kelam.


Tidak lama kemudia, dia menolehkan arah kepalanya kepadaku, lalu mulai mengucapkan sebuah kata yang akan keluar dari gerak bibirnya itu.

__ADS_1


“Ohhh… Okelah kalau begitu, kamu yang memaksa, sih. Kalau kamu memang sangat ingin berteman, mungkin aku akan mempertimbangkannya.”


Ternyata gadis ini sedikit malu juga, ya. Sama sepertiku, hehehe…


__ADS_2