
Tanpa mengalihkan pandangan ke arah yang lain, alias gak tertarik sama sekali. Aku bergegas merapikan tempat dudukku, melangkah keluar kelas dengan langkah kaki santai, sambil menyembunyikan rasa kepanikanku, karena saat aku pergi mata Anita terus melihatku sampai pintu keluar.
Ini terasa menakutkan, tapi setelah beberapa detik ada keraguan, dan akhirnya aku menjaga kepercayaan. Kakiku masih lanjut jalan dengan tenang.
Akhirnya aku sudah sampai di depan kelasnya Ida, berhenti sejanak, menghirup nafas, lalu buang palan-pelan, dan terakhir menegukkan air liurku.
Namun, saat jauh mata memandang untuk melihat sekeliling kelas ini dan meninjau tempat duduk satu-persatu sambil mengingat wajahnya Ida.
Tapi, yang aku temukan hanyalah sekumpulan murid laki-laki dengan perempuan yang saling ngerumpi di sudut kelas ini, lagi. Ternyata Ida tidak ada di kelasnya, apa dia lagi keluar untuk cari makan ya? Sepertinya bukan itu deh. Begitulah pikirku sambil melihat-lihat tempat duduk yang kosong di kelas ini.
Aku merasa sedih lagi, mengeluh nafas. Kenapa Ari dan Novi juga tidak ada di kelasnya sih, aku kan bisa bertanya kepada mereka berdua saja. Gawat ***! Kenapa aku malah dibuat berlama-lama di sini ya? Aku kan sudah tau kalau Ida tidak ada di kelas ini. Dan kali ini aku seperti orang yang bodoh.
Kenapa cerita ini terulang lagi sih ***! Jadi penguntit lagi kan aku.
“Lihat bro! Anak itu datang kesini lagi”
“Dia itu lagi cari siapa sih bro? Kok kesini lagi ya?”
“Sepertinya… Dia itu sedang mencari Ida Permatasari deh bro.”
__ADS_1
“Lagi…?”
Seseorang murid laki-laki yang sama malah menghampiriku dengan tampangnya seperti orang yang ingin menginstrogasi si penguntit ini lagi.
Aku harus kabur nih… Tapi, bahaya kalau aku tiba-tiba lari, pelan aja. Membalikkan badanku, mengambil langkah awal untuk segera cabut dari sini…
“Tunggu bro! Kamu sedang mencari Ida Permatasari kan?”
Aku menghentikan langkah terakhirku. Waduh gawat nih! Kalau aku berbicara jujur kepadanya, nanti akan ada pertanyaan yang enggak-enggak.
Gimana nih! Aku akan berpura-pura untuk melihat-lihat lagi ke dalam kelasnya, sambil menghilangkan rasa curiganya itu kepadaku.
“Barusan lima menit yang lalu mereka keluar. Ada apa memangnya?”
“Gak ada apa-apa kok bro, hanya ingin ngobrol sama mereka aja.”
“Owalahhh… Yakin, benar kamu tidak lagi mencari Ida Permata sari?”
“Tidak bro… Ya udah, makasih atas informasinya ya?”
__ADS_1
“Iya sama-sama lagi bro.”
Membalikkan badanku lalu lanjut berjalan menjahui dirinya, tak lama kemudian, teman yang tadi ngerumpi bersamanya pun menghampirinya.
Aku memperpendek jarak langkahku setelah mendengarkan kicauan burung tentang informasi Ida, aku akan berpura-pura jalan sambil melirik, dan mendengarkan percakapan mereka. Tapi, yang aku dapatkan hanyalah…
“Apa dia sedang mencari Ida Permata sari?”
“Tidak kok bro. Dia sedang mencari Ari dan Novi saja.”
“Iya sih, kenapa Ida Permatasari itu selalu tidak hadir lagi ya?”
“Aku ya tidak tau sih tentangnya…”
Dan akhirnya aku memutuskan untuk berjalan ke arah perpustakaan, sambil berjalan, aku memikirkan apa yang akan kulakukan untuk selanjutnya.
Oh ya aku mulai ingat, kalau buku novel yang aku baca kemarin ada kelanjutanya. Kalau gak salah ada sekitar tiga volume, dari pada bolak-balik ke perpustakaan, lebih baik aku pinjam aja ketiga volume buku novel itu. Siapa tau, saat aku selesai membaca ketiga volume itu hingga tamat, aku bisa menjawab dari pertanyaannya Ida. Aku harap perjuanganku ini tidak sia-sia.
Tak lama kemudian, setelah selesai meminjam ketiga buku novel ini, saatnya aku mencari tempat yang nyaman dan sejuk untuk membaca buku ini.
__ADS_1