
Dan tidak lama kemudian, setelah berpikir secara jernih.
Mungkin ini adalah hari dimana waktu akan terus melambat dan waktu ini ialah yang sangat mengasikkan untuk memulai obrolan saat kejadian kemarin lalu, yaitu saat aku di perpustakaan. Sekumpulan cewek yang ada di belakangku menggosipin Anita tentang kalau dia tidak suka sama cowok.
Tapi, sebelum itu aku sendiri akan mencoba untuk tetap tenang membahas tentang gosip itu, apa benar kalau dia menolak cintanya cowok?
Sepertinya, aku berpikir bahwa jika Anita tampak terlalu serius, itu akan menyusahkan bagi diriku. Jadi, aku mencoba untuk berbicara tentang hal sesuatu dengan ringan. Tapi, Anita apakah bertekad mendengarkan hal itu.
Aku memegang ke arah dagu dengan tangan dan berkata mendalam.
Dan aku harap topik kali ini, Anita akan menganggapku ada, yaitu…
“Ngomong-ngomong sejak dari kemarin... Oh ya, ini gak terlalu penting sih... Beneran, kamu baru saja menolak cinta seorang cowok, Anita?”
“Kenapa aku harus dengar semua ini dari kamu sih?”
Anita menata rambut poninya yang telah masuk dari dahinya, lalu menatapku dengan mata hitam bercahayanya. Ampun deh, daripada gak berekspresi sama sekali, ekspresi marah ini kayaknya lebih sering keliatan.
Asik…! Akhirnya Anita bicara padaku, pikir diriku dalam kesenangan.
“Apa si Ratna yang menceritakan itu kepadamu? Ampun deh, aku gak percaya sekelas sama si idiot itu lagi, bahkan saat awal aku masuk sekolah SMA ini. Dia bukan semacam emak-emak yang suka gosip, kan?”
“Kayaknya engga, deh.”
Pikirku dalam keyakinan sambil menggelengkan kepalaku.
“Aku gak tau kamu dengar dari siapapun itu di sekolah ini, tapi gak masalah sih buatku. Lagian sebagian besar itu emang benar.”
“Bukannya ada orang di luar sana yang pengen kamu pacarin serius?”
__ADS_1
“Gak ada satupun!”
Penolakan si Putri Es Anita total kayaknya jadi mottonya setiap hari.
“Lah, emangnya kenapa Anita?
“Semuanya goblok. Pokoknya aku gak bisa pacaran serius sama cowok. Tiap orang pasti ngajakin ketemuan di stasiun kereta pas hari sabtu, trus pasti pergi nonton, ke taman hiburan, atau ke tempat game. Pertama kalinya makan bareng pasti makan siang kencan, terus buru-buru ke kafe buat minum teh. Sore hari, mereka pasti bakal ngomong, sampai besok lagi ya say!”
“Aku pikir itu nggak ada yang salah sih!”
Pikirku secara pribadi, itu adalah hal yang normal. Tapi aku gak berani bilang keras-keras. Kalau Anita bilang itu jelek, maka, pasti jelek buat dirinya.
“Terus, bila gagal, cowok bakalan nembak lagi lewat telepon. Apa-apaan tuh! Ini subjek serius, paling engga bilang langsung hadap-hadapan!”
Aku bisa bersimpati sama mereka, sabar ya bro, memang anaknya kayak gini. Bikin pengakuan penting buat cowok, paling tidak seperti itu ke seseorang yang melihatmu seakan-akan kamu itu cacing, mungkin membuat siapapun merasa gelisah. Cowok hilang keberanian pas ngeliat ekspresi kamu! Aku membayangkan apa yang cowok pikirkan saat aku merespon Anita.
“Hmm…? Kamu ada benarnya juga, ya Anita. Kalau aku sih, bakal ngajak tuh cewek keluar, terus cari tempat yang nyaman sekaligus yang sepi, paling tidak di bawah pohon rindang, lalu aku ngomong langsung ke dianya.”
Anjir… Dia langsung ngomong gitu... Apa aku salah ngomong lagi, ya?
“Masalahnya, apa semua cowok di dunia itu makhluk bego, Anita? Aku keganggu terus sama pertanyaan ini sejak kamu marah sama cowok itu.”
“Haaa… Iya semuanya pada bego.”
Sekarang Anita malah makin baik, kan! Buktinya dia tadi tersenyum.
“Terus Anita, cowok macam apa yang kamu anggep menarik di matamu? Apa memang harus seperti makhluk alien atau makhluk halus?”
“Mau alien kek atau yang semacamnya apa itu, makhluk halus kalau gak salah, yang penting dianya normal. Bisa cowok dan juga bisa cewek.”
__ADS_1
“Kenapa sih kamu ngotot banget sama yang selain manusia?”
Waktu aku mengoceh tentang itu, Anita melihat remeh padaku.
“Abisnya manusia itu sama sekali nggak asik!”
“Itu... Mungkin kamu ada benarnya juga.”
Bahkan aku pun tak bisa membantah pemikiran Anita, kalau memang murid terpintar yang manis ini setengah manusia atau setengah alien, bahkan aku sendiri pun bakalan nganggap itu keren. Sumpah keren gilanya nih cewek.
Tapi gak satupun yang mungkin, gak ada alien, pejelajah waktu, atau kekuatan supranatural eksis di dunia ini. Oke, misalnya hal itu ada. Mereka gak bakalan muncul gitu aja ke depan rakyat rendahan macam kita dan ngomong.
“Hallo Anita, aku sebenarnya alien juga loh.”
“Makanya lebih baik kamu diam saja. Ok!”
Anita tiba-tiba berdiri, mengakibatkan aku seketika malah ikut berdiri juga, karena aku terkejut saat melihatnya bertingkah seperti itu.
“Anita? Kamu mau pergi kemana?”
“Mau ke kelas lah. Jam istirahat sudah selesai, bego.”
“Oh iya…”
Mengemas bukuku, lalu aku mengikuti Anita dari arah belakangnya.
Anita yang masih berwajah marah yang lumayan kehabisan nafas, buru-buru masuk ke kelas. Ketika dia melihat seluruh kelas sedang melihat Anita yang sedang berdiri tegak, dia mengepalkan tangan, matanya menatap langit-langit, dia jadi sama terkejutnya dan hanya berdiri disana.
Anita langsung duduk lalu memelototi sudut mejanya.
__ADS_1
Dia mengulangi dirinya lagi, dan suasana kelas akhirnya kembali normal seperti biasa walaupun suasana macam ini sangat dibenci Anita.
Mungkinkah hidupnya memang seperti itu? Sepertinya jangan ya!