2 Meter per Second

2 Meter per Second
Putri es


__ADS_3

“Ting…! Ting…!”


Itu bertanda bahwa istirahat pertama ini sudah dimulai dari sekarang.


Dalam sekejap mata, keraguan yang ada di dalam kelas pun perlahan-lahan menjadi keheningan yang tentram, aku yang sudah dalam mode wajah kering sambil membungkukkan badan karena lesu, sebab ini sudah masuk jam istirahat siangku, perutku berbunyi dan isi kepalaku yang ingin makan.


“Huh… Sudah di mode laparku nih.”


Mengambil sesuatu yang ada di dalam tasku, mengeluarkan bekal kotak makan dan minuman teh kotak yang baru saja aku beli di kantin.


Aku melihat pelan ke arah teman sebangkuku yang jauh di depan, dia yang sedang membaca seperti sebuah buku di mejanya di bawah sinar matahari, ketika dia dengan diam menyedot susu kotaknya dengan ekspresi bosan dan aura yang kelihatan seperti dia bilang, sudah tinggalkan aku sendiri!


Namun seorang teman sebangkunya yang sangat pemberani datang dan menepuk dia dari arah belakang pundaknya dengan sedikit keras.


“Hei, Anita… Apakah sekarang kamu punya waktu?”


Dia itu yang bernama Ratna Cristin. Jadi, dia akhirnya akan melakukan itu, seluruh kelas sekarang menatap dari arah belakang dengan penuh takut.


“Kenapa mukamu serius seperti itu…? Hei! Anita?”

__ADS_1


“Tidak ada apa-apa. Tolong tinggalkan aku sendiri!”


Dia mengucapkan dengan nada sedikit keras sambil memakai ekspresi serius seperti biasanya. Sudah aku duga, dia akan mengucapkan seperti itu.


“Apa kamu sedang marah? Hei! Anita?”


“Sudah kubilang. Aku ini, tidak marah.”


Walaupun orang di depanku ini berkata begitu, aku tetap saja tidak memalingkan mukaku ke arahnya, dan kalaupun mataku sendiri tidak sengaja bertemu, dia akan melihat ke arah lain dengan panik. Hmmm… Kalau bukan karena ekspresi marahnya, aku yakin dunia ini penuh dengan kedamaian.


“Ya sudah Anita, Ah… Hahaha...! Aku pergi ke kantin dulu.”


Dia hanya menjawabnya dengan tampang yang datar sambil serius melihat buku yang sedang dia baca itu, sungguh jawaban yang menyakitkan.


Dan tidak lama kemudian, Ratna pun pergi dengan membawa wajah yang penuh kekecewaan sambil menyembunyikan ketidak senangannya.


Setelah aku selesai meminum tehku dan akan segera membuka bekal makan, aku di sugukan oleh suara yang tidak sedap yang masuk ke telingaku.


“Liat liat, dia si cewek terkenal.”

__ADS_1


“Sepertinya dia itu anaknya kepala sekolah, tahu.”


“Huh… Jadi, dia itu anaknya kepala sekolah, ya? Apakah dia pintar?”


Hari ini sama seperti biasanya. Gadis-gadis itu tetap menjaga jarak darinya, dan membentuk lingkaran disekeliling mereka, seperti ngerumpi.


Seperti yang dia rasakan sekarang, ini sudah hampir terlalu kelewatan. Keberadaannya pun terperangkap di dalam sebuah kurungan, seperti seekor panda yang menarik perhatian orang lain di kelas ini, masih jelas bentuknya yang terlihat indah tapi, sifatnya masih samar transparan.


Meletakkan minumanku, lalu aku akan menghampirinya, dengan awal kakiku yang penuh keraguan, bersaling sapa dengan gadis teman sekelasku itu.


“Ehemm…! Hallo… Yuanita…?”


“Jangan panggil aku dengan namaku! Sok akrap kamu.”


“Kalau begitu, Angraini…?”


Kalau dia melarangku memanggil dengan namanya, akan kupakai nama keluarganya saja kali ya. Kali ini, dia hanya bisa diam. Ternyata dia memang masih tidak ingin dipanggil dengan nama keluarganya, huh? Lagipula, nama itu punya sejarah yang cukup panjang loh.


“Ya sudah, Anita. Bolehkah aku duduk di sini?”

__ADS_1


Dia hanya mengeluh nafas saja tidak ada jawaban, sungguh kejam.


__ADS_2