2 Meter per Second

2 Meter per Second
Kenapa


__ADS_3

Aku melihat ke awan sebentar sambil jalan pelan, waduh sepertinya hari ini akan turun hujan lagi, pikir diriku dalam kesedihan, dan tiba-tiba…


Aku tidak sengaja menangkap seorang gadis dari sudut kejauhan, dia berada di taman sekolah dan terlihat akrap di bawah pohon sambil membaca.


Aku melangkahkan kakiku secara pelan-pelan sambil melihat dengan jelas ke arahnya, sekelebat deretan pemikiranku pun bertanya sesuatu.


“Buset… Kenapa Anita ada disitu ya?”


Walaupun aku sudah mengetahui dia itu Anita, tapi kenapa kaki ini tidak mau berbelok, bahkan sudah aku peringatkan untuk cari tempat lain.


Tapi, aku ingin di sana, karena di sana adalah tempat duduk favoritku.


Bentuk wajah Anita sangat datar tanpa ekspresi sambil membaca bukunya, fitur wajahnya yang tepat, helaian rambut hitam legamnya yang hampir menyerupai seorang laki-laki, dan khususnya auranya yang sangat kuat… Dia sangatlah independen, pendiam, tetapi sangatlah sulit untuk menyembunyikan kehadirannya yang bersifat dingin dan bermartabat.


Sifat dingin ialah salah satu perwujudan seorang gadis pendiam dan tanpa ekspresi yang bernama Yuanita Angraini, atau lebih bisa disapa Anita.

__ADS_1


Aku mengetahui bahwa itu adalah dirinya, hanya dalam pandangan pertama dari sudut kejauhan ini. Momen dimana aku pertama kali melihatnya, aku tak bisa mengontrol langkah kakiku yang bergemetar kencang.


Aku melihat sekeliling taman ini, ternyata dia sendirian.


Saat aku sudah masuk di zona duduknya Anita, aku pun menyapanya sambil melambaikan tangan, dan berkata manis kepadanya.


“… Hallo, Anita?”


Dia tidak mengalihkan pandangannya dari bukunya itu dan tetap menghiraukanku yang sudah lama berdiri sambil menunggunya untuk segera menyapaku, seakan-akan aku ini seperti seekor lalat yang tidak menarik di matanya. Anita tolonglah meliriklah sebentar saja kepadaku agar aku senang!


“Buku Broken Heard on Rainy Season yang ke dua…?”


Buku yang aku baca ini adalah kelanjutan dari buku novel yang pernah aku baca sebelumnya, tapi cerita di volume kedua ini menceritakan tentang si karakter utamanya ingin menyelamatkan gadis yang dia sukai.


… Beberapa menit kemudian.

__ADS_1


Tuh kan pasti isi buku ini ujung-ujungnya malah, si cowoknya yang terluka. Kampret! Kenapa aku malah ikutan terbawah emosi sih lagi ***! Dan hingga sekarang ini, aku masih belum menemukan arti dari pertanyaannya.


Aku mulai sedikit bosan dengan buku yang aku baca ini, seakan-akan kata-kata buku ini terus masuk ke dalam pikiranku tanpa henti, memenuhi pikiranku hingga sulit untuk aku kendalikan, dan akhirnya aku sedikit ngantuk.


Sebelum hal itu terjadi kepadaku, aku melihat ke arah Anita sebentar. Tiba-tiba, pikiranku yang ngantuk pun langsung menghilang entah kemana.


Melebarkan mataku begitu saja, seperti melihat hal yang sangat luar biasa yang ada di depan mataku. Anita masih tetap membaca bukunya tanpa ekpresi bosan sedikitpun, ataupun merubah tempat duduknya yang sekarang masih memegang bukunya sambil melipat kakinya yang anggun itu.


Seakan-akan bukunya itu adalah teman satu-satunya yang dia miliki. Ini sangat luar biasa, iya ini sangat luar biasa. Pikir diriku dalam keheranan. Aku saja yang membaca buku selama lebih dari 30 menitan aja sudah bosan.


Ini… Sebenarnya ini lebih serius dari yang kukira selama ini…


Ini… Bukan! Karena aku yang terlalu percaya diri, tapi faktanya, aku benar-benar bisa merasakan kalau ada hawa yang sangat mengasikkan di sini.


Lagipula, tempat dudukku kali ini sangatlah menyenangkan. Karena tempatku dudukku kali ini sedang melihat ke arah wajahnya Anita secara langsung, melihat bentuk wajahnya yang serius memperhatikan bukunya.

__ADS_1


__ADS_2