A Flavour to Love

A Flavour to Love
4-2


__ADS_3

TING!


Bunyi bel pertanda pesanan telah siap berbunyi.


"Pesanan meja nomor 12,” Suara nyaring dari Luna membuyarkan lamunan salah satu pelayan yang sedari tadi suntuk menunggu latte art bergambar daun khas Leafy Coffee Shop.


"Kau nyaris membuatku tertidur menunggu pesanan ini Luna-san," Ledek pelayan itu. "Kau kan tahu siapa penghuni tetap meja 12."


"Maafkan aku Momo-san, aku tidak dapat membuat pesanan meskipun ia adalah tamu eksklusif sekalipun.” Luna tersenyum sedikit menunjukkan deretan giginya yang putih dan tersusun rapi serta menyerahkan secangkir besar leafy latte art dan chocolate muffin kepada Momo, salah satu rekan kerjanya. "Aku membuatkan pesanan berdasarkan urutan, tak bisa menyela."


"Ya sudahlah," Momo mengangkat bahu dan tersenyum memegang nampan yang diserahkan Nata padanya. "Kau yang rugi tidak punya kesempatan berbasa-basi dengan Tuan Muda pemilik Matsumoto Global Group yang di depan itu."


"Ya...ya...ya...," Luna memutar bola matanya setiap kali teman-temannya membicarakan sosok Daichi. Ia masih kesal dengan tip sebesar lima puluh ribu yen kepadanya. Ia memutar kembali memorinya ketika mengembalikan uang tip yang terlalu besar itu.


Menjelang tutup cafe dua hari lalu Luna memberanikan diri untuk menghampiri Daichi yang masih sibuk dengan laptopnya. Duduk berhadap-hadapan dengan Daichi membuatnya sedikit gugup. Bagaimana tidak, lelaki yang ada di hadapannya benar-benar menyaingi Dewa Yunani yang terkenal dengan kesempurnaan fisiknya yang tampan. Mengapa bisa ada makhluk sesempurna ini Tuhan? Tampan, fisik yang atletis, kaya dan cerdas. Hanya sayang..., brengsek dan tidak menghargai wanita!


"Sudah puas memandangiku Nona?" Suara rendah dari Daichi mengejutkan Luna.

__ADS_1


"Ti...tidak," Luna memasang wajah datar dan dingin andalannya. "Saya hanya ingin mengembalikan uang yang dititipkan anda kepada Kei-san untuk saya. Rasanya jumlahnya terlalu besar untuk disebut uang tip." Ia pun menyodorkan uang tersebut kehadapan Daichi.


"Memangnya tidak boleh jika saya memberikan tip sebesar itu?" Daichi memutuskan menghentikan urusannya dengan laptop dan menatap langsung kearah Luna. Senyum andalannya tak luput dari bibirnya. "Itu adalah bentuk ucapan terima kasih saya karena telah memberikan jalan keluar mengenai masalah yang dulu. Jadi rasanya kau tak perlu mengembalikannya karena uang itu adalah hakmu."


"Saya tidak merasa berjasa sebesar itu," Luna tak kalah tajam membalas tatapan mata Daichi. Meskipun lelaki ini tampan, jika sudah berkaitan dengan harga diri Luna yang merasa diinjak-injak seolah semua perempuan gampang terpesona dengan apa yang dimilikinya, Luna pastikan bahwa pemikiran itu sempit dan tak ada gunanya untuk gadis itu. Percuma tampan fisik tapi tidak diikuti attitude yang tampan pula, itu prinsipnya sejak dulu. Kau dan Kirana benar-benar cocok sebagai sahabat tahu! "Saya memang tidak sekaya anda sehingga dapat menghamburkan uang sebesar itu. Tapi saya masih mampu mendapatkan uang sebesar itu dengan menjadi barista di sini. Permisi!"


Luna segera meninggalkan Daichi yang tetap tersenyum meskipun ia telah bersikap kurang sopan pada lelaki itu. Jika tidak seperti itu urusannya dengan sang tuan muda akan terus berlanjut dan sudah pasti akan merepotkan untuknya.


***


"Istirahatlah sebentar dan segera bersiap-siap untuk pulang, bukankah besok kau ada ujian?" Ucap seseorang di belakang Luna. Tak ayal ia pun menoleh dan mendapati Kei tersenyum lembut kepadanya.


TING!


"Pesanan meja nomor 20!"


Luna melepaskan apron putih yang dikenakannya sedari tadi dan hendak beristirahat di ruangan yang telah disediakan khusus staf untuk beristirahat. Namun langkahnya terhenti ketika tangan Momo menahannya.

__ADS_1


"Kau mau kemana?" Tanya Momo.


"Aku mau istirahat sebentar di dalam dan berbenah sebelum shift-ku selesai, kenapa?"


"Ini terimalah," Momo menyerahkan secarik kertas yang dilipat kecil kepada Luna.


"Apa ini?" Luna mengernyitkan alisnya pertanda ia tidak mengerti.


"Entahlah," Momo mengangkat bahunya. "Yang pasti titipan dari meja 12."


Mendengar ucapan Momo membuat firasat Luna menjadi tidak enak. Ia pun segera membuka lipatan kertas itu dan membacanya. Matanya membulat sempurna ketika membaca satu persatu huruf kanji yang tertulis di dalam kertas tersebut. Ia pun sempat menoleh kearah meja 12 dan mendapati lelaki yang menempati meja tersebut tersenyum penuh arti kepadanya. Benarkan dugaannya...


"Apa isinya?" Tanya Momo penasaran.


"Bukan hal yang penting." Luna dengan sengaja mengangkat kedua tangannya seolah memberikan kode kepada lelaki itu dengan merobek dan meremas kertas itu serta membuangnya ke tempat pembuangan sampah. "Aku ke dalam dulu untuk bersiap-siap pulang."


Tanpa Luna sadari tatapan tajam menatap kearahnya, tepatnya kearah seonggok kertas yang sedang santai dibuang oleh Luna. Sialan! Umpatnya dalam hati. Ia menyeringai. Nampaknya targetnya kali ini cukup membuat harga dirinya sebagai lelaki yang selalu mendapatkan keinginannya sedikit terluka.

__ADS_1


***


__ADS_2