
Sebuah cafe bergaya minimalis berada di tengah-tengah kota Tokyo yang padat. Dengan konsep jendela-jendela kaca berukuran besar berpadukan tembok dan sekat tertutupi kayu berplitur coklat muda serta tanaman-tanaman hijau dan bunga-bunga yang tertata apik, membuat kesan tradisional dan modern cafe tersebut berpadu menjadi satu. Di salah satu sudut dalam cafe, seorang pemuda tampan berpenampilan kasual dengan kemeja putih lengan panjang yang tidak dikancingkan hingga atas berpadu cardigan berwarna hitam dan celana bahan berwarna abu-abu serta sangat serasi sepatu berbahan kulit British Style Men's Board berwarna abu-abu tua yang dikenakannya membuat banyak dari pengunjung cafe yang lebih dominan bergender wanita diam-diam mencuri pandang ke arahnya untuk mengagumi salah satu ciptaan-Nya yang sempurna. Namun rupanya tatapan-tatapan itu tak mengganggu aktifitasnya yang sibuk berkutat dengan laptop di hadapannya seolah hal tersebut sudah biasa ia alami. Pemuda itu tak lain adalah Daichi Matsumoto.
Tak terasa sudah dua jam ia duduk di cafe favoritnya itu. Daichi menghentikan sejenak aktifitas mengetiknya dan menghempaskan tubuh atletisnya ke punggung sofa. Ia melakukan gerakan stretching ringan untuk kepala, kedua tangan dan punggungnya. Setelah berkutat untuk menyelesaikan pekerjaan kantor yang sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai sang pewaris Matsumoto Global Group dengan laptop andalannya, ia memutuskan memberikan jeda untuk tubuhnya beristirahat. Sepertinya habit para pewaris keluarga kaya ini adalah sama, serius dengan pekerjaan perusahaan dan tak pernah berpisah dari laptop. Tanpa ia sadari dua gelas latte ice, sepiring tiramisu cake, dan sepiring red velvet cake yang menemaninya telah tandas tak bersisa.
"Mau tambah Niisan?" Seorang lelaki berkacamata yang tampak berusia awal tiga puluhan dengan perawakan sedang berpakaian sweater berwarna coklat susu menepuk pundak Daichi.
Daichi menoleh kearah sosok itu. "Kei, kau mengagetkanku saja...," Ia pun mengelus dadanya untuk menetralkan detak jantungnya yang berdebar-debar karena dikejutkan dari lamunan sejenaknya.
"Sepertinya asyik sekali berkutat dengan pekerjaanmu," Kei duduk dihadapan Daichi sambil menatap dokumen dan buku-buku yang tertumpuk tak beraturan diatas meja. "Seharusnya kau mengerjakannya di kantor, bukan di cafe seperti ini."
"Jadi kau mengusirku?" Daichi terkekeh pelan. "Nanti omsetmu berkurang lho, kalau aku tidak ada...," Ia menunjuk kearah para wanita yang tertangkap basah sedang memperhatikannya dengan dagunya.
"Bukan begitu Daichi," Kei menghela napas. "Aku sih senang-senang saja, sejak kedatanganmu kesini omsetku naik drastis karena banyak para gadis dan karyawati kantoran yang datang kemari hanya untuk melihatmu."
Siapa yang tidak terkagum-kagum dengan wajah tampan milik Daichi, perpaduan gen yang sempurna kedua orang tuanya membuatnya begitu menarik perhatian kaum hawa. Bahkan Kirana pernah mengungkapkan seandainya dirinya bukan kakaknya mungkin ia bisa saja jatuh cinta. Ada-ada saja pemikiran konyol adiknya itu. Ia bisa dicap incest jika berani melakukannya. Membayangkannya saja membuat bulu kuduknya merinding. Ia akui dirinya posesif kepada adiknya itu, tapi itu karena rasa sayangnya kepada adik semata wayangnya mengingat ibunya benar-benar mempertaruhkan nyawanya hingga nyaris mengalami pendarahan hebat yang dapat berujung kematian demi kelahiran adik cantiknya itu. Baginya, keluarganya tersebut adalah harta yang paling berharga.
"Wah, seharusnya kau memberiku gaji nih," Canda Daichi. Ia kembali terfokus dengan laptop dihadapannya untuk segera menyelesaikan semua tugasnya. Ia tak mau dicemberuti oleh adik kesayangannya karena tidak makan malam di rumah. Terlebih lagi hari ini adalah jadwal sang adik membuat makan malam, sudah pasti makanan lezat yang akan dihidangkannya dan ia tak ingin melewatkannya.
KLINTING!
Terdengar suara lonceng pintu cafe pertanda bahwa ada seseorang yang masuk. Seorang gadis manis berambut kuncir kuda dan berperawakan mungil sekitar 158 cm berjalan menuju ruang ganti pelayan. Tampak kepulan asap putih berkumpul di hidung dan bibir mungil gadis itu seolah gadis itu baru saja menyelesaikan lomba lari marathonnya.
"Kau terlambat Luna-chan." Tatapan Kei sang pemilik cafe mengarah ke belakang Daichi menggelitiknya untuk ikut menoleh.
__ADS_1
"Maafkan saya Kei-san!" Gadis bernama Luna itu menunduk untuk meminta maaf atas kesalahannya. "Dosen saya hari ini memberikan tugas yang banyak kepada saya sehingga saya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya." Ia memasang wajah memelas untuk mendapatkan maaf dari pemilik cafe yang baik hati itu.
"Baiklah, kau kumaafkan," Kei menghela napas, ia mengakui dirinya kalah telak. Gadis manis itu telah membuatnya tak berkutik sejak kedatangannya melamar pekerjaan sebagai salah satu barista ditempatnya. Sifat tenang dan apa adanya serta kemampuan meramu kopi yang dimiliki Luna telah membiusnya, atau tepatnya telah membius seluruh pegawai yang bekerja di cafe itu. "Sekarang cepatlah kau ganti pakaianmu dengan seragam, banyak tugas sudah menantimu."
"Siap Bos!" Ucap Luna mantap dan segera berlari menuju ruang ganti. Senandung kecil terdengar dari bibirnya.
"Siapa dia? Kok aku tidak pernah tahu ada anak seperti dia yang bekerja di cafe ini?" Tanya Daichi penasaran. Sejak kedatangan gadis itu entah mengapa dirinya mendadak kaku seolah seluruh aura yang dimilikinya tersedot oleh sang gadis. Gaya kasual dengan kaos turtleneck putih lengan panjang garis-garis horizontal berwarna hijau terang, jaket ber-hoody hijau tua sangat serasi dengan skinny jeans hitam serta sepatu boots hitam tak berhak tinggi berbahan kulit setinggi betis, sangat cocok dengan wajahnya yang manis. Manis? Hei, sejak kapan ia bisa mengucapkan kata-kata itu?
"Kenapa? Kau tertarik padanya?" Goda Kei dengan seringai jahilnya.
"Umm..., mungkin," Daichi mengangkat bahunya cuek.
Senyum Kei mengembang kemudian berkata, "Gadis itu salah satu pegawai baru andalanku."
"Hahahaha, sungguh aneh pertanyaanmu, kau kan baru pulang dari Inggris dan sudah cukup lama tidak ke tempat ini, wajar jika kau tak tahu," Tak pelak gelak tawa Kei membahana di seluruh penjuru cafe membuatnya menjadi pusat perhatian. "Ups, sepertinya aku terlalu berlebihan, sumimasen (maafkan saya)...," Ia yang menyadarinya segera memberikan senyum komersil level tertinggi untuk membuat pengunjungnya tidak kabur keluar melihat sikap bodohnya tadi.
"Dasar bodoh!" Kali ini giliran Daichi yang meledeknya
"Hei, dilarang mengatai sahabatmu dengan kata 'bodoh'!" Protes Kei.
"Ceritanya kapan-kapan saja ya," Daichi melihat kearah jam tangan berwarna hitam yang melingkar modis di pergelangan tangan kirinya kemudian beranjak dari duduknya dan menyerahkan beberapa lembar uang untuk membayar makanannya beserta deposit agar ia tidak bolak-balik ke meja kasir dimana setiap pelayan perempuan yang menjaga di sans selalu berusaha menarik perhatiannya. Ia yang sudah selesai merapikan laptop, dokumen-dokumen dan buku-buku tebal miliknya tadi ke dalam tas punggung hitamnya memutuskan pulang ke rumah. "Aku harus segera pulang sebelum adikku yang cantik itu berubah menjadi sangar!"
"Dasar sister complex!"
__ADS_1
"Dasar Om-om mesum!" Daichi menjulurkan lidahnya meledek seraya keluar dari cafe menuju Lamborghini Reventon Roadster merah miliknya.
"Aish, dasar bocah itu...," Dengus Kei kesal sambil melipat kedua tangannya.
"Sepertinya lelaki itu akrab sekali denganmu?" Tanya Luna yang tiba-tiba saja telah berdiri di belakang Kei membuatnya terkejut bukan kepalang seolah ia sedang menerima karma telah melakukan hal yang sama dengan Daichi tadi.
"Luna-chan, kau mengagetkanku!" Kei mengusap-usap bagian dadanya untuk menenangkan detak jantungnya yang mendadak berdetak kencang karena kaget.
"Kei-san saja yang tidak memperhatikan sekitar," Ujar Luna pendek. "Aku baru tahu kalau Kei-san memiliki teman seperti itu."
"Maksudmu aku aneh memiliki sahabat sekeren dan sekaya dia Luna-chan?"
"Aku tidak mengatakannya ya...," Jawab Luna cuek sambil fokus merapikan tumpukan piring dan gelas kotor yang ditinggalkan Daichi.
"Dia itu..., apa ya?" Kei mengerutkan dahinya sedang berpikir keras untuk mengungkapkan kata-kata yang harus diucapkan untuk memberikan penilaian terhadap Daichi. "Dia itu seorang pangeran!" Ia menyengir kearah Luna.
"Kei-san ini bicara apa? Mana ada pangeran di dunia ini," Luna menghela napas menunjukan ketidaksetujuannya. "Pangeran itu adanya di buku dongeng. Paling juga hanya anak orang kaya manja yang mengandalkan kekayaan orang tuanya." Ia sempat melirik ke arah Daichi yang baru saja memasuki mobil mewah model sporty yang terparkir di pinggir jalan. Sejak lima bulan lalu ia mulai bekerja di cafe tersebut, ia sudah sering kali melihat mobil itu terparkir di depan cafe seolah tempat itu adalah hak milik yang tak boleh diganggu gugat oleh siapapun. Yang ia dengar dari teman-teman kerjanya, lelaki itu adalah CEO dari gedung megah yang tepat berdiri kokoh di depan cafe ini. Yah..., orang-orang seperti Daichi bukanlah kelas yang dapat dimasuki olehnya, jadi untuk apa mengurusi hal yang tidak mungkin dan tidak penting. Lebih baik ia mengurusi dirinya sendiri yang sudah cukup banyak memiliki masalah.
"Jangan begitu Luna-chan, dia benar-benar seorang pangeran," Lanjut Kei sambil tersenyum. "Hanya saja minus kelakuan playboy-nya."
"Terserah Bos sajalah," Luna mengangkat kedua bahu mungilnya sambil membawa gelas dan piring kotor yang baru saja ia pindahkan ke dalam nampan dan membawanya masuk ke dapur untuk dibersihkan.
***
__ADS_1