A Flavour to Love

A Flavour to Love
11-2


__ADS_3

"Aku pulang..."


"Selamat datang, Daichi-nii!!" Kirana segera memeluk kakak tercintanya itu untuk menyambut kedatangan Daichi.


"Wah, tumben kau jadi manja begini? Pasti ada maunya kan?" Daichi mengacak-acak rambut Kirana.


"Memangnya aku tidak boleh manja dengan kakakku sendiri?" Kirana mengerucutkan bibirnya. "Aku kan sudah lama tidak makan malam berdua dengan Daichi-nii, kita berdua itu meskipun hidup satu atap tapi benar-benar tidak seperti satu atap. Nasib golongan darah B, apatis satu sama lain karena sibuk dengan urusan masing-masing."


"Kau tahulah sendiri, kesibukanku seperti apa...," Daichi melonggarkan dasinya dan duduk di sofa. Kirana menyusul sambil menyodorkan orange juice favorit mereka berdua. "Terima kasih."


"Ne, Daichi-nii, apakah tidak berat menjadi CEO?" Tanya Kirana takut-takut.


"Tumben sekali kau menanyakan itu?" Daichi menaikkan sebelah alisnya memandang wajah ayu adiknya yang sedikit mendung.


"Tidak apa-apa hanya saja..., aku merasa jadi orang paling egois di keluarga ini...," Kirana menghela napas berat. Pandangan matanya menerawang kearah jendela luar yang menunjukan Tokyo Tower yang dipenuhi cahaya lampu di malam hari. Cuaca hari ini cukup cerah dan tak ada tanda-tanda akan hujan. "Segala tindak-tandukku selalu membuat seluruh keluarga ini khawatir. Terutama sejak kecelakaan fatal yang nyaris merenggut nyawaku membuat Mama nyaris menjadi anak durhaka karena memarahi Kakek dan Nenek yang menurutnya tak bisa menjagaku jika Papa tidak berusaha menghalanginya." Wajahnya menunduk tampak matanya berkaca-kaca. "Terlebih lagi Luna mengingatkanku tadi untuk tidak menambahkan bebanmu terhadapku..."


"Luna bicara seperti itu?" Daichi sedikit terkejut.


"Jangan salah paham Kak, itu tanda Luna perduli dan sayang padamu," Kirana segera meluruskan ucapannya. Ia tak mau kesalahpahaman ini membuat hubungan kakak dan sahabatnya itu bermasalah. Melihat mereka bersama membuat hatinya senang. "Aku sudah berteman dengannya lebih dari empat tahun dan tidak pernah melihatnya seserius itu berbicara mengenai lawan jenis. Kau hebat bisa menaklukan ice princess itu mengingat trauma karena ulah Papanya yang egois."


"Aku justru tidak menyangka jika ia sahabatmu yang selama ini kau ceritakan," Daichi menaikkan kedua kakinya diatas meja dan menyandarkan punggungnya di sofa untuk membuat posisinya semakin rileks. "Kau tahu, aku seperti kena karma karena selama ini menjadi playboy."


"Dari dulu aku penasaran apa yang membuat Daichi-nii bersikap seperti itu?" Kesedihan Kirana berangsur hilang berganti rasa penasaran. "Apakah ada wanita yang menyakitimu sehingga membuatmu seperti itu Kak?"


"Yah...kurang lebih seperti itu," Daichi tersenyum miris mengingat kejadian itu. "Wanita itu sejak awal tahu bahwa aku adalah anak sulung dan pewaris Matsumoto Group tapi ia berpura-pura tidak tahu dan memanfaatkanku untuk bisa menaikkan pamornya karena berhasil menaklukanku jadi yah...kau bisa menyimpulkan sendiri, aku jadi tidak percaya wanita manapun yang mendekatiku tanpa tujuan apapun." Ia mengangkat pundaknya santai.

__ADS_1


"Alasan yang kekanak-kanakan," Kirana tersenyum simpul sedikit mengejek ketika mendengar jawaban dari Daichi.


"Akhirnya kau tersenyum kembali...," Daichi mengacak-acak rambut Kirana dan menempelkan keninnya ke kening milik Kirana meyakinkan sang adik. "Jangan bersedih lagi, aku pastikan bahwa aku memang menyukai pekerjaanku sekarang adikku. Jika Papa dan Mama tahu kondisi seperti ini tidak menutup kemungkinan mereka akan mengajakmu tinggal di Eropa bersama dan meninggalkanku sendirian lagi. Kita hanya dua bersaudara jadi jika ada masalah apapun harus saling berbagi ya..."


"Um...," Kirana menangguk ringan. Untuk saat ini lebih baik ia tidak memikirkan ucapan dari Luna. Yang harus ia lakukan adalah membuat semuanya baik-baik saja, terutama membuat kakak tercintanya ini tidak khawatir tentang dirinya.


"Hmm..., bagaimana jika kita makan malam diluar," Daichi bangkit dari duduknya. "Sudah lama kan kita tidak makan bersama mengingat kesibukanku yang mengerikan ditambah jadwalmu yang tidak cocok denganku."


"Itu ide yang bagus!" Kirana berdiri penuh semangat. "Apa kita perlu mengajak Luna?"


"Tidak perlu adikku sayang," Daichi merangkul pundak kecil Kirana dan mencubit hidung sang adik gemas. "Aku ingin kita berdua saja yang makan malam sambil video call dengan Papa dan Mama."


***


BRAK!


Suara pintu yang terbuka keras membanting tembok di belakangnya mengejutkan Akio. Ia pun segera mengarahkan pandangannya kepada sosok yang dengan seenaknya membuka pintu ruang kantornya.


"Sumpah Akio, kau benar-benar menyebalkan!" Protes Kazuto sambil berjalan kearahnya. Ia kesal ketika mengetahui dari Dosen pembimbingnya bahwa Akio telah menyelesaikan sidang skripsinya. Ia tak menyangka bahwa sahabatnya sejak bayi dengannya telah berhasil melangkah maju mendahuluinya. Dulu mereka selalu bersama-sama, belajar bersama, bermain bersama, menjadi brengsek bersama, melarikan diri dari status pewaris bersama.


"Maksudnya bagaimana?" Akio yang wajahnya semula cemberut menjadi tertawa ringan. Sungguh keajaiban! Akio bisa tertawa seperti sekarang. Biasanya ia akan banyak cemberut atau tersenyum sinis. Ada apa gerangan yang membuatnya seperti itu.


"Kau bilang kita akan lulus kuliah bareng, tapi apa yang kulihat? Kau curang dengan mendahuluiku sidang skripsi dan dalam hitungan jam sekarang kau meninggalkanku sendirian dikampus." Kazuto menghempaskan tubuhnya di kursi depan meja Akio sambil melipat kedua tangannya.


"Aku ingin melangkah mandiri tanpamu disisiku," Akio menerawang jauh menatap ujung jalan yang sedang ia lewati bersama Kazuto. "Aku tahu selama ini telah terlalu manja dengan perhatianmu padaku sejak kedua orang tuaku meninggal sehingga kau banyak berkorban untukku. Tapi ada sesuatu yang telah membuatku berani melangkah untuk lepas dari bayang-bayang masa laluku..."

__ADS_1


Kazuto dapat melihat keseriusan diwajah Akio. Setelah sekian lama baru kali ini aura wajah Akio terlihat begitu bahagia. Ada apa gerangan?


"Apakah aku melewatkan sesuatu yang penting?" Tanya Kazuto penuh selidik.


Akio hanya mengangkat alis kanannya untuk menanggapi pertanyaan Kazuto.


"Ayolah..., apakah kau sudah mulai bermain rahasia kepadaku?" Rengek Kazuto. "Kau berubah menjadi lebih penurut kepada Kakekmu yang otoriter itu."


"Biasa saja," Akio mengangkat bahunya dan mengambil kotak rubik yang diletakkan di sebelah laptop-nya kemudian memainkannya. Kazuto tahu benar bahwa dengan Akio memainkan kotak rubik miliknya ia sedang berusaha mengalihkan sesuatu. "Jadi hanya karena masalah sepele aku lulus lebih dulu darimu sehingga harus repot-repot datang kemari?"


"Sembarangan!" Kazuto menoyor kepala Akio dan ditanggapi dengan ringisan sakit. "Aku punya Tender bagus tapi sepertinya kita harus melibatkan Senpai untuk untuk dapat mendapatkan Tender dari pemerintah ini."


"Kenapa harus melibatkan Senpai?" Akio mengernyitkan dahi tanda ia tidak menyukai ide yang disampaikan Kazuto. Sejak ia mengetahui bahwa Daichi memiliki seorang adik perempuan, ia menjadi anti berhubungan bisnis dengan Daichi. Ia malas jika berujung sang Kakek berniat menjodohkan dirinya dengan adik dari seniornya tersebut. Mengingat ancaman Daichi untuk tidak mendekati adiknya tersebut hampir setahun yang lalu membuatnya berpikir panjang untuk berbisnis bersama. Padahal berbisnis dengan Daichi sangatlah menguntungkan, terbukti hampir setiap hotel milik keluarga Daichi terdapat gerai khusus merk dagang usaha retailnya. Bisa dibayangkan berapa keuntungan yang didapat perusahaannya dari kerjasamanya tersebut. Belum ditambah dengan usaha bersama mereka bertiga yang mereka kerjakan ketika mereka kuliah dulu?


Sebenarnya ia cukup penasaran dengan adik seorang Daichi Matsumoto. Namun rasa penasarannya hilang sejak dunianya teralihkan kepada seorang gadis jutek nan acuh bernama Kirana Kiseki. Mengingat nama gadis tersebut membuat kerinduannya kembali bangkit. Ia harus menemuinya untuk menanyakan keabsenannya selama seminggu ini.


"Bagaimana? Kau tertarik?" Tanya Kazuto sambil menyerahkan proposal Tender yang dibahasnya. “Bukankah itu berarti bisa semakin memperkuat jaringan bisnis kita bertiga?"


Akio menghela napas panjang. "Akan aku pikirkan nanti..."


"Tuh kan, kau benar-benar aneh!" Kazuto kembali protes dan keluar dari ruangan Akio. "Kau boleh bicara lagi denganku jika sifat anehmu itu telah hilang!"


Akio hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat aksi merajuk Kazuto. Ia kembali mengarahkan posisinya kearah jendela besar yang menunjukkan gemerlap cahaya lampu kota Tokyo dimalam hari. Seandainya ia tidak disibukan dengan berbagai proyek mungkin ia dengan nekad mendatangi sang gadis hari ini. Tapi sudahlah..., memberinya kesempatan untuk sendiri dulu juga tidak apa-apa...


***

__ADS_1


__ADS_2