A Flavour to Love

A Flavour to Love
14-2


__ADS_3

Kirana berjalan gontai ketika memasuki apartemennya yang kosong karena ia tahu bahwa kakak lelakinya belum pulang dari kantornya. Ia terdiam dan pandangannya sedikit kosong menatap langit senja yang tampak kemerahan dari kaca tembus pandang apartemennya. Ia tak menyangka apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Kakaknya mengetahui hubungannya dengan Akio dan melihat apa yang terjadi pada kondisi fisik kekasihnya itu sudah pasti ia mengalami penganiayaan yang keras dari kakaknya. Namun bukan itu yang menyakiti hatinya, Akio tidak menepati janjinya untuk memperjuangkan hubungan mereka. Ia sama sekali tidak menyalahkan kakaknya. Dirinya dan Akio lah yang salah karena tidak meminta restunya sejak awal. Dadanya sesak, ia ingin menangis namun air matanya tak dapat keluar. Hingga terdengar dering ringtone dari smartphone yang dipegangnya.


"Halo," Kirana mengangkat telepon tersebut dengan bibir bergetar.


"Halo Nak, ini Mama..., Mama telepon karena perasaan Mama tidak enak, apakah kau.." Belum selesai Rea berbicara, tangis Kirana mendadak meledak tak tertahankan.


"Mama...," Ia menangis sejadi-jadinya sambil terduduk dilantai membuat Rea sebagai Ibu bingung dengan apa yang terjadi. Sepertinya kali ini ia harus pulang ke Jepang untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Cukup sudah dirinya menahan diri sementara ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada anak-anaknya.


***


"Mulai hari ini kau tidak boleh pergi sendirian karena aku sudah memerintahkan dua orang penjaga untuk mendampingimu kemana pun kau pergi," Perintah Daichi kepada Kirana di ruang makan. Saat ini mereka sedang sarapan bersama. Tak ada suasana ceria seperti biasanya.


"Eh?" Kirana yang sedang mengoleskan selai coklat pada selembar roti tawar gandum yang berada di tangan kirinya sedikit terkejut dengan dua orang perempuan berpakaian jas hitam formal berdiri disamping kanan dan kirinya. Sepasang mata indahnya masih sembam bekas air mata semalam.


"Tanpa aku bicara lebih jelas kau pasti sudah tahu apa yang kumaksud." Daichi masih marah dengan apa yang terjadi antara Kirana dan Akio. Tapi ia tak tega menyalurkan kemarahannya pada adiknya itu. Ini salahnya juga yang terlalu sombong dan lengah menjaga Kirana. Ia pikir dengan membiarkan adiknya menjadi orang biasa membuatnya lebih aman, namun apa yang terjadi, ia kecolongan! "Aku sebagai kakakmu sudah cukup kecewa dengan kejadian ini karena kau telah merusak kepercayaanku padamu yang nekad berhubungan dengan si brengsek Akio Fujiwara dan kuharap kau tidak mengulanginya lagi!"


"Aku mengerti," Kirana tertunduk menyadari kesalahannya. Bagaimanapun keluarga lebih utama dibandingkan perasaannya saat ini. Ia berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya. Cukup sudah ia menangis semalaman dan membuat Mamanya khawatir hingga memutuskan datang ke Jepang. Mengenai hal tersebut Kirana belum memberitahu Daichi.

__ADS_1


TING! TONG!


TING! TONG!


Terdengar suara bel yang ditekan dari luar apartemen. Reiko yang menyadarinya segera membukakan pintu.


"Akhirnya sampai juga...," Daichi dikejutkan dengan kedatangan sang Mama yang tak biasanya tanpa memberi kabar akan datang ke Jepang. Seorang diri lagi! Ia tak bisa membayangkan wajah Papanya yang pucat pasi ketika dimintai izin oleh Mamanya untuk kembali ke Jepang sendirian. Beliau itu kan tipikal lelaki posesif dan overprotective... dan sifat itu juga menurun kepada dirinya.


"Ma, kok aku tidak tahu bahwa Mama akan datang?" Daichi menghampiri Rea untuk memberikan ciuman dan kecupan di pipi dan kanan Rea. Tak lupa ia memberikan ciuman di tangan kanan Rea sebagai tanda baktinya.


"Mama sengaja tidak memberikan kabar karena ingin memberikan kejutan untuk kalian berdua. Rea menoleh sebentar kearah Kirana seolah memberikan kode kepada anak gadisnya itu dan kembali fokus berbicara dengan Daichi. "Sudah lama Mama tidak menemui kalian berdua terutama anak bungsu Mama yang satu itu. Kalau dirimukan sudah pasti puas dan muak melihat kami...hehehehe..." lanjut Rea sedikit sarkastik.


"Tak apa-apa Nak, pergilah," Rea mempersilahkan Daichi pergi dan meninggalkan dirinya dengan Kirana. Kedua pengawal yang diutus Daichi pun diminta keluar apartemen sejenak. Ia pun segera menghampiri Kirana yang sejak tadi menahan air matanya untuk tidak terjatuh dan memeluk putrinya tersebut.


Kirana pikir tangisannya semalam sudah cukup namun melihat sosok Mamanya berada dihadapannya membuatnya kembali meneteskan air mata. Ia rindu dipeluk seperti saat ini oleh Mamanya. Terserah jika dirinya dikatai anak kecil oleh kakaknya nanti. Setidaknya saat ini ia butuh sandaran ketika ia tak tahu harus mencurahkan perasaannya kepada siapa. Luna? Tidak mungkin, sudah pasti ia akan membela kakaknya. Akio apa lagi, dialah pangkal permasalahannya saat ini. Yang lain, mereka pasti hanya bisa tercengang dengan apa yang sedang dialaminya.


Sementara itu, Akio tampak menerawang jauh entah menatap apa. Ia tak memperdulikan teguran dari kakeknya yang mendapati dirinya melamun dalam rapat pemegang saham tadi pagi. Persetan jika ia diturunkan jabatannya sebagai CEO. Toh ia sudah punya bisnis lain yang bekerjasama dengan Kazuto. Dalam benaknya bertanya-tanya, mengapa semuanya seperti ini? Apakah selama ini dosanya sangat besar sehingga ia merasakan luluh lantak tak berdaya seperti saat ini? Rasa luka pada fisiknya tak sebanding dengan rasa luka di hatinya. Dalam benaknya gambaran wajah Kirana yang tampak tersakiti dan kecewa terus terngiang seolah tak ingin hilang darinya. Ia yakin kata-kata yang dilontarkannya kepada Kirana beberapa hari yang lalu sangat menyakiti gadis itu. Ia ingin berteriak tapi tak dapat ia lakukan.

__ADS_1


"Kau disini rupanya," Kazuto masuk ke dalam ruang kantor Akio seperti seolah tak terjadi apa-apa antara dirinya dan Akio sejak insiden pemukulan oleh Daichi. "Dari tadi aku meneleponmu tapi tidak kau angkat. Aku kan khawatir jika tiba-tiba kau punya niatan bunuh diri karena patah hati."


"Sindiranmu tidak lucu!" Ujar Akio ketus. "Sekarang kau boleh tertawa sekencang-kencangnya karena sumpah serapahmu aku terkena karma atas perbuatan burukku. Tertawalah sepuasnya Kazuto!" Suaranya berubah meninggi diakhir kalimat namun hal itu ditanggapi biasa saja oleh Kazuto. "Kau senang melihat aku terpuruk seperti ini kan?!"


"Justru aku ingin membantumu bodoh!" Kazuto duduk di sofa berhadapan dengan Akio.


"Membantuku dalam hal apa?" Tanya Akio malas-malasan. Ia merasa sudah tidak ada lagi harapan untuk bisa memiliki gadis yang telah berhasil membuatnya jatuh cinta itu. "Semuanya sudah hancur bak debu yang diterbangkan angin, tak bersisa sedikitpun!"


"Apakah kau benar-benar mencintai Kirana?"


"Kau pikir aku bercanda untuk hal itu?" Akio masih saja ketus terhadap Kazuto. Memangnya Kazuto ini sudah kenal berapa lama sih sampai ia harus menanyakan pertanyaan bodoh itu? Keluh Akio dalam hati.


"Aku tanya sekali lagi Akio, apakah kau benar-benar mencintai gadis itu?" Kali ini Kazuto tak kalah tegas mengulangi pertanyaan itu.


"Iya, aku mencintainya, kau puas!" Ya Tuhan..., mengapa ia bisa lepas kendali meladeni sahabatnya ini?


"Kalau begitu perjuangkan dirinya Akio!"

__ADS_1


***


__ADS_2