A Flavour to Love

A Flavour to Love
16-2


__ADS_3

"Kita putus saja," Luna berkata dengan datar dan ketus dihadapan Daichi membuat suasana cafe milik Kei yang terkenal ramai berubah sunyi seolah tanpa arti membuat Daichi diam seribu bahasa tak menyangka kata-kata itu akan keluar untuk kedua kalinya dari Luna. Dulu, hanyalah bentuk protes Luna karena merasa dirinya yang terlalu sibuk dengan tanggung jawabnya di perusahaan. Namun kali ini berbeda, tatapan Luna dingin dan acuh padanya. Apa salah dirinya sekarang?


"Kalau bercanda ini tidak lucu sama sekali Luna," Daichi tertawa garing untuk menanggapi wajah Luna yang serius.


"Apakah aku tampak sedang bercanda Daichi?" Luna tetap dalam posisi duduknya yang tegak sementara kedua tangannya yang ia letakkan diantara kedua pahanya saling bertautan erat berusaha menahan gejolak emosi yang ada.


"Kali ini apa alasannya," Raut wajah Daichi berubah menjadi serius mengikuti Luna.


"Aku sudah lelah dan bosan bermain denganmu," remasan genggaman tangan Luna semakin mengencang ketika ia mengucapkan kata-kata yang mencubit dadanya nyeri. Jangan menangis disini Luna...jangan menangis...atau semuanya akan berantakan...


"Apa maksudmu?" Daichi kembali bertanya untuk memastikan ucapan Luna tidak salah terdengar di telinganya dan kali ini ia lebih mencondongkan tubuhnya kearah Luna yang masih memasang ekspresi datar di wajahnya.


"Bukankah aku pernah mengatakan bahwa tidak baik untuk bersikap sombong Daichi?" Luna tersenyum meremehkan kearah Daichi. Ia berterima kasih dengan gen Papanya yang berwajah sedikit angkuh sehingga ia dapat menutupi rasa sakit yang semakin menghujam jantungnya bertubi-tubi. "Aku sudah puas membalaskan dendamku pada lelaki yang hobi mempermainkan perempuan sepertimu. Aku juga sudah muak bermain teman-temanan dengan adikmu. Jadi kita hentikan saja kegilaan ini dan hidup masing-masing seolah kita tidak saling mengenal lagi, okay?"


"Kau...," Daichi menggelutukkan giginya geram merasa ia ditampar keras dengan kenyataan yang dihadapinya saat. Ini gila! Ia bisa dua kali dipermainkan oleh perempuan?! Cih, apa bedanya ia dengan keledai? Tidak, ini lebih buruk! Ia bahkan lebih bodoh dari keledai dan kali ini ia sungguh tak berdaya mengingat cintanya kepada gadis itu sudah terlanjur terlalu dalam. Daichi meremas dadanya yang sesak seakan ditimpa batu besar yang menekan dalam. Ia memejamkan matanya berusaha mensugesti bahwa apa yang ia alami ini tak afa apa-apanya. Ia akan baik-baik saja setelah berhasil melewati mimpi buruk yang tiba-tiba menyapa tanpa memberikan tanda yang kasat mata.


"Sudah ya, aku harus kembali bekerja lagi," Luna berdiri dari duduknya. "Terima kasih sudah mengisi waktu luangku yang cukup membosankan selama ini," Tak lupa ia menepuk-nepuk pundak Daichi dan berbisik pada telinga lelaki itu untuk meyakinkan aktingnya dan segera bergegas meninggalkan Daichi menuju pintu belakang cafe. Kei yang melihat keanehan pada hubungan mereka hari ini segera menghampiri Daichi, sementara Luna yang telah sampai di pintu belakang cafe segera duduk berjongkok dan menyedekapkan kedua tangannya menutupi wajahnya yang sudah banjir dengan air mata.


"Kenapa Pa? Kenapa Papa dan Mama bisa melakukan hal sekejam itu? Apakah Papa tidak tahu dampak karmanya kepada diriku?" Luna terduduk tak berdaya di lantai apartemennya setelah mendengarkan cerita dari Daniel. Air matanya tak pelak menetes dikedua pipinya. "Pantas saja aku dipertemukan oleh kedua kakak beradik itu seolah akulah tumbal untuk menebus kesalahan yang telah Papa dan Mama lakukan kepada kedua orang tua mereka..."

__ADS_1


"Maafkan Papa, Luna...," Daniel yang tak dapat menutupi rasa bersalahnya segera memeluk putri tunggalnya itu. Bahkan kata 'maaf' yang sangat sulit terucap olehnya tak dapat terhindarkan untuk tak terucap kepada Luna.


"Aku sangat mencintai Daichi Pa...," Luna berkata lirih. "Aku juga sangat menyayangi Kirana Pa..., dia teman sekaligus sahabat pertamaku..., mengapa jadi seperti ini..."


"Maafkan Papa Nak..."


“Kalian habis bertengkar ya?" Tanya Kei yang hendak memegang pundak Daichi hendak memastikan bahwa sahabatnya itu baik-baik saja.


PLAK!


Tepisan tangan Daichi mengagetkan Kei dan meninggalkan cafe-nya dengan gusar. Wajahnya terlihat marah, kesal, dan kecewa namun tak dapat diungkapkannya dengan kata-kata. Sepertinya sudah cukup lama Daichi tak pernah bersikap kasar seperti ini kepadanya. Ada apa dengan sepasang insan ini? Rasanya kemarin hubungan mereka masih baik-baik saja, bagaimana bisa dalam sekejap mata berubah drastis seperti ini?


***


"Lepaskan atau aku tendang dirimu kemudian berteriak!" Kirana berusaha melepas kungkungan posesif yang saat ini memeluknya.


"Aku mohon biarkan aku begini sejenak," Akio menyesap rambut panjang Kirana membuat gadis itu terdiam. Ah, wangi memabukkan perpaduan lavender dan vanila yang sangat ia rindukan untuk selalu berada didekapnya...


Semula Akio hanya ingin melihat Kirana dari kejauhan yang tampak berbahagia bermain dengan kumpulan kupu-kupu berwarna kuning dihamparan hijaunya alam yang membentang. Melihat tawa keras Kirana seolah tak ada dirinya dalam hati gadis itu membuat perasaannya takut. Rasa ketakutan akan kehilangan yang sama ketika kedua orang tuanya hendak pergi dalam perjalanan bisnis terakhir mereka yang meninggalkan luka kesepian yang lama hingga kehadiran seorang gadis bernama Kirana. Ia takut bahwa cinta gadis itu untuknya telah hilang tenggelam dalam kekecewaan akibat sikap pengecutnya. Dengan langkah terburu tanpa memikirkan konsekuensinya, Akio membalikkan tubuh Kirana dan segera memeluknya seolah tak ingin ia lepaskan selamanya.

__ADS_1


"Maafkan aku...," Kirana tak menyangka bahwa kata-kata itu terlontar dari sosok dingin seperti Akio. "Kumohon beri aku satu kali lagi kesempatan untuk bersama denganmu. Aku berjanji kali ini akan siap dan berani menghadapi Daichi, tidak-tidak, bahkan aku akan siap dan berani menghadapi kedua orang tuamu untuk meminta dirimu untuk bersamaku.”


Akio melepaskan pelukannya dan menatap wajah Kirana yang masih bingung dan penuh tanda tanya akan perbuatannya. Ia menggenggam pundak kecil Kirana. “Kumohon kau mau bersedia bersabar menungguku untuk merealisasikan semua itu. Kau mengerti?”


Bak terhipnotis oleh sepasang bola mata sekelam malam milik Akio, Kirana hanya terdiam dan menganggukkan kepalanya. Setelah Akio mendapatkan jawaban yang ia inginkan, dirinya bergegas pergi dari hadapan gadis itu dengan senyuman tipis tergurat halus di wajahnya memenuhi seluruh kepercayaan dirinya untuk berjuang mendapatkan apa yang ia inginkan.


Ini aku tidak sedang berhalusinasikan? Aku tidak salah lihat dan dengar kan? Kirana menepuk-nepuk pipinya hingga kemerahan untuk memastikan bahwa yang diucapkan Akio adalah nyata dan bukan karena rasa keputusasaannya hingga berkhayal bahwa lelaki itu akan memperjuangkan hubungan mereka.


“Aduh sakit...,” Kirana menghentikan tepukan pipinya yang berhasil membuatnya semakin memerah. Detakan jantungnya bertalu-talu terdengar di telinga ketika ia telah mencerna bahwa ucapan Daichi nyata adanya. Ia berusahan menenangkan buncahan rasa. Tuhan, ini nyata...ini nyata! Bibir Kirana bergetar ketika sunggingan bibirnya membentuk lengkungan parabola keatas ekpresi kebahagiaan yang tak diduganya setelah ia merasa terhempas ke dalam jurang kelam tak berdasar hingga sakitnya terasa kebas dan terlepas dari raga dan jiwanya.


“Menurutmu apakah kita harus melaporkan tentang kejadian hari ini, Miyazawa-san?” Wanita dengan pakaian serba hitam dengan potongan pendek sebahu memandang dari jarak kejauhan dibalik pepohonan rindang.


“Apa kau tak melihat betapa kedua insan itu saling mencintai, Suzuki-san?” Wanita bernama lengkap Keiko Miyazawa menjawab dengan lemparan pertanyaan balik kepada juniornya dalam perusahaan security tempat mereka bekerja.


“Aku tahu itu Miyazawa-san, namun kita disini dibayar secara profesional oleh Daichi Matsumoto untuk menjaga Nona Muda itu,” Ayu Suzuki menghela napas panjang dan mendekap kedua tangannya diatas dada. “Apakah dengan membiarkan ini semua tidak berarti kita menjadi kehilangan keprofesionalan dalam menjaga kepercayaan orang yang menyewa jasa kita?”


“Keprofesionalan itu bukan berarti tidak melibatkan urusan hati Suzuki-san,” Keiko tersenyum dan segera menghampiri Kirana yang masih sibuk dengan dentuman jantungnya yang mengisyaratkan cinta pada lelaki yang telah menghilang dari hadapannya. “Suatu ketika kau akan mengerti maksudku...”


Ayu masih bingung dengan ucapan seniornya itu dan mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


***


__ADS_2