A Flavour to Love

A Flavour to Love
10-2


__ADS_3

Kirana menautkan kesepuluh jarinya dan mengangkat kedua tangannya keatas untuk perenggangan. Tak terasa liburan musim semi sudah hampir berakhir padahal rasanya baru kemarin ia menginjakan kaki kesini. Ia segera beranjak dari tempat tidurnya dan segera membereskannya sebelum ia mandi. Setelah dirasa rapi, Kirana bergegas mengambil handuk pink miliknya yang tergantung dibelakang pintu kamarnya untuk beranjak menuju kamar mandi.


"Pagi Nek..."


"Pagi sayang, ayo lekas mandi, sudah ditunggu Nak Akio dari tadi," Demi Papa Mamanya yang kemungkinan akan memberikannya adik dengan presentasi 0%, bagaimana bisa ia melihat Akio berada di rumah Kakek Neneknya sekarang? Dan tentu saja dengan senyum menyebalkannya itu. Sialan!!! Dasar oportunis manipulatif!


Setengah jam Kirana menghabiskan waktunya untuk mandi dan kini ia sudah berada di teras depan rumah bersama Akio yang sejak tadi tersenyum tidak jelas dimata Kirana.


"Apa yang kau tertawakan?" Tanya Kirana jutek.


"Tidak, hanya merasa aku berhasil masuk kesalah satu benteng pertahananmu," Akio mengangkat bahunya sambil mengambil jajanan pasar yang dibelikan Wahya ketika ia tahu dirinya akan datang ke rumahnya. Pada saat ia datang ke rumah ini, sambutan hangat langsung ia terima dari sepasang suami istri yang bersahaja. Tidak ada suasana inferior yang biasa ia dapat ketika orang lain tahu siapa dirinya. Kehangatan yang menyelimuti di rumah ini membuatnya rindu akan kasih sayang yang selama ini hilang. Wajar saja Kirana tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, apa adanya dan selalu menyuarakan isi hatinya tak perduli siapa orang yang berada dihadapannya. "Disini nyaman ya, aku bisa bersantai untuk menenangkan diri. Pantas saja kau melarikan diri kesini untuk menghindariku jika ada sepasang Kakek dan Nenek yang sangat mencintai dan menyayangimu."


"Ayolah, apa niatmu sebenarnya Tuan Muda?" Kirana gemas dengan perkataan Akio yang cenderung memberikan teka-teki.


"Bohong jika aku tidak punya niat padamu Nona atau...Onna?" Seringai miring tergambar diwajah Akio membuat Kirana kian murka dan menarik kaos ber-hoody biru dongker yang dikenakan Akio membuat jarak diantara mereka memendek.


"Tarik kata-katamu itu Tuan Muda! Aku benci ketika kau mengucapkan kata itu seolah kau melecehkanku! Apakah tidak cukup atas semua yang kau perbuat padaku?!"


"Jadilah milikku Kirana," Tatapan tajam namun berisi kelembutan didalamnya membuat Kirana terdiam. Cengkraman tangannya di kerah kaos Akio melemah ketika ia merasakan aliran hangat yang tersalur dari tangan besar Akio. Entah mengapa jantungnya berdebar keras untuk pertama kalinya ia melihat ada keseriusan dibalik mata jelaga itu. Padahal kalimat yang diucapkan Akio sudah pernah ia dengar namun mengapa kali ini terasa berbeda?


"Jangan bercanda, bukankah dulu sudah kukatakan aku bukan barang," Kirana tersenyum kaku. "Ini hanyalah masalah untuk menutupi egomu yang terluka karena berurusan dengan orang sepertiku Tuan Muda."

__ADS_1


"Akio, panggil aku Akio," Ujar Akio serius. "Dan aku sadar kau memang bukan barang tapi seseorang yang bisa melengkapiku untuk tidak lagi lari dari kenyataan."


"A-apa maksudmu?" Kirana melepaskan cengkramannya dan memutuskan kontak matanya. Ia mengalihkan dirinya pada minuman favoritnya untuk sarapan, secangkir cappucino panas untuk menutupi kegugupannya. Sial! Kenapa baru sekarang ia merasakan kegugupan seperti ini padahal ia dan Akio sudah pernah... tidak! Tidak! Jangan ingatkan dia pada malam itu!


"Bohong jika aku mengatakan tidak rindu suaramu, bibirmu, desahanmu dan tu-"


"Stop!" Kirana membungkam mulut Akio dengan kedua tangannya. "Kumohon jangan lanjutkan yang itu. Apa kau mau menambah trauma dan beban hidupku?" Kemarahan Kirana berubah jadi kecemasan. "Sudah cukup aku membuat seluruh keluargaku khususnya kedua orang tuaku menangisiku karena masalah yang kubuat sebelum aku mengenalmu. Jangan ditambah lagi dengan mengingatkanku pada peristiwa itu, kau tidak akan mengerti..."


"Hmm...," Akio melepaskan kedua tangan Kirana dari mulutnya. "Sudah berapa kali ya aku mendengar alasan yang sama? Memangnya dulu ada masalah apa? Mengapa kau sangat misterius? Bahkan aku sudah menyuruh intelku untuk mengetahui siapa sebenarnya dirimu pun aku tak menemukan jejak apapun seolah ada seseorang yang lebih berkuasa dibandingkan diriku yang melindungimu. Kau seperti kotak rubik yang memintaku untuk dipecahkan."


"Siapa suruh kau mendekatiku?" Kirana menggembungkan pipinya kesal dan melepaskan genggaman tangan Akio yang seolah menghantarkan aliran hangat yang memicu jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. "Aku memang sengaja melakukannya dan bahkan sahabat terdekatku pun tidak tahu siapa sebenarnya diriku kecuali dia beruntung bertemu dengan orang terdekatku dan itu diluar Kakek serta Nenekku. Kau sogok dengan seluruh kekayaanmu pun mereka tidak akan buka suara."


"Apa maksudmu?"


"Aku adalah seorang anak tunggal pewaris Fujiwara Interprise yang kau tahu pemegang retail terbesar dan e-commerce dengan merk dagang QLONE yang hidup dibawah bayang-bayang Kakeknya setelah kematian kedua orang tuanya dan hanya punya sahabat bernama Kazuto Hoshi. Pemberontakan kecilku dimulai sejak bertemu seniorku bernama Daichi Matsumoto yang sama-sama bosan dengan rutinitas kami sebagai pewaris." Mendengar nama kakaknya disebut membuat Kirana menahan napasnya sejenak. Jadi selama ini Kakaknya punya hubungan pertemanan dengan lelaki ini? Sudah kuduga kakaknya itu benar-benar troublemaker! Dari mana sih sifat jeleknya itu?! Perasaan kedua orang tuanya tidak ada yang seperti itu? Gerutu Kirana kesal.


"Clubbing, alkohol, dan wanita adalah makanan keseharian kami bertiga hingga aku membuat kesalahan dengan hampir meniduri adik sepupu tunangan Kazuto, Park Ha Neul," Akio terkekeh kecil setiap mengingat kejadian itu. "Kazuto murka dan marah besar padaku dan Senpai kemudian menyumpahi kami berdua jatuh cinta pada orang yang sangat membenci kami. Kupikir itu hanyalah omongan kosong yang tidak akan pernah terjadi mengingat track record kegagalan kami dalam menaklukkan wanita nol dan Viola, terbukti aku mati kutu dihadapanmu."


"Hei, itu bukan urusanku!" Protes Kirana. "Salahnya sendiri menghancurkan hati banyak wanita! Makanya jadi kena karma kan?"


"Tapi aku ingin merubah karma itu menjadi sesuatu yang berujung bahagia," Akio kembali menatap kemata hazel milik Kirana membuat pemiliknya terkesiap. "Sebentar lagi aku akan kembali ke Jepang dan menyelesaikan skripsiku serta sidang secepatnya untuk mengambil gelar S1-ku. Aku ingin lepas dari bayang-bayang kakekku itu dan fokus untuk menjadi CEO dari Fujiwara Interprise sepenuhnya dan tidak ada main-main lagi. Jika saat itu tiba, maukah kau memberikan kesempatan untuk membuka sedikit hatimu untukku?"

__ADS_1


***


Kirana menatap langit-langit kamarnya. Ucapan Akio kali ini benar-benar membuatnya terngiang-ngiang dan tak berkutik. Baru kali ini ia melihat seorang Akio Fujiwara dengan embel-embel buruk dibelakangnya berubah menjadi seorang yang begitu dewasa dimata Kirana. Oh tidak..., rona merah perlahan mulai menjalar diwajahnya ketika Akio berani mencuri ciuman seringan bulu ketika ia masih terpana dengan ucapan lelaki itu.


"Gyaaa!!!" Teriak Kirana frustasi sambil memeluk guling yang ada disebelahnya. Seumur hidup ia pernah beberapa kali pacaran namun tak satupun dari mereka yang mampu membuat hatinya bergetar. Sementara itu Sutomo dan Wahya saling berpandangan kemudian tersenyum simpul.


"Kirana itu adalah permata yang mengisi kesepian kami. Walaupun kami mendapatkannnya dengan keegoisan kami terhadap putri kami dan suaminya. Tapi kami puas telah mendidiknya menjadi anak yang ceria, sederhana, dan apa adanya seperti Ibunya. Dan kini saatnya kami melepaskannya untuk seseorang yang paling tulus kepadanya." Ujar Sutomo ketika ia kedatangan tamu asing yang pandai berbahasa ibunya pagi-pagi buta di hari Sabtunya yang tenang.


"Bagaimana Kakek dan Nenek tahu aku tulus kepadanya?" Akio menatap lurus kearah pasangan tua tersebut.


"Karena kau mirip dengan Ayah Kirana ketika ia berjuang melamar Ibunya," Wahya tertawa hangat. "Jika kau bertemu dengan Ibunya Kirana engkau akan tahu aura Kirana untuk ditakuti dan disegani para pria itu berasal. Sehingga tidak sembarang pria dapat menaklukkan hatinya."


"Dan itu terlihat dari matamu. Walaupun kami tahu kau pun berkali-kali ingin marah dan menyerah karena kekeraskepalaannya dan keterusterangannya serta kemisteriusannya berusaha menyimpan siapa dirinya." Sutomo melanjutkan. "Yah..., mau bagaimana lagi, dia benar-benar copian dari putri kami."


"Apakah Kakek dan Nenek akan tetap merestuiku meskipun aku telah bertindak salah padanya sehingga ia marah besar padaku?" Tanya Akio ragu.


"Semua orang pernah berbuat salah Nak, itu tergantung bagaimana usahamu untuk memperbaikinya." Ucapan Sutomo bak oase di gurun gersang hati Akio yang dingin. Rasa hangat mengalir dihati sang pria yang telah lama kehilangan rasanya memiliki keluarga. "Kau adalah pria dan seorang pria dinilai dari tindakan, keberanian dan perjuangan serta kesabarannya."


Akio tersenyum mengingat kunjungannya ke rumah Kakek dan Nenek Kirana. Pembicaraan terakhirnya semakin membulatkan tekadnya untuk memperjuangkan wanita itu.


***

__ADS_1


__ADS_2