
"Aku masih belum siap pulang..."
"Nah, siapa sekarang yang melarikan diri? Jangan sampai Papamu sampai menyusulmu kesini dan menyeretmu pulang ke Indonesia Luna."
"Jika hal itu terjadi kupastikan dunia sudah hampir kiamat!"
"Ishhh..., hati-hati kalau ngomong..."
Ya, dunianya sudah hampir kiamat! Luna menelan air ludahnya dengan susah payah ketika ia membuka pintu apartemennya. Tak ia sangka pembicaraan yang pernah ia lakukan bersama Kirana bak memakan buah simalakama. Setelah sekian lama ia bisa menghindar dan melarikan diri dari Papanya, pada akhirnya hari yang tak diduga olehnya datang. Sosok berwibawa dan terkesan arogan menatap tajam kearah Luna beserta Daichi yang berdiri tepat di belakang Luna serta masih tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi.
"Papa...," Desis Luna.
"Siapa dia?" Tanya Daniel menunjuk dengan dagunya kearah Daichi. Seumur hidupnya bersama Luna, tak sekalipun ia melihat putrinya bersama lawan jenis sedekat sekarang ini. Atau memang ia yang tak pernah perduli seolah menutup mata akan keseharian putri tunggalnya yang ia tahu hanya ditemani Bi Ani di rumah?
"Dia...," Luna menjawab dengan ragu-ragu.
"Jawab Luna!" Suara berat penuh tekanan mengejutkan Luna sehingga tak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Perkenalkan, nama saya Daichi Matsumoto, kekasih anak anda," Jawab Daichi mantap dengan memberikan posisi ojigi atau membungkuk. Dalam kondisi setidak menyenangkan tatapan yang diberikan Daniel, ia adalah pribadi yang gentleman mengakui posisinya saat ini. Dari cerita Luna, gadisnya itu tidak akur dengan pria dihadapannya ini. Namun bagaimanapun kondisi yang dialami Luna dan Papanya, ia tetap harus bersikap hormat kepada orang yang lebih tua sesuai dengan ajaran kedua orang tuanya. Bahkan semengesalkan Yutaka Fujiwara, Kakek dari Akio Fujiwara yang tak henti-hentinya menyodorkan rencana perjodohan cucunya dengan adiknya, ia tetap harus bersikap hormat. Apakah beliau tidak tahu perbuatan cucunya yang brengsek itu kepada adiknya sehingga semakin runyam urusannya seperti saat ini? Tidak-tidak, lupakanlah urusan itu sejenak Daichi! Ia harus fokus menghadapi orang tua dihadapannya ini.
"Kekasih?" Daniel mengangkat alis sebelah kanannya meneliti Daichi dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia tak menyangka pemuda berperawakan Asia Timur dihadapannya ini dapat berbicara Bahasa Indonesia dengan baik dan lancar. "Tunggu, siapa namamu tadi?"
"Daichi Matsumoto," Ucap Daichi kembali.
Daichi Matsumoto? Matsumoto? Pikiran pria jangkung itu sontak teringat akan masa lalunya. "Lantas apa hubunganmu dengan Daiki Matsumoto dan Rea Ayu?"
"Beliau berdua adalah orang tua saya." Jawab Daichi polos. “Apakah anda mengenal mereka?”
__ADS_1
"Orang...tua...?" Bak disambar petir, tubuh Daniel melemas seakan tak berdaya hingga hampir terjatuh jika tak ditolong oleh Luna dan Daichi. Keangkuhan yang awalnya terlihat begitu mengintimidasi berubah menjadi lemah. Permainan takdir macam apa yang saat ini dialami olehnya? Luna, anak semata wayangnya yang sebenarnya sangat ia cintai namun gengsi untuk diungkapkannya menjalin hubungan cinta dengan Daichi Matsumoto? Putra dari dua orang yang pernah hampir ia rusak hubungannya karena buta akan cintanya pada Ibu dari pemuda yang menolongnya untuk duduk diruang tamu kecil apartemen anaknya itu? Juga mengenai Astrid, istrinya yang ternyata menyimpan masalah dengan keduanya. Bagaimana bisa? Rasanya sangat mustahil mengingat sejak Rea memutuskan menikah dengan Daiki dan resign dari tempat mereka bekerja bersama dulu, tak satu kalipun ia bertemu pasangan tersebut.
"Aku akan mengambilkan air mineral dulu untuk Papa," Luna tergopoh-gopoh menuju dapur kecilnya untuk mengambil gelas dan mengisinya dengan air mineral kemudian segera memberikannya kepada Papanya sementara Daichi membantu membawa koper dorong milik Daniel ke dalam apartemen. "Ini Pa."
Ketika ia melihat betapa haus Papanya menegak air mineral yang diberikan olehnya, tampak sosok pria yang telah berumur dan dengan nekadnya menghampiri dirinya. Tak eloklah rasanya jika saat ini harus menyulut ego dan amarah diantara dirinya dan sang Papa. Lebih baik ia mengalah saat ini...
"Tak hanya saya Om, adik saya yang bernama Kirana adalah sahabat Luna sejak SMA," Daniel semakin diam seribu bahasa ketika Daichi menjelaskan tentang anggota keluarganya. Ya Tuhan, tak cukupkah Kau menghukum dirinya dengan menjadikan Astrid istri sekaligus Ibu dari anaknya ini? Tak cukupkah dosa mereka berdua sehingga keluarganya harus terhubung erat dengan keluarga Matsumoto? Apakah selama ini ia yang terlalu menghukum dirinya sendiri dengan menyibukkan diri terhadap tumpukan tanggung jawab pekerjaannya sebagai General Manager disalah satu Cabang Pelabuhan di Indonesia seolah tak perduli akan kehidupan putrinya itu? Apakah sebenarnya protes putrinya itu benar adanya bahwa ia telah egois dan tak mengindahkan tumbuh kembang buah hatinya hingga sebesar ini? Hingga ia membuatnya terhubung dengan masa lalunya yang terlalu menyakitkan untuk diungkap?
"Pa...," Panggil Luna pelan sambil menyentuh lembut pundak Daniel. Sudah lama rasanya ia tak menyentuh tubuh Papanya. Apakah memang sekurus dan seringkih ini tubuh beliau? Apakah begitu kerasnya beliau bekerja?
“Nak, bisakah kau meninggalkan saya dan anak saya saat ini?” Daniel meminta Daichi untuk meninggalkan apartemen Luna. “Ada yang ingin saya bicarakan berdua dengan putri saya.”
Daichi menatap kearah Luna dan ditanggapi dengan anggukan kepala sebagai tanda meng-iya-kan permintaan Papanya.
“Baiklah Om...,”
“Baiklah Om Daniel, saya permisi dulu,” Daichi mengambil jas hitam dan tas berisi laptop miliknya kemudian beranjak pergi meninggalkan apartemen Luna.
BLAM!
Kini tinggalah Luna dan Daniel berdua dalam keheningan. Tak ada satu patah kata pun terucap untuk memulai pembicaraan hingga akhirnya Daniel memilih mengalah.
“Sudah berapa lama kau berhubungan dengan pemuda itu?”
“Eh?” Luna yang sedang membersihkan meja kecil dihadapannya mendongak kearah Daniel.
“Berapa lama Nak?” Nada suara yang tak meninggi seperti biasanya. Nada suara yang seumur hidup tak pernah ia dengar terucap dari Papanya.
__ADS_1
“Kurang lebih setengah tahun,” Jawab Luna sambil membawa tumpukan piring dan gelas yang tadi digunakannya makan snack bersama Daichi ke dapur.
“Jika Papa memintamu untuk memutuskan hubunganmu dengan pemuda itu apakah kau akan menurutinya?” Daniel menatap lurus kearah Luna. Dipandangi perawakan Luna yang telah tumbuh dewasa dan memiliki perpaduan gen antara dirinya dan Astrid. “Begitu juga dengan hubungan persahabatanmu dengan adiknya...”
“Kenapa?” Tubuh Luna bergetar ketika ucapan Daniel yang tak ada angin dan tak ada hujan tiba-tiba memberikan instruksi yang seolah tak dapat ia tolak.
“Ini demi kebaikanmu Nak...,” Ucap Daniel lirih. Ia takut karmanya yang pernah berbuat tidak baik pada kedua orang tua Daichi mengenai Luna. Jika hal itu terjadi, ia tak sanggup berhadapan dengan Astrid yang memohon kepadanya untuk menjaga putri mereka setelah sepeninggalnya. “Papa tak mau apapun yang berhubungan dengan Keluarga Matsumoto mendekat kepadamu...”
“Kebaikan seperti apa Pa?” Luna meletakkan gelas dan piring di tempat cucian piring dengan sedikit kasar sehingga menimbulkan suara uang cukup nyaring. Ia menatap kearah Daniel meminta penjelasan. “Papa belum mengenal Daichi dengan baik. Aku akui bahwa dulu dia lelaki yang brengsek namun sekarang ia sudah berubah demi bisa bersamaku. Begitu juga Kirana, dia adalah sosok yang selama ini menemaniku disaat aku bersedih dan putus asa karena mengharapkan cinta dan kasih sayang yang tak pernah Papa berikan kepadaku.”
“Nak, maksud Papa...”
“Dulu aku kehilangan Mama karena menahan patah hati kepada Papa yang menyimpan nama wanita lain di dalam hati Papa,” Amarah Luna tersulut seolah lupa bahwa ia sudah berjanji dalam dirinya sendiri untuk bersikap tenang menghadapi Daniel. Namun rupanya hal itu hanya berlaku dalam sekejap seperti kedipan mata. “Sekarang tiba-tiba Papa meminta hal yang tak mungkin aku penuhi. Tak bisakah sekali ini saja Papa membiarkan aku bahagia?!”
“Kau tak mengerti Luna...,” Daniel mengepalkan kedua tangannya berusaha menahan amarah yang telah disulutkan oleh Luna.
“Bagian mana yang tidak kumengerti dari ucapan Papa?” Luna masih tak bergeming dari posisinya karena khawatir ia mengulang kekurangajaran dirinya terhadap Papanya di makam Mamanya dulu.
“Bagian bahwa Papa dan Mama pernah berusaha merusak hubungan percintaan Ibunya dari Ayahnya, Luna!” Ujar Daniel frustasi tak tahu lagi penjelasan halus seperti apa yang dapat ia utarakan kepada putrinya itu.
“Apa?!”
“Kau ingin tahu siapa wanita yang membuatku tak bisa mencintai Mamamu?” Lanjut Daniel lirih. “Dia adalah Rea Ayu, Ibu dari Daichi Matsumoto!”
“Tidak mungkin...,” Luna tersenyum dengan bibir bergetar. Tubuhnya lemas tak berdaya dan akhirnya terjatuh di lantai. Pikirannya terputar kembali ke masa lalu dan menghubungkannya satu per satu. Ia tak mau percaya namun Papanya bukanlah pribadi yang terbiasa berbohong dihadapannya. “Ini tidak mungkin!” Ucapnya histeris. Mengapa takdir sekejam ini kepadanya?! Setelah ia merasa bahagia dan sempurna, dunianya mendadak dijungkirbalikkan seakan neraka dihadapannya. Mengapa?!
***
__ADS_1