
Tampak sepasang pengantin saling bertatapan penuh cinta dan kebahagiaan disalah satu sudut Sankeien Garden, sebuah taman bernuansa tradisional Jepang yang berlokasi di Naka Ward, Yokohama. Taman berarea sangat luas dengan banyak bangunan bersejarah, rumah tradisional, kuil, sungai, danau, taman bunga dan jalan setapak yang di-booking khusus oleh kedua keluarga mempelai sebagai tempat pernikahan kedua insan itu. Dengan dress code khusus pengenaan kimono untuk para anggota keluarga dan tamu undangan pernikahan serta kelopak bunga sakura yang berguguran tertiup angin musim semi, seolah menunjukkan bahwa mereka semua berbahagia terhadap pasangan baru itu.
Sang mempelai pria yang mengenakan kimono khusus berwarna hitam dengan aksen warna putih dibeberapa bagian atau disebut Montsuki Haori Hakama beserta kipas yang dilipat rapi dan digenggam oleh tangan kanannya, sangat serasi dengan sang mempelai wanita dengan kimono berdetail rumit terbuat dari beberapa lapis kain putih murni yang disebut Shiromuku. Dibutuhkan beberapa orang untuk membantunya mengenakan semua bagiannya dan mengikatnya dengan Obi atau tali pinggang khusus pengikat kimono berpola ikatan cukup rumit khusus pernikahan adat tradisional Jepang. Rambutnya yang ditutupi wig dan Wataboshi atau topi katun putih dan diletakkan di kepalanya sebagai cadar pernikahan, membuatnya menjadi perempuan paling cantik dan berbahagia hari ini.
Setelah melewati serangkaian acara adat tradisional yang cukup panjang, sakral, dan merepotkan bagi mempelai yang terbiasa dengan pakaian kasual dikesehariannya, mereka pun akhirnya saling bertukar cincin pernikahan sebagai perlambang untuk memantapkan ikatan yang baru saja dideklarasikan.
“Ini…, aku yang bertunangan duluan mengapa mereka yang menikah duluan?” Protes Akio sambil melipat kedua tangannya dan ditempelkan di dadanya. Ia masih tidak terima harus mengalah kepada Daichi dan Luna sambil menatap pasangan pengantin baru tersebut yang berada tepat di depannya begitu memancarkan rona bahagia dihari penting mereka saat ini. Padahal ia sudah membayangkan bahwa ia duluan yang akan menikah dengan Kirana. Namun hanya karena tradisi kolot orang tua Daichi dan Kirana serta trauma Ibu mereka dilangkahi oleh adiknya untuk menikah duluan sehingga terlambat bertemu jodohnya yaitu Ayah mereka, akhirnya ia harus mengalah menunggu setahun lagi untuk mengikat pujaan hatinya. Ampun deh, aturan dari mana itu?!
“Tidak boleh begitu Akio,” Kirana yang duduk disebelah kanan Akio menyenggol lengan tunangannya itu. Ia tampak cantik dengan kimono ungu bermotif bunga-bunga kecil berwarna-warni berjenis Furisode yang memiliki arti ‘lengan berayun’ karena ukuran kain di bagian lengan yang lebar dan menjuntai ke bawah dengan panjang sekitar 100 cm hingga 107 meter, sebuah kimono khusus perempuan yang belum menikah. “Setahun itu tidak lama kok…”
“Setahun itu lama Kirana!” Bisiknya ke telinga kiri Kirana agar tidak mengganggu jalannya upacara pernikahan antara Daichi dan Luna. Apalah daya dirinya ketika melihat Kirana begitu cantik dengan kimono yang dikenakan gadis itu saat ini sangatlah menggoda imannya. Sepertinya setelah pulang dari acara ini, dirinya akan meningkatkan intensitas olahraganya untuk menyalurkan keinginan yang harus bisa dikendalikannya sampai hari pernikahannya tiba. “Apa aku perlu menghamilimu dulu seperti yang dilakukan Kazuto kepada Park Ha Neul agar kita segera dinikahkan?”
“Kau jangan gila Akio!” Kirana mencubit keras lengan Akio. “Apa kau ingin Kakakku itu menjalankan niatnya untuk membuatmu mati ditangannya dan mayatmu dibuang ke laut?”
“Aduh..duh..duh…,” Akio meringis menahan perih dan sakit cubitan maut dari Kirana serta berusaha melepasnya. “Ya nggak mau juga sih…, tapi cubitanmu sakit sekali...”
“Makanya bersabarlah…,” Kirana yang tak tega melihat Akio meringis kesakitan akhirnya merangkul mesra lengan kekar yang dicubitnya tadi sambil menyenderkan kepalanya dipundak bidang lelakinya itu. “Tak perlu khawatir yang berlebihan, aku akan tetap bersamamu dan tidak kemana-mana…”
“Iya, aku tahu…,” Akio menggenggam tangan Kirana yang merangkulnya. Rasa kesalnya sedikit memudar dengan perlakuan penuh kasih sayang dari Kirana.
“Ngomong-ngomong Akio,” Kirana menjinjitkan kedua kakinya yang beralaskan sandal zori dan membisikkan sesuatu ke telinga kanan Akio. “Kau sangat tampan dengan kimono hitam yang kau pakai saat ini…”
__ADS_1
Oh tidak…, ia sudah tidak tahan lagi! Akio menarik wajah Kirana dan mencium bibir gadis itu dalam serta tak perduli para tamu undangan yang tampak terlarut dalam acara sakral tersebut.
Sementara itu, Daichi dan Luna saling menatap penuh senyum bahagia sambil mengingat drama yang terjadi pada saat penentuan tanggal pernikahan keduanya. Orang tua mereka, terutama kedua Ayah mereka yang telah saling memaafkan sebelumnya satu sama lain nyaris bersitegang adu otot hanya untuk menentukan hari baik mereka mereka menikah. Apa mereka sudah lupa bahwa usia mereka sudah masuk kepala lima? Syukurlah Ibunya Daichi dengan singkat, jelas, dan padat serta emosi stabil berhasil melerai keduanya sehingga acara hari ini dapat berlangsung lancar dan mereka akhirnya telah resmi menjadi sepasang suami istri yang sepakat untuk saling mencintai sehidup, semati, dan selamanya.
***
“Terima kasih suamiku, kau telah mengabulkan hal paling membahagiakan untukku,” Terdengar suara wanita yang sangat familiar menggema di telinga Daniel. “Melihat pemandangan indah dihadapanku sungguh membuatku tenang...”
Daniel yang sejak tadi tak henti-hentinya terpaku penuh haru melihat putri semata wayangnya mengikatkan janji pernikahan dengan lelaki pilihannya, sontak menoleh kearah suara itu yang berasal. Ia tak sedang bermimpi kan? Daniel melihat sosok Astrid dengan senyuman di bibirnya sedang menatapnya dengan tatapan yang masih sama, penuh cinta, sambil seolah-olah menggandeng jari tangan kiri pria itu. “Astrid…”
“Aku sangat bangga padamu, sayang…”
***
“Sebentar lagi tugas kita di dunia ini selesai ya, Pa,” Wahya menyenderkan tubuh tuanya ke pundak suaminya, Sutomo. Ia memandangani satu per satu anak dan cucu-cucunya yang hadir lengkap khusus di acara hari ini. Betapa bersyukurnya dirinya dianugerahi anak-anak dan cucu-cucu yang baik serta telah memberikannya kesempatan untuk menimang cicit diusianya yang telah diberi bonus sangat panjang di dunia ini oleh Sang Pencipta.
“Iya Ma, akhirnya kita bisa memenuhi janji kita pada Rea untuk tetap sehat dan hidup sampai anak-anaknya menikah…,” Sutomo pun membalas perlakuan Wahya dengan merangkul pundak wanita yang telah menemaninya selama lebih dari lima puluh tahun lamanya. Sebuah pencapaian yang jarang dimiliki oleh manusia pada umumnya.
***
“Nih, buket bungaku langsung kuserahkan padamu tanpa embel-embel dilempar-lempar seperti yang lainnya,” Luna menyerahkan buket bunga berisi warna mawar putih yang senada dengan gaun pengantin yang ia kenakan saat ini. “Jadi kau dan tunanganmu itu tak perlu khawatir akan tergeser dengan anggota keluarga lain untuk menikah setelah aku dan Daichi.” Ia melihat suaminya bercengkerama dengan Akio dan Kazuto.
__ADS_1
“Thanks ya Na, welcome to sister-in-law’s world yak,” Kirana mencium harum buket bunga yang diberikan Luna kepadanya. Setidaknya meskipun mitos, rangkaian bunga ini cukup menenangkan dan mengurangi kekecewaan dirinya dan Akio yang memang sempat berniat menikah lebih dahulu dibandingkan Kakaknya dan Luna. “Asli, rasanya masih mimpi dirimu jadi kakak iparku.”
“Sama, padahal dulu kita kan sahabat teman berantem ya.”
“Iya,” Kirana tertawa geli setiap kali mengingat kelakukan mereka berdua dimasa lalu.
“Tapi Kirana,”
“Hm?”
“Lain kali mainnya yang aman ya, ada tanda kemerahan di leher kirimu!” Luna memberikan kode kearah bagian kiri leher Kirana.
“A…ap…,” Kirana yang merasa malu karena tertangkap basah telah bermesraan dengan Akio segera menutup lehernya dengan tangan. “Sialan kau Luna!!!”
Kau tak dapat memilih dengan siapa kau jatuh cinta…
Cintalah yang memilihmu…
Namun kau dapat memilih sebuah rasa dari cinta…
THE END
__ADS_1