
“Iya Pa, aku sudah sampai dari sejam yang lalu,” Luna berbicara dengan Daniel melalui smartphone miliknya. Jari-jemarinya menyusuri lemari berbahan kayu jati berwarna coklat tua dengan berbagai pajangan pernak-pernik khas masing-masing negara yang dikunjungi Ayahnya yang diletakkan disalah satu sudut ruangan keluarga. Ia tersenyum miris memaknai mengapa Ayahnya begitu gila mengkoleksi hal itu hanya karena memuja seorang wanita yang selalu berpergian dengan suaminya. Tapi ia bisa apa, bagaimanapun pria paruh baya itu adalah Ayahnya, dan satu-satunya wali yang tersisa. Luna, ingat, jangan biarkan pikiran negatifmu tentang masa lalu beliau membuat hubunganmu kembali renggang dengannya! Luna menggeleng-gelangkan kepalanya berusaha menghilangkan bayangan-bayangan ketakutan dan ketidaksukaan tentang Daniel. “Papa fokus dengan pekerjaan saja, tidak perlu memaksakan diri untuk pulang cepat karena posisi Papa yang sedang diluar kota saat ini. Lagipula sebentar lagi aku dan Bi Ani juga akan pergi mengunjungi kuburan Mama…”
Jarinya menyentuh sebuah foto yang luput dari pandangannya selama ini. Pigura berisi foto kedua orang tuanya menimang dirinya yang ringkih dan baru dilahirkan. Dan betapa terkejutnya dirinya bahwa ekspresi yang ditunjukkan oleh Ayahnya sungguhlah bahagia dan bangga bahwa ia memiliki seorang putri.
“Iya Pa, Papa tak perlu khawatir aku disini dalam waktu yang cukup lama kok, karena di kampusku kan sedang liburan musim panas.”
Tanpa disadari Luna, Ani yang sudah siap untuk menemani majikan mudanya itu untuk berkunjung ke pusara tempat Astrid beristirahat dengan tenang, tampak begitu terharu melihat pemandangan yang sungguh indah dimatanya. Sebuah interaksi yang terjadi antara seorang ayah dan putrinya. Tak sia-sia rupanya ia berdoa setiap harinya hanya untuk melihat Daniel dan Luna berkasih sayang seperti saat ini mengingat betapa buruknya hubungan keduanya sebelumnya. Rupanya bujukan setengah memohon dari Ani kepada Daniel untuk mengujungi Luna di Jepang berbuah manis. Namun…, apakah ia tak salah lihat? Sepasang iris milik Luna terlihat kehilangan cahayanya seolah gadis itu sedang menahan sebuah batu besar yang sangat menyesakkan dadanya karena berulang kali dirinya melihat Luna memegang bagian tengah dadanya sambil menepuknya sesekali. Apakah ini hanya perasaan khawatirnya saja ya? Ada apa sebenarnya? Terlebih lagi gadis itu mengatakan bahwa ia keluar dari pekerjaannya sebagai barista di sebuah cafe yang selalu dibangga-banggakannya setiap kali bertelepon dengannya.
“Sudah dulu ya Pa, Bi Ani sudah siap,” Luna yang melihat Ani sudah selesai bersiap diri segera mengakhiri komunikasi dengan Daniel. “Tenang saja Pa, walaupun aku sudah lama tidak menyetir bukan berarti aku kehilangan kemampuan untuk itu.”
“Non yakin mau menyetir mobil sendiri ke Bogor?” Tanya Ani sambil menyerahkan sebuah kunci mobil kepada Luna.
“Bi Ani meremehkan kemampuanku nih ceritanya?” Luna berkacak pinggang dan menggembungkan kedua pipinya berpura-pura marah kepada Ani. Hal yang tak mungkin dilakukannya kepada wanita tua yang begitu banyak jasanya telah setia sejak muda untuk menjaga Keluarga Putranto selama ini.
“Ya tentu tidak Non,” Jawab Ani polos. “Non Luna kan baru saja kembali dari Jepang, sudah pasti mengalami jetlag. Apa tidak sebaiknya menggunakan jasa supir saja untuk mengantarkan kita ketempat Bu Astrid? Mereka kan dibayar untuk itu…”
__ADS_1
“Bi Ani tidak boleh meremehkan kemampuan anakmu ini,” Luna mengambil kunci mobil dari tangan Ani dan bergaya bangga sambil menepuk dadanya penuh percaya diri. “Jetlag itu bukan masalah berarti untukku menyetir mobil kesayanganku itu.”
“Hah…, ya sudahlah, menghadapi Non Luna yang sama kerasnya seperti Pak Daniel, Bi Ani bisa apa?” Ani menghela napas mengalah menghadapi Luna.
“Nah, gitu dong Bi Ani, percaya sama Luna,” Luna merangkul pundak Ani yang tingginya lebih pendek darinya dan berjalan menuju sebuah mobil SUV berwarna merah yang terparkir di garasi rumah. “Karena ada banyak hal yang ingin kusampaikan Mama disana dan jika ada orang lain yang melihatnya selain Bi Ani rasanya seperti ada yang salah…”
Ani kembali menangkap pancaran mata yang sama seperti tadi dari Luna. Ada kesedihan yang mendalam namun kali ini sepertinya lebih buruk dibandingkan perselisihannya dengan Daniel. Ada apa tho Nak? Wanita tua ini kan jadi penasaran dan khawatir…
***
“Tumben kau datang sendirian tanpa mengajak Kazuto?” Daichi terkekeh sambil memainkan cairan bening berwarna kuning keemasan yang berada di dalam gelas yang dipegangnya. “Kau tak takut aku akan memukulmu lagi? Bahkan mungkin bisa lebih keras dari sebelumnya?”
“Memangnya aku anak kecil yang harus didampingi Kazuto kemana-mana untuk meminta perlindungan darinya? Aku ini lelaki dewasa yang bertanggung jawab atas perbuatan dirinya sendiri. Untuk apa aku harus melibatkan Kazuto disetiap sisi kehidupan pribadiku? Dia sahabatku, bukan babysitter-ku Senpai,” Daichi mendengus kesal menanggapi pertanyaan penuh sarkatik dari Daichi dan memilih duduk agar tidak terpancing oleh ucapan Daichi. Ia memandangi sosok kakak seniornya yang terkenal dengan gaya hidup hedonisnya seakan gemerlap sinar lampu sorotan tertuju pada lelaki yang penuh kuasa itu. Sungguh bertolak belakang 180 derajat dengan Kirana yang begitu sederhana dan apa adanya seperti gadis ceria pada umumnya. Yah…, minus keras kepalanya sih…, jadi wajar saja ia tak pernah menyangka bahwa mereka berdua adalah kakak-beradik kandung. Sampai sekarangpun baginya masih menjadi pertanyaan besar, bagaimana bisa mereka merupakan saudara kandung satu darah? Logikanya benar-benar tidak sampai kali ini.
“Cih, kali ini kau rupanya benar-benar cari mati karena tidak memperdulikan ucapanku yang sebelumnya? Memangnya kau pikir aku bermain-main dengan ucapanku kepadamu mengenai Kirana?!”
__ADS_1
“Apa maksud Senpai?” Akio berusaha untuk tetap tenang menghadapi lelaki dengan aura penuh kemarahan dihadapannya ini. Menghadapi Daichi haruslah berkepala dingin atau ia akan kalah dengan perasaan terintimidasi yang membuatnya tak berani melawan dan menyampaikan apa yang ia ingin sampaikan selama ini dan terus hidup dibawah bayang-bayang pengaruh Daichi yang begitu besar terhadapnya.
BRAK!
“Aku sudah tahu semuanya…,” Daichi meletakkan gelas di atas meja kemudian menyedekapkan kesepuluh jarinya dan tubuhnya dicondongkan kedepan dengan siku yang betumpu dikedua paha kakinya. Tatapan matanya yang setajam elang serasa menembus bola hitam sekelam malam milik Akio. Ia benar-benar murka ketika mendengar dengan telinganya sendiri bahwa anak bau kencur dihadapannya ini berani memanipulasi kakeknya untuk maju meminang adiknya melalui kedua orang tuanya dan melangkahi dirinya. Hal yang sebenarnya disimpan kedua orangtuanya untuk sementara waktu karena kondisi hatinya yang memburuk sejak putus dari Luna. Namun siapa yang berani merahasiakan sesuatu mengenai adik kesayangannya itu? Bahkan orang tuanya pun terpaksa menyampaikan kesepakatan yang menurutnya sangat diluar akal sehatnya berani dilakukan oleh seorang Akio Fujiwara yang selalu bermain aman tanpa pernah mau bersinggungan dengan dirinya karena rasa segan. Rasanya dirinya seperti dihujam dua sembilu dalam waktu bersamaan.
“Aku pun juga sudah tahu semuanya tentang hubunganmu dan Luna,” Akio yang tak gentar dengan nada penekanan disetiap ucapan yang terlontar berusaha melawan secara halus.
“Ap…,” Kelopak mata Daichi membesar tak menyangka justru kata-kata yang tak terduga keluar dari seorang Akio.
“Oleh sebab itulah aku dengan berani datang kemari memenuhi undangan Senpai dan menawarkan sebuah kesepakatan karena aku tidak mau lagi melarikan diri dari rasa seganku padamu yang merupakan orang paling kuhormati setelah Kakekku.”
“Kau…”
“Justru aku sekarang balik bertanya apakah Senpai mau menerima tawaranku nanti? mengingat ego Senpai yang sangat tinggi itu dan tak pernah menganggap pendapatku selama ini,” Akio tersenyum penuh percaya diri kearah Daichi yang berubah menjadi diam seribu bahasa.
__ADS_1
***