
Suasana lengang tercipta diantara Daichi dan Daniel yang duduk berhadap-hadapan di sofa berwarna hitam tempat menerima tamu pada ruang kerja Daniel. Hanya dentingan detik jarum jam dinding berwarna silver yang bergerak mengalun berirama untuk mengisi kesunyian yang ada di ruangan berkonsep minimalis modern seolah menunjukkan bahwa bisnis perusahaan tempat Daniel berkerja adalah bisnis yang penuh dinamika dan membutuhkan fleksibilitas tinggi dalam menjalaninya. Daniel sungguh tak menyangka bahwa lelaki yang ia minta Luna jauhi justru menghampirinya seolah kekuasaan dan pengaruhnya tak berarti apa-apa ketika mengetahui bahwa rekan bisnisnya dibidang logistik, Akio Fujiwara adalah sahabat lelaki tersebut. Sungguh kejutan yang tak pernah terpikir sedikitpun dalam benaknya bisa terjadi seolah terdapat tali tak kasat mata yang mengikat mereka semua sehingga dapat saling berhubungan satu sama lain.
“Dalam rangka apa kau kesini anak muda?” Suara berat dan bernada rendah penuh penekanan keluar dari Daniel yang berusaha untuk mengintimidasi Daichi. Dengan posisi duduknya yang menyender ke punggung sofa dan kedua tangan dilipat serta ditempelkan di dada membuat hawa penuh intimidasi sungguh terasa diseluruh ruangan.
“Dalam rangka meminta restu kepada Om Daniel untuk meminang putri tunggal Om, jika hal itu menjadi syarat agar saya tetap bisa bersama anak Om,” Jawab Daichi tak kalah tegas dengan mencondongkan tubuhnya dan kesepuluh jari terkait sempurna bertopangkan kedua lututnya. Sudah hal biasa ia menghadapi orang seperti Daniel yang merupakan tipe dominan dan sedikit otoriter serta tidak suka berbasa-basi.
“Ckk, hahahaha…,” Daniel tak dapat menahan tawanya karena tak menyangka bahwa lelaki dihadapannya memanggilnya dengan kata ‘Om’ seolah mereka begitu dekat seperti paman dan keponakan. Sungguh lucu! “Apa yang kau lihat dari seorang Luna putriku? Jika menelisik latar belakangmu yang luar biasa itu, rasanya kau bisa memilih perempuan manapun yang lebih baik dari sisi latar belakang keluarganya dibandingkan anakku itu. Kehilangannya kurasa tak akan ada pengaruhnya bagimu anak muda.”
“Justru kehilangan putri Om memberikan pengaruh besar pada hidup saya,” Daichi tersenyum penuh percaya diri menatap Daniel. Ia sudah menduga bahwa pertanyaan sulit ini akan ditanyakan oleh Daniel mengingat masa lalu pria baya dihadapannya dengan kedua orang tuanya yang sungguh buruk dan complicated. Namun bukan Daichi Matsumoto namanya jika ia tak bisa menjawab pertanyaan tersebut. “Kehadiran Luna didalam hidup saya yang tanpa saya sadari terlalu sombong dan seenaknya karena merasa bisa melakukan serta mendapatkan apa saja yang saya inginkan, menyadarkan bahwa saya juga seorang manusia biasa yang memiliki keterbatasan dan bisa berbuat salah. Kehadiran Luna didalam hidup saya memberikan warna tersendiri yang tak dapat terukir oleh tinta manapun karena ketidaksempurnaannya. Kehadiran Luna didalam hidup saya membuat saya lebih menghargai keberadaan orang-orang disekeliling saya. Keberadaan Luna didalam hidup saya membuat saya bersyukur dan berbahagia, serta yang terpenting adalah, keberadaan Luna didalam hidup saya untuk memutus hubungan karma buruk yang terjadi antara Om, Tante Astrid Ibunya, dan kedua orang tua saya dimasa lalu. Saya ingin mengakhirinya dan membuka lembaran hubungan yang baru antara Om dan orang tua saya. Cukup sudah rasa bersalah yang Om rasakan dimasa lalu karena orang tua saya telah memaafkan Om dan Tante Astrid bahkan memberikan restu untuk saya dapat menautkan hati dengan putri Om. Saya kesini untuk menunjukkan bahwa perasaan saya tulus mencintai dan ingin membahagiakan putri Om karena bahagianya adalah bahagia saya juga…”
“Semua orang pernah berbuat salah Pak Daniel, Bapak dan Bu Astrid pun sudah berubah menjadi orang yang lebih baik lagi dari sebelumnya sehingga diberi kesempatan untuk memiliki anak seperti Luna. Sudah waktunya Pak Daniel memaafkan diri Pak Daniel sendiri sekarang. Saran saya, biarkan Luna berbahagia dengan pilihan hidupnya. Kalaupun nanti ia terluka, ada Bapak dan saya jika masih diberikan kesehatan dan umur panjang yang akan merangkulnya dan mengatakan bahwa ia telah melakukan yang terbaik dan semua akan baik-baik saja…”
Daniel tak dapat berkata apa-apa selain air mata yang mengalir perlahan dikedua pipinya. Air mata yang bahkan tak dapat dikeluarkannya ketika Astrid meninggal dulu karena tertutupi rasa bersalah yang amat dalam kepada Daiki dan Rea. Ucapan Bi Ani benar, sudah saatnya ia memaafkan dirinya dan membuang egonya demi kebahagiaan putrinya. Ia akan meminta maaf langsung kepada Daiki dan Rea atas sikapnya dulu sehingga Astrid pun bisa tenang di alam sana.
__ADS_1
“Om…,” Daichi terkejut melihat pria yang tampak masih gagah diusia kepala limanya tertunduk dan menangis seolah kekuatan penuh keangkuhan dan dominansi runtuh. Suaranya tampak melunak tak setegang tadi.
“Saya…,” Daniel berusaha menghentikan tangisnya dengan lengan kanannya. “Saya bukanlah Ayah yang sempurna karena pernah melukai perasaan putri saya satu-satunya dengan ego saya sehingga terjadi kesalahpahaman yang berlangsung lama…”
“…”
“Saya mohon kepadamu anak muda, tolong bahagiakan putri saya…”
Daichi tak kuasa memeluk pria dihadapannya ketika mendengarkan ucapan restu dari Daniel untuknya.
Akio yang sejak tadi menunggu diluar ruang kerja Daniel tersenyum lebar. Ia mengepalkan tangan kanannya ke udara sebagai tanda bahwa usahanya tidak sia-sia belaka kemudian merogoh smartphone di dalam kantong celananya dan menekan tombol nomor ponsel Kirana. Sejak dirinya membuat kesepakatan dengan calon kakak iparnya itu, ia diperbolehkan kembali menjalin komunikasi dengan Kirana meskipun hanya via telepon saja. Tapi hal itu lebih dari cukup agar ia tak semakin gila karena menahan kerinduan dan cintanya kepada Kirana.
“Halo…,” Terdengar suara merdu milik Kirana yang mengalun indah di telinga kiri Akio. Suara yang begitu ia rindukan segenap jiwa dan raganya. Perasaan bahagia begitu meluap-luap di dalam dadanya ketika dirinya berhasil memenuhi janjinya untuk membantu Daichi meraih tujuannya. Sekarang sudah tidak ada lagi penghalang diantara dirinya dan sang gadis pujaan hatinya. Ingin rasanya saat ini ia mencium dan mendekap erat gadisnya seakan tak ingin dilepaskannya lagi karena rasa bahagia yang tak dapat terucap dengan kata-kata. Sabar Akio…, sabar… dirinya mengusap-usap dadanya untuk menenangkan detak jantungnya yang bertalu-talu karena euphoria kebahagiaan yang dirasakannya. Dulu, ia tak percaya bahwa kebahagiaan bisa menular kepada orang lain. Tapi sekarang ia percaya, bahwa kebahagiaan itu bisa menular kepada orang lain karena melihat Daichi begitu bahagia mendapatkan restu dari Ayah Luna memberikan efek yang sama dengan dirinya.
__ADS_1
“Halo Kirana, kau sedang apa sekarang?”
“Aku baru saja selesai berolahraga dengan kedua orang tuaku, kenapakah?”
“Tidak, hanya ingin mendengar suaramu saja,” Akio menatap langit biru nan cerah yang menembus dari jendela kaca besar tak jauh dari ruangan milik Daniel. Senyum merekah tak henti-hentinya tergurat lugas di bibirnya. “Kirana…”
“Hmm…,” Jawab Kirana sambil mengambil sekaleng minuman isotonik dari dalam kulkas di apartemennya.
“Setelah aku kembali dari Indonesia, ayo kita segera menikah!”
BRUUSSSHHHH!
Sontak Kirana menyemburkan minuman isotonik yang sedang diminumnya.
__ADS_1
“Uhuk-uhuk, apa kau sudah gila?!”
***