A Flavour to Love

A Flavour to Love
9-1


__ADS_3

Luna tertegun melihat tiga gelas ukuran venti caramel macciato frappucino dan empat piring dark chocolate cake habis tandas oleh sahabat didepannya. Sejak kunjungan dari Klub karena undangan Park Ha Neul minggu lalu sikap Kirana mendadak berubah overactive dan sering bersikap konyol. Tertawa sendiri, berteriak-teriak tidak jelas kemudian tiba-tiba menangis dipojokan sendiri seperti anak kecil dan puncaknya adalah hari ini. Kirana memesan begitu banyak makanan dan minuman yang jika ia memakan dan meminumnya secara bersamaan akan berakhir seperti penderita Bulimia Nervosa, penyakit mental para model papan atas demi menjaga tubuh mereka tetap langsing namun mereka tetap dapat memakan makanan yang mereka sukai kemudian memuntahkannya.


"One greentea frappucino please? Ukuran venti juga," Luna menatap horror mendengar permintaan Kirana. Hari ini Kirana berkunjung ke cafe tempat Luna bekerja paruh waktu untuk menikmati kopi racikannya. Ia tahu Kirana sedang stres namun ia tak ingin menanyakannya. Kirana yang ia kenal adalah sosok yang jika ia punya masalah akan menyimpan dan menyelesaikannya sendiri. Dibalik tampilannya yang ceria dan bahagia masih banyak hal misterius dalam diri Kirana yang belum ia ketahui seperti bagaimana rupa orang tuanya yang selalu ia ceritakan berbulan madu entah untuk keberapa kalinya, kakak laki-lakinya yang playboy namun sister complex, marganya..., tapi Luna tak mengambil pusing akan hal itu. Mengenal kedua kakek neneknya sudah cukup membuatnya mengambil kesimpulan bahwa Kirana berasal dari keluarga baik-baik dan berada namun tetap menjunjung tinggi kesederhanaan.


"Kalau kau makan terus-menerus begini nanti bisa gendut lho...," Celetuk Luna yang dengan setengah hati membuatkan pesanan Kirana. Ia sengaja berbicara menggunakan Bahasa Indonesia guna mengurangi perhatian teman-teman kerjanya dan para pengunjung cafe mengenai tema obrolan yang sedang mereka bicarakan.


"Gendut itu tidak akan membuatmu mati tahu," Ujar Kirana cuek dan menerima gelas keempat ukuran venti pesanan terakhirnya dan segera meminumnya. "Lagi pula aku punya instruktur pribadi yang disewa oleh kakakku untuk menjaga bentuk dan berat badanku...," Sepertinya otaknya sedang tidak dapat berpikir dengan jernih sekarang hingga ucapannya ngelantur.


"Tapi jika seperti ini kau bisa mun..."


"Hukkkhh...," Kirana menutup mulutnya seolah menahan gejolak untuk mengeluarkan semua isinya. "Aku mau muntah...," Ia segera berlari menuju toilet umum yang berada tak jauh dengan loker pakaian pegawai.


"Tuh kan..., baru juga dibilang malah sudah kejadian...," Luna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah polah Kirana. Rasa damai menyeruak di dalam hati Luna. Musim semi kali ini terasa tenang dan damai. Bak mantra yang mujarab, bisikan Daichi untuk selalu memimpikannya dalam tidur malamnya membuatnya dapat kembali tidur nyenyak setelah sekian lama ia selalu dihantui mimpi buruk. Mungkin ini rasanya jatuh cinta berjuta rasanya. Mengingat lelaki itu ia baru sadar bahwa malam ini ia memiliki janji untuk makan malam dengannya di apartemen.


Sepuluh menit kemudian Kirana kembali ketempat duduknya didepan meja Barista dengan wajah lelah akibat perjuangan mengeluarkan seluruh isi makanan dan minuman dari perutnya.


"Bagaimana rasanya satu hari merasakan penyakit Bulimia?" Tanya Luna dengan nada meledek dan menyodorkan chamomile tea panas kehadapan Kirana untuk menenangkan perutnya setelah mengeluarkannya secara paksa kemudian melanjutkan membuat pesanan pelanggan yang lainnya.


"Yang pasti jauh lebih mengerikan dibandingkan memutuskan hubungan pacaran dari lelaki brengsek macam Andre."

__ADS_1


Luna yang sedang meracik latte art mendongak terkejut menatap Kirana. "Jadi kau..."


"Ya, aku sudah mengingat kembali ingatanku yang hilang dan penyebab kecelakaan itu. Dia hampir memperkosaku di rumahnya jika saja aku tidak dengan sekuat tenaga menendang perutnya dengan jurus karateku. Seperti kau bilang tidak ada ingatan yang baik tentangnya yang perlu aku ingat dan...," Belum sempat Kirana melanjutkan kata-katanya rasa mual kembali melanda sehingga membuatnya harus berurusan dengan toilet lagi. "Kita lanjutkan lagi nanti...rupanya perutku masih cinta dengan toilet cafe-mu!" Kirana segera berlari menuju toilet yang sama untuk kedua kalinya.


Luna tertawa kecil melihat tingkah Kirana yang terlalu konyol untuk wanita seusianya. Tapi itulah daya tariknya, selalu apa adanya dan menyampaikan pendapatnya secara jujur walaupun terkadang mengesalkan.


TING!


"Pesanan untuk meja 21!” Teriak Luna dengan lantang dan dengan sigap diambil Momo yang kebetulan bekerja satu shift dengan Luna saat ini.


***


"Kau hebat Kirana, dengan aktingmu yang sangat sempurna, membuat kakak lelaki dan kedua orang tuamu tidak khawatir," Kirana berbicara sendiri menunjuk-nunjuk dirinya di depan cermin dengan jari telunjuknya. "Ingat, jangan membuat mereka semua khawatir seperti kecelakaan itu! Jangan membuat Mamamu kembali menangis setelah apa yang telah beliau korbankan untuk kebahagiaanmu...," Ya, dan ia melakukannya, seolah tidak terjadi apa-apa. Kau kuat Kirana!


Ia memantapkan langkahnya untuk keluar dari toilet kembali menikmati greentea frappucino-nya yang telah jadi dan bertepatan dengan itu Akio muncul bersama dengan Kazuto masuk ke dalam cafe. Tubuhnya mendadak kaku dan keringat dingin mulai mengalir dari pelipisnya ketika tatapan mereka bertemu. Tuhan...cobaan apa lagi ini...


"Kirana, sebenarnya apa yang kau lakukan berlama-lama di toilet?" Luna tampil dengan berkacak pinggang dihadapan Kirana yang masih berwajah pucat. "Apa kau memuntahkan semua isi perutmu? Kan sudah kubilang jangan..."


"Muntah?" Kirana dan Luna terkejut ketika Akio dapat merespon bahasa yang mereka gunakan. "Jangan-jangan kau...," Akio menatap nyalang berjalan menghampiri Kirana dan hal itu membuat sang gadis yang telah menjadi wanita tersebut ketakutan sehingga berlindung dibalik tubuh Luna.

__ADS_1


"Kau salah dengar Fujiwara, ini tidak seperti yang kau bayangkan," Bibir Kirana bergetar namun memaksakan untuk berbicara. Setelah seminggu ini ia selalu berhasil menghindari pertemuan dengan lelaki itu ditambah libur musim semi telah datang sehingga dapat ditarik kesimpulan kesempatan terjadi pertemuan adalah 0%, diantara sekian banyak orang mengapa ia harus dipertemukan dengannya ditempat random seperti sekarang ini. "Aku hanya terlalu banyak makan dan minum hari ini..."


Dengan sigap Akio menarik lengan Kirana untuk pergi mengikutinya namun dengan sekuat tenaga pula Kirana menarik tangan Luna untuk tidak melepaskannya agar dirinya tidak ikut pergi bersama dengan lelaki ini namun tenaganya kalah kuat dari Akio dan dengan pasrah ia mengikuti kemana langkah lelaki ini membawanya. Adegan yang terlalu dramatis dimata Kirana rupanya disaksikan seluruh orang yang ada di cafe tersebut. Bagaimana tidak, wajah Akio Fujiwara adalah wajah familiar yang sering terpampang di headline khusus koran-koran bisnis. Dan kali ini ia akan kembali membuat skandal dengan menarik paksa seorang wanita untuk ikut dengannya.


"Lepaskan aku Fujiwara, sialan kau!!" Teriakan Kirana hanya direspon dengan senyuman pemakluman orang-orang yang melihat mereka sambil menggelengkan kepala dan berpikir bahwa Akio Fujiwara sedang bertengkar dengan kekasihnya.


"Dasar anak muda," Kata mereka yang melihat kejadian yang berlangsung cepat itu. Luna dan Kazuto pun hanya bisa saling berpandangan bingung harus bersikap seperti apa sambil kembali ke habitat semula sebagai pelanggan dan barista.


Akio memasukkan Kirana yang masih memberontak ke dalam mobilnya yang ternyata terparkir tidak jauh dari cafe. Ia menyusul masuk dan mengunci pintu secara sentralisasi dan membiarkan Kirana murka di dalam mobil.


"Apa lagi maumu sih?!" Geram Kirana yang diperlukan tidak manusiawi oleh makhluk tampan dihadapannya. Che, kau kini mengakuinya Kirana? "Aku sudah lelah berurusan denganmu!"


"Penjelasan!" Ujar Akio. Tatapan pria itu beralih pada bibir Kirana yang setengah terbuka, dengan napas memburu dan terengah-engah. Ia sungguh-sungguh merindukan bibir yang telah membuatnya sebagai candu baginya. Mata Kirana terbelalak saat melihat kilat di mata Akio seolah mengerti arah maksud pembicaraan ini.


"Jika kau berpikir bahwa aku hamil setelah kau memperkosaku, kau salah besar," Kirana memberikan penjelasan dengan nada sarkastik. "Tuhan tahu bahwa itu perkosaan, tidak didasari suka sama suka sehingga tidak menjadikan cairanmu berbuah didalam rahimku. Aku hanya kebanyakan makan dan minum untuk menghilangkan stresku yang berusaha melupakan kejadian itu. Jadi kau tak perlu khawatir menjadi pahlawan kesiangan untuk bertanggung jawab. Kalaupun aku hamil aku tidak ak..."


Terlambat, Bibir Akio telah membungkam di atas bibir Kirana yang masih terbuka. Ia melumat dengan kuat dan melesakkan lidahnya membuat kepala Kirana terdesak di sandaran kursi mobil.


***

__ADS_1


__ADS_2