
Diruangan kerja Akio, tampak ia begitu serius dengan penjelasan yang sedang disampaikan oleh Kazuto. Namun konsentrasi mereka terpecah oleh suara ribut-ribut yang terdengar dari luar.
"Matsumoto-sama, saya mohon untuk tidak masuk kedalam, Fujiwara-sama dan Hoshi-sama sedang rapat penting!"
"Persetan dengan rapat tuan mudamu itu! Apa yang ingin kulakukan lebih penting dari apapun!" Nada suara Daichi tak kalah keras dari milik Momoko, sekretaris dari Akio yang berusaha menghalangi sahabat tuan mudanya itu mengingat ia dipesankan bahwa tidak ada seorangpun yang boleh masuk keruangan Akio hingga rapatnya bersama Kazuto selesai.
"Matsumoto-sama!"
BRAK!
Suara pintu yang dibuka paksa membuat suasana diruangan tersebut terdiam.
"Saya mohon maaf Fujiwara-sama, Hoshi-sama," Momoko menunduk dalam meminta maaf karena tidak dapat memegang amanahnya.
"Tidak apa-apa, Momoko-san," Akio tersenyum tipis memberikan kode kepada Momoko. "Biarkan Daichi-senpai disini, mungkin memang benar ada hal penting yang harus disampaikannya kepadaku. Kau boleh keluar sekarang."
"Baik Fujiwara-sama," Momoko undur diri keluar dari ruangan Akio dan menutup pintu ruangan tersebut rapat.
Tak lama Momoko pergi, Akio berdiri dari duduknya untuk menyambut Daichi. Ketika ia hendak memberikan salam dengan memeluk Daichi, tiba-tiba sebuah bogem mentah melayang kepipi kiri Akio sehingga membuat dirinya tersungkur jatuh ke lantai.
"Senpai!" Teriak Kazuto bangkit dari duduknya dan berlari kearah Akio yang tersungkur, namun suaranya tak berarti apa-apa setelah Daichi kembali menarik kerah kemeja Akio dan bertubi-tubi memukul Akio dengan tinjunya.
BUK!
BUK!
"Bukankah dulu sudah pernah kukatakan jika seujung jaripun kau menyentuh adikku kau akan mati dan mayatmu akan kubuang ke laut?!"
BUK!
"Tak tahukah kau bahwa kata-kataku waktu tidaklah main-main?!"
"Adik? Adik yang mana?" Akio berusaha menjawab pertanyaan dari Daichi ditengah lelaki tersebut masih saja menghujamkan tunjunya ke wajah miliknya. Ia berusaha sekuat tenaga menahan tangan Daichi untuk memukul wajahnya yang ia yakin sudah penuh memar. "Kenal saja tidak!"
"Kau masih saja tidak mau mengakuinya hah?!" Daichi yang semakin marah karena Akio tidak mau mengaku juga, dengan sekuat tenaga menepis genggaman tangan Akio dan kembali menghujamkan pukulannya.
__ADS_1
BUK!
"Senpai!" Kazuto yang tak tega melihat kondisi Akio berusaha menahan sekuat tenaga tangan Daichi untuk tidak kembali memukul Akio yang sudah babak belur dihajar Daichi. "Kumohon untuk membicarakan semua ini dengan kepala dingin..."
"Kirana, Kirana Kiseki Matsumoto dan dia adalah adik perempuanku satu-satunya!"
"Ki...," Mata Akio terbelalak sempurna ketika nama kekasihnya itu disebut. Ia pun bangkit dari terkaparnya dan memastikan bahwa apa yang ia dengar adalah benar. "Ki...ra...na...?"
"Apa kau ingin kuhajar lagi supaya telingamu itu berfungsi normal?!" Daichi hendak mengepalkan tangannya namun berhasil ditahan oleh Kazuto dan membiarkan Akio dapat bernapas normal serta berpikir jernih.
"Senpai...," Rengek Kazuto. Ia ingin menangis melihat sahabatnya Akio babak belur oleh Daichi. "Ini juga salahku yang tak bisa menghentikan Daichi mendekati Kirana, padahal aku sudah tahu dia adikmu..."
"Bisakah kita batalkan saja hubungan ini?"
"Apa maksudmu?!" Akio tidak menyangka pertanyaan serta pernyataan tersebut yang keluar dari bibir Kirana. Berani sekali ia meminta hal paling konyol baginya.
"Aku takut Akio...aku takut jika kita melanjutkan hubungan ini maka kau yang akan menyesal..." Bibir Kirana bergetar. Kedua tangannya memeluk kakinya.
"Jawab aku Kirana," Akio menarik kedua tangan Kirana untuk meyakinkannya. "Sebenarnya apa yang kau takutkan? Aku adalah salah satu orang berpengaruh di negeri ini jadi kau tidak perlu takut pada apapun Kirana."
"Tapi ada orang lain yang lebih berpengaruh dibandingkan dengan dirimu Akio...,” Kirana berkata putus asa.
"Kau kenal Daichi Matsumoto?" Kirana memandang ragu kepada Akio.
"Bukan kenal lagi, kami adalah sahabat dalam hal apapun," Ucap Akio bangga dan ditanggapi oleh Kirana dengan memutar kedua bola matanya malas.
"Lalu apa hubungannya denganmu?" Lanjut Akio kembali serius.
"Umm..., jika kukatakan bahwa aku adiknya bagaimana?" Tanya Kirana dan suasana diantara mereka berdua berubah menjadi sunyi senyap.
"Pufh...hahahahahaha," Tawa Akio mendadak meledak tak tertahankan sehingga membuat perutnya sakit. "Kau? Adiknya Senpai? Kemungkinan hal tersebut 0% Kirana!"
Kirana melongo tidak percaya atas respon yang didapatnya.
"Aku tahu senpai punya adik perempuan yang sengaja disembunyikannya. Tapi dari segi manapun kau tidak ada mirip-miripnya dengan senpai!" Akio mengusap sudut matanya yang berair karena tak kuat menahan tawanya. "Kalau bercanda jangan berlebihan Kirana!"
__ADS_1
Akio menelan air ludahnya sendiri ketika sekelebatan ingatan akan pembicaraan yang pernah ia lakukan dengan Kirana sebelum akhirnya sang gadis setuju untuk menjadi kekasihnya. Permainan takdir macam apa ini? Mengapa rasanya ia seperti orang bodoh tidak menyadari bahwa yang diucapkan Kirana benar apa adanya. Bahkan ia sudah melakukan hal paling mengerikan pada adiknya itu. Apakah ini karma dari sumpah serapah Kazuto untuknya yang terlalu sering mempermainkan perempuan?
"Mengapa kau sekarang diam Akio?!" Ujar Daichi masih dengan amarah pada nada suaranya membuat Akio tersadar dari dunianya.
"Aku minta maaf atas perbuatanku dan akan berhenti berhubungan dengan adikmu," Akio menatap serius kearah Daichi namun ia merasakan ada cubitan kecil namun sakit di dadanya.
"Akio...," Kazuto tidak menyangka bahwa kata-kata itulah yang keluar dari mulut Akio. Mengapa dengan mudahnya ia melepaskan cintanya pada gadis itu setelah perjuangan yang sangat panjang untuk mendapatkan hatinya? Apakah ia ingin membunuh karakternya sendiri dan kembali menjadi sosok yang dingin serta tidak berperasaan?
"Apakah aku bisa pegang kata-katamu itu?" Tanya Daichi tak kalah serius.
"Bisa!"
Daichi berdiri dari posisinya dan merapikan jas hitamnya yang sedikit kusut karena ulahnya tadi. "Aku pegang kata-katamu itu dan kuminta untuk diselesaikan segera!" Ia pun beranjak pergi meninggalkan Akio dan Kazuto yang masih terduduk di lantai. "Dan pastikan semuanya bersih karena aku tidak terima ketidaksempurnaan! Kau paham?!!"
BLAM!
Terdengar suara pintu ditutup. Suasana diruang kantor yang luas itu tampak sunyi senyap dan hanya meninggalkan suara detik jarum jam di dinding.
"Sejak kapan kau tahu bahwa Kirana adalah adik dari Daichi senpai?" Pandangan Akio kosong seolah mengarah keluar jendela. Ia butuh penjelasan yang dirinya tahu pasti Kazuto punya jawaban itu.
"Eh?!" Kazuto masih cukup shock dengan peristiwa yang berlangsung cepat tadi.
"Jawab Kazuto! Awww...," Akio meringis menahan perih dipipi kirinya.
"Kau tak apa-apa?" Kazuto yang tak tega segera mengecek kondisi pipi kiri Akio dan segera saja ditepis olehnya.
"Jawab saja pertanyaanku tadi...," Nada suara Akio berubah melunak.
"Sehari sejak kau ditampar Kirana dan berniat untuk menghancurkan hidup gadis itu kemudian berakhir kau berpacaran dengannya..."
"Ya Tuhan...," Akio merebahkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan kesepuluh jarinya. Bagaimana ia harus bersikap sekarang? Jika Daichi tahu apa yang telah ia lakukan kepada adik kesayangannya itu hubungan mereka sudah pasti tidak akan bisa kembali normal seperti dulu. Insiden hari ini saja sudah hampir membuat hubungan mereka retak jika ia tidak segera mengambil keputusan untuk menyetujui permintaan seniornya itu. Membayangkan dirinya akan melihat kesedihan lagi diwajah Kirana karena ulahnya kembali sudah membuat dadanya sesak dan ingin menjerit sekencang-kencangnya.
"Apakah terjadi sesuatu setelah hari itu?"
"Ya, telah terjadi sesuatu yang membuat gadisku itu kecewa dan membenciku meskipun akhirnya kami bisa berdamai dan berpacaran sehat seperti saat ini...," Ujar Akio lirih. "Dan aku tidak tahu apakah aku akan kuat menghadapi rasa kecewa dan kebenciannya lagi padaku ketika aku harus mengakhiri hubungan kami hari ini..."
__ADS_1
"Maafkan aku Akio..." Hanya kata itu yang dapat terucap. Ia sungguh menyesali sumpah serapah yang dilontarkannya dulu. "Maaf..."
***