
"Sampai disini saja kau mengantar Papa...," Daniel yang sejak tadi melihat kemurungan di wajah Luna ketika hendak mengantarkan dirinya ke Bandara Internasional Narita untuk kembali ke Indonesia menghentikan langkah koper yang dibawanya. Ia tahu anaknya itu masih sangat bersedih atas keputusan berat yang harus diambilnya. Tapi ia terpaksa harus memintanya karena ia tak mau anak tunggalnya menderita karena mendapatkan limpahan karma atas perbuatan dirinya dan Astrid.
"Eh?" Luna mendongakkan kepalanya menoleh kearah Daniel.
"Jaga dirimu baik-baik Nak," Daniel menepuk pundak kiri Luna menyalurkan kekuatan semampunya. Setelah sekian lama tak dapat berkomunikasi baik dengan putrinya, baru kali ini dirinya benar-benar merasakan berperan sebagai seorang ayah yang lebih baik dari sebelumnya. Jika saja tidak ada kejadian Luna berhubungan erat dengan anak-anak wanita itu, mungkin saat ini gunung es di hati Luna tidak akan mencair untuknya seperti saat ini. Setidaknya dibalik musibah yang terjadi, masih ada kebaikan yang dapat mereka petik meskipun rasa bahagia yang dimiliki Luna sebelumnya harus hilang. "Jika kau punya kesempatan dan waktu libur yang banyak pulanglah ke rumah, Papa dan Bi Ani akan menyambutmu dengan tangan terbuka..."
Bola mata Luna membesar ketika mendengarkan ucapan yang terlontar dari Papanya. Matanya memanas hingga mendesak ingin keluar dari sudut-sudut bulu matanya yang lentik. Sekelebat kejadian-kejadian dimasa lalu terputar di memorinya bak roll film yang sedang ditayangkan di bioskop. Ia merasa menemukan kembali rumahnya yang sempat hilang ketika Astrid meninggal dan...dirinya merasa selama ini telah bersikap egois kepada Papanya...
"Pa...," Ucap Luna parau.
"Hmm?" Daniel memiringkan kepalanya menanggapi panggilan Luna.
"Boleh aku memelukmu Pa?" Tanya Luna ragu-ragu.
"...," Daniel sempat terdiam, tak berapa lama, kedua tangannya direntangkan lebar. "Tentu saja, kemarilah Nak..."
Luna segera menghambur untuk memeluk Daniel dan mendekapnya erat. Tangisnya pecah. "Pa..., maafin Luna ya Pa..., selama ini Luna sudah kasar dan keras pada Papa, harusnya Luna bisa berbicara baik-baik dengan Papa..."
__ADS_1
Daniel yang mendengarkan pengakuan Luna ketika menyampaikan seluruh rasa yang ada untuknya tak pelak membalas pelukan Luna tak kalah erat. Jujur dirinya terharu melihat putrinya berbesar hati meminta maaf kepada dirinya duluan.
"Papa juga Luna..., Papa minta maaf selama ini lebih menyibukkan diri dengan pekerjaan dibandingkan meluangkan waktu untukmu seolah mengabaikan dirimu..."
Luna menatap gumpalan awan putih yang berjalan perlahan dihadapannya yang saat ini sedang duduk disalah satu bangku taman di kampusnya. Birunya langit yang menyapa tak pula dapat menghiburnya. Setelah puas menangis dan berhasil memutuskan hubungannya dengan Daichi, kini ia harus memikirkan bagaimana memutuskan hubungannya dengan Kirana sementara sahabatnya itu pun sedang dalam keadaan bersedih sama dengan dirinya. Ia bersyukur bahwa Kirana tidak masuk kuliah hari ini sehingga ia masih dapat memikirkan cara yang tepat untuk melepaskan diri. Sungguh luar biasa takdir menjungkirbalikkan hidupnya. Rasa sakit yang diderita membuat hatinya kebas seolah sisi manusiawinya hilang entah kemana. Ia pernah seperti ini tepat dihari kematian Ibunya hingga membuatnya kurang ajar kepada sang Papa. Lantas jika sudah seperti ini kehidupan seperti apa yang akan ia jalani kedepannya? Tanpa sahabat yang telah menemaninya sejak pertemuan pertama mereka di kelas X dan kekasihnya...
"Hayo, apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya Park Ha Neul penuh semangat membuat Luna itu terkejut bukan kepalang. Bukannya merasa bersalah, gadis blesteran Korea itu malah duduk disebelah Luna seenaknya.
“Park Ha Neul, kau mengagetkanku saja...,” Luna berusaha menormalkan detakan jantungnya yang sempat berdetak keras karena terkejut. Tumben sekali gadis super stylish ini muncul dihadapannya?
“Aku melihatmu dari kejauhan seperti entah nyawamu menghilang kemana,” Park Ha Neul memberikan segelas plastik ukuran large minuman boba yang saat ini sedang nge-trend di negara tersebut dan dibalas oleh anggukan ucapan terima kasih kemudian meminumnya masih dengan tatapannya yang tertuju ke langit masih berharap mereka masih dapat menghiburnya. Park Ha Neul sengaja menyempatkan diri membeli minuman tersebut untuk menghibur Luna yang tampak sedang bersedih entah karena apa dan mengulik hatinya untuk bertanya.
“Ya?”
“Apa kau masih kesal dengan Kirana?” Luna sempat menjeda ucapannya. “Karena ia telah membohongimu dengan berpura-pura menjadi orang biasa? Apakah sebegitu kesalnya hingga kau menjauhi orang sebaik dia yang mengulurkan tangannya untuk menerimaku yang serba kekurangan ini sebagai temannya?”
“Tentu saja kesal,” Park Ha Neul mengerucutkan bibirnya menggerutu untuk menanggapi Luna. “Memangnya enak ditipu? Asal kau tahu, aku ini sangat menjunjung tinggi kejujuran!”
__ADS_1
“Dia punya alasan mengapa dirinya menutupi identitasnya karena tak ingin berada dalam bayang-bayang nama besar keluarganya...,” Luna tersenyum lemah ketika mengingat perjumpaan pertama mereka ketika menjalani Masa Orientasi Siswa atau disingkat MOS. Kirana dengan berani menantang kakak-kakak senior mereka yang menurutnya sudah keterlaluan memperlakukan mereka sebagai junior dan anak bawang dengan membentak-bentak penuh kata-kata hinaan dan makian. Belum lagi insiden penyiraman air dan kenarsisan seolah menjadi orang-orang paling terkenal hingga harus dikejar-kejar untuk dimintai tanda tangan. Terlebih lagi Kirana yang tak terima dirinya harus dihukum berdiri di bawah tiang bendera di siang terik bolong hanya karena kurang tiga butir kacang hijau sebagai salah satu persyaratan yang harus dibawa saat itu hingga berakhir menjalani hukuman yang sama dengannya. Masa’ pem-bully-an para senior yang menganggapnya kurang ajar dan hanya dihadapi dengan santai karena menjadi anak kesayangan guru Karate di sekolahnya hingga ketika akhirnya gadis itu berhasil mencapai puncak tertinggi sebagai Ketua OSIS untuk menghapus peraturan konyol untuk para junior dibawahnya dan menggantinya dengan pengenalan lingkungan sekolah yang lebih mendidik tentunya. Perdebatan panjang mengenai senyawa kimia dan rumus matematika yang membuat sakit kepala serta masih banyak lagi kenangan-kenangan indah yang sebentar lagi harus ia kubur dalam-dalam ke dasar tak bertepi agar tak dapat lagi ia ambil atau buka kembali..., jujur rasanya sangat sulit jika tak lagi menjadi teman baiknya, namun ia lebih memilih patuh kepada Papanya, orang tua dan keluarga satu-satunya yang ia miliki. Mungkin lain cerita jika Mamanya masih hidup, tentu ia akan mendapatkan pertimbangan dan masukan yang lebih banyak lagi untuk bisa bertahan dan berteman dengan Kirana serta tetap bisa menghubungkan rasa penuh cinta kepada lelaki yang berhasil mencuri hatinya.
“Dia sungguh orang yang baik dan tak adil rasanya jika kau menjauhinya hanya karena alasan yang sepele itu...,”
“Lantas kau mau aku bagaimana? Memaafkannya seolah tak terjadi apa-apa gitu?”
“Iya, kumohon Ha Neul,” Luna menoleh kearah Park Ha Neul dan menggenggam erat kedua pergelangan tangannya penuh tatapan pengharapan. “Jangan biarkan ia seorang diri setelah Kakaknya memutuskan paksa hubungannya dengan sahabat tunanganmu itu.”
Park Ha Neul terkejut dalam diam ketika ia mengetahui sesuatu yang tak didapatnya dari Kazuto. Baru kali ini Kazuto tak menceritakan tentang sepak terjang Akio Fujiwara sejak lelaki itu lulus kuliah. Ia harus mencari tahu jika perlu memaksa tunangannya itu untuk memberitahu hubungan apa yang telah terjadi antara Kirana, Akio, dan Daichi Matsumoto hingga berbuah drama tak terduga seperti yang baru saja didengarnya dari gadis dihadapannya ini. Tapi itu bisa nanti, sekarang ia harus fokus menanyakan alasan apa yang membuat seorang Luna yang terkenal tak suka berbasa-basi dan bicara seperlunya bahkan sampai memohon agar dirinya kembali berteman akrab dengan Kirana, adik dari Daichi Matsumoto, lelaki yang auranya ia segani sekaligus tak ia sukai karena terlalu mengintimadasi.
“Sebenarnya ada apa hingga kau sampai harus memohon sebegitunya kepadaku Luna?”
“Karena aku sudah tidak dapat menjadi sahabatnya lagi setelah mengetahui kenyataan bahwa aku telah menyakiti dan memutuskan hubunganku dengan kakaknya yang sangat dihormati dan disayanginya itu...”
Tunggu-tunggu, drama apa lagi kali ini? Sejak kapan Luna berhubungan dengan Daichi Matsumoto? Dan rasanya bukan alasan itu yang menjadi penyebabnya, pasti ada sesuatu hal krusial yang sulit untuk diutarakan. Hmm..., dan sepertinya akan semakin menarik jika ia terlibat didalamnya...
Oh tidak, kok rasanya tidak yakin masalah ini akan semakin mudah diselesaikan? Bahkan mungkin bisa jadi sebaliknya, semakin semrawut melebihi benang yang kusut...
__ADS_1
***