A Flavour to Love

A Flavour to Love
18-1


__ADS_3

"Selamat pagi Nak!"


Ucapan dari Rea yang baru saja selesai masak di dapur mengejutkan Daichi yang telah terdasar sepenuhnya dari rasa mabuknya semalam. Ia ingat air matanya sampai menetes karena patah hati. Ya Tuhan..., selama hidupnya baru kali ini dirinya menangis dan sungguh memalukan hal itu karena dirinya setengah mabuk dan dihadapan keluarganya pula. Mau ditaruh dimana wajahnya sekarang? Daichi Matsumoto yang terkenal kuat dan tangguh dalam menjalani hidup yang keras ini bisa-bisanya menangis karena perempuan. Sungguh miris dan menyedihkan! Mau ditaruh dimana harga dirinya saat ini?!


"Ayo sarapan bersama, jarang-jarang kita bisa berkumpul seperti ini," Lanjut Rea yang sudah duduk disebelah Daiki untuk membantu sang suami mengambilkan menu sarapan bergaya English Breakfast yang terdiri dari sosis, telur mata sapi, beef bacon, baked beans, black pudding, hash brown, tomat goreng, dan jamur tumis.


"Papamu sudah menginformasikan kepada sekretarismu bahwa kau akan datang terlambat ke kantor hari ini."


"Eh, oh, iya," Ia pun duduk disebelah Kirana yang tampak begitu menikmati sarapannya. Dan tentunya seporsi sarapan sudah diletakkan dihadapannya. "Selamat makan!"


"Pa, Ma, aku sudah selesai sarapan," Kirana bergegas merapikan piring dan gelas yang tadi digunakannya dan menuju dapur untuk mencucinya. Sudah menjadi didikan sejak kecil untuknya dan keluarganya jika setelah makan ia harus mencucinya sendiri meskipun ada pelayan yang dapat melakukannya. Setelah meletakkan alat makannya yang sudah bersih di rak piring, ia pun berjalan menuju sofa untuk mengambil tas punggung yang berisi alat perangnya dalam menghadapi kegiatan belajar di kampus pada hari itu.


"Sepertinya kau buru-buru sekali Rana-chan? Papa kan belum puas memelukmu setelah sekian lama tidak bertemu," Daiki mengerucutkan bibirnya seolah memprotes putri keras kepalanya itu yang sebentar lagi akan menjadi milik orang lain. Rasanya ia ingin memuas-muaskan dirinya untuk memeluk dan bercengkrama dengan putri kecilnya yang sudah beranjak dewasa.


"Aku ada urusan penting di kampus Pa," Kirana menghampiri Daiki dan Rea untuk memberi salam dengan mencium punggung tangan kanan dan pipi mereka berdua, bagaimanapun ia memiliki setengah darah Indonesia sehingga tradisi menghormati orang yang lebih tua dengan melakukan tindakan tadi adalah lumrah untuk dilakukan. "Akan kuusahakan bisa makan malam di rumah. Aku pergi dulu!"


"Hati-hati di jalan!" Rea melambai-lambaikan tangannya.


BLAM!

__ADS_1


Pintu depan pun tertutup dan sosok Kirana pun telah menghilang dari pandangan. Dan suasana ramai tadi kembali berubah menjadi keheningan. Daiki dan Rea saling melemparkan pandangan untuk memberikan kode siapa duluan yang akan memulai pembicaraan dengan anak lelaki mereka itu. Dari ekspresi wajah Daichi dapat diketahui bahwa mereka harus berbicara dengan sangat hati-hati.


Setelah melewati perdebatan tanpa suara diantara keduanya, akhirnya diputuskan Daikilah yang akan maju, sesuai dengan alasan yang dilontarkan Rea kepadanya bahwa ia adalah kepala keluarga ini.


"Bagaimana kondisimu Nak?"


"Eh?" Daichi mendongakkan kepalanya untuk menatap kedua orangtuanya.


"Apakah kau sudah baik-baik saja?" Sesekali pandangan matanya menoleh kembali kearah Rea.


Mendengar pertanyaan sang Papa membuat nafsu makannya mendadak hilang entah kemana. Diletakkannya garpu dan pisau yang ia gunakan untuk makan disebelah piring kemudian menatap kedua orang tuanya. "Apakah aku semenyedihkan itu hingga Papa dan Mama tidak enak hati kepadaku? Aku akui aku salah mabuk-mabukkan semalam hanya karena urusan yang jujur membuat harga diriku seolah berada di titik terendah dalam hidupku. Tapi aku mohon kepada Papa dan Mama untuk tidak menatapku seolah aku sangat menyedihkan seperti itu...," Daichi berusaha menahan emosinya jangan sampai ia menjadi kurang ajar kepada orang tuanya yang sudah dengan sepenuh hati, jiwa, dan raga mendidiknya menjadi sekarang ini, sebagai pemimpin yang bijaksana meskipun untuk urusan hati ia menjadi begitu lemahnya saat ini. Sial! Dulu ia terlalu angkuh meremehkan doa dari Kazuto! Apakah ini teguran dari Yang Mahakuasa agar dirinya bisa lebih bijak lagi dalam bertindak dan berucap ya?


"Kami hanya ingin tahu versimu tentang Luna Putri Putranto," Ujar Rea singkat, jelas, dan padat.


"Bukan begitu," Daiki menghela napas melihat sisi manusiawi anak lelakinya yang selalu berusaha ditutupinya agar terlihat sempurna dan tanpa cela jika berhadapan dunia keprofesionalannya. "Hanya berusaha mencocokkan dengan versi Kirana dan memastikan langkah terbaik apa yang sebaiknya kami berdua lakukan keluarga kita ini."


"Maksud Papa?"


"Gadis itu bisa jadi anak dari orang dimasa lalu kami yang jujur tidak ingin kami ingat kembali...," Sambung Rea. "Kami hanya ingin memastikan kehadiran gadis itu didalam kehidupanmu dan adikmu tidak untuk mengganggu ketenangan keluarga kita. Rasanya jika hal ini hanyalah kebetulan belaka terlalu janggal masuk ke logika manusia. Meskipun kami tidak menapik jika Yang Mahakuasa sudah ikut campur, akan lain lagi ceritanya."

__ADS_1


Daichi terkejut mendengarkan ucapan Rea. IQ tinggi yang ia miliki dengan cepat mencerna makna dalam kata per kata dari sang Mama. Bukankah ia pernah mengatakan bahwa ia dikaruniai otak yang cerdas dari gen yang diturunkan kedua orang tuanya? Ayolah Daichi, jangan kumat lagi sikap sombongmu! Belum cukup dengan imbas yang sedang kau alami ini?


"Jika aku diizinkan oleh Papa dan Mama, aku ingin tahu masalah apa yang terjadi dimasa lalu antara Papa dan Mama dengan orang tuanya? Apakah hanya kepada Ayahnya, atau juga Ibunya?"


"Apakah kau tahu siapa nama Ibunya Luna?" Rea merasakan perasaan tidak enak karena Kirana hanya menceritakan latar belakang keluarga Luna terutama Ayahnya yang bernama Daniel Putranto dan gadis itu telah kehilangan Ibunya karena sakit.


"Memangnya Kirana tidak menyebutkan siapa nama Ibunya?"


Gelengan kepala Daiki dan Rea semakin memberikan sedikit petikan tanda tanya dibenak Daichi. Adiknya bagaimana sih? Cerita kok setengah-setengah? Membuatnya menggaruk-garukkan dahinya yang tidak gatal karena harus menjelaskan secara mendetail. Hal yang paling malas ia lakukan karena merepotkan.


"Hah..., nama Ibunya Astrid Medina,” Daichi menyenderkan punggungnya ke punggung kursi. “Dan menurut cerita Luna, Ibunya itu meninggal karena sakit cintanya tidak terbalaskan oleh Ayahnya yang masih mencintai orang lain sehingga membuatnya membenci sang Ayah. Kurasa Kirana sudah menjelaskan bagian Luna tidak akur dengan Ayahnya. Makanya aku merasa ada yang ganjil dari keputusannya minta putus dariku.”


“Tunggu, kau bilang tadi nama Ibunya Astrid Medina?” Tubuh Rea bergetar seakan tak percaya bahwa perasaan tidak enaknya yang ia rasakan tadi karena harus mendengarkan hal ini.


“Daiki..., bagaimana bisa ada kebetulan semengerikan ini...,” Rea menggenggam erat lengan kiri Daiki untuk menguatkan diri mendengar penjelasan putranya itu. “Bagaimana bisa Daniel dan Astrid menikah serta mempunyai anak bernama Luna kemudian terhubung dengan Daichi dan Kirana? Takdir macam apa ini Sayang...”


“Papa dan Mama mengenal orang tua Luna?”


“Bukan kenal lagi Nak, mereka berdua pernah berusaha menghalangi kami bersatu,” Daiki merengkuh pundak Rea yang masih shock. “Astrid adalah mantan teman Mamamu pada saat kuliah yang tak terima Papa lebih memilih Mamamu dibandingkan dirinya ketika Papa dan Paman Jun melakukan pertukaran pelajar ke Indonesia dulu sehingga membuat intrik yang menyebabkan kami terpisah dan saling salah paham karena merasa dikhianati satu sama lain sedangkan Daniel adalah mantan teman kerja Mamamu yang pernah menolaknya hanya karena khawatir kepopulerannya menurun kemudian menyesal ketika Mamamu kembali bertaut hati dengan Papa dan berusaha menghalangi kami bersatu. Jujur Papa tak menyangka bahwa mereka berdua menikah dan mempunyai anak...”

__ADS_1


“Ini gila...,” Daichi ternganga mendapatkan penjelasan yang tak disangka-sangka dari Papanya.


***


__ADS_2