A Flavour to Love

A Flavour to Love
18-3


__ADS_3

“Duh…, kenapa aku harus mengalami hal seperti ini sih?” Keluh Kirana yang sibuk dengan laptop dihadapannya. “Sudah diniati berangkat pagi untuk meminta klarifikasi kepada Luna, eh, bukannya mendapatkan jawaban darinya, aku jadi bolos kelas hari ini dan terpaksa meminta tugas pengganti yang aku kerjakan saat ini.” Ketikan tuts keyboard laptop terdengar semakin cepat dan penuh penekanan seolah ada emosi yang sengaja disalurkan oleh sang gadis untuk menunjukkan bahwa ia sedang kesal. Sementara itu, Akio yang duduk dihadapan Kirana menunjukkan guratan senyuman lebar menatap penuh damba dan kerinduan kearah pemilik mata hazel yang tak kunjung menatap balik kearahnya karena masih sibuk dengan tugas kampus dan keluhan diri sendirinya itu. Tapi tak apa-apa, melihat Kirana secara nyata dihadapan mata saja sudah membuat hatinya penuh saat ini. Rasanya masih seperti mimpi bahwa restu dari kedua orang tua Kirana sudah ada digenggaman tangannya saat ini. Ia merasakan kekuatan dan keyakinannya semakin bertambah untuk berani menghadapi Daichi dan secara resmi meminta restu meminang gadis unik dihadapannya ini.


“Permisi, satu dark classic chocolate cake, satu matcha cheese cake, dan dua cangkir hot cappuccino,” Seorang pelayan wanita dengan apron garis-garis coklat putih berlogo cangkir kopi dengan piring berwarna putih sebagai seragam wajib pekerja di cafe yang berlokasi tidak jauh dari kampus tempat Kirana menuntut ilmu, menghampiri meja tempat Akio dan Kirana duduk saat ini untuk meletakkan pesanan mereka di atas meja. Hei, bukankah Kirana baru saja sarapan dengan satu set lengkap menu English Breakfast? Apa kau tak takut gemuk heh?


Tak pelak kedatangan pelayan tersebut membuat Kirana mengalihkan wajahnya dari laptop dan menatap pelayan tersebut untuk mengucapkan terima kasih.


“Terima kasih…”


“Terima kasih…,” Ujar Akio sambil tersenyum menyambung ucapan dari Kirana sebelumnya. Hal yang tentu saja membuat pelayan tersebut terkejut. Siapa yang tak mengenal Akio Fujiwara? Ia dan Kazuto adalah salah satu pelanggan tetap semasa berkuliah di Universitas Tokyo yang selalu menghabiskan waktu untuk mengerjakan tugas ketika break jam kuliah di cafe tersebut. Sepanjang sejarah tak pernah sekalipun Akio tersenyum lebar nan hangat dan mengucapkan terima kasih seperti tadi. Biasanya hanya senyuman tipis tanpa suara yang tersamarkan ucapan terima kasih penuh semangat dari sang sahabat. Tak pelak pelayan tersebut segera undur diri dan siap bergosip dengan pelayan lainnya dibalik meja kasir membicarakan salah satu pengeran kampus yang selalu menjadi idaman para perempuan muda dengan fantasi gila mereka.


“Sudah, makan dulu, siapa tahu kau mendapat pencerahan untuk mengerjakan tugas-tugasmu itu,” Akio memperbaiki posisi duduknya yang semula menyender menjadi tegak mengarah kepada cake yang menggugah seleranya itu mengingat ia belum sempat sarapan karena panggilan mendadak dari Kazuto tadi. Sepertinya ia harus mentraktir sahabatnya itu karena jika tidak ada kejadian pagi ini, dirinya masih puasa untuk melihat Kirana. Ia pun sempat menoleh kearah belakangnya, tampak dua pengawal yang ditugaskan Daichi untuk menjaga Kirana. Nampaknya ada perubahan intruksi untuk mereka dari sang tuan besar dengan memberikan kelonggaran pada dirinya bersama Kirana.


“Salah siapa menculikku ketempat ini?” Protes Kirana kearah Akio. Akhirnya…, tatapan Kirana bersiborok dengan Akio. Senyuman lelaki itu semakin bertambah lebar melihat wajah cantik yang sedang marah kearahnya itu. “Kalau bukan karenamu aku tak mungkin kesusahan seperti ini. Memangnya gampang apa masuk ke Fakultas Kedokteran?!” Kirana menghela napas kemudian menyingkirkan laptop-nya sejenak untuk fokus kepada makanan yang telah dipesan lelaki dihadapannya itu dengan mengambil garpu kecil yang disajikan disebelah cake. “Awas saja jika kau menganggap enteng urusan seperti ini bisa kau selesaikan dengan uang.”


“Aku tak pernah bilang seperti itu,” Nada terkesan penuh amarah itu tak dianggap Akio sebagai luapan emosi namun terdengar seperti alunan merdu di telinganya. Mungkin orang lain akan mengatakan bahwa ia gila atau sudah menjadi budak cinta karena mereka tak pernah merasakan posisi seperti dirinya. Tapi baginya ini adalah anugerah tak terduga dari Yang Mahakuasa untuk dirinya yang selama ini menutup diri seolah tak perduli dan hanya bisa menyakiti orang lain hanya karena ia kesepian selama ini. “Aku hanya ingin bilang bahwa aku harus berterima kasih dengan insiden perang bintangmu dengan Luna, karena berkat itu aku bisa berbahagia menculikmu kesini untuk sementara. Meskipun itu cukup membuatku melanggar kesepakatan yang telah diputuskan oleh orang tuamu dan Kakekku.”


“Kau…,” Kirana mengencangkan genggaman garpunya seakan tak terima ucapan terlalu jujur yang keluar dari lelaki yang tidak dapat dihilangkan dari pikiran dan hatinya. Meskipun ia hampir berhasil melakukannya ketika dirinya melarikan diri ke Desa Shirakawa. Namun sebenarnya di dalam hatinya tak pelak ia berterima kasih bahwa Akio datang menghampirinya karena ia tak akan tahu akan sekalap apa dirinya marah kepada Luna yang dengan seenaknya memendam masalah sebesar ini kepadanya dan memutuskan hubungan persahabatan mereka selama lebih dari empat tahun ini. Bagaimana bisa?

__ADS_1


“Terima kasih Kirana sudah memberikan kesempatan sekali lagi untuk membuka hatimu kembali kepada seseorang sepertiku yang masih memiliki sifat pengecut sehingga menyakitimu dan membuatmu pergi dari sisiku hanya karena segan dan tak mau mengambil risiko besar pada hubungan pertemananku dengan Kakakmu,” Tatapan Akio melembut menatap mata hazel milik Kirana yang senantiasa membiusnya dan membuatnya terperangkap tak berdaya. “Kehilanganmu membuatku sadar bahwa kau adalah orang yang sangat berharga dan kubutuhkan untuk tetap selalu berada disisiku sehingga mendorongku untuk memberanikan diri keluar dari zona nyamanku selama ini dan menyampaikan pendapatku pada Kakekku yang selalu berusaha untuk mengatur hidupku dibalik niatnya ingin yang terbaik untukku.” Akio tertawa kecil setiap kali mengingat ekspresi ketidakpercayaan Kakeknya bahwa dirinya berani mengungkapkan keinginannya sendiri. Rasanya sudah lama langkah kakinya tidak seringan ini setelah semua hal yang telah dilalui dalam hidupnya yang kelam ini. Ia sadar menemukan Kirana seperti menemukan sesuatu yang pernah hilang yaitu kehangatan dan keceriaan yang tidak pernah ia dapat meskipun bersama orang ceria seperti Kazuto.


Kirana yang hendak menyuapkan potongan dark chocolate cake yang telah berada di depan mulutnya tak pelak urung melakukannya dan meletakkan kembali garpu kecil berserta potongan cake tersebut di piring ketika mendengar ucapan bait per bait kata yang terdengar tulus dan apa adanya dari seorang Akio yang terkenal dengan arogansinya, Ia merasakan perubahan yang besar dalam diri lelaki ini. Sebenarnya ia sudah merasakannya ketika Akio nekad menghampirinya bak stalker pada saat liburan dadakannya bersama Ibunya yang luar biasa kreatif tanpa batas itu ke Desa Shirakawa. Namun beberapa hari tak bertemu dengan lelaki ini rupanya perubahan itu sangat terasa. Ia tak menemukan sisi arogansi atau dingin yang selama ini digunakannya untuk menghadapi orang-orang dan dirinya. Ia justru melihat sisi lain yang tak pernah ditampilkan calon tunangannya itu. Ia pun menyadari bahwa dirinya punya andil kesalahan yang sama yaitu menutupi jati dirinya yang sebenarnya hanya karena tak mau orang-orang menjadi takut atau segan berteman dengannya. Padahal jika sejak awal ia jujur mungkin masalahnya tidak akan serumit drama-drama yang ia tonton di televisi. Jika dipikir-pikir hubungan yang ia bangun dengan Akio sebelumnya sungguh rapuh pondasinya. Mungkin ini campur tangan Tuhan dengan menghancurkan pondasi itu untuk membangun pondasi yang kuat pada hubungan mereka yang dimulai dengan permintaan resmi Kakek Yutaka dengan melamar dirinya untuk Akio langsung kepada orang tuanya. Bukankah sesuatu yang dimulai dengan baik akan menghasilkan hal yang baik pula? Yah…, setidaknya itu menurutnya.


“Aku ingin kita memulai hubungan ini dari awal tanpa ego, topeng, ataupun kekhawatiran-kekhawatiran yang membuat kita tidak dapat jujur satu sama lain,” Kelima jari tangan Akio menyentuh punggung tangan kiri Kirana lembut untuk menyalurkan energi bahwa dirinya serius dengan perkataannya. “Aku ingin pondasi yang kokoh jika kelak kita menikah.”


Mendengar kata menikah tak pelak membuat Kirana tersipu malu sehingga memberikan semu kemerahan pada kedua pipi putih langsatnya membuatnya semakin terlihat cantik dan cute bersamaan di mata Akio. Padahal dulu ia sangat memprotesnya seolah hal itu akan menghalanginya untuk menggapai impiannya menjadi dokter yang handal dibidang profesinya. Ah, apa ia juga sudah mulai berubah?


Kedua pengawal Kirana yang sejak tadi di belakang Akio dan Kirana tampak saling berpegangan tangan erat seolah mereka melihat drama percintaan secara live tanpa jeda. Ternyata mereka tetaplah manusia yang memiliki emosi dibalik wajah kaku dan garang yang ditampilkan selama ini karena profesi.


“Kau…, tadi pada saat keluar dari apartemenmu tidak terpentok sesuatu kan karena berucap seperti ini?” Aduh…, mengapa justru kata-kata itu yang keluar sih Kirana Matsumoto?! Dasar bodoh! Jarang-jarang kan kau melihat ekspresi kejujuran dari Akio?!


“Kenapa sih kau itu hobinya merusak mood-ku saja?” Akio menghela napas untuk mengatur irama emosinya yang sempat terpancing oleh ucapan Kirana.


“Bukan begitu maksudku Akio,” Rajuk Kirana yang kini berganti mengenggam tangan Akio untuk membujuknya. “Aku hanya…aduh, bagaimana ya ngomongnya? Aku hanya tak menyangka akhirnya kau mau jujur padaku dan aku merasa bahwa ini semua seperti mimpi kau yang dimataku selama ini sangat dingin, arogan, dan menyebalkan tiba-tiba mengucapkan kata-kata yang sangat indah itu untukku dan menunjukkan sisi hangat yang tak pernah kau tunjukkan padaku…”


“Eh?”

__ADS_1


“Iya, aku mau Akio, aku mau memulai lagi hubungan kita dari awal seperti permintaanmu itu karena aku pun pada hubungan terdahulu tidak jujur dengan menutupi latar belakang keluargaku. Namun masih ada satu masalah lagi yang belum kau selesaikan urusannya,” Lanjut Kirana. “Apa kau lupa?”


“Aku tidak lupa sama sekali Kirana,” Kini giliran Akio yang berkeluh kesah ia pun menarik tangannya dan melipat keduanya kemudian ditempelkan di dadanya. Dirinya mulai belajar untuk menunjukkan sisi manusiawinya pada Kirana sesuai komitmen yang baru disepakati oleh keduanya. “Berkali-kali aku memikirkan cara yang terbaik untuk membujuk Kakakmu itu agar mau merestui hubungan kita berkali-kali juga aku menemukan jalan buntu hingga membuatku frustasi saja.”


Entah mengapa Kirana seolah jatuh cinta kembali kepada Akio ketika melihat Akio yang begitu…apa ya, menunjukkan sisi rapuhnya yang butuh bantuannya. Akio baru yang lebih jujur tanpa embel-embel nama besar keluarganya. Ia bukan menganggap Akio lemah namun lebih merasa bisa menerima bahwa Akio pun juga manusia biasa sepertinya yang punya sisi tak bisa berdiri sendiri dan butuh bantuan dan penyemangat untuk menyelesaikan masalah yang jujur sungguh menguras emosi dan energi.


“Aku sepertinya punya ide untuk itu,”


“Maksudmu?”


“Aku tahu kau hebat dalam segala hal, namun ada kalanya tak semua masalah dapat diselesaikan sendiri Akio, karena itulah ada aku disini untuk membantumu,” Kirana tersenyum dan mencondongkan tubuhnya kearah Akio menunjukkan rasa optimis. “Ayo kita wujudkan cita-cita untuk mendapatkan restu dari Kakakku itu.”


“Memang kau punya ide apa?” Akio menaikkan alis kanannya.


“Kesinikan telingamu, akan kubisiki sesuatu,” Lanjut Kirana dan dipatuhi oleh Akio untuk mendekatkan telinganya kearah Kirana dan mendengar ide seperti apa yang akan gadis itu utarakan.


Tak beberapa lama setelah Akio mendengar ide yang terkesan gila dari Kirana ia pun saling bertatapan mata dengan sang gadis dan senyuman lebar itu pun tercipta diantara keduanya seolah inilah saatnya mereka berjuang meskipun risiko yang akan dihadapi cukup besar.

__ADS_1


***


__ADS_2