A Flavour to Love

A Flavour to Love
17-1


__ADS_3

"Kepalaku pusing...," Keluh Kazuto dihadapan Akio yang sibuk mengutak-atik kotak rubik berwarna di tangannya. "Kenapa sih Pamanmu itu suka sekali menyiksa orang?"


"Apa maksudmu?" Akio tersenyum kecil menanggapi Kazuto tanpa menoleh kearahnya. Sekretaris Akio masuk ke dalam untuk mengantarkan pesanan makanan ringan dan minuman pendamping dihadapan mereka diruang kerjanya.


"Profesor Fujiwara, Pamanmu itu selalu mempermudahmu dalam urusan akademik sementara untukku sebaliknya?" Kazuto mengacak-acak rambut warna coklatnya. "Ini tidak adil!"


"Pamanku bukan orang seperti itu Kazuto, beliau sangat menjunjung tinggi keprofesionalannya sebagai dosen disana," Akio tersenyum tipis sedikit mengejek sambil terus berfokus pada kotak rubiknya. "Salahkan komposisi otakmu yang pas-pasan itu!"


"Sembarangan!" Protes Kazuto tak terima. "Jika otakku pas-pasan, tidak mungkin bisnis Ayahku dan bisnis kita masih berjalan lancar!"


"Ya...ya...ya...," Jawab Akio santai, suatu perubahan kecil yang mencuri perhatian kecil dari Kazuto. Bagaimana tidak, setelah beberapa hari ia melihat wajah Akio yang seperti hampir kiamat seolah nyawanya terbang entah kemana karena dirundung duka yang sangat dalam, hari ini ekspresi itu tak tampak sama sekali di wajah dinginnya. Yang ada Akio begitu rileks dan sering tersenyum. Sungguh pemandangan langka baginya.


"Tunggu-tunggu, apakah aku sudah melewatkan sesuatu?" Tanya Kazuto penuh penasaran. Entah bagaimana, ia sudah tidak mengeluhkan skripsinya yang masih saja kena revisi oleh Aki Fujiwara, salah satu profesor penting di Universitas Tokyo. Wajah penuh kebahagiaan milik Akio lebih menarik perhatiannya.


"Melewatkan apa?" Akio menaikkan alis kanannya.


"Jangan main rahasia-rahasiaan deh, bikin emosi tahu!" Kazuto mengambil kudapan biskuit coklat yang tersedia dihadapannya kemudian memakannya. Salah satu alasan mengapa ia lebih suka berkunjung ke ruang kerja Akio dibandingkan ruang kerja miliknya. Sahabatnya itu memiliki pattisier yang khusus membuatkan cemilan-cemilan milik Akio dan para petinggi di perusahaan Fujiwara Enterprise.


"Pufft, hanya sebuah rencana yang kuharap berjalan dengan lancar...," Akio menghentikan permainan dengan kotak rubik di tangannya dan tersenyum sambil memandang kearah jendela kaca besar di belakang Kazuto. Pikirannya melayang jauh entah kemana.


"Mohon maaf, Paman Yutaka, jika kami mengundang anda untuk bertemu ditempat seperti ini," Daiki dan Rea membungkuk memberi salam kearah Yutaka yang datang ditemani seorang butler kepercayaannya, Kouki Asahi, ke sebuah restoran tradisional Jepang di pinggiran Kota Tokyo. "Kami baru saja kembali dari liburan di Shirakawa-go menemani putri kami yang jarang kami kunjungi."


"Tidak apa-apa, justru saya yang berterima kasih karena telah menyempatkan waktu kalian yang sangat berharga untuk bertemu dengan Kakek tua ini," Yutaka duduk berhadap-hadapan dengan Daiki dan Rea. Namun...hei, dimana Kirana berada?

__ADS_1


Tak lama makanan yang telah dipesan oleh Rea datang. Satu set shabu-shabu kualitas premium dengan daging wagyu yang sudah terkenal sebagai daging sapi berkualitas terbaik dikelasnya.


"Saya minta maaf jika permintaan saya mendadak kepada kalian berdua," Yutaka melanjutkan pembicaraannya. "Akio yang notabennya tidak mau terikat dengan gadis manapun tiba-tiba meminta saya untuk mengajukan lamaran perjodohan untuk putri anda yang mohon maaf, saya sendiri belum pernah bertemu. Saya juga sebenarnya sudah menyerah ketika putra anda menolak mentah-mentah proposal perjodohan ini sebelumnya."


Daiki dan Rea saling menatap penuh arti kemudian menanggapi Yutaka dengan senyuman memaklumi.


"Kami mengerti...,"


"Apa maksudmu Akio? Kok sepertinya aku mencium aroma sebuah trik yang kotor ya...," Kazuto memicingkan kedua matanya untuk mencari sesuatu yang disembunyikan oleh Akio.


"Enak saja!" Akio menghentikan kegiatan mengutak-atik kotak rubiknya dan memukulkannya ke kepala Kazuto tidak terima  dengan ucapan Kazuto seolah ia adalah orang yang sangat jahat dan tak berhak untuk berbahagia. Dirinya tahu masa lalunya adalah sang pendosa, namun seorang pendosa pun masih ingat untuk memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi setelah mendapatkan karma atas perbuatannya yang silam dengan menanggalkan masa kelamnya untuk menggapai tujuannya yaitu cinta Kirana yang sempat terluka oleh sikap kepengecutannya. Rasanya ia ingin dapat mengulang kembali peristiwa ketika dirinya dihajar habis-habisan oleh Daichi. Seharusnya ia bisa langsung mengatakan bahwa ia ingin tetap memperjuangkan hubungannya dengan Kirana. Tapi hal itu adalah masa lalu yang tak mungkin diputar kembali. Semoga saja semua yang diusahakannya dengan nekad menghampiri Kirana ke Shirakawa-go belum terlambat dan memberikan kesempatan untuk dirinya bersua kembali dengan kekasih hatinya itu.


"Mohon maaf terlambat menyapa anda Kakek Yutaka, saya Kirana Matsumoto," Kirana yang baru saja kembali dari toilet untuk bergabung dalam acara makan siang bersama dengan ber-ojigi memberi salam kepada Kakek dari lelaki yang..., ah, sudahlah, rasanya cukup rumit menggambarkan perasaannya saat ini! Dirinya tidak menyangka bahwa Akio bisa berbuat nekad melangkahi kakaknya untuk mempertemukannya dengan wali satu-satunya yang dimiliki lelaki itu. Ia pikir ucapan Akio seperti angin lalu seperti dulu sehingga membuatnya kecewa dan hampir menyerah saja akan perasaannya. Rupanya kali ini lelaki itu benar-benar merealisasikannya. Jika sudah seperti ini apakah ia akan menolaknya?


Daiki yang menangkap kebingungan di wajah Yutaka berusaha memecah keheningan yang terjadi sejak Kirana memasuki ruangan khusus tempat mereka makan, "Ceritanya panjang Paman jika saya harus menjelaskan kepada ekspresi bingung Paman saat ini..."


"Eh, begitukah? Apakah tergambar jelas di wajah saya?" Yutaka merasa sedikit malu bahwa benaknya dapat terbaca oleh Daiki.


"Sakit Akio...," Rengek Kazuto sambil mengelus-elus bagian kepalanya yang berdenyut nyeri.


"Makanya, kalau bicara itu disaring dulu," Akio mendengus kesal dan kembali mengutak-atik kotak rubiknya untuk menenangkan perasaan tersinggungnya atas ucapan Kazuto. "Memangnya hanya kau yang bisa bermain rahasia hingga membuatku terkejut mengenai Kirana seolah hampir mati rasa karena mengetahui yang sebenarnya?"


"Aku kan sudah memperingatkanmu sejak awal, kau saja yang keras kepala berbuat seenaknya," Kazuto tak terima dirinya disalahkan atas putusnya hubungan Akio dan Kirana yang penuh drama itu.

__ADS_1


"Tapi setidaknya kejadian itu membuatku merenung diri...," Akio tersenyum tipis. Padahal dalam hatinya sungguh berdebar-debar menunggu aksi apa yang akan dibuat oleh Kakeknya untuk dapat membujuk kedua orangtua Kirana.


"Maksudmu?"


"Sebenarnya saya ingin menolak tawaran perjodohan cucu anda dengan putri kami karena menghargai putra kami yang selama kami tidak ada disini menjadi wali darinya,” Daiki melanjutkan pembicaraan. “Namun karena saya mendapat laporan dari salah satu pengawal yang ditugaskan untuk mendampingi putri kami bahwa cucumu nekad mendatanginya dan berkata akan memperjuangkannya, hati kami langsung luluh seketika. Saya melihat ada usaha yang sama ketika saya berjuang untuk membujuk istri saya kembali bersama setelah kekecewaan yang pernah saya buat dulu padanya.” Sesekali Daiki menoleh kearah Rea sambil memutar memori masa lalu perjuangan mereka untuk dapat bersatu. Bukanlah hal yang mudah, namun jika ada kemauan dan usaha, Tuhan pun akan luluh hati-Nya untuk meridhoi hamba-Nya itu. “Saya dan istri saya setuju menerima perjodohan ini.”


“Be...benarkah?” Yutaka seakan tak percaya sosok dihadapannya ini begitu mudah menyetujuinya. Ya Tuhan, mimpi apa ia pada akhirnya bisa berbesanan dengan Keluarga Matsumoto yang terkenal sangat eksklusif?


“Iya Paman,” Rea akhirnya angkat suara untuk terlibat dalam pembicaraan yang dilakukan oleh kedua pria disini. “Cucu anda dan putri kami ini sebenarnya sudah menjalin hubungan namun karena ada sedikit gesekan dan janji konyol antara cucu anda dan putra kami sehingga membuat mereka sempat terputus. Tugas kita sebagai orangtua hanya sampai disini dan membiarkan kedua pemuda itu menyelesaikan masalah ego mereka untuk dapat menjadi lebih bijak dan dewasa. Bukankah kita hanya ingin melihat kebahagiaan terpancar dari wajah mereka?”


“Yes, aku berhasil!” Teriak Akio penuh semangat setelah dirinya memeras otaknya untuk dapat menyelesaikan kegiatan mengutak-atik kotak rubik dengan menyatukan rubik warna yang sama di masing-masing bagian.


“Ishhh, ngaget-ngagetin saja!” Protes Kazuto yang nyaris tersedak karena begitu bersemangat menikmati kudapan dihadapannya.


Tak lama dering pesan masuk dari smartphone miliknya berbunyi. Senyumnya semakin mengembang setelah membacanya.


“Kau berhutang budi pada Kakek untuk menceritakan semuanya karena berhasil menjalankan misi yang nyaris tidak mungkin ini.”


“Oh iya satu lagi, Kakek dan kedua orangtua Kirana sudah sepakat tidak akan meresmikan pertunangan kalian sebelum kau menyelesaikan masalahmu dengan Daichi Matsumoto.”


Senyuman lebar langka yang sempat terkembang di bibir Akio mendadak berubah menjadi hembusan napas berat. Ia harus memulai dari mana untuk menyelesaikan masalah mereka berdua? Karena ia yakin Daichi pasti akan semakin murka dengan cara yang dilakukannya untuk mengikat adik semata wayangnya itu. Tidak-tidak, kali ini harus diperjuangkan! Kau pasti bisa Akio Fujiwara!


Kazuto semakin bingung melihat sikap Akio hari ini. Biarkan sajalah, toh pada akhirnya ia akan tahu juga nantinya..., daripada pusing memikirkan sahabatnya itu lebih baik ia kembali fokus dengan penyelesaian tugas skripsi miliknya mengingat itu adalah syarat utama dari orangtuanya jika ingin secepatnya menikahi Park Ha Neul.

__ADS_1


***


__ADS_2