A Flavour to Love

A Flavour to Love
9-2


__ADS_3

"Sumpah...bikin malu...," Kirana menutupi wajahnya dengan bantal besar milik Luna yang sengaja ia letakkan di dekat tempat tidurnya apartemennya. Pipinya tampak merona menahan malu. Dan paling menyedihkan adalah adegan mengerikan antara dirinya dan Akio di dalam mobil disaksikan oleh Luna dengan ekspresi yang tak terbaca.


"Bagaimana rasa ciumannya?" Ledek Luna sambil berjalan menuju kulkas untuk meletakkan belanjaannya di dapur. Malam ini Daichi akan berkunjung ke apartemennya untuk makan malam. Setelah shift sorenya berakhir, sosok Kirana yang ditarik masuk ke mobil Akio tak kunjung kembali ke cafe. ia pun memutuskan menghampiri mobil Akio yang terparkir tak jauh dari cafe-nya. Betapa terkejutnya ketika ia melihat Kirana dan Akio berciuman mesra dan dalam. Ia dan Daichi memang pernah melakukan ciuman seperti itu tapi ini sangat luar biasa melebihi dirinya dan sang pria yang dengan seenaknya menyatakan sebagai kekasihnya. Dasar Koleris!


"Itu bukan ciuman Luna...," Kirana menggigit bibir bawahnya dan masih dengan posisinya semula, menutupi wajah dengan bantal. Ia berusaha untuk tidak perduli dan berlaku seolah-olah kejadian itu tidak pernah ada. "Itu pemaksaan namanya!"


"Tapi kau menikmatinya kan...," Luna mengerling nakal kearah Kirana. "Aku tak menyangka dibalik sikapmu yang membenci pria itu ternyata kau diam-diam menjalin hubungan khusus dengannya. "Makanya jangan terlalu membenci seseorang...efeknya jadi keterbalikan kan..."


"Sialan kau!" Kirana melemparkan bantal besar itu kearah Luna namun dengan sigap dapat Luna hindari. Ia muak dihubung-hubungkan dengan lelaki itu. "Aku tidak mempunyai hubungan apapun dengannya oke? Dan aku akan membuktikannya dengan pulang ke Indonesia. Lumayan kan liburan satu bulan, jadi lelaki itu tidak akan bisa menemukanku dan saat itu pula ia pasti sudah bosan mengejarku."


"Melarikan diri lagi nih ceritanya...," Luna tersenyum meledek.


"Aku tidak melarikan diri Luna, aku memang sudah janji untuk pulang ke rumah Kakek dan Nenek pada liburan ini," Kirana berdiri dari duduknya dan merapikan barang-barangnya ke dalam tas punggung miliknya dan bersiap untuk pulang ke apartemennya. "Kau..., tidak ingin pulang?"


Pertanyaan terakhir Kirana membuat Luna menghentikan aktifitasnya mencuci sayuran.


"Aku...," Luna tampak ragu untuk menjawab pertanyaan Kirana. Jika orang lain pasti akan segera menjawab 'iya', namun ini Luna seorang Piatu yang tidak akur dengan ayahnya. "Aku masih belum siap pulang..."


"Nah, sekarang siapa yang melarikan diri?" Kirana membalas balik. "Jangan sampai Papamu sampai menyusulmu kesini dan menyeretmu pulang ke Indonesia Luna." Ia menghampiri Luna dan mencium pipinya tanda perpisahan.


"Jika hal itu terjadi kupastikan dunia sudah hampir kiamat!"

__ADS_1


"Ishhh..., hati-hati kalau ngomong...," Kirana mencubit pipi Luna gemas dan beranjak pulang meninggalkan Luna sendirian kembali untuk memasak makan malam. "Aku akan menyempatkan untuk mengunjungi Bi Ani dan ke makam Ibumu."


Luna merenungkan kata-kata Kirana. Apa mungkin hal itu terjadi? Melihat sifat ayahnya yang begitu keras kepala sama seperti dirinya. Jauh...jauh di dalam lubuknya, ia merindukan Bi Ani dan Ibunya. Ingin sekali rasanya ia berbincang-bincang dihadapan pusara sang Ibu dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Namun ia segan ketika ingatan bayangan tentang ayahnya yang berhati dingin itu. Tanpa ia sadari Daichi seenaknya berjalan mendekatinya ketika tahu pintu apartemen sang gadis tidak tertutup sempurna.


"Apa yang kau renungkan?" Rengkuhan posesif Daichi di pinggang Luna dan kecupan lembut di lehernya menyadarkan Luna dari lamunan.


"Daichi...," Luna mematikan kompornya. "Kau membuatku terkejut..."


Kecupan-kecupan Daichi hampir membuat Luna melayang jika ia tak sadar bahwa ia belum mandi setelah ritual masak-memasak yang baru ia selesaikan.


"Hentikan Daichi..., aku belum mandi..., jadi masih bau masakan...," Desahnya.


"Aku tidak perduli...," Daichi semakin memperlama kecupan di leher sang gadis untuk menyesap harum khas tubuhnya yang beraroma anggrek nan lembut. Rasanya ia bisa lama-lama untuk mencecapnya.


Daichi merengut akibat penolakan Luna dan membiarkan sang gadis berlalu darinya menuju kamar mandi. Ia mengamati keseluruhan apartemen yang Luna tempati tampak kecil dan tidak seperti kamar wanita pada umumnya. "Apartemenmu kecil ya..."


"Terima kasih pujiannya Tuan Muda, maklum saja aku tidak sekaya kau yang mampu membeli segalanya," Jawaban sarkastik Luna dari dalam kamar mandi membuat Daichi terkekeh. Seumur hidupnya selain adiknya baru kali ini ada gadis yang berani membalas ucapannya. Ia kembali memperhatikan bingkai-bingkai foto yang tepajang di nakas sebelah tempat tidur single bed milik Luna. Tampak Luna kecil yang begitu bahagia memeluk dari belakang seorang wanita cantik yang mirip wajahnya dengan Luna, wanita ini pasti ibunya. Kemudian ia melihat foto Luna bersama seorang teman wanita yang entah mengapa tampak familiar olehnya. Tapi dimana ya...


"Apa yang kau lihat?" Suara Luna yang terdengar dari belakang membuat Daichi menoleh kearahnya. Gadis itu menggunakan kaos putih oblong bertuliskan 'Survival' dan celana berbahan katun corak army 10 cm di atas lututnya membuatnya seksi dalam balutan sporty.


"Foto-fotomu," Daichi tersenyum. "Tampaknya masih banyak hal yang tidak kuketahui darimu selain kau adalah juniorku di Universitasku dulu. Informasi itu pun aku dapatkan dari Kei."

__ADS_1


"Dan kau sudah berani dan seenaknya mencium dan memeluk gadis itu," Luna mendengus kesal. "Aku saja masih bingung bisa menerimamu menjadi kekasihku." Ia memindahkan masakannya yang ia buat tadi ke meja kecil yang tak jauh dari dapurnya. "Kau kan hanya pria dengan sejuta feromon yang dapat menarik perempuan manapun jatuh kepelukanmu dan sialnya aku adalah salah satunya..."


"Kau menyakitiku Luna...," Daichi pura-pura memasang ekspresi kesakitan sambil memegang dada kirinya seolah tersakiti.


Luna hanya memutar kedua bola matanya malas. "Hentikan perbuatan konyolmu itu, mari kita makan."


"Kau masak apa? Sepertinya enak..."


"Sop kimlo yang kumodifikasi dengan bahan-bahan yang tidak ada disini, tempe, dan tahu goreng," Luna berkata sambil tersenyum. "Hanya masakan sederhana orang Indonesia mungkin tidak akan sesuai dengan selera Tuan Muda sepertimu."


"Oh ayolah..., berhenti menyebutku Tuan Muda," Daichi merengut dan melipat kedua tangannya dan ditempelkan di dada. "Kau seperti adikku saja yang selalu meledekku seperti itu. Kurasa kau akan cocok dengannya."


"Adik?"


"Iya, bukankah aku pernah menceritakannya dulu bahwa aku punya adik perempuan. Ia juga kuliah ditempat yang sama denganmu, namanya...," Belum sempat ia meneruskan ucapannya, ringtone smartphone-nya berbunyi. "Sebentar ya aku angkat teleponnya dulu."


Luna menatap Daichi yang menjauh darinya pada saat menerima telepon. Sayup-sayup terdengar pembicaraan mengenai pekerjaan.


"Maaf Luna, aku harus kembali lagi ke kantor, ada masalah yang harus kuselesaikan," Daichi menghampiri Luna dan mengecup bibirnya cepat. "Makan malamnya lain kali saja."


BLAM!

__ADS_1


Suara pintu ditutup terdengar. Luna menatap kosong kearah pintu tersebut. Pikirannya tiba-tiba kembali ketika ia masih kecil. Setiap kali ada rencana makan bersama, Papanya selalu pergi menghindar dan mementingkan urusan pekerjaan. Sama seperti malam ini...Daichi pun begitu..., tanpa ia sadari air mata telah jatuh di kedua pipinya. Ia pun menelungkupkan kepalanya merapat dengan kedua lututnya.


***


__ADS_2