
Akio menatap lurus kearah gerbang utama masuk ke Universitas Tokyo melalui kaca jendela dengan kedua tangan berada di dalam saku celana. Helaian kelopak bunga sakura berwarna putih bercampur merah muda perlahan-lahan mulai jatuh terhempas angin musim semi. Tampak para mahasiswa dan mahasiswi berbondong-bondong masuk kedalam halaman Universitas menyambut tahun ajaran baru kuliah. Kondisi tersebut bertolak belakang dengan dirinya yang sudah siap meninggalkan tempat ini.
"Skripsimu tidak ada yang perlu direvisi dan kau sudah siap sidang minggu depan," Tampak lelaki separuh baya berkacamata memulai pembicaraan. "Hasil pekerjaanmu sempurna seperti biasanya."
"Terima kasih Profesor," Akio membalas tanpa menolehkan wajahnya ketika ia melihat Kirana dari kejauhan yang dirangkul paksa dan dipukul kepalanya oleh temannya. Ia terkekeh geli melihat Kirana yang tak berdaya dihadapan sahabatnya itu seolah ia telah ditipu mentah-mentah oleh Kirana dan sontak pria yang dipanggil profesor tersebut hanya menaikkan alisnya heran melihat sikap Akio yang lain dari biasanya. Ia tak pernah melihat mahasiswa kesayangannya ini tertawa begitu lepas.
"Bolehkah aku tahu alasan yang menyebabkanmu berubah pikiran dengan segera menyelesaikan skripsimu?" Sang Profesor menoleh kearah Akio. "Yang kutahu kau dan Kazuto selalu melakukan semua hal bersama-sama walaupun aku tahu kau jauh lebih jenius darinya. Dan aku pun tahu sebenarnya kau selama ini memilih mengulur-ngulur waktumu di kampus karena protes dengan sikap keras Ayahku...maksudku Kakekmu."
"Aku hanya ingin lebih mementingkan diriku saat ini," Akio menoleh kearah profesor dan tersenyum kemudian menoleh kembali keluar jendela. "Paman tahu kan bahwa selama ini hidupku selalu diatur oleh Kakek seolah ambisi yang ia miliki dan telah dipenuhi oleh Ayahku sebelum meninggal harus diestafetkan kepadaku yang notabennya adalah cucu laki-laki satu-satunya. Kupikir dengan mengulur-ulur waktu dan bermain-main seenaknya akan membuat Kakekku sadar bahwa selama ini aku protes atas keotoriterannya. "Setelah meyakinkan Kirana telah menghilang dari pandangannya, ia berjalan dan duduk dihadapan sang profesor. "Tapi Kakek sampai sekarang tidak menyadari protesku sama sekali dan semakin menekanku hingga aku menemukan alasan kuat untuk melawan Kakek. Alasan yang walaupun Kakek mengancam dengan cara apapun aku tidak akan pernah khawatir goyah seperti biasanya."
"Jadi siapa perempuan yang beruntung itu?"
"Paman Aki tahu?" Kedua mata tajam Akio membulat sempurna terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan sang paman.
"Jangan meremehkanku anak muda," Sang profesor menggoyang-goyangkan telunjuk tangan kanannya dihadapan Akio. "Aku sudah hidup dua kali lipat lebih lama darimu. Kau pikir hanya Ayahmu saja yang mendapatkan tekanan dari Ayahku? Justru aku berterima kasih kepada Ayahmu yang mengorbankan dirinya untuk melindungi impianku bahkan untuk urusan percintaan. Kau tahu sendirilah kalau Bibimu itu dari kalangan rakyat biasa yang tidak tahu menahu tentang dunia bisnis. Jadi wajar saja aku pun akan melakukan hal yang sama untukmu kali ini."
"Aku memang kalah telak untuk urusan itu denganmu Paman," Akio mengacak-acak rambutnya sendiri. "Dia perempuan yang sungguh menarik seolah disekelilingnya ada berbagai warna cerah dan indah. Dia juga seperti kotak rubik yang tak pernah bosan aku utak-atik untuk memecahkan misterinya. Dan aku bertaruh sendiri dengan diriku untuk mendapatkan dirinya."
"Kau belum mendapatkan dirinya?" Aki tak bisa menahan tawanya melihat track record keponakannya yang terkenal playboy ini. "Wow, ini baru berita..."
"Sebenarnya...," Akio mengingat malam panasnya dengan Kirana. Betapa untuk pertama kalinya ia menginginkan seseorang dan tak ingin melepasnya. Namun ia tersadar bahwa Kirana meminta dirinya untuk tidak mengingatnya jika tak ingin menambah luka wanita itu. "Sudahlah Paman, anggap saja karena dia istimewa sehingga bisa menggerakkanku sedemikian rupa." Akio bangkit dari duduknya menuju pintu keluar. "Dan aku pastikan akan mendapatkannya." Ia mengacungkan dokumen yang ia bawa tadi kearah Aki sebelum keluar dari ruangan tersebut dan hanya disambut dengan senyum Aki yang sangat khas keluarga Fujiwara.
***
"Kepalaku sakit...," Keluh Kirana sambil mengusap-usap kepalanya yang berdenyut nyeri akibat jitakan bertubi-tubi dari Luna yang kesal karena selama ini ia begitu pintar menyembunyikan rahasia besar tentang siapa sebenarnya dirinya.
"Rasakan itu sebagai balas dendamku setelah sekian lama membohongiku!" Ujar Luna cuek menyodorkan nampan berisi makanan yang dipesannya untuk Kirana. Saat ini mereka berdua berada di kantin kampus. Suasana cukup ramai mengingat hari ini adalah hari pertama masuk kuliah.
"Mana kutahu kalau perempuan yang selama ini dekat si playboy itu adalah kau Luna. Pantas saja sekarang hidupnya lebih teratur dan mulai jarang ke Klub, yah, walaupun untuk urusan sibuk dengan pekerjaan nggak bisa kukomentari," Kirana mengerucutkan bibirnya. Ia mengambil garpu dan menancapkannya kepada semangkok salad buah dihadapannya. "Dia, benar-benar beruntung mendapatkan dirimu!"
"Dia kakakmu Nona Muda, aku ingatkan itu," Luna mendengus kesal tidak terima dengan panggilan 'playboy' kepada kekasihnya walaupun kenyataannya memang seperti itu dulu sebelum akhirnya pria itu bersama dirinya.
"Hei, jangan panggil aku dengan sebutan itu!" Protes Kirana. "Aku paling tidak suka."
"Ya..ya..ya...," Luna memutar kedua bola matanya malas. Ia mengingat pesan terakhir Daichi tentang Kirana bahwa alasan mengapa sosok Kirana tidak pernah terdengar familiar di lingkungan keluarga kelas atas karena hal itulah yang diinginkan kedua orang tuanya. Cukup bagi mereka hanya Daichilah yang harus menonjol guna melindungi adik kecilnya tumbuh sebagai orang biasa yang tanpa beban. Ia dan kedua orang tuanya tak ingin Kirana menjadi korban pernikahan bisnis mengingat keluarga Matsumoto adalah salah satu keluarga yang berpengaruh besar di dunia bisnis dan merupakan incaran banyak orang tua untuk dijadikan menantu. Disisi lain ia bersyukur menjadi orang biasa seperti orang kebanyakan. Namun disisi lain ia kasihan melihat kekasihnya menanggung beban seberat itu. Apakah ia tidak lelah? Terbesit rasa ingin memanjakan prianya ketika ia berkunjung ke apartemennya nanti.
"Lantas bagaimana kau bisa mengenal Daichi-nii?" Tanya Kirana penasaran.
"Panjang ceritanya...," Jawab Luna santai. "Kalau waktunya senggang akan kuceritakan dari A sampai Z."
"Ah curang..., kau mulai main rahasia-rahasiaan!" Kirana melahap buah anggur yang ia ambil menggunakan garpu kedalam mulutnya.
"Memangnya kau selama ini tidak bermain rahasia-rahasiaan?" Lanjut Luna. "Daripada mengurusiku bagaimana jika kau mengurusi Tuan Mudamu?"
__ADS_1
"Hah? Tuan Muda yang mana?" Kirana mengernyitkan dahi tampak bingung.
"Itu," Luna menunjuk kearah belakang Kirana dengan dagunya dan spontan Kirana menoleh. Akio menatap kearah Kirana dengan senyum bengkok andalannya. Oh tidak! Jantungnya belum siap untuk berhadapan langsung dengan pria dihadapannya setelah kejadian di rumah Kakek dan Neneknya di Indonesia lalu.
"Sepertinya kau butuh waktu berdua dengan Tuan Muda ini Nona Muda," Luna yang mendapat kode untuk menyingkir dari Akio, memilih memberikan ruang untuk mereka berdua berbicara dari hati ke hati. "Dan aku harap kau tidak melarikan diri lagi." Bisik Luna di telinga Kirana membuat sang gadis terdiam.
"Nona Muda?" Akio menahan tawanya. "Kau dipanggil Nona Muda oleh temanmu itu? Dari sisi mana kau terlihat seperti Nona Muda? Tidak ada anggun-anggunnya sama sekali. Kecuali kau menikah dengan pria berpengaruh sepertiku."
"Apaan sih? Enggak penting banget omongannya!" Kirana kesal mendengar komentar Akio yang terkesan meremehkan. "Ge-er! Siapa juga yang mau nikah dengan orang sepertimu! Lagian juga aku tidak kepikiran menikah muda." Ia mengangkat bahu. "Aku masih ingin mengejar cita-citaku menjadi dokter."
"Memangnya jika statusmu berubah jadi seorang istri diusia semuda ini cita-citamu menjadi dokter tertunda?" Pertanyaan Akio sukses membuat Kirana tersedak. Ia segera menyambar jus jeruk yang dipesannya tadi dan meminumnya hingga tandas.
"Sebenarnya apa maumu?!" Eram Kirana untuk menahan emosinya. Oh ayolah, ini baru awal tahun ajaran baru...please jangan mancing-mancing emosi deh!
"Mauku?" Kirana kembali melihat kilatan yang sama dimata Akio ketika hendak menciumnya di dalam mobil. Tersadar hal itu ia memilih bangkit dari tempat duduknya saat ini dan segera melarikan diri darinya. Namun lagi-lagi langkahnya kalah dengan cengkraman tangan Akio yang kekar dan kuat sehingga memuatnya pasrah mengikuti kemanapun pria itu mengajaknya. "Bukankah kau sudah tahu dari awal?"
"Kau mau membawaku kemana?!"
"Ketempat dimana aku dan kau bisa berbicara hanya berdua saja," Akio tersenyum kearah Kirana membuatnya terdiam. Mengapa ia sekarang jadi sangat lemah menghadapi pria ini? Mungkinkah ia sudah...Tidak! Tidak! Yang benar saja?! Teriak Kirana dalam hati penuh frustasi. Ia merasakan firasat yang tidak enak akan hal itu...
***
Terdengar desahan dan suara kecupan dari sepasang insan berbeda gender di belakang gedung olahraga kampus yang tak lain dan tak bukan adalah Kirana dan Akio. Bagaimana mereka berakhir dengan saling berciuman penuh hasrat seperti sekarang? Kirana pun tak tahu. Yang ia tahu ketika mereka berdua sampai di gedung belakang kampus tiba-tiba Akio langsung meraup bibir ranumnya. Awalnya ia terkejut dan tak bergeming namun kesempatan itu tak dilewatkan oleh Akio yang sudah lama tidak mencecap bibir penuh candu baginya.
Didorongnya pelan tubuh Kirana hingga menempel tembok di sela ciumannya yang semakin mendominasi sehingga tubuhnya tak dapat memiliki celah untuk melarikan diri dengan memojokkannya. Akio semakin rakus melumat bibir Kirana. Digigitnya bibir bawah gadisnya dan memasukkan lidahnya saat Kirana mengerang membuka mulutnya. Tangan kirinya kini menyelinap disela baju Kirana menuju dadany membuat Kirana tersentak kaget dan berusaha sekuat tenaga untuk menyingkirkan tangan tersebut.
"Ukkhhhh...hen-ti-kan..."
"Ayolah Kirana, aku tahu kau juga merindukan sentuhanku...," Ujar Akio. Tatapan matanya mulai berkabut seolah hasratnya menguasai dirinya. "Karena aku begitu merindukannya..."
"Tidak! Kumohon jangan lakukan ini lagi padaku...," Rintih Kirana disela ciuman Akio yang semakin ganas.
Akio seakan Tuli dan terus menjamah tubuh Kirana tanpa henti. Bibirnya mulai menjamah leher jenjang Kirana dan mengecupnya dalam sambil terus *** dada sang gadis. Entah sejak kapan celana jeans yang Kirana kenakan telah terbuka dan membiarkan tangan kanan Akio masuk ke dalam celana dalam dan mulai menjamah daerah kewanitaannya.
Nafasnya tersentak ketika merasakan jari tangan Akio masuk ke dalam lorong kewanitaannya sehingga membuatnya meringis kesakitan. Ini gila! Bagaimana ia bisa pasrah begitu saja dengan sentuhan-sentuhan yang dilakukan Akio?! Rasanya tubuhnya begitu berkhianat pada pikirannya. Kuliah! Ia harus konsen kuliah hari ini! Ingat cita-citamu Kirana!
Dengan sekuat tenaga Kirana mendorong tubuh Akio. Nafasnya terengah-engah membuat dirinya tampak begitu seksi di mata Akio.
"Apa kau sudah gila?!" Teriak Kirana marah sambil merapikan kemeja dan celana jeans-nya yang berantakan. "Ini masih pagi dan aku ada jadwal kuliah seharian penuh!"
"Jadi jika sudah sudah selesai jadwal kuliahmu kita bisa melanjutkannya?" Akio tersenyum miring. Ucapannya barusan membuat pipi Kirana memerah. Sial..., ia mati kutu kali ini!
"Apakah selalu sentuhan fisik dan seks yang ada di kepalamu setiap kali mendekati wanita?" Kirana menghela napas lelah menghadapi makhluk tampan nan arogan dihadapannya saat ini. "Apa kau ingin aku melarikan diri seperti yang sudah-sudah? Aku menerima ajakanmu untuk berbicara hanya berdua karena Luna yang memintaku untuk tidak melarikan diri lagi walaupun setiap kali kita hanya berdua ujungnya pasti begini..."
__ADS_1
"Semua tergantung dirimu mau dibawa kemana bentuk hubungan kita ini?" Seringai Akio membuat Kirana bergidik ngeri. Brengsek! lelaki ini memang bukan lelaki sembarangan! Daichi-nii, mengapa kau bisa menciptakan monster tampan seperti ini?!
"Sekarang aku mau tanya, apa alasanmu harus denganku? Kurasa banyak wanita yang dengan senang hati jatuh ke dalam pelukanmu," Kirana yang telah mendapatkan kestabilan emosi kembali berani menatap Akio dan memulai pembicaraan serius seperti permintaan Luna sebelumnya. Ia harus menyelesaikan permasalahan ini secara baik-baik. "Aku orang biasa yang tidak bergemilang harta dan seenaknya. Berbeda dengan wanita-wanita yang selama ini disekelilingmu."
"Apakah menyukai seseorang membutuhkan alasan?" Akio tak kalah menunjukkan wajah seriusnya. "Seperti kau bilang, banyak wanita yang dengan senang hati jatuh ke dalam pelukanku tapi entah mengapa kau berbeda."
"Apa maksudmu?"
"Kau begitu misterius dan penuh teka-teki yang membuatku penasaran akan dirimu."
"Lantas setelah rasa penasaranmu padaku habis kemudian kau akan meninggalkanku? Begitu maksudmu?"
"Jika memang itu asumsimu mungkin sejak aku berhasil menidurimu aku sudah tidak mau berurusan denganmu. Namun faktanya aku masih menginginkanmu." Ada nada khawatir dari ucapan Akio ketika mengungkit peristiwa itu. "Yah...walaupun pada awalnya aku ingin rasanya menghancurkanmu berkeping-keping karena telah berani menolakku. Namun malam itu setelah melihatmu menangis sejadi-jadinya aku...," Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Kirana menatap kedalam bola mata hitam pekat milik Akio. Tak ada kebohongan didalamnya. ia tersenyum dalam hati melihat ekspresi Akio yang serba salah ketika mengungkit masalah yang lalu mereka, padahal ia telah melupakannya. Ternyata dibalik keegoisan dan kearoganan Akio masih memiliki sisi manusiawi juga. Entah kenapa hal itu membuatnya tersentuh.
"Baik, aku akan memberikanmu kesempatan untuk mengenalku lebih jauh," Senyuman tulus melengkung indah di bibir Kirana membuat Akio terpana. Bagaimana tidak, ini adalah senyuman pertama yang diberikan sang gadis kepadanya dan untuk pertama kalinya ia melihat gadisnya terlihat sangat cantik. Bukan, bukan karena gadis ini tidak cantik tapi kali ini ada ketulusan didalamnya dan itu hanya untuknya. Kakek dan Nenek Kirana benar mengenai gadisnya.
Kirana segera mengambil pulpen balliner di tasnya dan menarik lengan kanan Akio yang tertutup oleh blazer coklatnya. "Ini nomor ponselku dan ID medsos-ku, berusahalah untuk bisa memecahkan teka-teki diriku." Setelah selesai memberikan nomor, Kirana berjinjit mendekat kepada Akio dan memberikan ciuman seringan bulu di bibir tipis Akio kemudian meninggalkan Akio sendirian. Sontak aksi tersebut membuat Akio terkejut. "Sampai jumpa lagi!"
Akio menatap tulisan yang ada dilengannya. Tubuhnya bergetar seolah luapan bahagia yang ia dapat ingin ia hempaskan. Ia mengangkat kedua tangannya keatas dan meneriakkan kata 'YES'. Beginikah rasanya mendapatkan sesuatu yang sulit digapai? Rasanya jauh berkali-kali lipat memenangkan apapun dalam hidupnya. Kakek, bersiaplah! Mulai hari ini aku akan menabuh genderang perang padamu!
Sementara itu Kirana sudah berada di dalam kelas jam pertamanya. Nyaris saja ia terlambat jika Luna tidak marah-marah ditelepon memintanya segera masuk kelas. Berurusan dengan Tuan Muda yang satu itu pasti ada saja masalah yang terjadi.
"Bagaimana urusanmu dengan Tuan Muda itu?" Tanya Luna yang berada disampingnya.
"Untuk saat ini sudah beres," Kirana menjawab sambil tersenyum tanpa menoleh kearah Luna dan sibuk dengan penjelasan profesor di depan.
"Hmm..., melihat ekspresimu yang begitu senang pasti hasilnya sesuatu yang baik." Rasa penasarannya begitu tinggi ketika ia melihat sesuatu yang membuatnya semakin usil bertanya. "Apa kau saat ini sudah pacaran dengannya?"
"Hn," Angguk Kirana.
"Tak kusangka Tuan Muda itu bisa membangkitkan sisi liarmu ya?"
"Maksudmu?"
"Ada tanda kemerahan di leher bagian kirimu," Dengan santainya Luna memberi kode kepada Kirana membuatnya terkesiap dan langsung menutupnya. "Sebaiknya kau gerai saja rambut panjangmu itu dari pada menimbulkan prasangka yang tidak-tidak pada orang lain."
Akio Fujiwara sialan! Rutuk Kirana dalam hati sambil sibuk menggerai rambut indahnya.
"Aku tidak akan mengomentari gaya pacaranmu karena kau sudah dewasa. Tapi aku minta tolong untuk memikirkan perasaan kakakmu. Kau lebih tahu dari siapapun betapa Daichi sangat menyayangimu melebihi apapun," Luna menatap Kirana serius. "Ia bahkan mengorbankan masa mudanya untuk menjadi pewaris Matsumoto Group."
Kirana terdiam setelah mendengat kata-kata Luna. Entah mengapa ucapan Luna kali ini terasa menyakitkan untuknya. Kebahagiaan yang awalnya ia rasakan mendadak meluap begitu saja ketika mengingat Daichi, kakaknya. Padahal alasan itu sudah lama ia ketahui. Kini hatinya kembali bimbang atas keputusannya terhadap hubungannya dengan Akio Fujiwara.
__ADS_1
***