A Flavour to Love

A Flavour to Love
12


__ADS_3

Kirana menatap layar smartphone-nya kosong. Tak terasa sudah hampir sebulan ia menghilang dan tidak melakukan kontak apapun dengan Akio. Padahal ia telah menyatakan bahwa ia dan lelaki tersebut adalah sepasang kekasih. Ia hanya mendapatkan kabar dari curhatan Park Ha Neul bahwa lelaki tersebut sudah lulus kuliah dan sibuk dengan pekerjaannya sebagai CEO. Entah mengapa hatinya merasa sesak dan sakit setiap ia berusaha menguatkan diri untuk menghindari Akio. Ia takut terlena dengan segala pesona, buaian dan cumbuan yang selama ini Akio berikan. Bahkan jika ia memberikan celah sedikit saja kepada Akio, ia khawatir bahwa kejadian yang dulu bisa terulang kembali dan dipastikan kali ini ia melakukannya dengan sukarela dan jika kakaknya tahu bahwa ia berpacaran dengan teman sesama bejatnya dulu sudah pasti tidak akan mendapat restu. Ia harus bagaimana?


"Sampai lebaran monyet juga smartphone-mu tidak akan pernah berubah menjadi Tuan Muda itu, Kirana," Luna menegur Kirana dengan menepukkan gulungan buku ke kepalanya.


"Aduh, sakit...," Keluh Kirana mengusap-usap bagian kepalanya yang dipukul Luna.


"Kalau kangen tinggal kirim pesan kepadanya dan kupastikan dalam hitungan menit ia akan berdiri dihadapanmu. Jangan main kabur seperti ini! Kamu masih ingat kan kalau dia itu tipe yang nekad? Mikirnya jangan terlalu jelimet kenapa sih Neng?"


"Ngomongnya enak banget nggak pakai disaring!" Kirana mendengus kesal tidak terima statement yang dilontarkan Luna. Ia menggeletakan smartphone-nya disembarang tempat dan menyenderkan tubuhnya dipunggung kursi. "Memangnya salah siapa yang membuatku seperti ini?"


"Maksudmu ini semua salahku gitu?" Luna melipat kedua tangannya dan mencodongkan tubuhnya kearah Kirana. Untung saja jam mata kuliah hari ini telah berakhir. Bagaimana ia tidak kesal pada sahabatnya ini. Walaupun pikirannya menerawang entah kemana, tapi untuk ukuran akademis Kirana benar-benar luar biasa! Nilai-nilainya tidak ada yang berantakan sama sekali, berbanding terbalik dengan dirinya yang harus fokus mendengarkan secara seksama apa yang disampaikan oleh para dosen. Tapi hal tersebut tidak membuatnya menjadi iri pada gadis cantik disebelahnya ini melainkan rasa kagum bercampur gemas.


"Kamu membuatku jadi kembali ragu untuk menerimanya dengan mengingatkanku untuk tidak membuat kakakku khawatir...," Pandangan matanya mengarah pada langit-langit. "Aku seperti merasa telah seenaknya berbahagia diatas beban kakakku."


"Kurasa pasti ada yang salah paham tentang ini?" Luna tertawa.


"Maksudmu aku salah paham begitu?"


"Begitulah, aku kan tidak bilang melarangmu berhubungan dengan Akio Fujiwara," Luna berusaha menghentikan tawanya.


"Lantas apa?"


"Maksudku pastikan jika ketika kamu memutuskan untuk bersama Tuan Muda itu harus dengan niat yang serius melibatkan perasaan dan logika bukan hanya nafsu saja yang dikedepankan. Kamu sendiri kan tahu betapa posesifnya kakakmu itu setiap kali menceritakan tentangmu. Kamu mau si Tuan Muda itu jadi rempeyek jika kakakmu tahu bahwa hubunganmu dengan Tuan Muda yang mempunyai trade record bermasalah dengan wanita sudah terlampau jauh?"


"Itu yang kutakutkan..., kau tahu sendirilah ia begitu akhhh..., susah dijabarkan dengan kata-kata!" Kirana menutup wajahnya dengan kedua tangannya antara frustasi dan malu setiap kali mengingat Akio. "Makanya aku kabur lagi seperti ini..."


"Jadi kamu belum minta izin dari Daichi untuk berpacaran dengan Tuan Muda itu?! Sungguh sesuatu!" Kirana semakin terpuruk mendengar penjelasan dari Luna. "Umurmu itu sudah 20 tahun Rana, harus bisa lebih dewasa menghadapi masalah apapun termasuk urusan percintaanmu kali ini. Dicerna pelan-pelan dan baik-baik ya kata-kataku," Luna menepuk-nepuk pundak Kirana. "Aku harus pergi sekarang, setengah jam lagi part time ku dimulai plus kencan dengan kakakmu yang tampan itu."


"Aku jadi penasaran bagaimana kamu bisa menaklukan kakakku yang playboy dengan memaksanya berpacaran sehat denganmu?"


"Ssstt, itu rahasia perusahaan dong!" Luna mengerlingkan sebelah matanya kearah Kirana.


"Ya...ya...ya...," Kirana memutar bola matanya ikut bangkit dan menyusul Luna keluar ruangan."Aku juga harus ke klub karate."


***

__ADS_1


BRUK!


Kirana menatap kosong tergeletak dimatras tak sadar dengan mudahnya mendapat bantingan dari seniornya, Reiko Takahashi. Seluruh ruangan klub terbengong-bengong tak percaya bahwa Kirana yang terkenal kuat dibalik tubuh langsingnya itu dengan mudahnya dikalahkan Reiko. Kirana tanpa mengindahkan tatapan heran yang diarahkan kepadanya hanya bangkit dan keluar dari Dojo dan duduk diteras sambil memandang kearah langit. Suara jangkrik mulai terdengar menandakan bahwa siklus permindahan ke musim panas telah dimulai.


"Ini minuman untukmu," Issei Takeda, senior sekaligus Ketua Klub yang sejak lama mengamati perubahan yang terjadi pada Kirana datang menghampiri Kirana untuk menanyakan penyebab gadis itu kehilangan fokus dengan memberikan sekaleng teh hijau dingin.


"Terima kasih Senpai," Kirana mengangguk dan menerima sekaleng teh hijau yang diberikan oleh ketua klub karatenya tersebut dan kembali menatap lurus kedepan. Angin sepoi-sepoi meniup lembut rambut Kirana yang dikuncir ekor kuda. Tanpa ia sadari Issei memperhatikan dari samping sosok Kirana. Cantik dan indah..., sebenarnya dalam lubuk hati, Issei sangat mengagumi Kirana. Gadis itu begitu bersinar dengan caranya sendiri. Ia ingin mendekatinya namun entah mengapa seperti ada tirai tidak kasat mata yang menghalangi keinginannya tersebut. Ditambah kehadiran Akio Fujiwara yang selalu berhasil menarik perhatian Kirana. Bersaing dengan lelaki seperti Akio sama saja dengan mencari mati tapi ia merasa bahwa Kirana terlalu indah untuk dirusak oleh orang seperti Akio.


"He-em, sudah cukup puaskah kau memandangi gadis milikku?" Dehaman suara bariton mengejutkan Kirana dan Issei membuat mereka menoleh kearah pemilik suara tersebut.


Kirana sempat terdiam lama untuk menyadari lelaki tersebut. Betapa terkejutnya ia ketika ia melihat Akio menatap tajam kearah dirinya dan Issei seolah ia target operasi karena telah melakukan kesalahan fatal.


"A..ki..o...," Bisiknya pelan cukup membuat Issei terkejut dengan nama kecil panggilan untuk Akio Fujiwara. Tidak mungkin seorang Akio Fujiwara mau dipanggil nama kecilnya jika orang tersebut tidak memiliki hubungan kedekatan dengan lelaki tersebut.


"Ganti bajumu dan rapikan semua perlengkapanmu! Aku tunggu di mobilku sekarang!" Suara Akio rendah penuh penekanan kearah Kirana membuatnya segera bangkit dari posisinya dan berlari menuju loker tempat perlengkapannya disimpan. Setelah meyakinkan bahwa Kirana telah hilang dari pandangannya, ia mengarah kepada Issei Takeda. "Mohon maaf jika harus merepotkanmu Takeda, kuharap kau bisa menjaga sikapmu terhadap gadisku, permisi!" Akio segera berlalu meninggalkan Issei yang terdiam dan hanya bisa mengepalkan kesepuluh jarinya.


***


Disepanjang jalan Kirana hanya bisa terdiam memandang keluar jendela mobil milik Akio. Ia tak berani menoleh kearah Akio yang begitu serius menyetir. Tatapan Akio dingin dan kelam seolah-olah ia sedang memendam sesuatu hal yang hanya menunggu waktu untuk meledak. Tak terasa mobil yang dikendarai Akio dan Kirana memasuki parkiran basement. Setelah mobilnya terparkir sempurna, Akio segera turun dari mobil dan berjalan menuju Kirana untuk membukakan pintu. Kirana keluar mobil dan dengan patuh mengikuti Akio ketika salah satu tangan sang lelaki menggenggamnya erat dengan sedikit paksaan masuk ke dalam penthouse milik Akio.


Suara pintu ditutup yang terdengar cukup keras menyadarkan Kirana akan situasi saat ini. Ia pun berbalik kearah Akio.


"Aku...," Belum sempat Kirana melanjutkan ucapannya, ia merasakan ada benda lunak yang mendarat di bibirnya. Mata indahnya terbelalak tak percaya bahwa Akio menciumnya dengan begitu dalam membuatnya tak berdaya dan hanya bisa memasrahkan dirinya kepada Akio yang membawanya masuk ke dalam kamar milik sang pria. Ya Tuhan..., mengapa ia begitu lemah dihadapan pria ini? Mana Kirana yang terkenal dengan sikap keras dan tak acuhnya?


Lenguhan tak tertahankan Kirana membuat nafas dan kilatan nafsu Akio semakin membara. Hampir sebulan ia tak menyentuh tubuh indah di bawahnya saat ini. Tubuh yang telah menjadi candu mematikan untuknnya.


"Engg..., Akio...," Rintihan bercampur nikmat yang dirasakan Kirana ketika Akio mencium kuat bagian lehernya membuat Akio sejenak menghentikan tindakannya. Logika yang nyaris ia hempaskan karena sudah cukup lama tidak melihat sosok yang begitu dirindukan kini kembali ke jalur yang benar.


"Kita harus bicara!" Akio beranjak dari posisinya dan duduk dipinggir ranjang namun mata tajamnya masih mengarah kepada Kirana yang sudah merubah posisinya menjadi duduk bersandar pada ujung tempat tidur. "Apakah ada yang ingin kau utarakan terkait alasanmu menghindariku selama sebulan ini?"


Pertanyaan datar namun cukup menohok membuat Kirana menelan ludahnya. Ia merasa seperti tersangka yang melakukan kesalahan besar sehingga membuatnya tak berkutik.


"Kupikir dengan memberikanmu jeda waktu beberapa hari sejak kita berpacaran untuk tidak berkomunikasi denganku masih bisa kutolerir namun kau mengabaikanku selama sebulan tanpa kabar! Apakah itu dibenarkan?!" Suara Akio menjadi meninggi. Ia menarik rambutnya ke belakang dengan frustasi menahan agar ia tidak bertindak brutal. Bagaimanapun gadis dihadapannya ini membuatnya susah untuk berpikir jernih.


"Aku...," Kirana akhirnya memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya. "Bisakah kita batalkan saja hubungan ini?"

__ADS_1


"Apa maksudmu?!" Akio tidak menyangka pertanyaan serta pernyataan tersebut yang keluar dari bibir Kirana. Berani sekali ia meminta hal paling konyol baginya.


"Aku takut Akio...aku takut jika kita melanjutkan hubungan ini maka kau yang akan menyesal..." Bibir Kirana bergetar. Kedua tangannya memeluk kakinya. Ia membayangkan betapa murka Daichi jika ia mengetahui dirinya berhubungan dengan Akio Fujiwara yang notabennya adalah teman brengseknya. Ia bisa mengamuk dan memutuskan hubungan pertemanan dengan Akio terlebih lagi jika mereka ada hubungan bisnis. Daichi terkenal bertangan dan berhati dingin untuk urusan yang satu itu.


"Jawab aku Kirana," Akio menarik kedua tangan Kirana untuk meyakinkannya. "Sebenarnya apa yang kau takutkan? Aku adalah salah satu orang berpengaruh di negeri ini jadi kau tidak perlu takut pada apapun Kirana."


"Tapi ada orang lain yang lebih berpengaruh dibandingkan dengan dirimu Akio...," Kirana berkata putus asa. Mengapa lelaki ini keras kepala sekali sih?!


Dahi Akio mengernyit berusaha mencerna ucapan Kirana. Yang lebih berpengaruh dari dirinya? Apa maksud Kirana? Pikirannya kembali kepada masa dimana ia mempertanyakan jati diri gadis pujaannya yang begitu misterius itu.


"Kau kenal Daichi Matsumoto?" Kirana memandang ragu kepada Akio. Tapi ia sudah kepalang basah karena merasa terdesak oleh lelaki tampan dihadapannya ini. Ha! Sekarang ia sudah benar-benar gila mengakui Akio tampan.


"Bukan kenal lagi, kami adalah sahabat dalam hal apapun," Ucap Akio bangga dan ditanggapi oleh Kirana dengan memutar kedua bola matanya malas. Bagaimana tidak jika ia melihat kelakuan kakak semata wayangnya seperti itu secara otomatis ia mengambil kesimpulan Akio pun sebelas dua belas dengan sang kakak. Mungkin ini karma untuknya karena selalu meledek sikap Daichi sehingga ia memiliki kekasih yang karakternya sama dengan kakaknya.


"Lalu apa hubungannya denganmu?" Lanjut Akio kembali serius.


"Umm..., jika kukatakan bahwa aku adiknya bagaimana?" Tanya Kirana dan suasana diantara mereka berdua berubah menjadi sunyi senyap. Tuh kan..., pasti jadi nggak enak gini suasananya... keluh Kirana dalam hati. Ia sudah siap dengan kemungkinan terburuk bahwa hubungan ini tidak akan berlanjut. Entah mengapa hatinya tercubit jika memikirkan hal tersebut. Apakah mungkin ia sudah benar-benar jatuh cinta dengan Akio?


"Pufh...hahahahahaha," Tawa Akio mendadak meledak tak tertahankan sehingga membuat perutnya sakit. "Kau? Adiknya Senpai? Kemungkinan hal tersebut 0% Kirana!"


Kirana melongo tidak percaya atas respon yang didapatnya.


"Aku tahu Senpai punya adik perempuan yang sengaja disembunyikannya. Tapi dari segi manapun kau tidak ada mirip-miripnya dengan Senpai!" Akio mengusap sudut matanya yang berair karena tak kuat menahan tawanya. "Kalau bercanda jangan berlebihan Kirana!"


Kirana mencebik kesal. Lelaki yang mengaku dirinya pintar dihadapannya ini hanya menganggap remeh ucapannya. Ia pun bertambah kesal ketika Akio mengatainya tidak mirip dengan Daichi. Sebegitukah tidak mirip? Padahal ia merasa dirinya mirip dengan sang kakak jika mereka berdiri sejajar di depan cermin. Ia rasa ada yang salah dengan otak Akio. Terserah sajalah maunya lelaki itu apa! Jangan salahkan dirinya jika ia babak belur atau dilarang berhubungan oleh kakaknya.


Akio tidak habis pikir bagaimana bisa Kirana mengakui dirinya adalah adik Daichi Matsumoto. Lelucon yang sungguh tidak lucu! Gadis dihadapannya ini sama sekali tidak menunjukkan aura kalangan elit seperti Daichi Matsumoto dan kedua orang tuanya yang begitu mengintimidasi penuh pesona sehingga membuat orang-orang disekelilingnya hormat dan respek kepada mereka. Kirana terlalu serampangan, seenaknya dan  keras kepala. Sialnya justru sikap itulah yang membuatnya jatuh cinta. Hei..., akhirnya ia menelan ucapannya sendiri untuk tidak memasukkan cinta dalam hidupnya. Ia benar-benar sudah gila...ya, gila karena mencintai seorang gadis seperti Kirana.


"Jadi...," Akio menyeringai sambil **** tubuh langsing Kirana dan menggenggam erat pipi sang gadis dengan kedua tangannya. Ia memandang Kirana lekat berusaha menyalurkan perasaannya. "Siapapun dirimu, tetaplah disampingku dan meyakiniku bahwa aku pantas memilikimu..."


Kirana mengerjapkan matanya. Kalimat terakhir Akio membuat detak jantungnya berdetak kencang.


"Aku kalah...," Dengan segenap kekuatan yang dimiliki Kirana menyatakan bahwa dirinya menyerah kalah pada seorang Akio Fujiwara. Akio yang melihat ekspresi Kirana yang malu, gengsi dan pasrah menjadi satu terkekeh lalu menyerang Kirana, melumat bibir gadis itu dengan tidak sabaran dan memeluknya erat seolah tak ingin terpisahkan lagi. Ia tak menyangka memiliki seseorang yang dicintai itu rasanya tak dapat digambarkan dengan kata-kata...


***

__ADS_1


__ADS_2