A Flavour to Love

A Flavour to Love
20-1


__ADS_3

“Saya tinggal Non Luna disini untuk mengobrol dengan Bu Astrid,”


“Terima kasih Bi Ani, atas pengertiannya…,”


Setelah mereka berdua selesai melakukan ritual doa untuk orang meninggal, Ani yang sejak tadi melihat Luna yang begitu menahan sisi emosionalnya untuk menyampaikan rasa kepada Ibunya, memutuskan untuk meninggalkan Luna sendiri bersama pusara Astrid yang telah ditaburi bunga segar di atasnya dan kembali ke dalam mobil.


“Ma…, apa kabar Mama disana?” Bibir Luna bergetar ketika mengucapkan kalimat pertamanya kepada Astrid. Matanya kembali menggenang dengan air mata setelah sejak tadi ditahannya. “Pasti bahagia karena sudah tidak ada penderitaan yang Mama rasakan seperti dulu…”


“Ma…, maafkan aku ya, baru bisa mengunjungi Mama sekarang dan punya alasan untuk itu. Tapi dari jauh aku selalu mendoakan Mama kok…, hehehe,” Terselip tawa kecil menggema disela-sela kata yang diucapkan Luna. “Ma…, Mama tahu, selama dua tahun aku tinggal dan kuliah di Jepang, telah banyak… hal yang terjadi dalam hidupku yang kuanggap tak ada artinya lagi ketika Mama pergi dan konflik berkepanjangan dengan Papa. Aku bisa bertemu kembali dengan Kirana, sahabatku, dan juga…Daichi…, lelaki yang sudah berhasil mendobrak tembok besar yang salama ini kubangun kuat dan tinggi untuk melindungi hatiku yang rapuh dan tak percaya akan cinta ketika melihat hubungan yang terbangun antara Papa dan Mama. Dan ternyata Daichi ini adalah Kakak lelaki Kirana yang selalu ia banggakan sekaligus dikeluhkannya. Lucu juga ya, jika diingat-ingat kembali bahwa ternyata aku dikelilingi orang-orang yang baik dan mencintaiku secara tulus…”


“Tapi mengapa Ma?” Suara Luna berubah menjadi parau dan dadanya membuncah seakan luapan emosi menyeruak keluar membuat air matanya mengalir deras tak tertahankan. “Mengapa harus mereka berdua yang menjadi anak dari orang-orang yang mempunyai konflik masa lalu dengan Papa dan Mama? Mengapa disaat aku bisa kembali berbaikan dengan Papa aku harus kehilangan mereka? Orang-orang yang selama ini hadir menemani rasa sepiku karena tidak memiliki keluarga utuh seperti kebanyakan orang lainnya. Terutama Daichi, lelaki yang aku cintai sepenuh hati. Aku bahkan harus bersikap dingin dan mematahkan hatinya dengan kata-kata kejamku. Mengapa Ma? Apakah aku tak pantas berbahagia dengan hidupku dengan memiliki keduanya?”


“Ma, tolong aku…, aku tak tahu lagi harus bagaimana? Melihat mereka terluka sama saja sungguh menyakitkan, tapi aku juga tak bisa mengabaikan permintaan Papa karena beliau adalah waliku yang tersisa…, aku tak ingin menjadi anak durhaka hanya karena hal itu. Aku harus bagaimana Ma?”


Samar-samar Ani dapat mendengar tangisan dan curahan perasaan yang diluapkan oleh Luna. Rasa khawatir terasa di dalam dadanya. Ya Tuhan…, tak ia sangka kepulangan anak didikannya yang diasuh sepenuh jiwa seperti anak kandungnya sendiri ternyata membawa luka yang begitu dalam.


***


“Apa yang kau lakukan pada Luna, Daniel?!”


“Astrid?!” Daniel mengusap-usap matanya untuk memastikan bahwa yang ia lihat dihadapannya adalah nyata istrinya. “Apa itu benar dirimu?”


“Tentu saja ini aku!” Astrid berkacak pinggang dihadapan Daniel yang masih terkejut dengan kehadirannya. “Memangnya siapa? Hantu yang sedang menyamar jadi diriku?”


“Me..mengapa kau disini?” Tanya Daniel yang berusaha bersikap tenang.


“Tentu saja ini tentang Luna, anak kita.”


“Memangnya ada apa dengan Luna?”


“Kau masih mengelak dengan apa yang kau perbuat pada anak kita? Benar-benar keterlaluan!” Protes Astrid.

__ADS_1


“Aku tidak…,”


“Aku melahirkan Luna dengan mempertaruhkan nyawaku untuk membuatnya hidup dalam kebahagiaan. Bukan kau ikat dia dalam kesedihan dengan masa lalu kita yang tidak dewasa sehingga menyakiti Daiki dan Rea.”


“Eh?” Daniel terkejut dengan ucapan Astrid.


“Kumohon Daniel, jangan kau libatkan dirinya dengan kesalahan kita…,” Astrid duduk disebelah Daniel dan menggenggam kesepuluh jari Daniel.“Anak kita pantas berbahagia tanpa terikat dengan masa lalu kedua orang tuanya.”


“Tapi aku takut Astrid…, aku takut jika aku membiarkan Luna bersama lelaki yang merupakan bagian keluarga mereka, ia akan diperlakukan semena-mena karena perbuatan kita dulu dan aku tak sanggup jika hal itu terjadi sehingga harus bersikap keras untuk memaksanya putus hubungan dengan mereka. Bagaimanapun ia adalah harta paling berharga kita…”


“Mereka bukan orang seperti itu Daniel, percayalah…,” Astrid tersenyum untuk menenangkan Daniel yang begitu penuh beban.


“Pak…,”


“Pak Daniel…,” Terdengar sayup-sayup suara yang memanggil Daniel.


“Pak Daniel, kita sudah sampai rumah,” Lanjut Said, supir yang sudah dua tahun menemani Daniel sejak dirinya naik jabatan menjadi Direktur ditempat ia bekerja sekarang. Kegilaan akan pekerjaan yang semakin menjadi sejak Astrid meninggal membuahkan hasil jabatan yang diembannya sekarang.


Said yang melihat majikannya tampak ling-lung kemudian menjelaskan, “Bapak bilang ketika baru mendarat di bandara dan sebelum masuk mobil, bahwa Bapak hendak tidur sebentar dan meminta dibangunkan jika sudah sampai rumah.”


“Oh, begitu ya?” Daniel keluar dari mobilnya dan memandang area depan rumahnya. Kalau begitu tadi itu apa? Apa aku sedang bermimpi atau berhalusinasi? Tapi mengapa seperti nyata? Ada apa ini?


“Kalau begitu saya permisi pulang ya, Pak,” Said izin pamit pulang kepada Daniel.


“Terima kasih Pak Said atas kerjasamanya hari ini,” Daniel menepuk pundak Said dan berjalan menuju pintu depan rumahnya yang sudah terbuka serta Ani berdiri di terasnya.


“Sama-sama, Pak,” Said pun undur diri dan masuk kembali ke dalam mobil serta membawanya kembali ke kantor untuk diparkirkan kemudian menukarnya dengan motor miliknya untuk kembali ke rumah.


“Luna mana Bi Ani?” Daniel mengganti sepatu kerjanya dengan selop rumah.


“Sedang tidur di kamarnya Pak,” Jawab Ani. “Bapak mau dibuatkan minuman apa? Teh atau kopi? Tadi kami sempat mampir ke toko roti juga untuk memberi beberapa cemilan.”

__ADS_1


“Kopi saja Bi,” Respon Daniel yang berjalan menuju lantai dua dimana kamar Luna berada.


Sesampainya di kamar Luna, dipandangi anak gadisnya itu yang tampak tertidur pulas karena kelelahan. Daniel pun duduk di pinggir tempat tidur dan mengusap mahkota hitam milik Luna. Ia pun mengingat kembali masa-masa dimana Astrid begitu bahagia ketika mengetahui dirinya hamil. Ia sempat khawatir bahwa kehamilannya itu akan membuat kondisi tubuhnya yang sudah lemah semakin lemah. Namun Astrid tetap bersikeras ingin mempertahankan bayi yang dikandungnya sebagai bukti bahwa mereka pun diberkati untuk memiliki buah hati. Dan lihatlah saat ini, sang buah hati telah tumbuh menjadi sosok dewasa dan siap untuk memulai babak baru kehidupannya. Tapi babak baru yang bagaimana?


“Diminum dulu Pak, kopinya,” Suara Ani memecah lamunan Daniel yang duduk termenung di sofa ruang keluarga setelah kembali dari kamar Luna.


“Oh, terima kasih, Bi,”


“Sama-sama,” Senyuman Ani selalu bisa membuat Daniel tenang. “Kalau begitu saya pamit dulu untuk ke kamar.”


“Tunggu Bi, duduklah disebelahku untuk menemaniku sejenak,” Daniel menepuk-nepuk sebelah kanan sofa panjang berwarna coklat muda yang ia duduki saat ini. “Ada yang ingin aku bicarakan dan diskusikan dengan Bibi sebagai orang tua yang lebih berpengalaman dibandingkan diriku ini.”


Pasti ini mengenai Luna! Batin Ani. Ia pun duduk disebelah Daniel yang tampak murung dan termenung. Suasana tampak lengang dan hanya suara jangkrik yang berderik serta temaram lampu taman yang menemani dikeheningan malam itu.


“Bi…?”


“Ya, Pak?”


“Bibi kan lebih mengenalku, apakah aku sudah bersikap terlalu keras kepada Luna selama ini? Hanya karena tak mampu mengungkapkan emosi yang selama ini selalu kupendam sendiri dan berlindung dibalik egoku yang tinggi?”


“Maksud Bapak?”


“Bibi mungkin tak percaya pada apa yang kualami ini, setelah sekian lama aku tak pernah bermimpi tentang Astrid, hari ini aku memimpikannya memarahiku karena aku telah seenaknya meminta Luna memutuskan hubungan dengan orang-orang terdekatnya di Jepang. Namun aku meminta Luna melakukannya bukan karena tanpa alasan Bi, justru karena ada alasan kuat mengapa aku dengan keras dan tegas meminta Luna melakukannya. Ia berdekatan dengan dengan anak-anak dari Daiki Matsumoto dan Rea, Bi.”


Ya Tuhan, inikah sebabnya Luna menangis sesungukan dihadapan pusara Ibunya? Dan seolah perasaannya tersampaikan, Astrid datang kedalam mimpi Daniel.


“Bibi sendiri tanpa kuceritakan sudah tahu masalah apa yang terjadi antara kami berdua dan mereka. Jujur Bi, aku takut karena perbuatan kami yang tidak dewasa dulu, berusaha memisahkan keduanya membuat karma buruk berlaku pada Luna karena berurusan dengan anak-anak mereka. Mungkin untuk sahabatnya yang bernama Kirana tidak begitu aku khawatirkan, namun Kakaknya yang bernama Daichi yang kukhawatirkan setelah tahu bahwa mereka merajut hubungan cinta. Aku takut Bi…, aku takut anakku terluka karena bagaimanapun Luna adalah satu-satunya peninggalan Astrid yang dapat membuatku selalu ingat bahwa ada seorang wanita yang sangat mencintaiku dan rela memberikan apa yang ia punya sehingga membuatku akhirnya bisa berpaling hati dari seorang Rea Ayu dulu.” Daniel menunduk dan menutup wajahnya dengan kesepuluh jarinya nampak frustasi.


Tanpa Daniel dan Ani sadari, Luna yang sebenarnya terbangun karena usapan lembut dari Daniel di kepalanya sebelumnya, ternyata mendengar pembicaraan diantara keduanya. Ia menutup mulutnya seraya tak percaya dengan apa yang didengarnya. Jadi selama ini ia telah salah menilai Ayahnya sendiri?


“Pak Daniel, apakah Pak Daniel tidak merasa, bahwa pertemuan Luna dan kedua anak dari Rea dan Daiki itu adalah sebuah untaian takdir yang diberikan Yang Mahakuasa untuk memperbaiki hubungan kalian yang sangat retak karena ego?” Ani mengeluarkan kata-kata bijaknya kepada Daniel. “Semua orang pernah berbuat salah Pak Daniel, Bapak dan Bu Astrid pun sudah berubah menjadi orang yang lebih baik lagi dari sebelumnya sehingga diberi kesempatan untuk memiliki anak seperti Luna. Sudah waktunya Pak Daniel memaafkan diri Pak Daniel sendiri sekarang. Saran saya, biarkan Luna berbahagia dengan pilihan hidupnya. Kalaupun nanti ia terluka, ada Bapak dan saya jika masih diberikan kesehatan dan umur panjang yang akan merangkulnya dan mengatakan bahwa ia telah melakukan yang terbaik dan semua akan baik-baik saja…”

__ADS_1


***


__ADS_2