A Flavour to Love

A Flavour to Love
7-3


__ADS_3

Park Ha Neul, Luna dan Kirana tiba di Klub. Sontak pemandangan kerlap-kerlip lampu dan dentuman musik bergema keras ditelinga. Kirana menghela napas panjang. Setelah sekian lama ia menghindar dari tempat seperti ini, pada akhirnya ia harus menyerah mengingat teman-teman pergaulannya yang memiliki latar belakang berbagai negara dan budaya. Ia bersyukur masih memiliki Luna yang mirip dengannya. Seandainya kakak lelakinya tidak playboy pasti dengan senang hati ia mengenalkan Luna padanya. Dia gadis yang manis, cerdas dan baik hati walaupun karena masalah keluarganya ia memiliki perawakan yang cuek dan tomboy serta sedikit dingin. Hah..., aku kenapa malah jadi berpikiran seperti itu? Gumamnya.


"Ha Neul, Kirana, aku ke toilet dulu ya...," Ujar Luna memutuskan keheningan.


"Memangnya kamu tahu toilet dimana?" Tanya Kirana heran.


"Ada petunjuknya Neng," Luna memegang kedua pipi Kirana dan mengarahkan kearah belakang.


"Iya ya," Kirana hanya menyengir menunjukkan deretan giginya yang rapi dan putih.


"Kirana, kau tunggu disini sebentar ya, aku ingin menelepon tunanganku dulu, kau bisa pesan minuman apapun yang kau mau," Park Ha Neul berjalan agak menjauh untuk menelepon Kazuto menghindari kebisingan. Sementara itu, Kirana yang sendirian akhirnya memutuskan untuk duduk disalah satu kursi di depan meja bar. "Takuya, minta tolong dibantu temanku ini ya..."


Seorang bartender mengacungkan jempol tanda setuju dan menghampiri Kirana. "Ada yang bisa saya bantu Nona?" Tanyanya.


"Apakah disini menyediakan minuman tanpa alkohol seperti orange juice atau lemonade?" Kirana menatap bartender tersebut. "Karena saya sangat intoleran dengan alkohol."


"Tentu saja ada nona," Bartender tersebut terkekeh pelan. "Saya akan membuatkan satu gelas spesial orange juice untuk anda."


"Terima kasih," Kirana tersenyum dan sibuk dengan smartphone di tangannya. Ia harus segera mengabari kakaknya bahwa hari ini ia akan menginap lagi di rumah temannya dan akan kembali besoknya. Hampir saja ia terlambat memberi kabar..., sedetik saja terlambat maka kakaknya yang posesif itu akan segera mencari dirinya dan ia tidak mau diperlakukan seperti anak kecil dihadapan sahabatnya. Tanpa ia sadari minuman yang sedang diracik oleh sang bartender telah diberi alkohol dengan kadar tinggi sesuai permintaan orang yang berbisik dibelakang sang bartender.


"Ini pesanan untuk Nona yang cantik malam ini," Bartender tersebut menyodorkan orange juice kehadapan Kirana.


"Terima kasih," Ujar Kirana dan segera meminum orange juice tersebut. Dahaga yang ia rasakan sejak tadi sejenak menghilang. Namun mengapa tiba-tiba kepalanya menjadi pusing dan pandangannya berkunang-kunang? Dan perlahan pandangannya pun menggelap.


"Thanks Takuya, good job!" Seseorang menangkap tubuh Kirana yang tak sadarkan diri kemudian membopongnya keluar dari klub.


"Kau berhutang mobil keren milikmu itu teman," Bartender itu tersenyum sambil berkacak pinggang.


"Tak perlu khawatir, aku akan mengirimnya besok ketempat tinggalmu setelah urusanku dengan gadis ini selesai."

__ADS_1


***


Luna keluar dari salah satu bilik toilet dan berjalan menuju wastafel untuk membilas tangannya. Ia memandang kearah kaca yang menampilkan wajahnya yang telah didandani oleh tim make up Park Ha Neul. Ia meringis terpaksa menilai penampilannya saat ini. Cantik..., hanya saja ia melihat ini bukanlah dirinya yang biasanya.


Terdengar bunyi ringtone dari smartphone milik Luna mengejutkannya. Ia menatap layar ponselnya untuk melihat siapakah yang meneleponnya tengah malam seperti ini. Bi Ani?


"Ya Bi, ada apa?" Luna menghela napas dan menjawab dengan malas.


"Jadi jika Bi Ani yang menelepon akan kamu angkat sementara Papa yang menelepon tidak mau kamu angkat?" Luna terdiam ketika mendengarkan suara berat seorang lelaki dewasa yang ia kenal dengan baik, Daniel Putranto. Kenapa telepon dari lelaki ini datang disaat yang tidak tepat. Rasanya baru sore tadi ia menangisi nasib memiliki ayah sepertinya. Sekarang apa lagi? Tak cukupkah dengan semua penderitaan yang dialaminya selama ini?! Eramnya penuh kesal.


"Ayo jawab pertanyaan Papa?!" Lanjut Daniel dengan suara tinggi.


"Jika iya, anda mau apa Tuan?" Luna berusaha mengumpulkan segenap tenaganya berusaha mengendalikan tone suaranya agar tidak membalas ketus. Bagaimanapun beliau adalah Ayahnya, satu-satunya wali yang tersisa.


"Apakah memang seperti ini bahasamu kepada orang tua? Apa kamu mau menjadi anak durhaka Luna?!" Tanya Daniel ketus. Ya Tuhan..., mengapa ia sama keras kepalanya dengan anak gadis satu-satunya ini? Tak bisakah ia mengalah demi mencairkan ketegangan yang ia timbulkan selama ini? Sifatnya benar-benar mirip dengan dirinya!


"Orang tua ya?" Luna tersenyum miris. Sontak bayangan-bayangan masa lalu tingkah laku sang Papa berkelebat membangkitkan rasa nyeri di dadanya.Ia menutup matanya berusaha untuk menahan air mata untuk tidak jatuh. Kuat Luna...kamu adalah orang yang kuat..., bak mantra Luna berkomat-kamit dalam hati.


"Luna?"


"Hei, kalau jalan lihat-lihat!" Protes lelaki itu.


"Maaf...," Luna hanya bisa menunduk dan membungkuk. Ia butuh udara segar secepatnya untuk menghilangkan sesak di dadanya.


"Luna?"


"Kau?"


Luna dan Daichi saling menatap tak percaya. Bagaimana bisa mereka dipertemukan dalam keadaan seperti ini? Kota Tokyo itu luas kan? Mengapa bisa-bisanya bertemu setelah hampir dua bulan tidak pernah ada kontak apapun? Ini bukan kisah novel picisan yang seolah-olah menjelma dikehidupan nyata. Mungkin Luna sudah tertular dengan Kirana yang tidak bosan-bosannya mempromosikan novel romantis milik Mamanya yang menurutnya sangat bagus dan recommended untuk dibaca.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan disini?" Daichi mengerutkan dahinya tampak tidak suka. Ia mencengkeram erat lengan kiri Luna.


"Le..lepaskan," Tepis Luna. "Bukan urusanmu aku berada dimana!"


"Akan jadi urusanku kalau orang yang selalu memenuhi pikiranku saat ini berada dihadapanku dan ditempat yang aku tahu tidak pantas untuk kau kunjungi!" Daichi segera menarik paksa Luna untuk keluar dari Klub.


"Apa hakmu untuk mengaturku?! Lepaskan! Lepaskan!" Luna berusaha memberontak dari Daichi dan pemandangan itu cukup menarik perhatian seluruh pengunjung Klub malam itu. Namun apa daya, cengkraman Daichi lebih kencang sehingga membuat Luna tak bisa lepas darinya. "Aku kesini bersama dengan teman-temanku!"


"Persetan dengan teman-temanmu yang sangat bodoh itu!" Teriakan Daichi membuat Luna terdiam dan menuruti kemana lelaki dihadapannya melangkah. "Teman macam apa yang tidak tahu bahwa orang sepertimu tidak pantas masuk ketempat seperti itu?!"


Sial! Mengapa ia seperti orang kesetanan seperti ini dihadapan gadis ini? Teriak batin Daichi. Jika seperti ini bagaimana ia bisa mendekatinya?! Mengapa dengan gadis ini ia tak bisa berkutik sama sekali sih?! Sungguh konyol!!


Setelah mereka berhasil keluar dari Klub, Daichi mendorong tubuh mungil Luna ke badan mobil miliknya. Kedua tangannya berada di sisi dan kanan Luna menjaganya agar tidak lari darinya. Namun Luna tak kunjung menatapnya.


"Mengapa kau diam?"


Luna masih terdiam dan enggan menatap lelaki dihadapannya. Debaran jantungnya terus bertalu-talu. Dulu setiap kali melihat sosoknya ia tak bergeming. Namun sekarang ia merasakan sesuatu yang berbeda. Ia...


Daichi menghela napas. ia putus asa untuk memecahkan keheningan ini. "Tak bisakah kau memberikanku sebuah kesempatan?" Ya ampun..., mengapa pertanyaan itu yang harus keluar disaat seperti ini?! Teriak Daichi dalam hati menyadari kebodohannya.


Satu pertanyaan Daichi membuat Luna menoleh kearahnya. Daichi tersenyum dalam hati. Tapi tidak apa-apa, terkadang suatu tindakan bodoh bisa berguna juga. Akhirnya sang gadis mau menatapnya. Ah..., betapa ia merindukan tatapan dingin yang dimiliki oleh Luna. Tatapan dingin nan penuh kesedihan dan kesepian seolah menariknya jauh kedalam dan membuatnya ingin memeluk dan menghapus kesedihan Luna.


"Aku..., aku memang orang yang brengsek, sering mempermainkan wanita dan selama ini selalu menganggap mereka silau dengan apa yang kumiliki. Adik perempuanku pun selalu memprotes kelakuanku bahkan juniorku pun mengutukku untuk jatuh cinta kepada orang yang tidak menyukaiku," Daichi tersenyum lemah seolah memohon kepada Luna. "Dan kutukan itu seolah menjadi nyata. Kau adalah nyata tidak menyukaiku. Aku putus asa..., tak bisakah kau memberiku kesempatan? Aku berjanji hanya akan melihatmu dan mengikuti cara pacaran yang kau mau, aku..."


Luna menatap mata hazel milik Daichi. Rasanya ia familiar dengan mata itu tapi ia lupa dimana. Lelaki ini rupanya bersungguh-sungguh. Tuhan..., izinkan aku membuka hatiku untuk lelaki ini. Kalaupun aku harus kecewa setidaknya aku sudah berusaha daripada harus menahan diriku sendiri dan akan tersiksa lebih dalam lagi...


"Aku tidak menyukaimu karena kau sedikit mirip dengan Papaku," Bibir Luna mendadak bergetar ketika mengucapkan panggilan yang biasa ia gunakan untuk memanggil ayahnya. "Dan aku sangat membenci Papaku itu karena ia telah menelantarkan aku dan Mamaku hingga detik akhir napas beliau. Ia tidak pernah memperhatikan kami. Itu yang membuatku menjauhi yang namanya lelaki terutama lelaki sepertimu. Tapi sejak pertemuan terakhir kita aku merasakan sesuatu yang seharusnya tidak aku rasakan...," Air mata Luna yang sedari tadi ia tahan sejak di toilet akhirnya mengalir juga membuat Daichi tersentak. Ia menyentuh pipi Daichi lembut. "Aku harus bagaimana?"


Daichi segera menangkup kedua sisi wajah Luna dan mencium bibir bergetar milik sang gadis dengan dalam dan penuh perasaan. Seolah merasakan hal yang sama, Luna pun membalas tak kalah dalam dan membagi kesakitan yang sama. Akhirnya penderitaan yang ia rasakan tidak berlangsung lama. Inikah rasanya mendapatkan sesuatu dengan susah payah? Izinkan aku membahagiakanmu Luna, karena aku mencintaimu!

__ADS_1


***


__ADS_2