
"Ini apa Ma?" Kirana menatap bingung dengan koper ukuran sedang berwarna biru miliknya berada sejajar dengan koper berukuran sama dengan Ibunya berada diruang tamu tanpa izin darinya. Ia yang tampak kelelahan karena seharian berkutat dengan mata kuliah dan perasaan patah hati yang berusaha tidak ia tampakan dengan memberikan senyuman palsu dan memaksa di bibirnya, menjadi tak habis pikir apa yang ada dibenak Ibu tercintanya itu menyiapkan semua itu. Ayolah, jangan sampai ide konyol sang Ibu membuat segalanya semakin memburuk...
"Persiapan untuk pergi besok Nak," Jawab Rea santai sambil mengetik naskah novelnya pada laptop yang ia letakkan dipangkuannnya.
"Memangnya kita mau kemana Ma?" Kirana menghela napas panjang dan meletakkan tas punggung coklat yang dibawanya diatas meja ruang keluarga kemudian menuju toilet untuk mencuci tangan dan kakinya. Dengan suasana hatinya saat ini yang membutuhkan waktu untuk menyendiri, rasanya terlalu memaksakan jika ia harus berpergian jauh seolah melarikan diri.
"Kesuatu tempat yang pasti akan kamu sukai!" Jawab Rea sambil mengangkat jempol tangan kanannya tanpa menolehkan tubuhnya yang sedang berduduk santai disofa ruang keluarga.
__ADS_1
"Aku tak punya banyak waktu senggang Ma, aku justru ingin menenangkan diriku sendiri dan tidak mau kemana-mana weekend ini," Kirana menghampiri Rea dan duduk disebelahnya. Tak lupa dirinya mencium telapak tangan kanan Mamanya dan dibalas dengan kecupan hangat oleh Rea pada kening Kirana.
"Justru karena weekend Mama ingin mengajakmu pergi keluar, jadi tidak ada waktu mengurung dan meratapi dirimu yang sedih dan patah hati itu," Lanjut Rea.
"Mama nggak akan mengerti perasaanku sekarang," kedua mata Kirana menjadi nanar dan ia berusaha setengah mati untuk menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi pipinya setiap kali disinggung ucapan mengenai perpisahannya dari Akio. Hari-harinya tak lagi sama, langkahnya menjadi berat dalam menjalani semua aktifitasnya. Sial! Ia tak pernah menyangka bahwa mengalami patah hati rasanya sesakit ini. Dirinya yang terkenal tangguh dan kukuh meskipun putus hubungan dengan mantan-mantannya dulu akhirnya merasakan apa yang dirasakan mereka ketika putus darinya. Tak ia sangka jatuh cinta begitu menggerogoti tidak hanya harga dirinya namun juga hatinya. Melihat kemesraan yang selalu ditunjukan oleh kedua orang tuanya, ia yakin beliau berdua menjalani percintaan mereka yang cukup rumitnya dengan berpegang teguh untuk menguatkan satu sama lain. Betapa iri dirinya ketika membaca salah satu novel milik Mamanya yang menceritakan tentang kisah cinta mereka dan perjuangan Papanya untuk mendapatkan restu dari Kakek dan Neneknya di Indonesia. Seandainya Akio juga melakukan hal yang sama. Ah, rasanya hal itu seperti angan-angan saja ketika Akio dengan mudahnya melepaskan hubungan yang telah susah payah diperjuangkan pria itu untuk membuka hatinya. Kirana merasa menjadi orang terbodoh di dunia menyadari ternyata betapa mudahnya ia menyerahkan hatinya hingga ia tak menyangka akan terluka. Pria itu lebih mementingkan harga dirinya dan janji konyol dengan Daichi untuk menjauhinya hanya karena alasan yang dinamakan persahabatan dibandingkan mempertahankan hubungan mereka. Setiap kali membayangkan ekspresi wajah dan ucapan kata 'putus' yang diutarakan Akio seolah apa yang mereka jalani hanyalah khayalan semata membuat dadanya nyeri bak ditikam sembilu. Ia menepuk-nepuk dadanya guna meringankan rasa sakit itu.
Rea yang tak tega, kemudian menarik kepala anaknya itu untuk bersender dipundaknya. "Sudah, kalau ingin menangis, menangislah..., daripada kamu tahan-tahan malah semakin menyakiti hatimu?"
__ADS_1
"Ma...," Kirana memeluk erat Rea dan mulai menangis kencang untuk meluapkan emosinya yang selama seminggu ini dirinya tahan. Ia sebenarnya lelah untuk menangis, namun hati ini tak juga mau bersinkronisasi secara harmoni dengan logikanya untuk menerima kenyataan bahwa semuanya telah berakhir, bahwa impiannya yang mulai ia rajut bersama Akio tak mungkin dapat terlaksana karena sikap pengecut pria itu. Ia hanya berharap semoga ini menjadi tangisnya yang terakhir sehingga ia dapat kembali fokus untuk menggapai cita-citanya yang begitu ia bangga-banggakan untuk menjadi dokter. Ia hanya berharap semuanya akan dapat kembali normal seperti sedia kala ketika ia tak mengenal pemuda itu. Ia hanya berharap...
"Iya, anggap saja ini adalah awal dari kebahagiaan yang akan kamu rengkuh kedepannya," Rea mengusap-usap lembut rambut yang senada dengan miliknya. “Puaskanlah tangismu hari ini dan besok kita akan bersenang-senang...”
“Um...,” Angguk Kirana dalam tangisnya dan memeluk Rea semakin erat serta menumpahkan segala rasa yang membuncah didadanya.
Tanpa Rea dan Kirana sadari setiap gerak-gerik mereka terpantau oleh kamera CCTV yang terhubung dengan layar komputer di meja kerja Daichi. Katakanlah dirinya gila karena memata-matai setiap gerak-gerik Kirana. Ia tak mau kecolongan untuk kedua kalinya mengenai adik yang sangat disayanginya itu. Biarlah ia dikatakan kejam telah menghancurkan hubungan antara Kirana dan Akio. Lebih baik begini dari pada karma kembali berlaku pada dirinya yang terlalu banyak mematahkan hati hanya karena harga diri.
__ADS_1
***