A Flavour to Love

A Flavour to Love
19-1


__ADS_3

TOK! TOK! TOK!


Suara ketukan pintu ruang kerja Daichi menyadarkan dirinya dari lamunan tak bertepi berusaha mencerna dan mengurutkan kepingan puzzle tentang permasalahan hubungannya dengan Luna. Setelah mendengar cerita dari orang tuanya, bukannya ia memilih menyerah tentang Luna, dirinya justru ingin tahu dari sisi Ayah Luna atau Luna sendiri karena baginya untuk menemukan titik terang masalah yang membawa urusan masa lalu kedua orang tua mereka, ia harus memandangnya dari kedua sisi. Namun ia tak kunjung mendapatkan celah untuk memulainya.


“Apakah aku mengganggu Tuan Muda yang sepertinya sedang berpikir keras sekali?”


“Kei?”


Kei tersenyum menghampiri meja kebesaran milik Daichi dan mencondongkan sebuah goody bag berbahan kertas daur ulang berukuran cukup besar dihadapan pemuda itu. “Aku sudah lama tak melihatmu ke cafe-ku jadi aku berinisiatif untuk kemari dan mengajakmu menikmati asupan kafein yang sepertinya sungguh kau butuhkan saat ini, bagaimana?”


“Kau bisa saja,” Daichi tersenyum kecut dan berdiri dari tempat duduknya saat ini untuk bergabung dengan Kei yang dengan sigap menata minuman dan beberapa snack kecil di meja tamu. Dan dengan sigap ia memakan croissant berisi coklat favoritnya dan duduk disalah satu sofa yang ada disana. Tak lupa caramel macchiato frappucino ukuran venti mendampingi mulutnya yang tengah penuh dengan roti yang dimakannya. Nampaknya Kei sungguh mengerti dirinya yang akhir-akhir ini kehilangan nafsu makan dan memilih untuk menenggelamkan dirinya dengan tumpukan pekerjaan sebagai objek melarikan diri dari rasa sakit hati, sedih, dan penuh tanda tanya dengan semua yang sedang ia hadapi. Tentu saja bagi orang profesional sepertinya yang sudah terbiasa menutupi ekspresi sebenarnya hal itu adalah urusan yang mudah. Karena ia tak mau dianggap pimpinan yang lemah oleh bawahannya. Baginya hanya keluarga dan teman-teman terdekatnyalah yang boleh tahu ekspresi dirinya yang sebenarnya termasuk Luna. Mengingat Luna dadanya kembali sesak dan ia hanya bisa mengusap-usap bagian dadanya untuk meredakan rasa sesak itu.


“Wajahmu itu mengingatkanku pada Luna yang memutuskan untuk mengundurkan diri dari cafe-ku beberapa hari lalu dengan alasan ingin menghabiskan liburan musim panasnya kembali ke kampung halamannya di Indonesia,” Kei sebenarnya merasakan ada yang tidak beres dengan hubungan keduanya yang selama ini dekat tiba-tiba menjauh seolah tak terjadi apa-apa. Namun bagi pengamat seperti dirinya, sungguhlah menggelitik ingin mengetahui masalah apa yang sedang terjadi diantara keduanya.


“Apa maksudmu?” Daichi tersentak mendengar informasi dari Kei mengenai Luna yang pulang ke rumahnya di Indonesia. Satu hal tabu yang pernah Luna ceritakan kepadanya bahwa ia tak akan mau lagi kembali kesana sejak gadis itu tinggal dan mengenyam pendidikan bangku perkuliahan di Jepang.


“Dari responmu kurasa kau tidak tahu,” Kei berbicara sambil memakan sandwich-nya. “Apa kalian sedang bertengkar?”


Ini sungguh aneh! Jika memang gadis itu hanya mempermainkanku tak mungkin rasanya ekspresinya sesedih diriku? Atau benar dugaanku bahwa ada sesuatu yang ia sembunyikan dan tak ingin aku atau Kirana tahu? Tapi bagaimana aku bisa mendapatkan informasi itu?


“Panjang ceritanya Kei,” Pandangan Daichi menerawang menembus jendela kaca besar yang ada disana. Samar-samar ada guratan kesedihan yang masih tersisa tak sengaja tertangkap mata Kei. Rupanya keputusannya untuk menghampiri Daichi benar adanya.


“Kau tidak perlu khawatir, aku sudah menyiapkan amunisi lebih banyak lagi untuk mendengarkan ceritamu yang aku yakin panjangnya jika dijadikan novel oleh Ibumu akan menjadi satu buku tebal khusus percintaanmu,” Kei menunjukkan dua goody bag berbahan kertas yang sama seperti tadi dan tak pelak membuat Daichi tertawa dibuatnya.


“Sialan!” Ia bersyukur masih punya sahabat eksentrik dan anti mainstream seperti Kei yang selalu punya cara untuk membuat suasana yang semula suram kembali ceria bahkan disaat patah hati yang ia rasakan saat ini.

__ADS_1


***


“Terima kasih Pak,” Luna turun dari taksi online yang dipesannya untuk mengantarnya dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju rumahnya yang berada di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dengan berbekal tas punggung ukuran kecil dan sebuah koper sedang berwarna hitam ia menatap dari luar pagar berwarna hitam bangunan rumah dual antai bergaya minimalis yang didominasi dengan cat berwarna putih. Sebuah taman kecil di depan rumah yang ditumbuhi berbagai tumbuhan berwarna hijau menyeimbangkan suasana pucat dinding tembok bangunan tersebut. Tidak ada yang berubah sama sekali setelah dua tahun kutinggalkan…, batinnya. Ia pun menekan nomor telepon yang ia tulis “RUMAH” disalah satu list nomor yang ia simpan di smartphone miliknya.


“Halo, kediaman Pak Daniel disini,” Terdengar suara wanita yang tak pelak membuat bibir Luna terangkat membentuk lengkungan keatas.


“Halo Bi Ani, minta tolong buka gerbangnya ya, aku sudah berada di depan nih,” Ucap Luna.


“Non…, ini benar Non Luna,” Nada suara Ani antara percaya dan tak percaya dengan suara yang didengarnya.


“Memangnya siapa lagi Bi? Hantunya Mama?” Candanya. Hati-hati lho dengan ucapan, benar-benar didatangi baru tahu rasa!


“Se…sebentar ya Non, Bi Ani tutup telepon dulu kemudian keluar membukakan pintu gerbang,” Ani menutup gagang telepon dan tergopoh-gopoh membuka pintu depan kemudian melihat dari luar gerbang tampak Luna yang masih menggenggam smartphone melambaikan tangannya keatas. Betapa ia merindukan anak gadis yang ia rawat sedari kecil dan kini sudah dewasa.


“Ya Allah Non, Bi Ani masih tidak percaya Non Luna akhirnya mau pulang ke rumah juga,” Ani yang terlalu bersemangat segera memeluk Luna untuk melepas kerinduan. “Padahal dulu Non bilang sudah tidak mau lagi menginjakkan kaki Non Luna, Bibi senang banget Non…,” Tak pelak air mata dari wanita separuh baya yang sangat bersahaja itu mengalir haru. “Ayo Non kita masuk kedalam, wanita tua ini tak sabar ingin mendengar cerita perjalanan Luna selama dua tahun di negeri orang.


***


“Tanpa kau pertegas hal itu pun aku juga tahu bahwa saat ini aku sedang mengalaminya,” Daichi mengacak-acak rambut hitam kecoklatannya penuh frustasi. “Aku tak pernah merasa sesakit dan seterluka ini Kei. Sungguh menyebalkan!”


“Lantas kau ingin bagaimana? Merelakannya begitu saja sambil terus berdoa bahwa patah hatimu itu akan sembuh seiring berjalannya waktu? Karena kalau mempertimbangkan latar belakang keluarga kalian terutama keluarganya, rasanya akan susah mendapatkan restu. Namun melihatmu yang sepertinya cinta mati kepadanya aku juga tak tega untuk tidak mendukungmu,” Kei melipat kedua tangannya dan menempelkan ke dada sambil mendengus berat. “Tapi kau pernah merasa tidak, bahwa Tuhan itu sebenarnya punya maksud dan tujuan tertentu mengapa mempertemukan kalian berdua dan membuat kalian sampai jatuh cinta lagi. Seperti…um…, bagaimana ya menjelaskannya? Maklum saja, kapasitas otakku tidak sebesar milikmu soalnya.”


“Oh ayolah, aku sedang tidak ingin mendengar candaanmu yang sarkastik itu!” Akio memutar kedua bola mata hazel miliknya.


Kei tersenyum lebar menunjukkan gigi gingsulnya karena terbaca oleh Daichi maksud dan tujuan candaan garingnya itu untuk memecah suasana yang begitu serius dan tegang ketika Daichi menceritakan segalanya. Hingga tak sadar malam pun telah tiba dan kerlap-kerlip lampu bak bintang imitasi mulai menghiasi gelapnya malam hari di Tokyo. “Aku merasa Luna itu seperti obat penawar atau tepatnya penebus dosa dari kedua orang tuanya yang pernah berniat tidak baik pada orang tuamu dimasa muda dulu.”

__ADS_1


“Bagaimana kau bisa mengambil kesimpulan seperti itu? Melihat caranya memutuskan dengan tatapan dinginnya yang seperti es itu rasanya lebih tepat seperti balas dendam yang tak berkesudahan karena wanita yang ternyata dicintai Ayahnya adalah Ibuku sendiri. Ini benar-benar gila karena seperti putaran karma yang tak ada ujungnya.”


“Sudah kubilang Luna bukan orang seperti itu Daichi, makanya logikamu di-setting dulu ke gelombang positif jadi bisa berpikir jernih,” Kali ini giliran Kei yang protes tak terima Luna dicap negatif oleh sahabatnya itu. “Apa yang dilakukannya itu hanya untuk menutupi rasa sangat sedihnya harus berpisah denganmu karena kondisi keluarga kalian. Asal kau tahu ya, aku akhir-akhir ini sering melihatnya menangis di belakang tanpa suara sebelum akhirnya gadis itu memutuskan untuk mengundurkan diri dan setelah kau jelaskan semuanya padaku, sekarang aku jadi mengerti alasannya.”


“Lantas aku harus bagaimana Kei?” Nada suara Daichi melemah putus asa karena sempat berpikir negatif pada gadis yang berhasil merebut hatinya itu.


“Kalau begitu bagaimana jika kau menjadi sang pahlawan yang akan mengakhiri hubungan karma ini,” Ujar Kei lantang.


“Caranya?”


“Coba kau ingat-ingat lagi, apakah selain dengan Luna kau memiliki masalah dengan orang lain?”


Deg! Jantung Daichi berdetak keras dan sekelebat bayangan Akio dan Kirana muncul dibenak Daichi. Bayangan ekspresi terluka yang sama dengan dirinya saat ini.


“Ah, mana mungkin…,” Ia berusaha menghilangkan opsi dari bayangan yang tidak masuk akal itu namun hal kecil itu tertangkap oleh Kei dengan jeli.


“Mana mungkin bagaimana? Kau kan belum mencobanya,” Kali ini Kei harus bersikap tegas untuk mengakhiri hari ini dengan memberikan pencerahan pada sahabatnya sebelum ia kena marah oleh istrinya jika pulang terlambat nanti. “Hilangkan egomu yang kau tempatkan terlalu tinggi itu, tak selamanya kau berada dipihak yang benar. Terkadang orang yang membantumu untuk memecahkan masalah adalah orang yang kau sakiti karena egomu itu. Memangnya kau tak tahu pepatah itu?”


“Eh?”


“Sudah ya bimbingan konselingnya hari ini, aku harus kembali ke cafe atau aku akan dimarahi oleh istriku,” Kei melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya dan mulai menjadi panik ketika jarum jam menunjukkan angka sembilan. Ia pun bergegas merapikan sampah bekas minuman dan makanan dan membuangnya di tempat sampah yang berada diruangan itu dan pergi berlalu meninggalkan Daichi sendirian.


“Kei, urusan kita belum selesai!” Teriak Daichi ketika ia melihat Kei yang hendak keluar dari ruangannya.


“Sisanya kau urus sendiri!” Ucap Kei sambil berlalu.

__ADS_1


“Ishh, bagaimana sih?!” Keluh Daichi.


***


__ADS_2