A Flavour to Love

A Flavour to Love
16-1


__ADS_3

TOK! TOK! TOK!


Ketukan dari luar pintu ruangan kerja Yutaka Fujiwara yang bergaya klasik dominan kayu berpletur coklat membuat Kakek yang berusia sepuh namun masih nampak sehat dan bugar itu menghentikan aktifitas pekerjaannya dalam memberikan disposisi yang harus dikerjakan bawahannya.


"Masuk!" Jawab Yutaka.


"Mohon maaf mengganggu Yutaka-sama," Reiko, sekretaris yang telah mengabdi padanya sejak wanita itu masih gadis hingga berkeluarga dan memiliki anak yang sudah beranjak SMA membuka perlahan pintu itu. "Akio-sama hendak menghadap anda sekarang."


Akio? Tumben sekali anak itu ingin menghadapnya? Biasanya cucu lelakinya itu paling enggan bertemu apa lagi berurusan dengan dirinya yang terus-menerus memaksa proposal perjodohan untuknya? Sungguh keajaiban hidup! Pasti ada sesuatu yang membuatnya menurunkan harga dirinya yang selangit itu bahkan dihadapan kakeknya sendiri hingga menghampirinya.


"Suruh dia masuk!" Perintah Yutaka. Ia pun beranjak dari kursi kebesarannya dan duduk di sofa tamu yang diperuntukkan bagi orang-orang yang berkepentingan untuk berbicara dengannya.


"Baik, Yutaka-sama," Reiko mengangguk kemudian mempersilahkan Akio yang tampak berwajah serius.


"Selamat siang Kek," Sapa Akio sambil membungkukkan tubuhnya kemudian berdiri tegak kembali dan tak bergeming dari posisinya sebelum ia mendapatkan instruksi untuk duduk di sofa. Yutaka sedikit mengernyit ada beberapa lebam di wajahnya namun ia urungkan untuk bertanya karena ia yakin Akio telah mengalami perkelahian yang cukup keras dan ia tidak mau ikut campur dengan urusan itu mengingat cucunya itu sudah berusia dewasa.


"Silahkan duduk," Yutaka mempersilahkan duduk Akio dan lelaki itu memilih duduk di sofa panjang dekat dengan posisi Kakeknya.

__ADS_1


"Ada apa gerangan cucuku yang keras kepala, pembangkang, dan tak pernah mau bertemu serta berurusan denganku tiba-tiba meminta izin bertemu?" Tanya Yutaka dengan nada sedikit menyindir.


"Ayolah Kek, aku sedang tidak ingin bercanda mengikuti gaya sarkastik Kakek," Jawab Akio malas menanggapi Yutaka yang jelas sedang mengejeknya. "Jika tidak terpaksa aku juga tak mau bertemu Kakek."


Dasar cucu durhaka! Batin Yutaka. Mungkin ia terlalu keras mendidik Akio sejak putra dan menantunya meninggal, cucunya itu semakin lama semakin berkurang rasa respeknya kepada dirinya.


"Baiklah, langsung saja pada ini pembicaraan yang ingin kau sampaikan," Yutaka mencondongkan tubuhnya kearah Akio dengan menaikkan kaki kanannya di atas kaki kirinya menjadikannya tumpuan dan menautkan kesepuluh jarinya di dengkul seolah mengikatkan simpul agar posisi duduknya tidak berubah. Ia berusaha bersikap sesantai mungkin karena momen seperti ini sangatlah jarang terjadi.


"Kakek masih berniat menjodohkanku dengan adiknya Akio Fujiwara?"


Yutaka menaikkan alis sebelah kanannya. Untuk memastikan pertanyaan tak terduga itu keluar dari mulut cucunya. "Kakek tidak salah dengarkan? Kau tidak salah makan kan? Atau karena perkelahian yang terjadi hingga membuat tidak hanya wajah namun juga otakmu babak belur? Padahal dulu kau selalu menolaknya mentah-mentah karena tak ingin kebebasanmu terenggut ikatan, apa lagi notabennya gadis itu adalah adik dari sahabat sekaligus seniormu di sekolah."


"Memangnya kau tahu penampakan putri dari Daiki Matsumoto? Aku saja tak pernah melihatnya langsung, bahkan intel yang kuutus selalu berhasil dihalau oleh orang-orang dari Daichi Matsumoto...," Yutaka menghela napas panjang putus asa. Entah apa yang dikhawatirkan oleh sang pewaris Matsumoto Group itu sehingga membuatnya selalu menolak mentah-mentah setiap kali ia menyinggung mengenai perjodohan adiknya dengan Akio. Ia pun sudah hampir menyerah dan membiarkan Akio menjalani hidup yang ia inginkan. Disaat ia sudah tidak perduli sekarang giliran cucunya sendiri yang meminta hal itu seperti sebuah paradoks baginya.


"Tentu saja tahu, jika tidak, tidak mungkin aku memohon kepada Kakek untuk membujuk Ayahnya menyetujui permohonan perjodohanku untuk putrinya," Ucap Akio serius dan penuh penegasan. Yutaka menatap kedua mata Akio dan tak ada keraguan di dalam kelopak mata hitamnya. Setelah sekian lama Akio tak pernah meminta sesuatu dengan tekad sebesar ini, ia merasakan pemuda ini sedikit berubah yang semula berhati dingin menjadi hangat.


"Kakek butuh info detail tentang putri Daiki Matsumoto sebelum menghadapi pria itu. Menghadapi putranya saja sudah membuat emosi dan sakit kepala karena kekeraskepalaannya, apalagi Ayahnya?" Yutaka tersenyum lebar melihat sedikit keterbukaan dari cucunya itu. Ini yang ia harapkan dari cucunya, rasanya ia harus berterima kasih dengan putrinya Daiki yang bisa membuat Akio lebih manusiawi.

__ADS_1


"Dari A sampai Z juga akan kuberikan padamu Kek, asal lampu hijau aku dapat untuk menikahi putrinya." Lanjut Akio tersenyum miring. "Jika Ayahnya setuju, sudah pasti putranya setuju kan?"


Dasar anak karbitan! Seenaknya saja!


***


"Nanti akan saya bicarakan terlebih dahulu dengan istri saya," Daiki menghentikan pembicaraan dengan seseorang dari smartphone-nya. Dua minggu tak ada kabar dari Rea membuatnya goyah dan khawatir sehingga memutuskan untuk menyusul istrinya tersebut kembali ke Jepang. Ketika ia mendarat tadi dengan pesawat pribadi, ia bergegas ke Desa Shirakawa tempat istri dan putrinya liburan saat ini. Sebenarnya apa yang terjadi sehingga Rea tak kunjung kembali ke sisinya di London? Apakah masalah kedua anaknya sekomplek itu hingga dirinya ditinggal sendiri?


Daiki berjalan perlahan menuju rumah tradisional dimana Rea dan Kirana berada. Tampak Rea seorang diri begitu sibuk seperti biasanya dengan laptop dan khayalan kisah romansa untuk proyek novel baru yang sedang digarapnya sementara entah dimana putrinya berada. Jika orang lain yang baru mengenalnya, wanita cantik yang tak lekang oleh waktu dan usia itu dapat diberi cap tukang berhalusinasi, padahal dari hasil mengarangnya itulah sudah banyak buku novel genre romantis yang telah diterbitkan dan terjual berpuluh-puluh juta copy. Ah, sepertinya ia terlalu memuji sang Istri yang selalu bersemangat dalam urusan merealisasikan apa yang menjadi khayalannya selama ini..., ia kesini kan selain untuk menjemput istrinya kembali juga membahas tentang pembicaraannya tadi dengan seseorang yang begitu gigih tidak mau menyerah untuk menyampaikan niatnya.


***


"Ma, aku...," Belum sempat Kirana masuk, ia mendapati kedua orang tuanya sedang berbincang mesra. Rupanya benar kata kakak lelakinya jika mereka sudah bertemu, dunia serasa milik berdua dan orang disekelilingnya hanya menjadi obat nyamuk saja. Wajar sih, sudah dua minggu Papa dan Mamanya berpisah karena urusan kecewa dan patah hati yang ia alami. Inilah sebenarnya yang dirinya khawatirnya..., rupanya dirinya belum cukup dewasa untuk menyelesaikan seluruh masalahnya sendiri...


Kirana menghela napas dan memilih keluar dari rumah tradisional itu dan berjalan-jalan santai sambil menikmati udara hangat berpadu dengan angin gunung yang nampak begitu senang menyapanya. Ia tertawa riang sambil memainkan kincir kertas berwarna-warni yang dibeli tadi disalah satu warung yang ada di desa itu yang semula ingin ia tunjukkan kepada sang Mama namun urung dilakukan olehnya.


Ketika ia melihat rombongan anak-anak desa yang melakukan kegiatan yang sama dengan dirinya, Kirana memutuskan untuk bergabung dengan anak-anak itu. Suasana riang, tawa, dan canda berbaur menjadi satu dengan irama alam nan hijau, sejuk, dan damai.

__ADS_1


Dari agak kejauhan ada seseorang yang tersenyum lebar menatap Kirana. Tatapan penuh rindu dan mendamba tak dapat disembunyikannya lagi. Ingin rasanya ekspresi itu kembali ditujukan kepadanya, bahagia dan penuh cinta. Tidak, ia harus bersabar dan tidak gegabah untuk itu! Rencananya kali ini tidak boleh gagal!


***


__ADS_2