A Flavour to Love

A Flavour to Love
8-2


__ADS_3

"Iya Ma, aku akan segera meneleponnya," Daichi menjawab suara yang terdengar dari smartphone-nya.


"Tapi firasat Mama tidak enak Daichi," Ujar Rea penuh kekhawatiran. Naluri keibuannya mengatakan ia harus pulang ke Jepang menemui putrinya. Naluri yang sama ketika kecelakaan itu terjadi. Namun ia tahan mengingat suaminya lebih membutuhkan dukungannya. Bukan ia tidak menyayangi kedua buah hatinya, namun ia menyadari terlalu banyak waktu Daiki yang terbuang untuk membesarkan Matsumoto Group hingga menjadi sebesar sekarang dan mengorbankan kebersamaan mereka berdua. Sudah waktunya sang suami mengurangi kesibukannya dan menyerahkan tanggung jawab tersebut kepada anak lelaki mereka.


"Mama tidak perlu khawatir, tadi dia sudah mengirimkan pesan bahwa malam ini dia masih menginap ditempat temannya dan besok baru akan pulang," Daichi mematikan hubungan teleponnya dengan Rea. Ia manyandarkan tubuh dan kepalanya di punggung kursi mobil miliknya kemudian menghela napas panjang. Seandainya Mamanya tahu bahwa Daichi lupa menanyakan tentang teman-teman Kirana selama hidup bersamanya, ia pasti akan kena amuk Sang Mama yang begitu protektif kepada Kirana. Sebenarnya kecelakaan parah seperti apa yang dialami Kirana hingga membuatnya seperti saat ini. Amnesia? Berkomunikasi dengan Kirana seperti berkomunikasi layaknya orang normal yang tidak mengalami amnesia. Lantas apa yang kedua orang tuanya khawatirkan? Kesibukan pekerjaannya benar-benar menyitanya dan membuatnya tidak sempat perduli akan sekelilingnya. Ya Tuhan, ia bahkan hampir lupa dengan makhluk manis disebelahnya!


"Maaf ya, tadi itu Ibuku yang menelepon," Daichi tersenyum dengan sedikit terpaksa. "Beliau menanyakan kabar adikku." Ia menyalakan mobil dan bergegas pergi dari tempat yang memberikan kebahagiaan bagi Kaum Hedonis. "Kuantar kau pulang, tunjukanlah jalannya."


Pandangan Luna masih kosong selama berada dalam satu mobil yang sama dengan Daichi. Seolah apa yang barusan ia lakukan bersama Daichi adalah mimpi. Bahkan ia tak sadar bahwa mobil itu telah membawanya sampai ke apartemennya.


"Kita sudah sampai."


"Eh," Sekejap Luna tersadar dari lamunannya. Daichi tersenyum melihat ekspresi bingung Luna. Ia menarik tubuhnya mendekat kearah Luna dan memberikan ciuman ringan di bibir Luna sehingga membuat sang gadis terkesiap. "Selamat malam, dan mulai saat ini mimpikan aku dalam tidurmu..."


Kata-kata itu terngiang-ngiang dibenak Luna. Begitu ia tersadar sepenuhnya wajahnya memerah hebat. Ya Tuhan..., aku telah membiarkannya merebut ciuman pertamaku! Tidak-tidak, lupakan semuanya! Kirana! Iya Kirana! Bagaimana kabar anak itu? Apakah ia sudah pulang ke apartemennya atau masih di club itu? Luna mengambil smartphonenya untuk menghubungi ponsel Kirana.


Tuutt...


Tuutt...


Tidak diangkat! Ah sudahlah, mungkin benar Kirana sudah pulang ke apartemennya. Masih ada waktu besok untuk menanyakannya di kampus.


***


Kirana menatap nanar dan kosong kearah langit-langit kamar milik Akio Fujiwara dan sadar sepenuhnya hari sudah berganti pagi ketika ia merasakan sinar matahari yang mengintip dari jendela yang berada dikiri tempat tidur. Ia sama sekali tidak dapat bergerak karena rasa sakit diselangkangannya dan kungkungan posesif lengan Akio yang masih tertidur disebelahnya setelah aktifitas menjijikan yang berkali-kali ia lakukan kepadanya tanpa dapat ia lawan. Ia merasa hina dan kotor. Sekuat tenaga ia berusaha melepaskan diri dari Akio dan bangkit dari ranjang serta berjalan tertatih menahan sakit diseluruh hati dan jiwanya menuju kamar mandi yang berada tidak jauh darinya. Ia tak ingin lebih lama merasakan sentuhan fisik dengan Akio yang membuatnya semakin merasa kotor.


Sssshhh...

__ADS_1


Percikan air yang keluar dari shower membasahi rambut Kirana hingga keujung kakinya. Ia mengurung diri di kamar mandi sambil berjongkok dan menangis sejadi-jadinya. Sekarang ia ingat semuanya, kecelakaan itu..., kecelakaan itu terjadi karena ia berusaha melarikan diri dari Andre, mantan kekasihnya sewaktu SMA yang hendak memperkosanya. Ia mengendarai mobilnya sekencang-kencangnya berusaha menghilangkan sentuhan menjijikkan yang dilakukan Andre padanya hingga tanpa sadar menabrak pagar pembatas jalan tol. Tiba-tiba ia merasa pusing dan mual hingga memuntahkan semua isi perutnya ke dalam closet. Tapi kali ini ia tak berhasil melarikan diri...seolah sudah ditakdirkan bahwa ia harus kehilangan keperawanannya dengan paksa.


Kirana terus menggosok-gosok tubuhnya untuk menghilangkan dirinya dari rasa jijik. Ia tidak memperdulikan suara teriakan Akio dari luar kamar mandi dan rasa perih yang ia rasakan karena menggosok kulitnya dengan kasar dan berulang-ulang. Dan hal itu sukses membuatnya mengingat kembali sentuhan Akio pada tubuhnya. Dengan kesal ia melempar botol sabun hingga isinya tumpah di lantai ketika merasa apa yang ia lakukan adalah perbuatan yang sia-sia dan kembali menangis. Rasanya ia tak sanggup lagi tetap bertahan hidup ketika mengingat semua yang terjadi.


Satu jam kemudian Kirana membuka pintu kamar mandi dengan hanya berbalut handuk seadanya yang ia dapat didalam. Akio terkejut melihat tubuh Kirana begitu banyak bercak-bercak kemerahan sedikit keunguan disekitar leher dan dada sang gadis-atau dapat diralat menjadi wanita sekarang. Kirana menatap kosong kearah Akio yang hanya menggunakan celana panjangnya sehingga menunjukkan tubuhnya yang atletis. Air mata masih mengalir deras dikedua mata Kirana. Tiba-tiba rasa penyesalan muncul pada Akio melihat kondisi Kirana yang begitu kacau dan berantakan akibat ulahnya. Ia hendak menyentuh pipi kiri Kirana untuk mengusap air mata yang jatuh namun tangannya ditepis keras oleh Kirana. Akio berusaha memeluk Kirana namun berhenti ketika Kirana menatapnya penuh luka dan kekecewaan yang dalam.


"Tahukah kau apa kesalahanmu padaku?" Ucap Kirana dingin.


"Aku...," Akio tak sanggup melanjutkan ucapannya.


"Kau bahkan tidak merasa bersalah pada apa yang telah kau lakukan?!" Nada suara Kirana meninggi. "Kau tidak hanya melukai fisikku namun juga hatiku...apa salahku hingga kau tega melakukannya padaku?!" Isakan tangis kembali terdengar. "Kau memperkosaku bodoh! Kau tahu apa arti perkosa?! Itu artinya memaksakan seseorang untuk menyetubuhi tanpa dia inginkan!"


Akio mengepalkan kedua tangannya untuk menahan gempuran kata-kata dari Kirana. Ia akui bahwa cara yang dilakukannya kotor dan menjijikkan. Tapi ia bisa apa jika yang dia inginkan hanyalah Kirana. Ia ingin memiliki gadis itu dengan kesadaran penuh.


"Aku tidak akan meminta maaf pada apa yang telah aku lakukan padamu," Akio menatap dalam kearah kedua bola mata hazel milik Kirana yang melebar tak menyangka respon yang dilakukan Akio atas protes kesakitannya. "Karena aku memang menginginkannya!"


Akio mengacak-acak rambutnya gusar. Seharusnya wanita manapun akan merasa bangga jika bisa tidur dengannya. Satu-satunya rival yang ia akui hanyalah Daichi Matsumoto. Tapi mengapa perempuan yang satu ini begitu tak menyukainya. Ia pun melirik kearah tempat tidur dan mendapati bercak noda merah yang menempel di spreinya. Ya Tuhan..., ia tak menyangka sama sekali bahwa ia semalam meniduri seorang perawan dan melakukannya dengan kasar menuruti nafsu birahinya.


CEKLEK...


Kirana telah berpakaian dan siap-siap untuk pergi dari tempat tersebut. Ia tersadar semalam ia membawa smartphone dan dompet. Ukh..., ia benci ketika harus berkomunikasi kembali dengan Akio.


"Dimana smartphone dan dompetku?"


"Ada di meja ruang tamu," Jawab Akio seadanya karena masih shock dengan kenyataan yang terjadi.


Tanpa pikir panjang Kirana langsung melesat keluar kamar dan berjalan ke ruang tamu untuk mengambil smartphone dan dompetnya. Akio sedikit heran bagaimana Kirana bisa tahu seluk-beluk kondominium yang didesain secara khusus ia minta dari perusahaan property seniornya mengingat Kazuto hampir selalu tersasar ketika ia berkunjung kesini. Siapa sebenarnya Kirana?

__ADS_1


"Kirana aku...," Akio berusaha mendekat kearah Kirana yang sudah bersiap membuka pintu untuk meninggalkan tempat itu.


"Berhenti!" Ucap Kirana dingin. "Selangkah lagi kau mendekatiku aku benar-benar akan melakukan perbuatan nekad dihadapanmu!"


Akio menatap punggung Kirana yang perlahan-lahan menghilang dari hadapannya. Ia terduduk di sofa miliknya dan menegakkan kepalanya kearah langit-langit. Ia menutup matanya dengan kedua tangannya.


"Sialan...!!"


***


Kirana berjalan gontai masuk ke apartemen yang ia tinggali bersama Daichi. Tubuhnya masih terasa lemas dan nyeri. Ia memandang sekelilingnya tampak lengang dan rapi.


"Nona Muda, anda sudah pulang?" Sapaan Reiko, asisten rumah tangga yang selama ini melayani kakaknya membuatnya tersadar.


"Iya Reiko-san, Kakakku sudah pulang belum dari Inggris?" Tanya Kirana tersenyum lemah.


"Tuan Muda setelah kembali dari perjalanan bisnisnya kemarin, pagi tadi beliau sudah berangkat kembali ke kantor. Ada yang bisa saya bantu Nona?" Reiko menangkap ada gelagat yang mencurigakan dari majikan mudanya tersebut. Gadis tersebut selalu bersikap ceria namun pagi ini ia tampak murung.


"Tidak ada Reiko-san," Kirana menggelengkan kepalanya dan berjalan ke kamar. "Aku sangat lelah karena kurang tidur, jika Kakak atau Orang tuaku menelepon tolong katakan saja aku sedang istirahat dan tidak ingin diganggu."


"Baik Nona."


BLAM!


Tubuh Kirana merosot jatuh ke lantai dengan bersandarkan pintu kamarnya. Air mata yang sempat ia tahan kembali meleleh. Ia kembali menggosok-gosokan tubuhnya seolah masih jijik ketika bayangan Akio menyetubuhinya dengan ekspresi penuh hasrat dan nafsu. Rasa mual mendadak kembali ia rasakan membuatnya berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan seluruh isi perutnya.


***

__ADS_1


__ADS_2