A Flavour to Love

A Flavour to Love
10-1


__ADS_3

“Bagaimana kondisimu?" Luna yang baru saja pulang dari sekolah dan hendak menjenguk Ibunya terdiam diluar ruang perawatan ketika mendengar suara Ayahnya.


"Aku baik Daniel...," Astrid menjawab dengan lemah. "Bagaimana kabarmu? Apakah hubunganmu dengan anak kita sudah membaik?"


"Aku masih sibuk dengan pekerjaanku seperti biasanya," Daniel menghela napas dan duduk disebelah tempat tidur Astrid sambil melipat kedua tangannya. "Dan tidak ada yang berubah, anak itu masih membenciku seperti biasanya seolah aku adalah peran antagonis disini."


"Maafkan keegoisanku untuk memaksakanmu menikah denganku," Gigi Luna bergeletuk dan kedua tangannya mengepal disampingnya. "Padahal di dalam hatimu hanya ada dia..."


"Aku yang harusnya minta maaf Astrid," Daniel tersenyum sedih dan menyentuh pipi kiri Astrid yang semakin pucat. "Telah melibatkanmu dalam pelarian diriku..."


Luna tak kuat lagi mendengar pembicaraan kedua orang tuanya yang terdengar menyakitkan. Ia segera berlari sekencang-kencangnya meninggalkan tempat itu. Hatinya terlalu sesak untuk mendengarkan kelanjutan pembicaraan tersebut. Ia pikir keluarganya sama seperti keluarga yang lainnya, harmonis, namun kenyataannya malah lebih mengerikan dari yang ia bayangkan.


BRUK!


Kirana terkejut dan melepaskan bola oranye-nya ketika Luna yang tadi izin tidak latihan basket karena ingin menjenguk ibunya yang sakit tiba-tiba memeluknya erat dengan tangan bergetar.


"Huwaaaa...," Tangisnya meledak tak tertahankan.


"Luna..."


"Luna..."


"Luna, aku cium nih jika kau masih tidak merespon," Suara Daichi menyadarkan Luna dari lamunannya dan terkejut secara bersamaan ketika wajah Daichi begitu dekat dengan wajahnya. Rona merah menjalar dikedua pipinya. Ayolah..., pria dihadapannya ini terlalu kuat untuk kau lawan Luna.


"Istirahatlah Luna-chan," Kei yang sejak tadi memperhatikan Luna kurang fokus dengan pekerjaannya menepuk bahu mungilnya seolah memberi kode agar sang pemilik menggantikan tugasnya membuat pesanan. "Akhir-akhir ini kau terlalu memforsir tenagamu dengan meminta shift penuh selama libur musim semi ini. Dan kau Daichi-," Kei menunjuk-nunjuk kearah Daichi yang sedang tersenyum sumingrah.


"Aku apa?"


"Cih, kenapa kau mau dengan pria playboy ini Luna...," Kei memasang ekspresi tidak rela seolah melepas anak gadisnya ke kandang macan. "Kau menggunakan trik licik ya sehingga Luna mau denganmu?"


"Sembarangan!" Ujar Daichi tak terima. "Aku kan pernah bilang kalau aku serius. Yah..., meskipun awalnya main-main sih."


"Kei-san, bolehkan aku izin sebentar untuk bicara berdua dengan Daichi?"


"Oh tidak, bahkan kau memanggilnya langsung dengan nama kecilnya..."


"Ayolah Kei-san, jangan merajuk seperti itu," Luna menghela napas dan berkacak pinggang. "Aku akan baik-baik saja..."


"Ya sudahlah...," Kei tersenyum. Ia melihat Luna melepaskan apronnya dan berjalan berdampingan dengan Daichi keluar cafe. kalau dipikir-pikir ia tidak pernah melihat Daichi sebahagia ini berjalan dengan seorang wanita sejak..., ah, lupakan saja, mereka berdua sudah sama-sama dewasa.


"Pada akhirnya tidak ada seorang wanitapun yang menolak pesona Tuan Muda Matsumoto itu tak terkecuali sang putri es," Dengus Momo disebelah Kei. "Sungguh luar biasa!"


"Kau tak melihat bahwa Tuan Muda itu yang berusaha mendekatinya sekuat tenaga?"

__ADS_1


"Iya sih...," Momo mengegerucutkan bibirnya. "Ahh..., betapa beruntungnya Luna memiliki kekasih sempurna seperti Tuan Muda itu..."


"Tidak ada yang sempurna di dunia ini Momo, termasuk Daichi," Kei menggunakan apron peninggalan Luna dan memulai kegiatan baristanya.


***


Daichi dan Luna berjalan bergandengan tangan memasuki Taman Hama Rikyu, salah satu taman paling terkenal dan paling tua di Jepang yang keberadaannya bak oase kota karena berada ditengah-tengah pusat perkantoran dekat cafe-nya.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Daichi tanpa menoleh kearah Luna. "Sepertinya sudah tiga minggu aku tidak menghampirimu dan ekspresimu semakin murung saja. Apakah kau sangat merindukanku?" Ia memutuskan untuk menggoda gadisnya namun yang terjadi Luna hanya terdiam. Ia sadar bahwa tanggung jawab yang ia emban sebagai pewaris Matsumoto Group membuatnya susah memiliki waktu bebas untuk dirinya sendiri. Ditambah akhir-akhir ini ia selalu melakukan perjalanan dinas lintas negara dan benua guna melakukan pengecekan di setiap cabang hotel milik keluarganya sebagai proses pemindahan tanggung jawab dari Ayahnya kepada dirinya.


"Ada apa denganmu?" Daichi yang melihat ada ketidakberesan dari Luna menghentikan langkahnya dan menepuk kedua pipi sang gadis.


"Aku...," Luna ragu untuk mengatakannya. "Apakah sebaiknya kita tidak melanjutkan hubungan ini?" Pertanyaan itu menohok Daichi.


"Apa maksudmu?" Ada nada kemarahan dari pertanyaan Daichi.


"Kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu dan itu mengingatkanku pada ayahku," Cairan bening kembali mengalir dikedua mata indah Luna.


"Tapi itu...," Oh tidak, Daichi paling lemah dengan airmata gadisnya.


"Aku tahu itu memang sudah tanggung jawabmu, aku tahu memintamu untuk terus ada bersamaku adalah bentuk keegoisan, tapi aku kesepian dan hal itu mengingatkanku bahwa aku hanya sendirian...hiks...," air mata Luna semakin menjadi-jadi dan sedikit menarik perhatian sehingga mau tidak mau Daichi menariknya ketempat yang tidak terlalu mencolok guna bisa berbicara dari hati ke hati dengan Luna. "Makanya lebih baik kita..."


Daichi menghela napas panjang. Baru kali ini ia menghadapi permasalahan seperti ini! Ia yang biasa memutuskan hubungan dengan wanita sekarang malah sebaliknya. Mengapa kau susah sekali untuk dibaca Luna?!


"Sudah berhenti menangisnya?"


Luna menjawab dengan anggukan sehingga Daichi dapat melanjutkan ucapannya.


"Aku adalah anak sulung dari dua bersaudara pasangan Tuan Daiki Matsumoto dan Nyonya Rea Matsumoto. Darahku ini tidak hanya mengalir darah Jepang namun juga Indonesia. Dulu ada perjanjian konyol dengan kedua orang tua dari pihak ayahku namun penting demi kebaikan keluarga besar kami yaitu jika anak yang lahir pertama adalah lelaki maka ia dipastikan akan menjadi penerus kerajaan bisnis ini dan itu adalah aku mengingat jumlah keluarga besar kami yang sangat minim dan didominasi wanita. Sementara ibuku yang merasakan kesepian akhirnya memutuskan hamil lagi dan lahirlah adik perempuanku. Namun lagi-lagi karena perjanjian konyol dengan kedua orang tuanya akhirnya diumur ketiga belas tahun adikku harus dipisahkan dari kedua orang tuaku untuk hidup bersama dengan kedua orang tua Ibuku. Hingga terjadi insiden adikku kecelakaan parah dan membuat kedua orang tuaku memutuskan agar adikku tinggal bersama denganku sampai kedua orang tuaku kembali kesini." Daichi merilekskan kedua tangannya di punggung kursi taman dan menengadah keatas. Angin semilir musim semi menghempaskan rambut coklat tuanya. "Jadi tidak semua yang kau lihat tentang diriku sempurna, yah walaupun kuakui aku menyukai dan bahagia dengan keunikan keluargaku itu. Aku harap kau dapat memaklumi kesibukanku. Aku mengerti kau masih dalam tahap menuju kedewasaan dan belum tahu dunia kerja sebenarnya seperti apa. Namun aku janji hanya dirimulah yang ada dihatiku..."


Tunggu Daichi, sepertinya aku punya teman yang kisahnya mirip seperti itu," Daichi terkejut dengan perubahan mood kekasihnya ini terlebih lagi cengkraman tangan sang gadis di kerah kemeja kremnya. Seharusnya ucapannya tadi bisa meluluhkan hati Luna. Tapi mengapa jadi begini? "Siapa nama adikmu itu? Kau bilang dia satu angkatan dikampusku kan?"


"Iya, namanya Kirana, atau tepatnya Kirana Kiseki Matsumoto," Jawab Daichi ringan. "Kenapa memangnya?"


"Ya Tuhan..., mengapa dunia sempit sekali!" Luna memegang kepalanya frustasi. Seharusnya kan ia sedang bersedih, mengapa sekarang ia ingin marah seperti ini. "Harusnya aku sadar dengan warna mata yang kau miliki sama dengan anak itu!"


"Apa maksudmu?"


"Adikmu itu adalah sahabatku sejak SMA Daichi!" Ujar Luna penuh kekesalan. "Bahkan sampai sekarang dia adalah orang terdekatku! Tak kusangka anak seperti dirinya bisa merahasiakan hal besar seperti ini! Sialan! Akan kujitak kepalanya sampai puas ketika dia kembali dari liburannya di Indonesia!"


Daichi hanya menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal menghadapi situasi aneh ini. Tapi setidaknya rencana awal gadisnya untuk minta putus darinya batal. Entah mengapa hatinya merasa lega. Ia pun bingung mengapa ia lemah pada gadisnya ini...


"Hatsyiiii!!" Suara bersin menyelimuti tempat makan dimana Kirana berada saat ini.

__ADS_1


"Sudah Nenek bilang jangan kebanyakan minum es masih bandel!" Wahya menyerahkan tisu yang ia ambil dari tasnya dan menyerahkannya pada Kirana.


"Makasih Nek, habis mau bagaimana lagi aku kangen dengan berbagai minuman es yang tak bisa kutemui di Jepang," Kirana memberikan senyuman lima jarinya. "Tapi sayang Kakek tidak bisa ikut kulineran bersama kita hari ini."


"Yah..., kau kan tahu bahwa Kakekmu itu paling tidak suka jajan diluar dan hanya menyukai masakan buatan Nenek," Ujar Wahya bangga.


"Ya..ya...ya...," Kirana memutar bola matanya malas. Ia berjalan disamping Neneknya. Rencananya ia dan sang Nenek akan melanjutkannya dengan nonton film di bioskop. Jika saja ia tidak dengan cerobohnya menabrak seseorang karena terlalu bersemangat.


BRUK!


"Maaf..., maafkan saya...," Kirana membungkukan tubuhnya beberapa kali untuk meminta maaf.


"Tidak apa-ap- Kirana?!"


Suara itu? Kirana segera mengangkat tubuhnya untuk memastikan pemilik suara berat itu. Dan pupilnya mendadak membesar tak percaya pada apa yang dilihat dihadapannya. Dari sekian banyak orang, dari sekian banyak tempat, dari sekian kesempatan, bagaimana ia bisa bertemu dengan makhluk tampan nan arogan, playboy dan menyebalkan yang sangat ia harapkan untuk tidak bertemu minimal sebulan ini. Tak cukupkah kejadian di cafe lalu?! Apakah memang Tuhan sedang senang mempermainkannya saat ini? Teriak Kirana frustasi dalam hati.


"Siapa dia Kirana?" Tanya Wahya penasaran.


"Bukan siapa-siapa Nek," Kirana mengibas-ngibaskan tangannya dengan panik. "Sudahlah Nek, ayo sekarang kita segera ke bioskop! Keburu filmnya mulai." Ia menarik Wahya menjauh dari Akio.


"Salam kenal Nek, perkenalkan nama saya Akio Fujiwara, kekasih Kirana," Dengan senyuman andalannya Akio memegang tangan Wahya.


Say What?!!! Teriak Kirana dalam hati. Pandangan matanya menatap ketakutan seolah sedang menonton adegan film horror yang mengerikan. Bagaimana orang seperti dia bisa menggunakan bahasa yang hanya bisa dilakukan oleh keluarga Ibunya. Sebenarnya orang macam apa Akio Fujiwara ini? Dan apapula tadi ia mengaku-aku sebagai kekasihnya?! Dibayar dengan seluruh kekayaan keluarganya pun ia tidak mau!


"Fujiwara-sama," Panggilan seseorang menginterupsi pembicaraan Akio dengan wanita dan nenek di depannya. Sip, ini kesempatannya untuk melarikan diri! Batin Kirana.


"Kau mau kemana Kirana?" Tanya Wahya.


"Pergi Nek untuk nonton film, memang mau ngapain lagi?" Jawab Kirana gusar.


"Tunggulah Nak Akio dulu, bukankah dia kekasihmu? Mengapa tidak kau ajak nonton sekalian?" Wahya mengusap-usap tangan kanan Kirana untuk memberikan ketenangan.


"Aduh Nek, dia bu-" Belum sempat Kirana mengelak ia harus kembali berhadapan dengan prianya. Prianya?! Tidak salah sebutkah?!


"Maaf, sepertinya saya batal menemani Nenek dan Kirana nonton film karena masih harus mengawasi pembukaan toko cabang di Mall ini," Akio membungkuk untuk meminta maaf dan tindakan tersebut sukses membuat Kirana ternganga tidak percaya. Luar biasa! Akio Fujiwara yang angkuh dan arogannya setengah mati ini bisa minta maaf dengan dihadapan Neneknya? Sungguh sesuatu!


"Tidak apa-apa Nak, jika sudah tidak sibuk mampirlah ke rumah sederhana kami disini," Wahya menepuk-nepuk pundak Akio dan menyerahkan secarik kertas kepadanya. Akio yang membuka isinya tersenyum.


"Ayolah Nek, filmnya sudah hampir mulai," Rengek Kirana sambil menarik-narik tangan Wahya.


"Iya-iya...," Wahya menyamakan langkah kakinya dengan Kirana. Sementara Kirana menyempatkan diri menjulurkan lidahnya meledek Akio membuat pria tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya takjub melihat tingkah dan polah gadis yang ia rubah paksa menjadi wanita. Bersama sang gadis bak warna-warni itu sungguh menghiburnya. Ia rasa tidak akan merasa bosan jika bersamanya.


***

__ADS_1


__ADS_2