
Dan disinilah Kirana dan Rea saat ini berada, Desa Shirakawa atau terkenal dengan nama Shirakawa-go. salah satu Situs Warisan Dunia sekaligus diakui oleh UNESCO yang berada di Jepang dengan posisinya yang terletak di lembah sungai Sho-gawa di lembah gunung Ryohaku, berbatasan dengan prefektur Ishikawa. Shirakawa-go merupakan perkampungan atau desa yang terkenal dengan rumah tradisionalnya yaitu gassho-zukuri atau berarti ‘konstruksi tangan berdoa’. Sesuai dengan bentuk fisiknya, atap rumah yang ada di desa ini semuanya miring dan melambangkan tangan orang yang sedang berdoa. Ia ternganga takjub dan tak habis pikir dengan ide kreatif Ibunya yang memiliki jiwa seni menulis sehingga lokasi wisata pedesaan menjadi tempat yang akan mereka singgahi dua hari ini. Sejauh matanya memandang, hamparan warna hijau pegunungan dan petakan-petakan sawah yang ditumbuhi padi berhiaskan bunga-bunga musim panas penuh warna cerah disisi-sisinya bak kedamaian yang tercipta dalam kesunyian. Ia menghirup udara segar yang menyapa hidungnya dan merasakan candu kenikmatan yang tak didapatkannya selama di Tokyo.
"Bagaimana? Tempat ini bagus dan indah kan?" Rea berkacak pinggang tampak bangga dengan ide cemerlangnya untuk kembali mengunjungi Shirakawa-go ini.
"Sungguh ide yang brilian Ma," Jawab Kirana sambil mengacungkan jempol tanda setuju kearah Rea.
"Siapa dulu dong, Mama," Lanjut Rea memuji dirinya sendiri. "Ini tempat favorit Mama untuk mencari inspirasi atau sedang ingin menyendiri." Ia meminta pengawal yang menemani mereka untuk membawa koper-koper yang dibawanya masuk ke sebuah rumah tradisional yang telah ia booking sebelumnya.
"Iya deh, iya...," Setelah puas menangis semalam, paginya ia dan sang Mama pergi untuk liburan. Ketika tadi dirinya meminta izin untuk pergi, tak tampak sekalipun Daichi menunjukkan larangan ataupun penolakan. Mungkin karena dirinya pergi dengan Ibu mereka sehingga kakak lelakinya itu menyetujuinya dan tentu saja bersama dengan dua pengawal yang jujur membuatnya risih. Satu kampuspun sekarang tahu siapa dirinya yang sebenarnya sehingga membuat komunikasinya dengan beberapa teman dekat yang semula biasa saja menjadi canggung karena beban nama keluarga yang embannya. Tak terkecuali Park Ha Neul yang merasa dirinya telah dibohongi selama ini pun perlahan menjauh. Ia masih bersyukur memiliki Luna yang tetap setia mendampinginya dan tidak berkomentar apapun karena menghargai keputusan dari Daichi, kakaknya sekaligus kekasihnya itu. Entah apa yang terjadi jika tidak ada Luna dan sang Mama, ia tak tahu harus bagaimana menghadapi semua ini. Sekarang dirinya dapat merasakan apa yang dirasakan Luna ketika putus asa dan berada dititik terendah hidupnya dengan kondisi internal keluarganya yang remuk redam sejak Ibunya meninggal sedangkan ia tak dapat berada disisi gadis itu karena harus menjalani rawat intensif akibat kecelakaan mobil dulu.
"Ma, aku jalan-jalan sebentar ya," Lanjut Kirana.
"Iya, tapi jangan jauh-jauh ya Nak," Balas Rea yang segera menyapa Nyonya pemilik rumah tradisional yang disewa olehnya. "Miyazawa-san, Suzuki-san, saya minta tolong kalian menemani Kirana dari kejauhan sementara saya mengurus tempat tinggal kita selama dua hari disini. Meskipun aku kurang setuju dengan tindakan putraku terhadap putriku, namun aku juga menghormati keputusannya sebagai calon kepala keluarga Matsumoto kelak."
"Baik, Nyonya!" Jawab kedua pengawal tersebut kompak dan mengikuti Kirana yang telah berjalan lebih dahulu.
Langkah kaki Kirana membawanya berjalan menuju jalan setapak kearah sungai berair jernih dan dangkal yang mengalir penuh tatanan irama sehingga ikan-ikan yang hidup didalamnya nampak nyata dapat digenggam olehnya. Ia duduk berjongkok sambil memainkan air. Setelah sekian lama ia tinggal di Jepang baru kali ini warna di dunianya bertambah. Suasana pedesaan nan asri membuat dirinya lebih tenang. Ya, ia berharap ketenangan ini akan berlangsung lama dan membuatnya kembali bersemangat untuk menghadapi dunia kedepannya. Seperti yang Mamanya katakan, ia harus membahagiakan dirinya sendiri terlebih dahulu setelah kesakitan yang ia rasakan sebelumnya. Perlahan senyum tulus diwajahnya yang sempat hilang mulai tergurat lebar. Dirinya seperti anak kecil yang bermain ke kampung halaman ketika liburan musim panas tiba.
***
__ADS_1
"Aku tak habis pikir mengapa dirimu melakukan hal yang jujur membuatku terkejut seolah apa yang Kirana dan Fujiwara lakukan salah dan dosa besar? Mereka hanya saling mencintai," Luna meletakkan cappucino ice tepat dihadapan Daichi yang menyempatkan dirinya untuk berkunjung ke apartemen Luna setelah aktifitas kantornya selesai. "Dengan dua pengawal yang kau utus menjaganya, ia kehilangan tidak hanya kekasihnya namun juga semua teman dekatnya kecuali aku yang terlebih dahulu tahu tentang adikmu itu."
"Tak bisakah kau mencari topik lainnya Luna?" Daichi menghela napas panjang dan menyenderkan punggungnya yang lelah kepinggiran tempat tidur milik Luna. Ia datang kemari tidak untuk berdebat dengan kekasihnya itu melainkan ketenangan hati. Ia sadar sejak ia memberlakukan Kirana seperti sekarang, hubungan mereka menjadi canggung. Dalam hatinya seakan ada pergolakan hebat penuh pertanyaan, apakah ia sudah salah ambil keputusan? Apakah ia sudah terlalu keras pada Kirana? Mengapa bukan rasa lega yang ia dapatkan melainkan ganjalan yang enggan untuk hilang dari benaknya?
"Kau akan mengerti jika melihat perjuangan Fujiwara hingga membuat Kirana membuka hatinya untuk lelaki itu," Lanjut Luna.
"Kami itu sama brengseknya, jadi wajar saja jika anak itu menggunakan segala tipu dayanya untuk mendekati Kirana," Daichi meneguk minuman dihadapannya. "Dia benar-benar cari mati!"
"Seandainya kau diposisi yang sama dengan sahabatmu dan adikmu bagaimana?" Luna menatap lekat kearah Daichi.
"Tidak akan mungkin hal itu terjadi," Ujar Daichi penuh percaya diri. "Bagiku tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini yang tidak dapat kuselesaikan sendiri."
"Luna...," Daichi menatap memohon kepada Luna.
"Kali ini aku tidak bisa diam saja jika masalah ini berkaitan dengan sahabatku, kekasihku, dan mereka adalah kakak beradik kandung Daichi," Nada suara Luna mulai bergetar. "Aku yang anak tunggal dan tidak akur dengan Papaku sendiri rasanya cukup remuk redam, sedangkan kalian hanya karena harga diri dan egomu membuat hubunganmu dengan adikmu retak. Apakah kau tak bisa membicarakannya baik-baik dengan adikmu itu?"
"Itu..."
TING-TONG!
__ADS_1
TING-TONG!
"Luna, buka pintunya," Bunya bel dari luar apartemen Luna dan suara yang tak asing baginya membuat pembicaraan Luna dengan Daichi terputus.
Aku tidak salah dengar kan? Masa' iya itu suara Papa? Ah yang benar?! Ini pasti bercanda...
Luna menatap tegang kearah pintu seolah ia sedang menonton adegan film bertemakan horror.
DOK! DOK! DOK!
"Luna, ini Papa, buka pintunya!" Ujar Daniel dari luar. Kesabarannya untuk memahami dan memaklumi kepergian Luna dan tak pernah pulang ke Indonesia akhirnya habis dan mengantarkannya untuk pergi ke Jepang menemui anak tunggalnya itu dengan berbekal alamat yang didapatnya dari Bi Ani setelah dipaksa untuk memberi tahu kepadanya.
"Luna, Papa tahu kau di dalam Nak, ayo cepat buka pintunya!"
Ini bukan bercandaan Luna Putri Putranto! Pria yang mengetuk pintu depan tempat tinggalmu saat ini adalah Papamu!
Luna menolah kearah Daichi yang menunjukkan ekspresi penuh tanya mengapa wajah gadisnya itu seakan ketakutan dan bingung bagaimana menghadapi tamu yang tak diundangnya itu.
Oh, tidak..., sedang ada Daichi disini lagi? Mampuslah aku!
__ADS_1
***