
Daichi meneguk cairan berwarna bening keemasan dari lowball glass di genggaman tangan kanannya. Sesekali ia menggoyang-goyangkan isi cairannya. Sudah lama sekali ia tak menyentuh minuman keras itu sejak dekat dengan Luna dan saat ini ia membutuhkan minuman itu untuk menenangkan dirinya. Gila! Rasanya masih seperti mimpi bahwa hubungannya dengan Luna telah berakhir dengan ia dipermainkan gadis itu. Genggamannya pada gelas minuman berkadar alkohol tinggi itu mengencang dan ia ingin melempar kuat-kuat kearah tembok untuk melampiaskan gejolak emosi yang membuncah di dalam dadanya, namun ia tersadar melakukan hal itu tak ada gunanya. Yang ada hanya akan menambah masalah saja jika kedua orang tua dan adiknya melihat adegan dramatis itu. Ia menertawakan kebodohan dirinya sendiri. Tapi tunggu dulu! Kenapa? Kenapa begitu tiba-tiba Luna melakukan hal itu bertepatan ketika Ayahnya datang kemari? Sepertinya ada hal yang janggal dibalik itu semua..., benaknya penuh tanda tanya besar yang ia sendiri bingung kemana ia harus mencari jawabannya.
"Kami pulang!" Ujar Rea penuh semangat diikuti oleh Daiki dan Kirana yang berada di belakangnya seolah memaklumi keceriaannya yang tak tampak diusianya yang sudah hampir memasuki kepala enam. Mungkin itu penyebabnya yang membuat sosok Rea masih awet muda seperti berusia seperempat abad. Tak ada guratan kerut dikulitnya. Entah perjanjian apa yang telah disetujui antara dia dan Tuhannya sehingga bisa tetap muda tanpa perawatan yang luar biasa.
"Ooh, kalian sudah pulang," Daichi berusaha berdiri dari duduknya namun goyah sehingga terduduk kembali sehingga membuat Rea khawatir.
"Kau mabuk Daichi?" Tanya Rea khawatir. Dipandanginya sebotol Whisky ukuran besar yang tinggal sedikit dan sebuah gelas tergeletak di atas meja ruang keluarga.
"Tidak Ma, aku hanya ingin minum sedikit...," Jawab Daichi sambil memegang kepalanya terasa berat dan pusing.
"Setahu Mama kau sudah cukup lama berhenti minum, kenapa sekarang kumat lagi?"
"Sudahlah Sayang, dia sudah dewasa, tahu apa yang ia lakukan," Daiki menghela napas panjang. Bagaimana tidak, baru juga mereka sampai di apartemen, istrinya itu ternyata masih punya energi ekstra untuk menegur putranya.
"Bukan seperti itu Sayang," Jawab Rea. "Jika sampai Daichi seperti ini pasti ada masalah berat yang membuatnya minum. Jujur, sejak dulu aku tidak suka dengan kalian para pria jika ada masalah justru melarikan diri dengan alkohol. Apa kalian tidak memperdulikan kesehatan sama sekali?"
"Tidak Ma, hanya masalah pribadi saja sehingga aku minum-minum sedikit," Daichi yang masih cukup sadar menjawabnya dengan baik atau...mungkin terlalu jujur. "Aku baru saja diputuskan pacarku dengan alasan yang tidak jelas dan masuk akal..."
__ADS_1
Kirana yang hendak masuk ke kamarnya tanpa terlibat pembicaraan mereka kemudian menghentikan langkah kakinya dan tergelitik untuk bertanya, "Apa maksud Niisan tadi? Aku tidak salah dengar kan? Niisan putus dengan Luna?"
"Memangnya kekasihku ada berapa?" Daichi tertawa dengan nada sindiran untuknya sendiri.
"Tapi kenapa?"
"Kau yakin ingin tahu?" Daichi menatap lurus kearah Kirana.
"Kenapa tidak? Ini tentang sahabatku sendiri. Apapun alasannya aku harus tahu bagaimana kalian bisa putus," Sebenarnya didalam hati Kirana tidak yakin untuk mendengar alasan yang akan disampaikan padanya. Kesepuluh jarinya mengepal erat berusaha meyakinkan dirinya akan hal terburuk yang bisa terjadi.
***
"Mengapa kau termenung disini Sayangku?" Daiki menghampiri Rea yang berdiri terdiam sambil menatap kelap-kelip lampu Kota Tokyo di malam hari. Ia memeluk belahan hatinya itu dari belakang untuk memberinya ketenangan setelah keterkejutan yang tak disangka olehnya dan istrinya itu bisa terjadi pada keluarga mereka. Padahal baru saja satu masalah telah terselesaikan, rupanya banyak tumpukan masalah lain yang baru terkuak.
"Apakah selama ini keputusan kita hidup terpisah dengan anak-anak salah ya?"
"Mengapa kau berkata seperti itu?" Daiki menautkan helaian rambut Rea ke belakang telinga.
__ADS_1
"Aku merasa seluruh kejadian ini ada sangkut pautnya dengan masa lalu kita yang mungkin belum terselesaikan..."
"Yang mana?"
"Semuanya Daiki, apa kau tak merasakannya? Ini memang bukan tentang kita, tapi tentang orang lain yang dulu pernah berbuat kesalahan kepada kita..."
Daiki mengangguk setuju dengan pendapat Rea. Mereka adalah belahan jiwa yang ditakdirkan untuk bersatu oleh Yang Mahakuasa sehingga dapat merasakan perasaan satu sama lain bak telepati yang beresonansi. Itulah mengapa hubungan mereka tetap kokoh berdiri hingga saat ini. Ia tak menapik apa yang dirasakan Rea. Sepertinya pertemuan Daichi dan Kirana dengan gadis bernama Luna Putri Putranto mengandung makna dalam yang ia sendiri masih ragu untuk menyimpulkannya terlalu dini. Jujur mendengar nama belakang gadis itu menimbulkan rasa sedikit kesal tersendiri dalam hatinya seolah memaksanya untuk memutar memori lama yang ia harap tak akan pernah kembali lagi teringat oleh dirinya yang sudah berbahagia dengan keluarga kecilnya ini.
"Lantas kau ingin seperti apa?"
"Bisakah kita tinggal disini untuk sementara waktu? Hanya sampai semuanya jelas dan terselesaikan?" Rea menoleh ke belakang dan menatap wajah suaminya.
"Apa kau yakin untuk itu?"
***
“Dia bilang sudah puas membalaskan dendamnya pada lelaki yang hobi mempermainkan perempuan sepertiku dan ia juga sudah muak bermain teman-temanan dengan dirimu. Jadi ia memintaku untuk menghentikan saja kegilaan ini dan hidup masing-masing seolah kita tidak saling mengenal lagi...,” Ujar Daichi sambil menarik rambut coklat gelapnya ke belakang dengan jari tangan kanannya karena frustasi. “Dan anehnya ia mengatakan itu setelah Ayahnya datang kemari...”
__ADS_1
Kirana duduk menyender di punggung tempat tidurnya sambil melipat kedua tangannya dan ditempelkan di dadanya. Ia termenung berusaha mencerna penjelasan kakaknya tadi. Sudah jelas Luna sangat mencintai kakaknya itu dan begitu juga sebaliknya. Luna bahkan selalu tampak bahagia menceritakan hubungan mereka setiap kali mereka bertemu. Tidak hanya itu, bahkan Luna hendak memutuskan hubungan persahabatan mereka yang ia bina sejak SMA? Apa ia sudah gila?! Memangnya dirinya berbuat salah apa sampai Luna nekad menghubung-hubungkannya dengan urusan hati kakaknya? Akkhhhh, memikirkannya saat ini hanya membuatnya sakit kepala. Untung saja kedua orangtuanya masih waras untuk menahan berita perjodohannya dengan Akio. Jika tidak, entah akan sedalam apa kekecewaan yang akan dirasakannya..., lebih baik ia tidur sekarang agar dapat bangun lebih pagi untuk pergi ke kampus besok menanyakan langsung kepada Luna. Urusan perasaan bahagianya harus ia simpan dulu mengingat ada hal prioritas yang harus ia selesaikan dengan sahabatnya itu.
***