
Akio keluar dari pintu utama gedung tempat tinggalnya untuk berjalan menuju mobil yang telah terparkir dengan pintu belakang dibuka oleh supirnya. Getaran smartphone di saku celananya membuat langkah kakinya terhenti. Siapa lagi pagi-pagi begini sudah telepon? Mengganggu saja! Ia segera mengambil benda canggih itu dan melihat kearah layar. Kazuto? Tumben sekali anak ini telepon pagi-pagi? Awas saja jika tujuannya menelepon hanya untuk merengek meminta bantuan kepadaku dalam mengerjakan tugas akhirnya yang masih penuh revisi karena sudah pasti dengan tegas aku akan menolaknya! Cukup sudah pemakluman dirinya yang selalu membantu Kazuto selama ini. Ia sendiri heran, mengapa sahabatnya itu tidak bisa fokus mengerjakan pekerjaan yang menurut survei yang diadakan oleh sebagian kecil mahasiswa menjadi masalah besar sementara bagi dirinya biasa saja? Jangan pacaran terus makanya! Sialan! Ia sebenarnya hanya iri dengan hubungan Kazuto dan Park Ha Neul yang begitu dimudahkan oleh kedua keluarga mereka sehingga mau gaya pacaran seperti apa juga tidak ada melarang, bahkan jika Park Ha Neul sampai hamil pun mereka hanya tinggal menikah saja.
Sabar Akio...sabar..., kau harus memikirkan bagaimana cara untuk membujuk calon kakak iparmu yang sama-sama mempunyai kelakuan buruk dimasa lalu sehingga kau tidak tersiksa seperti ini! Tapi bagaimana caranya?! Semakin lama ia memikirkan caranya, semakin membuat kepalanya pusing! Apakah ia sudah tertular dengan cara berpikir Kazuto yang lamban sehingga tidak ada satu idepun yang menyangkut di otaknya untuk menyelesaikan permasalahan ego antara dirinya dan senpai yang jujur sudah ia anggap sebagai kakak dan keluarga jauh sebelum ia mengenal Kirana. Tuhan...kumohon berilah aku ilham untuk menyelesaikan masalah ini..., jika terlalu lama aku tak yakin bisa kuat menahan kerinduan yang tak bertepi pada kekasih hatiku. Aku ikhlas menerima karma menjadi budak cinta karena perbuatanku dulu...
"Halo, ada apa?" Tanya Akio tegas.
"Gawat Akio, aku melihat Kirana bertengkar dengan sahabatnya, Luna di taman belakang kampus." Suara Kazuto terdengar sangat panik dan khawatir.
"Terus masalahnya dimana?" Akio menghela napas panjang. Ia pikir apa..., "Bertengkar dalam pertemanan adalah hal yang biasa, aku saja masih belum akur dengan Daichi-senpai..." Hatinya sedikit tercubit ketika menyebut nama Daichi dan sekelebatan kemarahan penuh murka dan hujaman pukulan ke wajahnya terbesit di kepalanya ketika senior paling dihormatinya itu mengetahui hubungannya dengan Kirana, gadis yang tak pernah ia duga adalah adik dari Daichi. Lupakan-lupakan! Akio menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mensugesti dalam hati. Kau sudah memutuskan untuk berjuang mendapatkan gadis pujaanmu kembali. Ingat, seluruh keluarga sudah merestuimu Akio, kau hanya butuh restu satu orang lagi yaitu Daichi!
"Masalahnya tak sesimpel itu Akio!" Lanjut Kazuto yang bersembunyi dibalik semak-semak bersama Park Ha Neul sambil mendengar perdebatan antara Kirana dan Luna yang semakin memanas. "Sepertinya Luna memutuskan Daichi-senpai dan tak hanya itu, gadis itu juga memutuskan hubungan pertemanannya dengan Kirana!"
"Apa?!"
***
"Kenapa kau tak bilang kepadaku tentang semuanya Kazuto?" Protes Park Ha Neul kepada Kazuto itu tanpa menghentikan langkah kakinya yang berjalan seirama dengan tunangannnya itu menuju gedung perkuliahan tempat mata kuliah yang diambilnya pagi ini.
"Tentang apa?"
"Semuanyalah...," Lanjut Park Ha Neul menggebu-gebu. "Daichi, Luna, Akio, dan Kirana."
__ADS_1
Kazuto menghentikan langkah kakinya ketika Park Ha Neul maksud ucapannya.
"Hei, mengapa kau berhenti mendadak?" Park Ha Neul yang menyadari Kazuto sudah tidak berjalan disisinya menoleh ke belakang sambil berkacak pinggang.
"Ada baiknya kita tidak ikut campur dengan hubungan diantara mereka dan hanya menjadi penonton saja Ha Neul, karena menurutku bukan ranah kita lagi untuk mengurusi masalah pribadi mereka," Kazuto menatap lurus kearah Park Ha Neul. "Jika ini terkait balas dendammu kepada Akio tak terima sepupumu dipermainkan olehnya, kau tak perlu khawatir karena karma telah berlaku nyata untuknya yang jatuh cinta setengah mati oleh gadis yang sangat dilarang oleh Daichi Matsumoto dan kau bisa melihat sendiri bahwa ia hancur. Dan kurasa saat ini ia sedang berusaha memeras otaknya yang kelewat cerdas itu untuk mendapatkan cara meraih cintanya kembali. Untuk Daichi-senpai aku no comment, terlalu riskan mengomentarinya mengingat ia begitu berkuasa!"
"Tapi kan..."
"Apa maksudmu dengan seenaknya memutuskan hubungan dengan Kakakku dan aku tanpa ada alasan yang jelas?" Suara Kirana terdengar lantang di telinga Kazuto dan Park Ha Neul membuat mereka tak pelak mencari sumber suara itu berasal yang ternyata taman belakang kampus. Mereka pun memutuskan untuk mengendap-endap dibalik semak-semak sambil menyimak pembicaraan kedua sahabat itu.
"Memangnya kita kenalan sudah berapa lama? Kalau kau ingin menjadi tokoh antagonis dalam cerita ini sungguh tak pantas," Kirana melipat kedua tangannya dan menempelkannya di dada seolah tak gentar dengan sikap dingin yang ditunjukkan Luna yang sejak tadi diam dihadapannya.
"Apa maksudmu?"
"Aku sudah puas membalaskan dendam Ibuku yang tersakiti oleh wanita lain yang ada dibenak Ayahku. Dan kau tahu, wanita itu adalah Ibumu!"
"Gawat, aku harus segera menelepon Akio untuk memberitahu masalah ini," Akio yang merasa suasana yang semakin memanas diantara Kirana dan Luna segera merogoh saku celananya dan mengambil smartphone miliknya kemudian menekan tombol nomor ponsel Akio.
Bibir Kirana tertutup rapat seolah kelu ketika mendengarkan penjelasan Luna. Ia tak salah dengarkan? Memangnya apa salah Ibunya dalam hal ini? Toh beliau adalah salah satu orang yang berbahagia dapat bersatu dengan belahan jiwanya setelah banyak peristiwa yang membuat mereka sempat terpisah dan ia tahu pasti bahwa Ibunya adalah orang yang sangat menjunjung tinggi komitmen kesetiaan kepada sang ayah. Rasanya ia tak terima Ibunya dikaitkan dalam urusan pribadi keluarga Luna.
"Karena Ibumulah yang membuat Ibuku menderita! Sehingga aku harus membalaskan dendam Ibuku dengan membuat anak-anak wanita yang telah mengambil cinta Ayahku yang seharusnya menjadi hak Ibuku dan aku menjadi menderita dan kau bisa lihat sekarang bahwa balas dendamku sudah berhasil!" Dada Luna sesak bak ditusuk sembilu ketika mengatakan kalimat yang sebenarnya tidak ingin ia ucapkan namun harus ia sampaikan agar Kirana menjauhi dirinya.
__ADS_1
"Hentikan omong kosong ini!" Kirana semakin tidak terima alasan Luna yang menyalahkan Ibunya. "Aku tidak suka orang tuaku terutama Ibuku dibawa-bawa pada masalah ini. Yang bermasalah itu Ayahmu, mengapa kau menyalahkan Ibuku yang tidak tahu apa-apa?"
Aku tahu Kirana...aku tahu... Teriak Luna dalam hati. Ayahkulah yang salah...
Kirana memperhatikan seksama bahasa tubuh Luna yang tampak begitu defensif seolah ada hal yang disembunyikan olehnya dan ia berusaha memutar otaknya agar Luna mau mengaku sehingga ia bisa membantunya untuk mencari penyelesaian.
"Sudah cukup! Kalau kau tak terima alasanku lebih baik membenciku kan? Jadi biarkan aku hidup tenang menjalani kehidupanku tanpa tercampur dalam kehidupanmu!" Luna lebih memilih untuk meninggalkan Kirana sendiri jika tak mau kondisinya semakin memburuk.
"Luna tung...," Belum sempat Kirana mengejar Luna, sebuah genggaman erat nan kuat di lengan kanan Kirana menahan langkahnya.
“Jangan dikejar Kirana karena percuma, mungkin sahabatmu butuh waktu sendiri saat ini,”
“Akio?” Kirana terkejut dengan kehadiran lelaki yang berstatus calon tunangan tak resminya itu. “Bagaimana kau bisa tahu aku ada disini?”
“Ceritanya panjang...,” Akio mengajak Kirana meninggalkan taman belakang kampus menuju tempat lain ketika ia menyadari Kazuto dan Park Ha Neul yang bertingkah konyol untuk memata-matai tindak-tanduk Kirana dan Luna. Dasar stalker! Memberi info sih memberi info, tapi bukan berarti menikmati adegan perselisihan yang rasanya tidak pantas ditonton. “Karena banyak yang harus kita bicarakan.”
“Tapi kan...”
Dengan membujuk setengah memaksa, Akio berhasil mengajak Kirana pergi dari tempat itu.
***
__ADS_1