
"Caramel macchiato ice spesial untuk kekasihku yang paling menyebalkan sedunia," Luna tersenyum jahil sambil menyodorkan pesanan minuman kehadapan Daichi yang masih sibuk dengan laptop dihadapannya.
"Kok paling menyebalkan sedunia? Bukannya paling tampan sedunia?" Daichi merajuk kearah Luna dan hanya ditanggapi sang gadis dengan memutar bola matanya. Masih saja narsisnya kumat. Dan semakin hari sikap narsisnya itu semakin terlihat. Pantas saja dulu Kirana selalu mengeluh tentang kakaknya itu. Ia kini bisa merasakannya.
"Kamu niat menghabiskan weekend-mu yang sangat berharga itu di apartemenku atau mau menenggelamkan diri di dalam laptop-mu Tuan Muda?" Luna berkacak pinggang sedikit kesal. Bagaimana tidak jika Daichi tiba-tiba meminta dibuatkan minuman yang cukup merepotkan mengingat hanya bahan mentah saja yang dimilikinya di apartemen.
"Weekend ditempat inilah," Jawab Daichi penuh semangat sambil memindahkan laptop miliknya dan merebahkan punggungnya pada bantal besar nan empuk dibelakangnya dan menikmati minumannya. Entah mengapa ia selalu menyukai minuman yang diracik Luna. Begitu penuh perasaan dan cinta. Pantas saja cafe Kei semakin hari semakin ramai. Dulu ia berpikir bahwa cafe tersebut ramai karena ia dan kedua sahabat gilanya selalu hang out disana menghabiskan waktu membahas hal apapun dari sesuatu yang tidak penting hingga hal yang sangat penting sampai harus berdebat panjang seolah bertengkar. Namun sejak ia semakin disibukan dengan tumpukan pekerjaan yang menggunung dan membuatnya jarang mengunjungi cafe tersebut tak membuat tempat impian Kei sejak kecil tersebut sepi pengunjung bahkan semakin membludak karena racikan minuman buatan Luna yang begitu istimewa. Ia pun semakin tersisihkan sebagai pelanggan eksklusif disana dan terpaksa pindah ke ruang kerja Kei atau ke apartemen Luna jika ia ingin menikmati minuman favoritnya.
"Hah...," Tiba-tiba dengusan napas berat terdengar dari Daichi membuat Luna yang sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya menghentikan kegiatannya dan mendongak kearah Daichi.
"Kenapa lagi kali ini Daichi?"
"Aku sedang berpikir Luna. Apakah kau tidak merasakan bahwa Kirana akhir-akhir ini jadi bertingkah aneh?"
"Maksudmu aneh bagaimana?" Luna menaikkan alis kirinya. "Aku tidak paham."
Daichi berusaha menahan hasratnya ketika ia melihat respon Luna yang begitu menggemaskan. Ya Tuhan..., makhluk dihadapanku ini minta dimakan apa? Sabar Daichi...ingat janjimu untuk pacaran sehat!
"Akhir-akhir ini Kirana sering senyum-senyum sendirian di kamar, selain itu jadwal pulangnya pun sering tidak beraturan bahkan cenderung larut malam. Kalau kau kan ketahuan part time nah anak yang satu itu kerjaannya hanya kuliah saja karena aku sudah melarangnya untuk part time seperti dirimu dan sudah merencanakan hidupnya untuk mewarisi rumah sakit yang baru-baru ini kubeli untuknya mengingat ia tak mau sama sekali membantuku dalam bisnis perusahaan ini."
"Terus apa yang kau khawatirkan Daichi?" Kumat lagi deh posesifnya keluh Luna dalam hati. "Dia sudah dewasa Daichi, jangan kau perlakukan seperti anak kecil terus."
"Tapi aku sudah berjanji kepada kedua orang tuaku bahwa..."
__ADS_1
"Bahwa kau akan berusaha menjaganya dan akan selalu membuatnya bahagiakan?" Luna memotong kalimat Daichi. "Sudah berulang kali aku mendengar kalimat itu bagaikan kaset rusak Daichi. Pantas saja Kirana selalu mengeluh tentang sikap overprotective-mu itu."
"Tapi kan..."
"Dengarkan aku wahai kekasihku yang menyebalkan tapi sangat kusayangi," Luna merangkup kedua pipi Daichi membuatnya menahan napas. "Aku tahu kau kakaknya yang paling menyayanginya bahkan rasa sayangmu lebih dari kepadaku tapi Kirana yang kukenal adalah gadis yang kuat dan hebat. Yang harus kau lakukan adalah memberikan kepercayaan untuk Kirana. Kalaupun ternyata ia terjatuh dan terluka ada kita dan orang tuamu yang akan selalu mendukungnya." Luna tersenyum hangat membuat kekhawatiran Daichi sedikit berkurang. Entah mengapa lelaki itu merasa perubahan yang terjadi pada adiknya Kirana akan berdampak kurang menyenangkan kedepannya.
"Tapi aku takut kena karma untuk kedua kalinya Luna..."
"Maksudmu?"
"Aku tahu sebelum mengenal dirimu aku adalah seorang pria brengsek yang sering mempermainkan wanita. Aku takut jika Kirana akan bernasib sama seperti wanita-wanita di masa laluku...dipermainkan..."
Luna terdiam. Dalam hati ia berkata bahwa ketakutan itu bukanlah tanpa alasan karena saat ini Kirana sedang menjalin hubungan dengan seorang Akio Fujiwara yang notabennya teman brengsek Daichi. Ia pun berharap Kirana bisa merubah sosok Akio seperti kekasihnya ini. Semoga saja tidak ada hal-hal buruk yang terjadi..., doanya dalam hati.
***
"Untuk apa aku mengetahui kodenya?" Kirana tampak tidak suka dengan ide Akio yang seenaknya dan ceroboh saat ini.
"Supaya kau bisa leluasa keluar masuk apartemen ini," Jawab Akio santai.
"Kau gila...," Kirana menatap tak percaya kearah Akio. Bagaimana mungkin lelaki yang sangat angkuh dan tidak mau dunia pribadinya diutak-atik begitu entengnya memberikan kode kunci tempat tinggalnya kepadanya. Ia hanya orang luar yang baru saja resmi menjadi kekasih dari lelaki ini. Ia rasa belum saatnya ia mendapatkan hak preogatif seperti ini. "Bagaimana kalau aku ini adalah orang jahat yang mengincar hartamu disini?"
"Aku yakin kau bukan orang jahat," Jawab Akio enteng sambil menikmati makanan yang tersaji di meja makan. "Masakanmu benar-benar enak ya."
__ADS_1
"Bagaimana kau tahu?"
"Feeling instinct...," Akio menunjukkan jari telunjuknya ke bagian dada dirinya dan hanya mendapat respon dengusan napas kesal dari Kirana yang menemani Akio makan di meja makan. Ia memandangi Akio yang begitu lahap memakan masakannya seolah lelaki itu tidak makan selama berbulan-bulan dan itu hanya pada masakan yang ia buat. Entah mengapa semakin lama mengenal Akio, ia menemukan sisi lain yang menarik dari lelaki tersebut. Ia seperti anak kecil yang kesepian dan kekurangan kasih sayang. Berbeda terbalik dengan dirinya yang selalu berlimpah kasih sayang dari keluarganya. Bahkan dengan kedua orang tuanya yang nyentrik itu seolah seperti sepasang kekasih yang entah mengapa tidak pernah redup cintanya dan selalu berjiwa muda, ia mendapat didikan yang luar biasa positif dari mereka. Ia ingin membagi rasa kasih sayang yang didapatnya selama ini dari keluarganya untuk lelaki ini.
"Kalau makan itu jangan terburu-buru," Kirana yang melihat terdapat saus kecap yang menempel dipinggir bibir kiri Akio segera membersihkannya dengan tangan kanannya. Sontak hal kecil tersebut membuat Akio terkejut dan merona. Ia sudah lama tidak merasakan perhatian hangat ini sejak orang tuanya meninggal. "Memang segitu enaknya ya masakan yang kubuat? Padahal kan hanya ayam bakar biasa..."
"Bagiku masakanmu luar biasa!" Puji Akio tulus. "Lebih enak dari buatan kokiku!"
"Berlebihan!" Kirana yang merasa malu karena pujian dari Akio memalingkan wajahnya dari Akio. Tanpa ia sadari, Akio menatap lekat penuh kelembutan kearah kekasih hatinya itu.
Sementara itu, tanpa mereka berdua sadari, terlihat seseorang berpakaian hitam-hitam yang berdiri tegak setelah mengamati gerak-gerik Akio dan Kirana dengan teropong canggihnya dari seberang apartemen Akio. Ia mendengus dan berbicara pada dirinya sendiri. "Tuan Muda Matsumoto tidak akan senang mendengar laporan ini..."
Rupanya perasaan Daichi yang merasa bahwa ada sesuatu yang mengganjal mengenai Kirana selama ini membuatnya nekad menghancurkan janjinya dengan sang adik untuk tidak ikut campur dalam urusan pribadi sang adik yang meminta untuk diperlakukan seperti orang biasa pada umumnya dengan mengutus orang kepercayaannya mengawasi gerak-gerik sang adik. Ia tahu sikapnya berlebihan, akan tetapi rasa kekhawatiran yang luar biasa sebagai seorang kakak yang ditugaskan untuk menjaga adik semata wayangnya tak juga berhenti meskipun Luna telah berusaha menenangkannya.
"Ada apa kau menggangguku malam-malam begini Kei-san?" Tanya Daichi yang masih berkutat dengan setumpuk dokumen di meja kerjanya.
"Saya hendak melaporkan hasil penyelidikan saya selama ini tentang Nona Muda," Kei menyerahkan amplop berukuran besar dihadapan Daichi dan tanpa pikir Panjang lagi Daichi segera membukanya. Wajahnya yang semula biasa saja berubah memerah dan tegang ketika ia melihat foto-foto yang dilihatnya.
"Bagaimana hal ini bisa terjadi Kei-san?!" Daichi berdiri dari tempat duduknya dan membanting seluruh foto yang dipegangnya hingga berhamburan dan hanya ditanggapi secara datar oleh Kei. Ia sudah cukup lama berhubungan dengan majikannya yang notabennya memiliki karakter sama persis dengan ayahnya. "Bagaimana bisa aku kecolongan dengan orang yang notabennya teman bejatku sendiri?!" Teriaknya frustasi. "Adikku itu bukan tipikal yang mudah jatuh kepelukan seorang lelaki apa lagi kriterianya seperti lelaki ini!"
"Menurut saya saat ini anda harus menenangkan diri dulu, jangan gegabah mengambil keputusan secepat itu," Kei berusaha menenangkan tuan mudanya itu meskipun hal itu bukanlah pekerjaan yang mudah dan butuh energi ekstra. "Bisa jadi Nona...," Belum sempat Kei meneruskan kalimatnya, Daichi telah meninggalkan dirinya di ruangan seorang diri. Ia hanya bisa menghela napas sambil berdoa semoga tuan mudanya itu tidak khilaf dan melakukan tindakan yang berbahaya dan merusak nama baiknya.
***
__ADS_1