
“Aku akan tetap memperjuangkan Luna Pa, Ma,” Ucapan Daichi disaat makan malam keluarga membuat kedua orang tuanya terkejut dan menghentikan makan mereka.
“Apa maksudmu?” Tanya Daiki membutuhkan penjelasan.
“Aku sudah memikirkan matang-matang mengenai hal ini. Luna tidaklah bersalah, yang bersalah kepada Papa dan Mama adalah kedua orang tuanya. Lagipula bukankah hal itu sudah menjadi masa lalu yang sudah waktunya dimaafkan dan dikubur dalam-dalam serta fokus menatap masa depan?”
Daiki menatap langit biru berpadu dengan kepulan awan putih yang berjalan pelan seolah menyapanya dari dalam mobil yang membawanya saat ini menuju suatu tempat penting yang sudah disepakati sebagai titik pertemuan. Tampak kemacetan yang cukup panjang menghadang dihadapannya.
“Apa kau tidak khawatir bahwa gadis itu hanya mempermainkanmu saja?” Tanya Rea penuh kekhawatiran. “Buktinya ia memutuskan dirimu secara sepihak dan menghilang begitu saja.”
“Ia tidak menghilang Ma,” Daichi menjelaskan. “Ia hanya pulang ke Indonesia setelah sekian lama tak pernah pulang…”
“Lantas apa yang membuatmu yakin untuk memperjuangkan gadis itu?” Daiki kembali bertanya memastikan niat tergila yang disampaikan oleh putra semata wayangnya itu benar-benar serius akan dilakukan atau hanya angin lalu yang sudah-sudah mengingat anaknya itu tidak pernah mau berkomitmen sejak dipermainkan gadis cinta pertamanya dulu. Bahkan kelakuannya semakin menjadi-jadi dengan bergonta-ganti pasangan dan menjadikannya taruhan permainan. Wajar saja jika ia dan Rea khawatir bahwa Daichi kembali dipermainkan oleh gadis bernama Luna. Mengingat kedua orang tuanya begitu manipulatif hendak memisahkan keduanya dulu. Untung saja takdir berpihak padanya sehingga ia bisa bersatu dengan Rea yang sangat ia cintai sepenuh hati begitu juga sebaliknya.
“Aku…, aku ingin melindungi gadis itu! Gadis itu sudah terlalu banyak terluka dalam hidupnya. Terlebih lagi ia mengetahui betapa orang tuanya punya kesalahan kepada Papa dan Mama dimasa lalu, tentunya lukanya semakin ternganga lebar,” Daichi mengepalkan kesepuluh jarinya yang ia letakkan di atas pahanya sebagai tumpuan. “Dan sejak awal bertemu dengannya, aku yakin bahwa hanya aku yang bisa membahagiakan dirinya karena kebahagiaanku adalah kebahagiaannya.” Tatapannya nyalang kearah kedua orang tuanya untuk memberikan keyakinan bahwa ia bersungguh-sungguh dengan niatnya.
“Tunggu-tunggu, sepertinya aku pernah dengan ucapan yang sama seperti yang kau ucapkan, Nak,” Komentar Daiki.
__ADS_1
“Dimana?” Tanya Rea.
“Itu adalah kalimat yang sama ketika aku memberanikan diri menghadap kepada orang tuaku untuk melamarmu mengingat latar belakang keluargamu yang berbeda dengan keluargaku dulu.”
“Oh ya?” Rea tak menyangka ada cerita yang terlewatkan tentang perjalanan cintanya dengan suami tercintanya itu. Wajar saja jika dirinya sedikit terkejut mengingat dulu betapa mudahnya Daiki mendapatkan restu dari kedua orang tuanya yang notabennya memiliki latar belakang pengusaha yang sukses dan kaya raya serta tidak sebanding dengan latar belakang keluarganya yang bertolak belakang dengan menjunjung tinggi kesederhanaannya.
Daichi tersenyum mengingat perdebatan kecil yang sedikit keluar jalur dari tujuan awal pembicaraan mereka. Perlahan kemacetan dihadapannya mulai terurai sehingga sopir yang mengendarai mobil yang ditumpanginya dapat mulai melaju kearah yang dituju.
“Lantas apa yang jaminannya jika gadis itu benar-benar tulus mencintaimu tanpa ada niat buruk sedikitpun untuk menyakitimu terlebih lagi keluarga kita?” Rea kembali bertanya.
“Aku jaminannya Ma,” Kirana yang sejak tadi hanya terdiam menonton adegan bak siaran live action drama dihadapannya, akhirnya buka suara sambil mengangkat tangan kanannya keatas.
“Aku mengenalnya lebih dulu dibandingkan Nii-san atau Papa dan Mama yang hanya mendengar cerita dari kami. Ia benar-benar gadis yang baik Pa, Ma, bahkan jika ia berperan antagonispun rasanya tak pantas karena aku yakin ketika ia berusaha menyakiti kami berdua dengan kata-kata kejamnya agar dapat memutuskan hubungan diantara kami, aku yakin 100% didalam hatinya pasti lebih terluka karena terpaksa harus melakukannya.”
Ia harus berterima kasih kepada Kirana yang membantunya untuk meyakinkan kedua orangtuanya. Rupanya tidak hanya Akio yang bersikeras untuk mendapatkan restunya untuk hubungannya dengan Kirana, namun juga adiknya itu berusaha membantunya untuk mendukung kekasihnya. Kali ini ia mengakui bahwa tidak mungkin dirinya tak memberikan restu melihat kekompakan diantara keduanya. Ia mengaku lemah dan membutuhkan dukungan keduanya untuk mendapatkan restu dari kedua orang tuanya. Bukankah jika kita memberikan kemudahan orang lain maka orang lain juga akan memberikan kemudahan untuk kita?
“Ia adalah sosok yang selama ini aku cari. Aku mohon Papa dan Mama dapat merestui hubunganku dengan Luna.” Seolah tak ingin kehilangan momen Daichi mempertegas niatnya. “Karena jika aku tak mendapatkan restu dari Papa dan Mama, bagaimana bisa aku berjuang mendapatkan restu dari Ayahnya Luna?”
__ADS_1
Tak lama mobil yang membawanya memasuki lobi dari sebuah gedung berlantai 24 di salah satu area bisnis krusial di Kota Jakarta. Tak ia sangka kedatangannya kali ini tidak ada hubungan dengan bisnisnya namun urusan pribadinya. Ia pun keluar dari mobil dan mengambil smartphone-nya dari saku celananya.
“Halo, kau dimana?”
“Aku berada di lantai 13 gedung ini, apa kau sudah sampai?” Terdengar suara lelaki yang dikenalnya dari smartphone-nya.
“Aku baru sampai,”
“Kalau begitu kutunggu kehadiranmu segera disini, karena rapatku dengan orang yang cari sudah selesai.”
“Baik, tunggu aku disana!” Daichi masuk ke dalam salah satu lift dan menekan tombol angka 13 yang tersedia setelah melewati resepsionis dan alat pemeriksa bagi siapapun yang hendak masuk ke dalam ruangan gedung.
TING!
Terdengar bunyi lift dari lantai yang hendak Daichi tuju. Langkah tegapnya berjalan penuh keyakinan dan kepercayaan diri ketika melangkah keluar lift dan menjejakkan kakinya di lantai tersebut. Dari radius 10 meter senyumnya mengembang ketika sosok yang dicari akhirnya ia temukan. Orang yang diteleponnya tadi menoleh kearahnya seakan memberi kode bahwa ia akan memulai skenario yang telah mereka siapkan sebelumnya dengan matang.
“Pak Daniel, perkenalkan teman saya, Daichi Matsumoto,” Ucap Akio sambil menepuk punggung Daniel untuk memberikan tanda ketika Daichi sudah berada dihadapannya. “Teman saya ini hendak berbicara empat mata dengan anda, saya harap anda dapat memberikan kesempatan untuknya berbicara dari hati ke hati antara lelaki yang mencintai putri anda dan anda sebagai Ayahnya.”
__ADS_1
***