A Flavour to Love

A Flavour to Love
19-3


__ADS_3

“Akhirnya kita sampai…,” Luna keluar dari mobil dan mengaitkan kesepuluh jarinya serta mengangkatnya keatas. Setelah berjuang cukup panjang menyetir mobil melewati jalan tol dalam kota disambung dengan jalan tol Jagorawi selama satu setengah jam dan mampir sejenak ke pasar kembang untuk membeli bunga yang akan ditaburkan di atas pusara, akhirnya sampailah mereka pada sebuah tempat pemakaman umum di daerah Bogor yang merupakan tempat kelahiran Ibunya, Astrid. “Lumayan juga ya Bi perjalanannya untuk orang sepertiku yang sudah lama tidak menyetir mobil…”


“Bibi kan sudah bilang ke Non untuk menggunakan supir saja tadi, tapi Non-nya tetap kekeuh surekeuh menyetir sendiri,” Ani menghela napas dan berusaha menyusul Luna untuk menyamakan langkah kakinya dengan gadis itu yang sudah berjalan terlebih dulu didepan.


“Aduh Bi Ani masih saja dibahas tentang hal itu,” Luna meringis menanggapi wanita paruh baya tersebut. Jika Kirana yang mengucapkannya, mereka pasti akan saling sibuk bercanda dan mencela satu sama lain. Ah…, ia hampir lupa bahwa nama itu sudah harus dihilangkan dari benak dan pikirannya. Dan perasaan sesak sekaligus nyeri yang berusaha ia hilangkan tadi kembali menyeruak di dadanya karena mengingat Kirana sama saja mengingatkannya pada Daichi, kakaknya.


Sejauh memandang, hanya hamparan batu nisan yang berdiri tegak mewakili orang-orang yang telah mendahului Luna dan Ani meninggalkan dunia fana. Mereka pun segera melangkahkah kaki menuju batu nisan yang bertuliskan nama Astrid Medina. Sepanjang perjalanan menuju nisan tersebut, hamparan pepohonan bunga kamboja penuh warna mendampingi setiap nisan yang mereka lewati bak pelindung dan pewarna dari suasana suram dan seram yang menjadi gambaran umum bagi sebagian besar manusia yang masih hidup sepertinya hingga akhirnya sampailah mereka dihadapan nisan yang mereka cari. Luna cukup terheran-heran dengan sisa taburan bunga yang belum mengering sempurna bersatu dengan tanah pada pusara tersebut. Siapakah gerangan orang yang terakhir mengunjungi pusara Ibunya mengingat Kakek dan Nenek dari masing-masing pihak Papa dan Mamanya sudah lama tiada?


“Hampir setiap sebulan sekali Pak Daniel mengunjungi pusara Bu Astrid untuk mendoakannya,” Ani yang menangkap keheranan Luna segera menjelaskan.


“Serius Bi? Bi Ani tidak sedang bercanda denganku kan seolah Papa adalah suami yang sayang dengan istrinya?” Lagi-lagi Luna merasakan kejutan kecil yang tak disangka-sangka olehnya. Bingkai foto di meja buffet dan sekarang ini. Apakah selama ini ia telah salah menilai Papanya sendiri?


“Memangnya Bibi pernah bilang kalau Pak Daniel tidak sayang dengan Bu Astrid, Non?” Ani mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


“Tapi berdasarkan buku harian Mama dan apa yang kualami sendiri dapat disimpulkan bahwa Papa dulu tidak pernah perduli sama sekali dengan Mama dan aku, Bi,” Luna berusaha membela pendapatnya.


“Saya mengenal Pak Daniel jauh lebih lama sebelum Non Luna lahir, jadi saya lebih tahu bagaimana sebenarnya karakter beliau,” Ani berjongkok disebelah pusara berbahan marmer berwarna putih dengan tengahnya dibiarkan berupa tanah. Melihat Luna yang masih terdiam terpaku dengan wajah antara tak percaya dan ingin menangis yang ia yakin sudah ditahannya sejak dari rumah, membuat senyum simpul di wajah tuanya sambil menarik tangan kiri Luna sebagai kode agar gadis itu ikut jongkok seperti dirinya. “Ayo Non, kita taburkan bunganya dan berdoa untuk Bu Astrid. Setelah itu Non Luna bisa menyampaikan semua perasaan yang ingin Non sampaikan ke Bu Astrid. Non tidak perlu khawatir, kali ini Bibi akan meninggalkan Non sendiri karena Bibi yakin banyak hal yang tidak harus Bibi ketahui.”


“Bi Ani…”


***


“Hilangkan egomu yang kau tempatkan terlalu tinggi itu, tak selamanya kau berada dipihak yang benar. Terkadang orang yang membantumu untuk memecahkan masalah adalah orang yang kau sakiti karena egomu itu. Memang kau tak tahu pepatah itu?”


“Kesepakatan apa yang kau tawarkan?”


“Aku akan membantu untuk menyelesaikan masalah rumit yang seperti benang kusut antara keluarga Senpai dan keluarga Luna sehingga Senpai dapat kembali bersama Luna dengan syarat Senpai harus merestui hubunganku dengan Kirana.”

__ADS_1


Sudah ia duga! Genggaman kesepuluh jari Daichi mengencang antara rela dan tidak rela melepaskan adiknya untuk bersama Akio. “Memangnya anak bau kencur sepertimu punya pengalaman apa untuk bisa membantuku?”


“Pufffh…, hahahahaha…,” Akio pun tertawa ketika kata-kata ‘anak bau kencur’ yang sudah lama tak didengarnya kembali menggema di telinganya dan sebuah kejutan luar biasa dimata Daichi bahwa juniornya bisa tertawa lepas juga. Rupanya kehadiran Kirana cukup berpengaruh pada perubahan yang ia yakin luar biasa hingga bisa seperti sekarang ini. “Apa Senpai lupa bahwa aku adalah CEO dari QLONE, retailer terbesar di Asia dan Eropa termasuk Indonesia didalamnya sehingga memiliki network dengan perusahaan BUMN yang bergerak dibidang logistik kepelabuhan untuk mempermudah perusahaanku memasukkan barang kesana? Dan asal kau tahu Senpai, Daniel Putranto yang merupakan Ayah dari kekasihmu Luna adalah Commercial Director pada salah satu perusahaan dibidang logistik milik BUMN Indonesia yang bekerjasama denganku dalam penyediaan jasa Freight Forwarding-nya.”


“Apa kau sedang bercanda saat ini?” Kelopak mata Daichi membesar serasa tak percaya dengan apa yang ia barusan dengar. Bagaimana bisa kebetulan seperti ini terjadi? Bahkan logikaku saja tak dapat menyangkanya…, sebenarnya apa rencana-Mu Tuhan…?


“Aku tidak pernah bercanda untuk urusan Kirana, Senpai,” Ucap Daichi penuh ketegasan. “Karena aku benar-benar mencintai adikmu itu.”


“Playboy sepertimu bisa mencintai satu perempuan saja? Apa kau sudah salah makan obat?” Nada meremehkan tersungging dibalik senyum miring Daichi.


“Senpai sendiri bagaimana? Bukankah Senpai juga sama denganku yang berubah karena telah menemukan seorang perempuan yang berhasil membuatmu meninggalkan dunia kelam itu?” Akio membuka tutup botol Whisky dan menuangkan minuman tersebut ke dalam gelas Daichi yang kosong. “Jika dipikir kembali sebenarnya sumpah serapah yang diucapkan Kazuto dulu adalah bentuk kasih sayangnya kepada kita agar sadar bahwa kita telah keluar jalur dari jalan kehidupan yang seharusnya. Apakah Senpai tidak menyadarinya?”


Daichi termenung berusaha mencerna ucapan yang terlontar dari Akio. Mungkin benar adanya sehingga Tuhan mendengar doa Kazuto yang terlebih dahulu menyadari bahwa kehidupan yang selama ini mereka jalani salah. Bahkan Ibunya pun sudah berkali-kali memprotes dirinya namun tak pernah digubris olehnya karena ia merasa sombong dan punya hak menjalankan kehidupan apa yang dikehendaki sejak Ayahnya menjadikannya pewaris sah dari Matsumoto Global Group.

__ADS_1


“Aku akan mempertemukanmu dengan Pak Daniel dan membiarkan kalian berbicara empat mata sebagai seorang Ayah dan lelaki yang mencintai putrinya,” Akio melanjutkan bicaranya. “Namun keberhasilanmu tergantung juga dari restu kedua orang tuamu, apakah mereka rela anak dari orang yang pernah berusaha menghancurkan hubungan mereka dulu masuk kedalam keluarga Matsumoto? Semuanya tergantung dirimu Senpai…”


***


__ADS_2