A Flavour to Love

A Flavour to Love
8-1


__ADS_3

Lenguhan pelan terdengar dari bibir Kirana. Perlahan ia membuka matanya dan betapa terkejutnya ia ketika ia merasakan kedua tangannya terikat oleh dasi dan menggantung diatas kepalanya.


"A...apa yang terjadi?" Kirana berubah menjadi panik ketika ia melihat dirinya terikat dan tak dapat bergerak bebas di sebuah ranjang berukuran besar. "Ini dimana?"


"Kau sudah bangun?" Suara seorang lelaki membuat Kirana menoleh kearah pemilik suara tersebut.


"Kau...," Amarah segera bangkit ketika mengetahui bahwa pemilik suara tersebut adalah orang yang paling ia tidak sukai dan hindari. "Apa yang kau lakukan padaku?! Apa maumu?!"


"Apa yang kulakukan padamu?" Akio terkekeh mendengar pertanyaan yang terkesan konyol di telinganya. Ia berjalan menghampiri Kirana dan duduk dipinggir ranjang. Disentuhnya rambut hitam milik sang gadis dan diciumnya dengan rakus seolah-olah miliknya sendiri. Wangi vanila bercampur lavender yang ia sukai dan tak akan bosan ia rengkup.


"Apa mauku?" Wajah Akio semakin mendekat kearah Kirana, tepatnya ke leher sang gadis yang putih mulus dan membuatnya terkesiap. "Aku hanya ingin mengambil apa yang menjadi milikku yang setelah sekian lama telah menolakku sebegitu kerasnya."  Kulit Kirana benar-benar lembut dan harum, gadis ini rupanya merawat dirinya dengan baik. "Dan kupastikan malam ini kau tak akan kabur lagi dengan memberikan tanda permanen untukmu."

__ADS_1


"Ukh...," Tanpa Kirana sadari ia melenguh membuat Akio semakin beringas mengecup leher sang gadis hingga menimbulkan bercak kemerahan. "Hen...ti...kan..." Tubuhnya bergetar takut dan menggigit bibir bawahnya menahan gejolak yang ada akibat sentuhan Daichi disetiap bagian tubuhnya. Mengapa? Mengapa ia harus mengalami hal seperti ini? Salah apa dirinya? Air matanya mengalir tak tertahankan. "Mama...," Dipanggilnya sang Mama, ia berharap Rea saat ini datang menolongnya dan menyelamatkan dirinya dari Akio.


"Cih, ternyata kau benar-benar anak kecil ya?" Akio menghentikan tindakannya. Ia pun mencengkeram rahang Kirana. "Tatap aku gadis menyebalkan! Tatap aku!"


"Mama..., Papa...," Kirana tak menggubris ucapan Akio yang terdengar kasar. Ia terus menerus menangis memanggil satu persatu keluarganya. Akio menghela napas panjang merasa sebersit rasa bersalah telah memaksa gadis dihadapannya. Namun tak beberapa lama emosinya tersulut kembali ketika ia mendengar nama seorang lelaki disebut oleh Kirana.


"Daichi-nii..., tatsukete..." (tolong aku...)


"Mmphh!"


Akio membuka dress pink 10 cm diatas lutut berbahan ketat yang dikenakan Kirana dengan paksa melewati kepala Kirana sehingga terekspos dada yang tertutup oleh bra berwarna hitam senada dengan celana dalamnya. Pemandangan yang selalu menjadi bahan tontonan para lelaki di Klub Basket. Dengan lancang ia membuka pengait bra Kirana dan membuangnya ke sembarang arah sehingga menampilkan dada polos sang gadis yang tampak menggiurkan dihadapannya. Ia pun langsung menghisap dada kanan Kirana sehingga memberikan efek pekikan dari Kirana yang dengan tangkas ia bungkam dengan tangan kirinya.

__ADS_1


"Mmpphh! Ngghhh!" Usaha yang dilakukan Kirana nampaknya sia-sia. Ia kembali terngiang-ngiang pepatah dulu yang mengatakan, sekuat-kuatnya wanita, jika ia adu kekuatan fisik dengan pria maka para prialah pemenangnya.


Berontakan-berontakan kecil yang dilakukan Kirana semangkin membuatnya bertindak lebih jauh dengan menarik celana dalam Kirana dan membiarkannya bernasib sama dengan pasangan bra sang gadis. Akio membuka bekapannya dan bibirnya menciumi perut Kirana hingga menuju bagian yang sangat dilindungi oleh pemiliknya dari siapapun hanyab untuk suaminya kelak.


"Ti-tidaaaakkk! Ja-jangaaann! Aku mohooonn Fujiwara-san...hentikaaann...," Nada yang terdengar pilu di telinga Akio semakin membuatnya buas untuk segera menjadikan Kirana miliknya. Entah karena terlalu lama tidak berhubungan seks atau memang ia begitu tergila-gila dan mendamba Kirana, sehingga ia pun segera melesakkan milikknya kedalam milik Kirana dan membuat sang gadis membatu menahan sakit yang luar biasa tak tertahankan. Ia terus memaju-mundurkan pinggulnya hingga darah berwarna merah merembes dari pangkal paha Kirana mengenai sprai biru muda dibawahnya.


"Akhhhh..."


Hilang sudah kesempatan Kirana menjaga keperawanannya tetap utuh untuk suaminya kelak. Ia terdiam dalam tangis menyaksikan Akio yang dengan seenaknya menggagahi dirinya.


***

__ADS_1


__ADS_2