
Langit malam sudah berganti, dimana matahari sudah mulai menampakkan diri.Ting ... ting ... ting ... suara alarm yang berasal dari benda persegi panjang yang terletak di atas nakas, membuat seorang gadis cantik langsung terbangun dari tidurnya.
"Ya ampun ... berisik banget sih alarmnya, matiin kali dek! Uda tau hari libur tapi pasang Alarm," dumel Windy, kesal.
Windy Anastasya adalah seorang gadis cantik, yang baru berusia enam belas tahun. Ia memiliki kulit putih bersih, hidung mancung, berat dan tinggi proposional, serta rambut yang hitam kecoklatan. Windy memiliki sifat periang dan pantang menyerah.
Windy memang sering di buat marah oleh setiap tingkah adiknya itu. Windy yang biasa dikenal ramah, saat berada di sekolah. Berbeda bila sudah di rumah, saat bersama Lita adiknya. Ia akan terlihat seperti gadis yang galak, dan pemarah.
"Ngehh ... tolong kakak matiin aja. Lita masih ngantuk susah buat buka mata, itu hp Lita di meja." Lita menunjuk ke arah nakas, dimana ponsel miliknya berada.
Lita Anastasya adalah adik kandung Windy. Lita memiki wajah yang imut bagaikan boneka. Ia baru berusia tiga belas tahun. Lita memiki hobi yang unik, yaitu usil kepada kakaknya Windy.
Usil? mungkin itu salah satu cara Lita, menunjukkan rasa sayang kepada Windy. Pasalnya saat ayah mereka masih ada, Lita tidak pernah bersikap usil kepada Windy. Dan sikap tersebut baru ia tunjukkan saat Ayah mereka meninggal dunia.
Windy berdecak kesal "Pagi-pagi uda bikin kakak naik darah aja." Posisi tubuh Windy masing terbaring di kasur, mencoba meraih ponsel yang terletak di nakas.
"Ya ampun kalian, masih pagi uda berantem aja, malu kalau sampai di denger tetangga." Ana yang sebelumnya berada di dapur. Langsung berjalan menuju kamar putrinya, Saat dirinya mendengar suara teriakan Windy dari dalam kamar.
Ana Anastasya merupakan orang tua tunggal Windy dan Lita. Suami Ana yang merupakan seorang pilot, baru saja mengalami kecelakaan lalu meninggal dunia sewaktu bekerja. Ana memutuskan menjual rumah mewah milik suaminya itu, kemudian ia membeli rumah yang lebih sederhana, untuk di tinggali bersama kedua anaknya. Dan ia juga membuka toko kue konsep cafe.
Tidak hanya pindah rumah, Ana juga memindahkan Windy dan Lita ke sekolah baru. Dengan alasan, karena sekolah baru mereka lebih dekat dengan rumah baru tersebut.
"Ini nih anak kesayangan bunda, uda tau hari ini weekend tapi masih aja alarm di pasang." Windy mengerutkan pelipis dan menatap jengkel Lita.
"Bagus kan, jadi kamu bisa bangun pagi buat menyiapkan baju dan pelengkapan sekolah buat besok." Bunda berdiri di depan kasur putrinya itu.
"Tuh kan, bunda belain Lita lagi." Windy terduduk di atas kasur, dengan bibir yang di majukan sedikit.
Ana menghelai napas pelan. "Bukan belain Lita, besok kan hari pertama kamu pindah sekolah. Seharusnya kamu antusias, bukan kamu selalumengeluh bosan di sekolah mu yang lama"
Windy memutar kedua bola matanya malas "Ya iyalah aku ngeluh bosan bunda, kan aku uda sekolah di situ dari sd sampai kelas 2 SMA, hampir 11 tahun sekolah disitu dan teman sekelas ku itu-itu mulu."
"Yauda sana kamu mandi, trus habis mandi kamu siapin perlengkapan sekolah, dan jangan lupa habis itu, tolongin bunda ke mini market buat beli garam." Bunda berjalan keluar dari kamar Windy dan Lita.
"Iya bunda," tutur Windy, pasrah.
Windy turun dari kasur, melipat selimutnya lalu ia berjalan keluar kamar dengan kondisi yang masih mengantuk.
✺ ✺ ✺ ✺
Selangkah demi selangkah Windy berjalan menuju minimarket, tiba-tiba langkahnya terhenti. matanya tertuju pada kucing putih di depan jalan
"Ini kucing liar? sampai kelaparan gini, ku bawa ke minimarket aja, sekalian beliin dia makanan." Windy terjongkok dan mengelus-elus kucing berwarna putih tersebut.
Dari kejauhan terlihat seorang cowo berjalan cepat, melangkah menuju ke arah Windy dengan raut wajah terlihat khawatir dan marah.
__ADS_1
"Hei, lu apain kucing gw? sampai lemes begini, " pekik cowok tersebut.
Cowok tersebut memiliki kulit yang putih, Rambut hitam pekat, badan proposional, serta tinggi sekitar 178 Cm.
"Tenang-tenang jangan asal nuduh aja, tadi di tengah jalan, aku liat kucing kamu gak berdaya. Trus ini aku mau bawa kucing kamu ikut pergi ke mini market, buat sekalian beliin dia makanan," terang Windy.
"Oh ... gitu, Sorry uda asal tuduh." Cowok tersebut menggaruk kulit kepalanya yang tidak terasa gatal, sembaru tersenyum kikuk sehingga memperlihat sebuah lesung di sebelah pipi kanannya.
"It's okey. Nih kucing kamu." Windy mengangkat kucing tersebut lalu berdiri. Diserahkan kucing putih itu, kepada cowok tampan yang berdiri tepat di depannya.
"Makasih." Cowok tersebut mengulurkan kedua tangan nya. menerima kucing putih tersebut, yang memiliki rambut yang lebat.
"lu tinggal di daerah sini juga yaa?" tanya Cowok tampan itu.
"Iya, aku baru aja pindah kesini minggu lalu, jadi bisa dibilang orang baru," jawab Windy, senyum.
"Salam kenal yaa. Nama Gw Rendy Lino, nama lu siapa?" Rendy menjulurkan tangannya sembari tersenyum lebar.
"Rendy lino? keknya dia seumuran sama aku," pikir Windy
Rendy Lino. cowok yang baru ditemui Windy, memang terlihat seperti anak SMA. walau tubuh Rendy yang begitu atletis, namun wajah Rendy tidak busa berbohong.
"Nama aku Windy Anastasya, salam kenal juga." Windy menyambut tangan Rendy, serta membalas senyum cowok itu.
"Rumah lu deket sini?" Rendy menaiki satu alisnya, saat menatap Windy.
"Trus sekarang lu mau ke mana?" tanya Rendy.
"Aku Mau ke minimarket, disuruh bundaku beli garam," balas Windy.
"Sini gw temenin ke minimarkernya, Sekalian gw mau beli cemilan." Tangan kanan Rendy masih sibuk mengelus-elus kucing, yang berada dalam gendongannya.
Windy mengangguk senang. "Boleh yuk!"
Windy dan Rendy berjalan bersama menuju minimarket. Mereka saling berbincang, membahas hal-hal kecil di sembari melangkah. Windy memang baru mengenak Rendy, namun rasanya begitu nyaman bagi Windy saat mengobrol dengan cowok tersebut. Lihat saja sekarang, belum sempat Rendy menjawab pertanyaan Windy. Mereka sudah tiba di minimarket.
Di minimarket Windy langsung membeli baramg yang di minta Ana. Sedangkan Rendy, membeli makanan untuk kucing putih, yang berada di gendongannya itu.
Seusai mereka membayar, Rendy dan Windy pun keluar dari minimarket dan berjalan pulang bersama. Baru beberapa jam yang lalu mereka berkenalan dan sekarnag mereka sudah terlihat akrab satu sama lain.
✺ ✺ ✺ ✺
Windy dan Rendy berhenti tepat di depan rumah Windy. Rendy yang sebelumnya memilih untuk mengantar Windy, sekarang ikut berdiri bersama gadis di sampingnya itu.
"Nih rumah ku, udah sampai." Windy menunjuk rumah berlantai dua yang terlihat luas, dengan pagar berwarna cokelat.
__ADS_1
"Oh ini rumah lu, tau ga? samping rumah lu itu, rumah teman deket gw. Trus sebenarnya ini kucingnya punya dia dan gw hari ini lagi main ke rumah dia. Tapi gw malah disuruh, buat cari kucing kesayangannya ini," terang Rendy panjang lebar.
"Oh ya?! Teman sekolah?!" tanya Windy, tersenyum tipis.
Rendy mengangguk pelan. "Iya, teman sekolah."
"Emang kamu sekolah dimana yaa? kalau boleh tau." Raut Windy tampak serius, menatap Endy.
"Gw sekolahnya di SMA Cendrawasih." Volume suara Rendy meningkat, menunjukkan dirinya bangga akan sekolahnya itu.
"Oh ya? Serius? Kita satu sekolah dong," pekik Windy, senang.
"Wah, sekolah baru lu disitu toh. Wihh kita satu sekolah ternyata." Rendy terkekeh.
"Windy, kamu ngapain teriak-teriak di depan rumah?" Bunda yang berdiri di depan pintu, memandang ke arah putri nya itu.
"Maaf bunda, windy cuman senang aja ketemu teman satu sekolah." Tangan Windy bergerak membuka pintu pagar.
"Ooh, siapa?" Bunda penasaran, ia berjalan melangkah menghampiri Windy segera.
"Ini bunda, namanya Rendy." Pintu pagar sudah terbuka, Windy menunjuk Rendy yang berdiri di belakangnya.
"Hallo tante." Rendy melontarkan senyum kepada Bunda, kelapa nya menunduk kecil lalu diangkat naik kembali.
"Hallo juga rendy, itu kamu kok gendong-gendong kucing? " Mata bunda memperhatikan kucing yang yang di gendong Rendy.
"Ini kucing teman saya tante, rumahnya di sebelah. Habis dari sini saya mau balikin kucingnya," tutut Rendy, senyum.
"Yauda, masuk dulu yuk! tante baru aja panggang kue, sekalian kamu cobain." Kaki Bunda melangkah masuk kembali ke dalam rumah.
"Iya tente," ucap Rendy. Ia melangkah masuk, mengikuti Bunda dari belakang.
Bersambung → → → →
( WINDY ANASTASYA )
( RENDY LINO)
( LITA ANASTASYA )
__ADS_1
( SI PUTIH )