
Windy terkejut. Ia masih tidak percaya bahwa cowok yang duduk di depannya, adalah cowol yang barusan di temuibya di temui di belakang sekolah.
"Kok kamu bisa duduk sini?" Windy berdiri tepat di depan Reza. Reza masih terduduk di atas kursi, diam tidak bersuara dengan tatapan dingin memandang ke arah lain.
"Dia reza win, kamu kenal?" ujar Angela. Gadis berkaca mata itu duduk di kursi kedua sebelah Reza, ia Keheranan melihat tingkah Windy.
"Tadi waktu istirahat aku mau ke toilet, dan malah nyasar ke belakang sekolah terus ketemu dia." Raut wajah Windy berubah menjadi jengkel, saat mengingat kembali kejadian di belakang sekolah barusan.
"Berisik!" celetuk Reza, sinis
Windy terkelu mendengar ucapan yang dilontarkan Reza, ia semakin jengkel dengan cowowk di hadapannya itu. Dengan cepat Windy berjalan ke arah Angela dan duduk di kursi sebelah kanan Angela.
"Tolong yang di belakang jangan berisik." seru Guru. Yang daritadi sudah berdiri di deoan kelas.
"Baik pak ... maaf," balas Windy dan Angela bergantian.
✺ ✺ ✺ ✺
Windy terlihat serius mengikuti proses belajar mengajar, tidak peduli siapa guru yang mengajar. Gadis itu selalu fokus memperhatikan guru menjelaskan.
Dan kini, sampai dimana waktu pulang sekolahpun tiba, hari pertama windy belajar di sekolah barunya akhirnya selesai. Guru mendengar bahwa bell pulang sudah berbunyi, segera Guru tersebut langsung mengakhiri proses belajar-mengajar. Tidak lupa sebelum Guru tersebut keluar pergi meninggal kan kelas, ia memberikan Pekerjaan Rumah untuk Murid-murid nya.
Setelah semua barang sudah di masukan ke dalam tas, Windy dan Angela melangkah bersama menuruni anak tangga. Dan Kini kedua gadis itu menghentikan langkah mereka, tepat di depan gerbang sekolah.
"Win, Kamu pulang lewat mana?" tanya Angela, Yang berdiri tepat di samping Windy.
"Arah Situ." Windy menunjuk ke sebelah Kiri.
"Sama dong, arah rumah ku juga ke situ. Kamu jalan kaki kan?" ujar Angela, senyum.
Windy mengangguk pelan. "Iya jalan kaki ngel."
"Yauda bareng aja yuk! biar bisa sambil
ngobrol-ngobrol" Angela dan Windy berjalan perlahan, menerusuri jalanan.
"Nau ngbrol apa mau gosip nih?" Windy masih belum merasa dekat dengan Angela, kkaren hal itu ia memilih berjalan di belakang Angela.
"Dua-duanya," balas Angela terkekeh.
__ADS_1
Lima menit sudah mereka berjalan bersama, Angela berjalan di depan sedangkan Windy di belakang. Suasana di antara mereka sekarang terasa sangat canggung. Angela yang merasa kurang nyaman, kini mulai membuka suara.
"Windy kamu tau ga?" Angela melirik ke belakang sejenak.
"Gak tuh, kan kamu belum kasi tau." Windy terkekeh, menatap punggung Angela.
"Ih kok nyebelin si Win ... serius nih. kamu tau gak si Reza itu cowok populer di sekolah kita. Hampir setiap sebulan sekali dia dapat pernyataan cinta dari cewek-cewek di sekolah," papar Angela.
Sebenarnya Angela sedikit berbohong. Walaupun Reza ganteng, ia tidak sepopuler itu. Karena, untuk saat ini Reza masih kalah dengan anak kelas XII yang menjadi kakak kelasnya.
Windy mengerutkan pelipis. "Banyak juga yang suka sama cowok dingin kayak dia."
"Yaiyalah! Reza itu ganteng. putih, matanya cool, uda gitu dia termasuk cowo yang pinter di akademis dan non akademis,"-tutur Angela-"trus karena sikap dinginnya itu, yang buat cewek-cewek di sekolah suka sama dia."
"Dih cewek-cewek di sekolah aneh banget, masa sukanya sama cowo dingin gitu trus kerjaannya juga suka menyendiri," balas Windy.
"Emang sih dia suka menyendiri, tapi tetap aja dia itu ganteng! Eh ngomong-ngomong kok kamu bisa panggil dia cowo dingin? panggilan sayang ya?" goda Angela.
"What? Sayang? amit-amit deh. Aku manggil dia cowok dingin, gara-gara dia pernah kacangin aku. Kamu bayangin Ngel, aku lagi kebelet kencing dan nanya dia 'dimana letak toilet' terus dia malah gak jawab coba." Untuk kesekian kalinya, Windy merasa kesal terhadap Reza.
Angela tertawa kecil. "Serius?! Kasian banget kamu Win, tapi kamu gak ngompol di tempat kan?"
"Cowok? Cewek Win? yang anterin kamu toilet." Angela memutar memperlambar jalannya.
"Cowok." Windy tersenyum kikuk.
"Ganteng?" Angela terlihat begitu antusias.
"Gantengan Reza," cicit Windy.
Angela tertawa terbahak-bahak. "Tenang Win! Reza jomblo kok, kalau kamu tertarik. Aku bantuin!"
"Ogah! aku punya cowo dingin kek dia," celetuk Windy cepat.
"Windy ... Windy ... percaya sama aku, nanti kamu malah benaran suka sama Reza," balas Angela.
Windy memutar bola matamya malas. "Gak bakal tuh!"
"Gak bakal nolak!" Lagi-lagi Angela tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Angela! ihh!" dumel Windy jengkel.
"Maaf Win becanda. ngomong-ngokong ID line kamu apa win?" Angela mulai membuka tas nya dan mengambil ponsel.
"Wind_20," jawab Windy.
"Nih uda di add yak!" Angela memperlihatkan layar ponselnya kepada Windy.
"Okee!" Windy mengancungkan jempol kepada Angela.
✺ ✺ ✺ ✺
Sekitar lima menit mereka berjalan. Angela dan Windy pun berpisah, karena rumah Angela harus berbelok ke kanan, sedangkan Windy harus tetap berjalan lurus.
"Bunda ... windy pulang." Windy duduk di depan teras seraya membuka sepatu.
Windy merasa cukup lelah di hari pertama ia bersekolah. Walau begitu, rasa lelah Windy rerkalahkan oleh rasa bahagia yang ia rasakan sekarang. Windy bahagia karena sekolah barunya cukup menyenangkan, apalagi sekarang ia sudah mendapat teman baru.
"Mandi sana win, habis itu makan!" teriak Bunda.
"Iya Bun." Segera Windy berjalan masuk ke dalam rumah.
Gadis itu masuk ke dalam kamar, meletakkan tas sekolahnya secara asal. Lalu tangannya meraih handuk, dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh diri.
Setelah tiga puluh menit Windy keluar dar kamar mandi, dan masuk kembali ke dalam kamar untuk memakai pakaian, dan mengeringkan rambutnya yang masih basah itu. Setelah selesai, Windy melangkah keluar kamar menuju dapur menghampiri Ana_ibundanya.
"Gimana sekolahnya?" Ana rerlihat sibuk mengaduk adonan kue.
"Ya begitu Bun ... serasa lebih semangat sekolah aja, soalnya suasana baru." Tangan Windy tengah sibuk mengambil nasi dan lauk.
"Kamu uda dapat teman win di situ?" tanya Bunda lembut.
"Uda Bun, namanya Angela. Orang agak bawel," jawab Windy, senyum.
"Cocok lah temenan sama kamu, yang jutek ini," ledek Bunda.
"Bundaa kok gitu sih, padahal windy kann periang dan ramah." Windy menarik kursi dan duduk di atas kursi tersebut.
"Iya kalau di luar, coba di rumah." Ana terkekeh, melihat putrinya makan dengan wajah cemberut.
__ADS_1
Bersambung ➳➳➳➳