
Di Hari yang cerah, dimana Jam Istirahat sekolah masih tetap belanjut. Tetapi waktu istiraht kali ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Karena berita 'Windy akan melompat dari gedung sekolah, karena Reza' telah menghebohkan para murid. Sampai saat ini berita tersebut belum sampai di telinga para guru.
Rendy yang mendengar berita tersebut dari murid lain pun langsung berlari melewati lorong sekolah untuk menghampiri Reza yang masih berada di belakang sekolah.
"Awas! Awas!" Setiap murid yang tengah berdiri atau berjalan pun menghindar, karena takut bertabrak dengan Rendy.
Tak butuh waktu lama bagi Rendy untuk sampai di belakang sekolah. Reza menyadari kehadiran Rendy, langsung menoleh ke arah teman baiknya itu. "Kenapa Ren?"
"Be_ bentar." Napas Rendy tersengal-sengal, membuat dirinya sulit berkata-kata sekarang.
"Nih minum dulu." Reza memberikan sebotal air minelar kepada Rendy.
Rendy menerima minuman tersebut lalu meneguknya hingga habis. "Rez! Windy mau lomoat dari atas gedung gara-gara lu!"
Reza tercengang, ia segera bangkit dari duduknya. "Ren! Ayo ikut gw ke atas!" Dengan sekuat tenaga, Reza belari diikuti Rendy di belakangnya.
✺ ✺ ✺ ✺
Angela yang berdiri di atas anak tangga, terlihat serius dan gerisa memantau keadaan. Dari kejauhan gadis berkaca mata itu melihat kedatangan Reza dan Rendy. Hal membuat Angela segera naik ke atas gedung sekolah untuk melapor kepada Windy.
" Win! Win! Reza sama Rendy lagi menuju kesini. Cepetan siap-siap!" seru Angela, heboh.
Windy yang sejak tadi berjalan bolak-balik, segera berlari dan berdiri di ujung gedung untuk bersiap-siap. Jantung Windy berdetak dengan sangat cepat, bahkan untuk bernapas saja ia sulit. Reza dan Rendy pun tiba di atas gedung, dan membuat Windy menggigit bibir bahwanya takut. Ia benar-benar takut rencananya akan gagal.
"Woi! Lu gila ya?!" Reza menatap kesal ke arah Windy.
" Reza! Kamu bilang, kamu mau aku lompat dari sini kan!" Windy berusaha menahan gemetar yang melanda dirinya.
"Sini! Gausah banyak gaya!" Reza berdiri tepat di depan Windy dengan jarak 100 cm.
"Gak mau! Sebelum kamu janji gak cuekin aku lagi! " Kaki Windy perlahan melangkah mundur satu langkah.
"Lu masih punya telinga kan?! Sini!" bentak Reza.
"Ngak mau!" Jujur saja Windy mulai takut, apalagi saat dirinya mendengar suara Reza yang datar itu.
Reza berdecak kesal. "Lu menang! Gw janji gak bakal cuekin lu lagi!"
__ADS_1
Windy tersenyum puas. "Janji?!"
"Iya! Puas lu?!" Reza pun beranjak pergi, diikuti Rendy di belakangnya.
Windy mendekati Angela, lalu memeluk temannya itu. "Ngel Ku berhasil."
"Iya." Angela tersenyum sembari memeluk Windy.
Secara perlahan Windy melepaskan pelukannya. "Ngel"
"Hmm." Angela menatap bingun Windy.
"Reza gak bakalbenci sama aku kan?" tanya Windy, takut.
"Ngak Win. Percaya deh sama aku." Angela memegang pundak Windy, untuk meyakinkan temannya itu.
Windy tersenyum legah. "Makasih Ngel."
"Iya ... yuk! sekarang kita ke kelas," ajak Angela.
"Hmm ... Yuk!" Windy dan Angela menuruni anak tangga.
✺ ✺ ✺ ✺
"Tenang Win, ada aku kok di samping kamu." Saat membuka pintu, Angela menggenggam erat tangan Windy.
"Makasih banyak Ngel." Windy mengikuti mengikuti Angela masuk ke dalam kelas.
Saat Angela dan Windy tiba di kelas, suasana berisik yang tadi terdengar sejenak menjadi sunyi. Mereka yang sedang berdiri atau dudu langsung melirik ke arah Windy. Salah satu dari mereka berjalan mendekati Windy dan Angela.
"Lu gak jadi loncat nih win? " cibir seorang gadis berambut ombre, yang sudah berdiri tepat di hadapan Windy.
"Cuekin aja Win, gak perlu diladenin. Mending kita duduk yuk," ujar Angela serata melirk sini ke gadis berambut ombre itu.
"Kamu duluan aja," pinta Windy senyum.
"Yakin?" Angela khawati dengan Windy.
__ADS_1
Windy menangguk yakin. "Iya, gapapa kok."
"Yauda aku duduk ya, kalau ada apa-apa kasi tau aku Win." Angela melangkah pergi ke tempat duduk nya, meninggalkan Windy bersama gadis berambut omre itu.
"Iya, aku gak jadi loncat dari atas gedung sekolah dan maaf ku uda bikin kamu kecewa ya?" Walau hatinya sudah khawatir, Windy berusaha tersenyum.
"Kenapa gak jadi loncat? Reza nya gak peduli ya?" celetuk gadis berambut ombre itu sembari terkekeh.
"Maaf ya, emang kamu siapa? Wajin banget aku jawab pertanyaan kamu?" Windy tersenyum sinis.
Semua murid di kelas melirik ke arah Windy dan gadis berombre itu, yang terlihat sedang beradu mulut. Begitu juga Reza yang sedang terduduk diam di belakang sana.
"Selalu bikin masalah," batin Reza, jengkel.
Reza berdecak kesal, ia bangkit dari kursi lalu berjalan menghampiri Windy. "Dia mau loncat karena gw! Dan dia gak jadi loncat juga karena gw! Ada masalah?!" Reza menatap tajam gadis berombre itu.
"Apaan sih" balas gadis itu, sebelum ia pergi menjauh.
"Duduk sana lu!" Reza berjalan kembali ke tempat duduk nya.
"Ternyata dia gak benci sama aku." Windy tersenyum kecil lalu berjalan ke tempat duduknya.
✺ ✺ ✺ ✺
Sudah satu jam lima belas menit Bu Ani menerangkan materi, hari semakin siang membuat sebagian murid mulai sulit berkonstrasi. Termasuk Angela, teman sebangku Windy.
"Win besok kan weekend, kamu mau jalan-jalan ga?" bisik Angela.
"Boleh, kemana?" tanya Windy pelan.
"Ke mall Central. Soalnya mau sekalian cari baju nih ... buat acara keluarga ku nanti." Sekali-kali Angela melirik ke depan, takut Bu Ani melihat ke arahnya.
"hmm, jam berapa?" Kedua mata Windy tetap memandang lurus ke depan.
"Jam sebelas Win, nanti aku jemput ke rumah kami aja. terus nanti dari rumah kamu ... kita berangkat bareng naik goocar," ujar Angela pelan.
"Okee." Windy Mengacungkan kedua jempolnya.
__ADS_1
Bersambung ➳➳➳➳