
---------------HAPPY READING-----------------
Jam menunjukkan pukul sepuluh lewat sepuluh menit. Ruang Osis SMA CENDRAWASIH sudah terlihat ramai, dimana hampir semua anggota Osis sudah berkumpul disana. Tetapi rapat Osis masih belum di mulai. Karena kurangnya kehadiran Ketua Osis.
" Gila uda lewat 10 menit.Parah Si rendy belum datang juga " Celetuk Alvin, yang dari tadi berjalan bolak -balik. keluar masuk ruang Osis.
" Vin ! lu jangan bolak -balik kek. Pusing gw liatnya " Cibir Tania. Cewe yang memiliki badan gemuk dan wajah manis.
" Tau. duduk diam, bisa ga sih lu vin " Lanjut Jonatan. Cowo berambut kribo dan tubuh jangkung.
Alvin menatap malas Tania. Ia segera berjalan ke arah kursi yang berada di samping Felix ,lalu menduduki diri di atas kursi itu.
" Christ, coba lu teleponin si Rendy " Pinta Alex. Cowo bertindik,yang di kenal playboy di SMA CENDRAWASIH.
" Sebelum lu suruh juga, gw dari tadi uda teleponin. Dia ga angkat pas gw telepon " Sahut Christ dengan raut wajah datar. Tangannya sibuk mengirim pesan kepada Rendy.
Anggota Osis yang lain, hanya diam sabar menunggu kehadiran Rendy sejak tadi. Mereka tidak ingin berkomentar. Tentang Ketua Osis mereka, yang masih belum terlihat batang hidungnya.
mungkin Rendy ada urusan penting pikir Windy
Si Rendy kemana lagi Batin Reza
****
Sudah lima belas menit,alvin terduduk. Lagi -lagi Alvin tidak bisa menahan dirinya di atas kursi, lebih lama lagi. Alvin berdecak kesal, Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu. Banyak cibiran yang di tujukan kepada Alvin, tapi Ia tidak menghiraukan cibiran tersebut.
Saat Alvin baru ingin membuka pintu Ruang Osis. Pintu tersebut sudah di buka duluan, dari luar. Alvin menatap orang yang membuka pintu tersebut, dengan tatapan sedikit kesal.
"Maaf banget gw telat, tadi gw ada urusan penting. " Ucap orang yang membuka pintu Ruang Osis. Ia adalah Rendy, wajahnya bercucuran keringat serta nafas nya tidak beraturan
Semua orang yang berada di dalam Ruang osis, menatap Rendy yang berdiri di ambang pintu. Sebagian dari mereka, ada menatap Rendy dengan tatapan Kesal. Kesal? bagaimana tidak kesal, mereka sudah di buat menunggu, selama tiga puluh lima menit.
" Parah lu ren. Padahal lu sendiri yang bilang, jangan telat " Ucap Christ, masih dengan raut wajah datarnya
" Uda ah, kebanyakan diskusi. Cepetan ayo mulai " Seru Fanda. Ia mencoba mencairkan suasana, yang terasa mencekam.
Rendy berjalan dan berdiri di depan anggota osis, sedangkan Alvin kembali duduk pada kursi, yang berada di sebelah felix. Mereka yang masih kesal, mencoba bersikap seperti biasa. Mengingat Rapat akan dimulai.
Rendy menghelai nafas berat " Jadi tiga hari lagi, berhubung masa libur sekolah akan berakhir. Bagi murid kelas X yang baru, di wajibkan buat ikut MPLS. Kita sebagai Osis, diminta untuk mengatur kegiatan MPLS ini. Dan waktu MPLS adalah 3 hari. 1 hari perkenalan dan 2 hari buat acara "
Rendy menjeda ucapan nya sebentar. Ia meraih spidol, lalu menulis di papan tulis. IDE MPLS itu yang di tulis Rendy.
Rendy kembali menatap anggota Osis, sedangkan mereka yang ditatap. Memasang raut wajah datar, karena sedang serius memperhatikan Rendy.
" Disini gw, mau minta Ide lu pada buat MPLS nanti. Sebelumnya, Guru uda bilang ke gw. Selama MPLS, jangan ada namanya kekerasan, tapi kita sebagai Osis harus tegas. "
Vano mengangkat tanganya, Rendy mengangguk mengijinkan Vano untuk berbicara. Semua pasang mata, menatap Vano dan Rendy secara bergantian.
" Gimana caranya kita tegas,tapi ga berbuat kasar? itu agak mustahil buat gw " Ucap Vano.
Zion mengangkat tangan, setelah mendengar ucapan Vano. " Yaa Zion " Ujar Rendy, mengijinkan Zion untuk berpendapat.
" Bener ren kata Vano. Gini ya, misalnya ada peserta MPLS yang melanggar aturan, trus otamatis harus kita hukum kan. Masa kita hukum nya, dengan suruh nyanyi. itu terlalu gampang buat gw "
Fanda memgangkat tangan " Silakn fan " Ucap Rendy. Semua mata yang sebelumnya, memandang Zion, kini beralih menatap Fanda.
" Betul, menurut gw ini kurang adil. Inget ga waktu kita awal masuk, trus di MOS. kita yang ga bawa name tag, di suruh lari lapangan sebanyak tiga puluh putaran. Dan bahkan ada yang pingsan gara-gata itu. Kita ngerasain namanya pahitnya pas masa mos. masa mereka enggak. enak banget. Yaa walaupun, sekarang namanya MPLS bukan MOS, tapi tetap aja sama "
__ADS_1
Setelah Fanda menyelesaikan ucapannya itu, Rendy mengangguk paham " Nah, karena lu pada uda pernah ngerasain kerasnya pas waktu MOS. Masa kalian tega biarin, adik kelas kita ngerasain itu juga. Emang ga adil menurut kita, Dan masa kita bakal mengelakuin hal yang sama, seperti yang di lakuin kakak kelas kita dulu "
" Maksudnya ga berbuat kekerasan itu, bukan berarti kita ga boleh kasi hukuman seperti, jongkok bangun, push up, lari dal lain - lain. Kita boleh kasi hukuman seperti itu,tapi harus dalam batas wajar, misalnya larinya 5 putaran aja, trus jongkok bangun 20 kali aja. " Lanjut Rendy.
Semua Anggota Osis mengangguk paham,maksud dari penjelasan Rendy. " Sekarang gw butuh ide, untu MPLS nanti. Ada yang mau kasi pendapat atau saran? " Tanya Rendy
Grace mengangkata tangan, lalu berbicara setelah mendapat anggukan dari Rendy " Soal name tag, itu harus tetap ada. Karena itu mempermudah kita mengenal adik kelas kita nanti "
Rendy menulis masukan dari Grace, di papan tulis. Amelia mengangkat tangan. " Silakan mel " Ujar Rendy
" Total murid baru kelas X ny berapa oramg ren? " Tanya Amelia
" Kata kepala sekolah, total murid mya ada 242 murid "
" Nah itu kan 242 orang, bukan sedikit kan. Aku usulin, pecah mereka jadi perkelompok. Sekalian melatih kekompakkan mereka "
Christ mengangkat tangan, lalu berbicara " Gw setuju sama Amelia. Dan nanti, kalau salah satu dari anggota kelompok mereka berbuat salah, satu kelompok harus di hukum. Jadi mereka mau, gamau harus mengingatkan satu sama lain, dan membuang ego mereka "
Mereka yang mendengar pendapat Christ, langsung mengangguk Setuju. Windy mengangkat tangan, Rendy mengangguk mengijinkan Ia berbucara.
" Dulu pas di sekolah ku yang lama. Masa MOS yang paling mengesankan itu gamenya, jadi menurut ku. Namanya Game harus tetap ada "
Rendy kembalu menulis pendapat dari Amelia, Christ dan Windy di papan tulis. " Ada lagi? " Tanya Rendy
Tania mengangkat tangan " PBB harus tetap ada "
" Buset singkat, padat dan jelas " Celetuk Alex
Grisel mengangkat tangan, lalu membuka suara " Seperti waktu kita MOS. mereka harus minta tanda tangan Osis " Semua mengangguk setuju, akan pendalat Grisel. Karena itu merupakan hiburan tersendiri bagi Osis. Apalagi bila, kelasnya cantik atau ganteng. Bisa di modusin.
Rendy kembali menulis pendapat dari anggota OSIS. Semua anggota Osis hanya bisa, menunggu Rendy. Kecuali Windy sebagai Sekretaris, Ia sibuk menulis semua pendapat di buku osis buku.
Rendy selesai menulis, kini Ia kembali menatap Anggota Osis dengan raut wajah datar " Disini, gw uda nulis semua pendapat dan usul kalian. Jadi, dari semua pendapat ini. Ada yang ga kalian setujui ? " Tangan kanan Rendy menunjuk ke arah papan tulis. Semua Anggota Osis menggeleng tidak.
" Oke. Karena semua setuju, Gw bakal pakai semua pendapat dan usul kalian. Kita bahas satu - satu ya " Ucap Rendy Senyum.
" Hmm "
" Iyaa "
" Yaa "
" Yaa ya "
Itu jawaban dari Anggota - anggota Osis. Ada juga yang tidak menjawab, tetapi hanya mengangguk.
" Yang Pertama Name tag. Menurut lu pada, name tag harus berisi apa saja ? " Tanya Rendy.
" Nama "
" Tempat tanggal lahir "
" jurusan "
" foto muka "
" motto hidup "
__ADS_1
" Okee gw ambil semua masukan kalian. Jadi name tag, harus berisi nama, temlat tanggal lahir, jurusan, motto hidup dan foto " Rendy berbicara sambil menulis di papan tulis
" yang kedua Pembagian kelompok. Menurut kalian, jumlah yang terbagi harus, berapa banyak ? "
Kali ini ucapan Rendy, sama sekali tidak ada respon dari anggota Osis. " Gw bagi jadi 22 kelompok aja, dan setiap kelompok berisi 11 orang " Anggota Osis langsung mengangguk setuju
" Ketiga Game. Soal game, Gw serahin ke Zion, Liko , sama Grace yaa " Rendy melirik Zion , Liko, dan Grace secara bergantian. Sedangkan Yang mereka, yang dilirik mengangguk iya.
" keempat, PBB. Ini PBBnya kita satuin semua siswa aja yaa, trus nanti biar kita mencar. Ada yang di samping kanan, kiri, belakang sama depan " Rendy berbicara, sambil menggambarkan posisi PBB nanti
" Iya atur aja " Celetuk Christ
" kelima Tanda tangan osis dan Apresiasi. Ada yang berpendapat ? " Rendy menaik turunkan alis, menunggu jawaban para Anggota Osis
"Kalau mereka minta tangan, harus di kasi tantangan dulu. jangan langsung kasi, itu terlalu gampang " Seru Jonatan
" Yaps Setuju " Sahut Tania
" Iyaa bener " Balas Alex
" Iyaa tuh " Pekik Fanda
" Hmm, buat tanda tangan. Kita ikuti usul jonatan. Trus buat lu pada, yang ketahuan kasi tanda tangan secara cuma- cuma. Bakal gw hukum " Rendy terkekeh. sebagian anggota Osis menatap malas rendy.
" Trus buat apresiasi. Reza sama Fanda yang milih ya. Reza milih siswa trus fanda milih siswi. "
"Okee " Sahut Fanda
" Hmm " Reza berdehem
" Okee, Rapat selesai. Dan ingat buat panitia game, persiapkan gamenya yang seru. Kalian semua boleh bubar " Ucap Rendy senyum
Semua anggota osis bangkit berdiri, kecuali Windy masih sibuk menulis.
" Oh yaa, maaf buat tadi gw telat dan bikin lu pada nunggu lama, trus makasih jugaa atas kehadiran kalian semua " Seru Rendy
" Iyaa ren "
" Awas besok - besok lu telat lagi "
"jangan di ulang "
" Ketua osis harus jadi contoh "
" Gw pamit duluan "
"Cabut yokk "
" Duluann yaa "
" Byee ren, rez, win "
Anggota osis pergi meninggalkan ruang osis, satu per satu. Hingga kini hanya tersisa Windy, Reza dan Rendy di sana. Windy sibuk Menulis, mencatat semua hasil rapat hari ini. Reza duduk di samping Windy, menunggu Windy, dan Rendy berdiri di belakang Windy, memantau gadis tersebut menyelesaikan tugasnya.
BERSAMBUNG
Ps : Ehek. Haiii, pa kabar leaders?
__ADS_1