
-----------------HAPPY READING---------------
Hari ini Windy dan Reza akan pergi bersama, untuk menonton film di bioskop. Jam menunjukkan pukul sebelas . Mereka akan berangkat menuju bioskop pada pukul satu , tetapi Reza sudah sibuk memilih baju apa yang akan Ia pakai nanti.
Kamar Reza sudah terlihat seperti kapal pecah, karena Reza yang membuang semua baju secara sembarangan, Saat Ia sudah mencoba baju tersebut. Sampai sekarang, Reza masih belum juga menemukan baju yang cocok. Cocok ? padahal baju apa saja yang di pakai Reza. Dirinya akan tetap terlihat tampan.
Reza mengacak - acak rambut, Ia berdecak pinggang. Dirinya yang hanya memakai celana panjang berwarna hitam. Kini berdiri menatap lemari bajunya yang sudah kosong. Kosong, karena semua baju sudah Ia coba satu per satu. Reza merebahkan diri ke atas kasur, lalu menarik nafas dan membuangnya. " Baru kali ini, gw bingung mau pakai baju apa " Batin Reza
" Yaa ampun den Reza, kamarnya habis kemalingan ? " Tanya Bibi. Ia berdiri di ambang pintu, melirik sekeliling kamar Reza heran
Reza menoleh ke asal sumber suara " Ga bi. Reza tadi abis cobain baju "
Bibi melangkah mendekati Reza, lalu berdiri di depan Reza " Cobain baju ?emang ada acara apa den ? "
" Reza mau pergi nonton bi, sama teman " Reza mengubah posisinya menjadi duduk
Bibi menatap Reza curiga " Temannya Cewe den ? " Reza mengangguk iya
" Den Reza ada rasa sama Dia ? "
Reza mengerutkan pelipis bingung, saat mendengar pertanyaan tersebut " Kok bibi bisa tau ? " Nada bicara Reza meninggi
Bibi terkekeh " Den Reza sudah besar toh. Yauda bibi balik kerja lagi ya " Perempuan paruh baya itu melangkah keluar dari kamar Reza, terlihat senyuman bahagia menghiasi wajah keriput itu.
" Bibi " Seru Reza. Matanya menatap kepergian perempuan paruh baya itu. Sedangkan yang di panggil, tetap melangkah pergi tampa menghiraukan Reza
Reza menatap setiap sudut kamarnya, Ia menghelai nafas berat saat melihat semua bajunya berserakan di lantai. Reza bangkit dari duduknya. Ia melangkah lalu meraih beberapa pakaian, tak lupa mencoba ulang pakaian tersebut.
Reza berdiri di depan cermin besar. Dirinya sudah memakai kaos berwarna putih polos, celana jeans hitam, serta jaket levis berwarna hitam. Ia menyisir rambutnya dengan jari - jari tangan. " No bad. ini aja deh " Ucap Reza senyum, saat melihat dirinya di kaca.
🌤🌤🌤🌤
Windy terlihat sibuk mengikat rambutnya, di depan Cermin . Tok.. tok.. Suara ketokan pintu, membuat Windy menghentikan aktivitasnya. Windy melangkah ke arah pintu kamar lalu membuka pintu tersebut.
" Kenapa pintu nya di kunci nak ? " Tanya Bunda. Orang yang baru saja mengetok pintu kamar Windy
Windy tersenyum " Tadi windy lagi pakai baju bun, makanya dikunci "
" Kamu yaa. Teman kamu uda di depan rumah, nungguin tuh. Kalau ga salah dia bilang namanya Reza "
" kenapa Bunda va suruh masuk aja ? " Windy mengerutkan pelipis bingung
" Dia gamau, uda sana cepat keluar "
" Iya bun. Windy pamit pergi ya bun" Windy menyalimi tangan Bunda.
Bunda mengelus lembut ubun kepala Windy " kalau uda jadi pacar, bilang bunda " Bunda tertawa kecil, menatap wajah putrinya itu
" Ish apaan sih bun. Windy pergi bun, dah " Windy memeluk Bunda sebentar, lalu melangkah pergi menemui Reza yang sudah menunggu sejak tadi. Sedangkan Bunda berjalan ke dapur, untuk melanjutkan kegiatan nya membuat kue.
☁️☁️☁️☁️
Windy berjalan keluar, melewati pintu pagar yang sudah terbuka. Lalu Ia menutup pintu pagar tersebut. Saat pintu pagar sudah tertutup, Windy langsung memutar badanya 180° dan menatap Reza.
" Maaf lama ya rez? " Tanya Windy senyum
" Lumayan " Reza berjalan ke tempat, dimana motornya terpakir. Windy mengikuti Reza dari belakang
" Ehh ngomong - ngomong baju kita samaan nih warna putih " Ucap Windy senyum.
" Bagus deh " Reza menaiki dan menyalakan motornya
" Eh " Windy bingung
" Nih helm nya Win " Reza memberikan helm berwarna hitam kepada Windy.
" Makasih " Windy menerima helm tersebut, lalu memakainya. Setelah helm sudah terpakai, Windy segera manaiki motor tersebut, tidak lupa Ia memegang pundak Reza, untuk mempermudah dirinya naik ke atas motor gede itu. Sedangkan pemilik pundak, hanya bisa tersenyum.
" Uda ? " Reza melirik Windy dari kaca Spion
" Udah " Windy mengangguk yakin. Windy menutupi kedua pahanya dengan jaket yang Ia bawa.
" Pegangan " Pinta Reza. Windy memegang jaket Reza.
" Ya bener, lu mau jatuh ? " Ulang Pinta Reza. Windy memasang raut wajah bingung, lalu Ia memegang kaos Reza.
Reza berdecak kesal. Reza meraih kedua tangan Windy, kemudian Ia meletakkan kedua telapak tangan Windy, tepat pada perut datar miliknya. Sehingga membuat Windy memeluk pinggang Reza. Reza tersenyum puas, Sedang Windy memasang raut wajah terkejut.
Reza segera menlajukan motornya, meninggalkan perkalangan rumah Windy. Windy yang duduk di belakang motor, sambil memeluk pinggang Reza. Merasa canggung karena posisi tangan nya itu.
Telapak tangan Windy memencet perut datar Reza. " " " perut Reza kok ga ada lemaknya, bikin iri aja. Gw aja cewe masih punya lipatan lemak perut " Batin Windy
" Lu kira perut gw squishi ? " Seru Reza, berusaha mengalahkan suara angin.
Windy hanya cengegesan dan tidak menjawab sepata kata pun. Ia menunduk malu. Sedangkan Reza berusaha menahan tawa, saat melihat wajah Windy yang memerah karena malu, melalui kaca spion.
☁️☁️☁️☁️
__ADS_1
Windy dan Reza tiba di Bioskop, yang terletak di salah satu mall. Windy menduduki diri di kursi sambil memaikan ponsel, Ia menunggu Reza yang sedang pergi membeli tiket untuk mereka berdua.
Windy yang duduk sendirian, membuat beberapa cowo disekitarnya, terus melirik ke arah Windy. Tidak hanya melirik, bahkan sudah ada dua orang cowo yang menghampiri Windy, dan meminta nomor telepon. Tentu saja tidak memberikan nomor teleponya, kepada orang yang tidak Ia kenal. Dan itu membuat Windy di anggap sombong.
Reza yang sudah mendapatkan tiket, lalu pergi membeli minuman dan popcorn. Setelah satu toples besar popcorn dan dua minuman suda berada di tangannya, Reza langsung berjalan menghampiri Windy yang sedang duduk.
" Nih buat lu " Reza suda berdiri di hadapan Windy, Ia menyerahkan minuman dan popcorn kepada Windy.
Windy bangkit berdiri " Eh ku kan mesan "
" Gw traktir " Reza tersenyum datar
" Ga deh rez, ku gamau " Windy menolak, karena Ia teringat ucapan Bunda. Untuk menolak dibayari makanan, oleh teman yang masih bersekolah.
" Yauda gw buang, kalau lu gamau " Ancam Reza
" Eh jangan, iya ku mau " Windy terpaksah menerima minuman dan popcorn tersebut. Reza tersenyum puas
" Yuk masuk, sepuluh menit lagi film nya mulai " Reza berjalan ke pintu bioskop, diikuti Windy
Reza menyerahkan dua kertas tiket kepada petugas bioskop, yang berdiri di samping pintu bioskop. Reza dan Windy memasuki ruang bioskop, lalu mereka berjalan ke tempat duduk yang sudah Reza pesan . Karena film yang akan ditonton oleh Windy dan Reza adalah film romantis, sehingga membuat mereka mudah menemukan banyak pasangan di dalam sana.
Sebelumnya Reza ingin menonton film horor, tetapi Windy tidak berani lalu menolak. Dan terpaksah Reza mengikuti kenginan Windy menonton film romantis.
" Reza " Bisik Windy yang duduk di sebelah kanan Reza
" Hmm " Reza yang tadinya menatap layar bioskop, langsung menoleh ke arah Windy
" Ini ganti duit tiketnya " Windy menyerahkan uang lima puluh ribu kepada Reza.
" Ga usah. Gw yang ajak lu nonton, jadi biar gw yang bayarin " Reza tersenyum tulus
" Ga mau Reza, Kamu kan uda beliin aku popcorn sama minuman. Masa sekarang tiket juga di bayarin " Sekarang Windy benar - benar merasa tidak enak hati, karena Reza tidak ingin menerima uang nya itu.
Reza menggelengkan kepala " Gw juga ga mau ambil duit lu "
" Yauda kalau kamu ga mau nerima duitnya, tapi nanti pas makan. Aku yang bayarin ya " Windy menatap datar Reza
" Iya " Reza menjawab singkat. Windy mendengar jawaban Reza, tersenyum puas
Gw uda nonton sendiran. Trus sekarang, samping gw malah mesra -mesraan hiks Batin salah seorang cewe, yang duduk di samping kanan Windy.
Tidak heran bila orang lain mengira Reza dan Windy adalah pasangan. Karena style yang di pakai Windy dan Reza itu sama. Sama - sama memakai baju putih dan bawahan hitam, bahkan jaket mereka juga sama berwarna hita. Mereka tidak janjian memakai style yang sama, semua kebetulan. Kebetulan yang sangat aneh.
⛅⛅⛅⛅
Film sudah di mulai, Windy dan Reza terlihat serius menikmati film nya. Berbeda dengan pasangan yang duduk di barisan paling belakang, mereka malah memilih bermesraan dari pada menonton film.
Reza mulai kehilangan focusnya. Reza melirik ke arah Windy. Cantik Pikir Reza
Hari ini memang lebih cantik dari biasanya, karena Windy sedikit menghias diri. Walau ruang bioskop gelap, wajah Windy tetap bisa terlihat jelas, karena pantulan cahaya dari layar bioskop.
Reza menggeleng untuk menyadarkan dirinya, sebelum Windy sadar bahwa Ia di tatap oleh Reza sejak tadi. Reza kembali menonton film dengan serius.
☁️☁️☁️☁️
Film sudah selesai dan lampu ruang bioskop, kembali di hidupkan. Windy dan Reza berajak dari duduknya lalu keluar dari ruang bioskop. Tangan Reza menggenggam tangan Windy, saat keluar. Entar lu hilang, soalnya ramai Itu alasan yang digunakan Reza, saat hendak menggenggam tangan Windy. Alasan tersebut dapat diterima baik oleh Windy, karena memang saat Film sudah selesai, semua orang berdesak - desakan saat keluar dari ruang bioskop.
Kini Windy dan Reza sudah berhasil keluar dari ruang bioskop, tetapi tangan Windy masih di genggam oleh Reza. Cewe - cewe yang lewat di depan mereka, menatap iri Windy. Iri karena, yang menggenggam Windy adalah cowo tampan, keturunan bule.
Reza memang keturunan bule, karena Ansel Wagner Ayah Reza adalah orang Jerman. Ibu dan Ayah Reza adalah teman kampus, mereka tidak pernah berpacaran. Tetapi saat mereka lulus. Ansel yang sudah bekerja di perusahaan ortunya, langsung nekad melamar Evi. Lalu Evi yang sudah mengenal Ansel, langsung menerima lamaran tersebut tampa ragu.
Sekarang Ansel sudah menjadi penerus perusahaan ortunya, dan Evi membantu Ansel dalam mengelolah perusahaan tersebut. karena kesibukan mereka berdua, Kadang membuat Reza merasakan kesepian.
" Reza " panggil Windy
" hmm "
" Itu tangan nya "
Reza paham apa yang di maksud Windy, Segera Reza melepaskan tangan Windy.
" Ayo makan " Windy mendorong punggung Reza dari belakang. Mereka berdua keluar dari tempat bioskop, Windy melepaskan tangganya dari punggung Reza.
" Kok berhenti dorong nya ? " Tanya Reza sambil terkekeh menatap Windy, yang terlihat kesal
" Berat Reza, Cape tau " Keluh Windy
" Lagian ga ada tenaga, sok - sok an mau dorong orang " Reza tertawa kecil
" Uda ah, ayo ketempat makan. Uda laper nih "
Reza mencupit pelan hidung mancung Windy sebentar. Lalu Ia berjalan ke tempat makan. Sedangkan si pemilik hidup, terdiam di tempat, sibuk menyetuh hidungnya yang baru saja di cupit Reza.
" Katanya uda lapar " Seru Reza, yang berada jauh di depan Windy.
Windy tersadar dari lamunan nya, segera Ia berlari mengejar Reza. Sekarang mereka berjalan beriringan menuju tempat makan.
__ADS_1
☁️☁️☁️☁️
Wundy dan Reza sampai di tempat makan, cepat saji yang berada di dalam mall,lalu mengantri bersama untuk memesan makanan.
Mereka sudah selesai memesan, dan sekarang sedang menunggu makanan tersebut datang. Sekitar lima menit, Pesanan Windy dan Reza sudah selesai di siapkan. Mereka berjalan ke kasir untuk membayar.
" Semuanya jadi seratus delapan ribu " Ucap mbak kasir
Windy kesusahan mengambil dompetnya di tas, karena Ia membawa makanan di nampan. Reza menyerahkan uang seratus lima pulus ribu kepada kasir, Lalu mbak kasir menerima uang rersebut. Tidak lula kasir membelikan struk dan uang kembalian keoada Reza.
Reza berjalan ke tempat duduk, diikuti Windy di belakang. Windy menarok nampan ke atas meja. Windy dan Reza duduk berhadapan. Windy meraih uang seratus sepuluh ribu dari dompet,lalu di serahkan uang tersebut kelada Reza.
" Ini reza " Ucap Windy senyum
" Gausah " Reza mengambil makanan dan minuman nya di atas nampan
" Kan Aku uda bilang. Aku yang bayarin " Windy mendesis kesal
" Simpan tuh duit,atau gw cium sekarang " Reza tersenyum licik
" Ambil Reza " Windy masih berusaha memberikan uang tersebut
" Gw hitung sampai tiga,kalau lu belum juga simpan tuh duit. Gw langsung cium " Reza terlihat bahagia, saat melihat Windy yang berusaha tenang
Windy masih belum menyimpan uang tersebut, kedua mata Windy menatap wajah Reza.
" Satu " Windy menelan salivanya
" Dua " Jantung Windy sudah berdetak cepat, karena takut. Wajah Reza sudah mulai mendekat ke arah wajah Windy
" Ti__ " Ucapan Reza terpotong, saat melihat Windy yang segera memasukkan uangnya kembali ke dalam tas secara buru - buru
Reza terkekeh. Windy mengambil makanan dan minuman nya, sambil memasang wajah kesal.
" Gaudah sok ngambek , gw ga bakal bujuk lu " Ucapan Reza berhasil membuat Windy semakin kesal
" aku juga ga butuh di bujuk " Windy berdecak kesal
Reza mencubit hidung windy sebentar untuk kedua kalinya " Anggap aja ini ucapan terima kasih dari gw, gara - gara lu uda buat hubungan gw sama ibu gw membaik " Reza tersenyum tulus
Windy menghelai nafas berat " Terserah " Windy berusaha menahan senyum sambil menyatap makanan nya
Dasar cewe cepat banget berubah nya batin Reza. Reza menatap Windy gemas, kemudian ikut menyatap makanan nya.
🌚🌚🌚🌚
Langit sudah gelap, Windy dan Reza baru sampai di rumah mereka masing -masing. Windy berjalan masuk kekamar, dan lasngsung merebahkan diri ke atas kasur.
Seru juga pergi sama Reza pikir Windy
Reza berjalan melewati ruang keluarga. " Dari mana kamu Reza? " Tanya Evi yang sedang menonton televisi
" Habis pergi nonton sama Windy ma " Reza berjalan menghampiri Evi, lalu duduk di samping ibunya
" Windy? cewe yang pernah kesini ? "
Reza mengangguk pelan, Evi tersenyum " Kalian uda pacaran ? "
" Belum ma "
" Belum? " Evi menatap bingung Reza
" Reza suka sama Windy, tapi Kita belum pacaran. Reza juga gatau perasaan Windy ke Reza gimana "
Evi mengelus kepala Reza sayang " Kamu kalau suka sama dia, langsung bilang ke orang nya. Nanti keburu di ambil orang, apalagi cewe cantik kayak Windy. Pasti banyak yang naksir "
" Tapi papa sama mama aja ga pernah tuh pacaran, dan sekarang malah uda nikah " ucap Reza dengan raut wajah datar
Evi terkekeh " Itu beda sayang "
" Beda gimana " Reza bingung, mendengar jawaban evi
" Waktu itu, mama uda tahu perasaan papa kamu. Trus papa kamu juga uda tahu perasaan mama. Kita saling cinta,tapi kita ga pacaran "
" Yaauda, Reza ga bakal kasi tau perasaan Reza ke Windy. Sebelum Reza tau Perasaan Windy ke Reza gimana "
Evi menatap heran putranya itu. Benar - benae mirip sama kamu nsel Batin Evi
" Mama uda kasi nasihat ke kamu, kalau nanti Windy di ambil orang, kamu jangan nangis aja " Celetuk evi
" Reza yakin, Reza bisa dapetin Windy ma. Reza mau ke kamar dulu " Reza bangkit berdiri, lalu berjalan menaiki anak tangga. Evi tersenyum kecil, lalu kembali menonton televisi, saat Reza sudah pergi.
style Windy, waktu pergi nonton sama Reza.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Ps : Makasih uda setia baca novel ini^^