
Matahari sudah terbenam, langit sudah terlihat mulai gelap. tetapi Windy, Reza, Angela, dan Rendy masih berada di pepustakaan sekolah. Mereka sendang sibuk belajar bersama untuk persiapan ujian sekolah yang akan diadakan lima hari lagi.
Bruk. Dengan kasar Windy meletakkan pensilnya ke atas meja. Wajah gadis itu terlihat frustasi dan kesal. "Ihh, kok ga ketemu sih hasil nya," gerutu Windy, sembari mngacak-acak rambut.
"Windy, kamu kenapa sih?" tanya Angela, heran.
"Iya Win. lu kenapa sampai, banting pensil segala?" ujar Rendy, yang duduk di sebelah Angela.
Reza yang duduk di sebelah Windy, tidak ikut bertanya. Karena kedua telinganya menggunakan earphones, ia sedang mendengarkan lagu sambil belajar.
"Dari tadi aku ngerjain soal matematika. Uda empat kali aku coba, tapi gak ketemu hasilnya." Windy memegang erat kertas berisi soal matematika itu.
"Ya ampun ... gara-gara itu toh, kirain kamu kenapa," tutur Angela, terkekeh menatap Windy.
"kamu bisa bantuin aku, Ngel? " tanya Windy, berharap.
"kamu kan tau sendiri, Win. Kalau aku gak bisa matematika." Angela tertawa kecil.
"kamu Ren? Bisa bantuin aku gak?" Pandangan Windy, kini berpindah ke cowok yang duduk di sebelah Angela.
"Maaf Nih, Win. Nilai matematika gw aja
pas-pasan, jadi gak bisa bantuin lu. Tapi keknya orang yang duduk di sebelah lu bisa bantuin lu deh," ucap Rendy, serata tersenyum melirik ke arag Reza yang duduk di hadapannya.
"Ehm ... Reza? serius kamu, Ren," bisik Windy, sambil menunjuk Reza.
Reza yang menyadari bahwa dirinya sedang di tunjuk oleh Windy, tiba-tiba langsung melepaskan earphone dari telinganya dan memandang ke arah Rendy dengan raut wajah yang datar.
"Iya Reza, Win," ujar Rendy, diiringi anggukan kepala.
"Kenapa?" tanya Reza, seraya mengerutkan pelipis bingung.
"Reza, ini si Windy. Dari tadi coba kerjain soal matematika sampai empat kali, tapi dia gak nemu hasilnya. Lu mau bantu ajarin dia gak?" celetuk Rendy.
"Iya tuh Rez .... tolong ajarin Windy dong. Kasian dia sampai stres gitu, gara-gara ngerjain satu soal mat doang," tambah Angela, sambil menunjuk kerta yang di pegang Windy.
Reza menjulurkan tangannya tepat di depan wajah Windy. "Sini, lihat soalnya!"
__ADS_1
"Nih, soal nomor dua ya," ucap Windy, sembari memberikan kertas soal miliknya itu.
"Payah," ledek Reza.
Windy memutar bola mata, malas. "Kalau kamu gak niat bantuin dan cuman mau ngatain doang, mending balikin kertasnya sini!" dumel Windy, sambil menatap dongkol Reza.
"Becanda, gak usa baper. Lu geseran sini! Gw ajarin," balas Reza datar, lalu tangan cowok itu bergerak menarik kursi yang di duduki oleh Windy.
"Aduh ... duh ... bentar! Aku berdiri dulu." Windy mencoba menahan kursi yang sedang ia duduki itu.
"Kelamaan." Dengan menambah sedikit tenaganya, Reza berhasil menarik kursi Windy mendekat ke kursinya.
"Rese, ih!" Dengan wajah di tekuk, Windy menatap jengkel Reza.
Rendy dan Angela yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Reza dan Windy, memilih untuk diam saja. Mereka berdua saling melontarkan pandang penuh tanya.
"Gw mau jelasin, perhatiin baik-baik!" Reza mulai mengajari Windy, dan gadis itu terlihat serius memperhatihan serta mendengarkan apa yang di ajarkan Reza.
Lima menit berlalu, wajah datar Windy kini berubah menjadi senyum. Ia terlihat bahagia, saat otaknya berhasil mencerna apa yang di ajarkan Reza.
"Oh ... jadi gitu caranya, pantes aja aku gak nemu-nemu hasilnya. Makaih Reza," pekik Windy, senyum.
"Iya Rez, lu cocok jadi guru privatnya Windy," tambah Rendy, ikut terkekeh.
"Gak minat," balas Reza, yang kemudian kembali memasang earphonnya ke telinga.
"Ish," desis Windy, jengel.
✺ ✺ ✺ ✺
"Uda jam tujuh lewat nih, pulang yuk!" ajak Angela, seraya membereskan barang-barangnya dari meja pepustakaan.
"Woi Reza! Bangun! Uda pada mau pulang nih!"
seru Rendy, sambil menepok-nepok pundak Reza.
Reza membuka kedua matanya, mengangkat kepalanya, lalu melepaskan earphone pada kedua telinganya.
__ADS_1
"Win, maaf yaa ... aku gak bisa pulang sama kamu. Soalnya uda janji sama Rendy buat pulang bareng dia naik motor," tutur Angela.
"Iya Ngel. Gapapa," jawab Windy, senyum.
"Reza, tolong lu pulang bareng Windy ya! sekalian anterin dia, kan ga bagus malam-malam cewek pulang sendirian," pinta Rendy, terkekeh.
"Ya," balas Reza, datar.
"Ayo Ngel, pulang! Duluan ya ... Rez, Win," seru Rendy, sambil melangkah meninggalkan Reza dan Windy yang masih berada di pepustakaan.
"Bye Windy, Reza," teriak Angela, sembari melambaikan tangan.
"Hati-hati!" balas Windy, berteriak. Kedua tangan gadis itu, sibuk menyimpan buku-bukunya ke dalam tas.
"Uda belum? Gw juga uda mau pulang nih," celetuk Reza, yang berdiri tepat di sebelah Windy.
"Uda nih, yuk pulang!" Windy menggendong tasnya, lalu mengkah keluar dari pepuskaan.
"Kok gw ditinggal?" Dengan langkah cepat, Rendy menyusul Windu yang sudah berada jauh di depannya.
✺ ✺ ✺ ✺
" Itu Reza sama Windy, gapapa tuh di tinggal pulang berdua, Ren? " tanya Angela, yang sedang berdiri mentap Rendy mengeluarkan motor dari area pakiran.
"Iya gapapa, kan mau bantuin Windy. Biar Reza gak bolos lagi," balas Rendy, yang terlihat mulai menyalakan mesin motornya.
"Hmm ... Yauda deh," balas Angela, senyum.
"Ayo, naik Ngel!" pinta Rendy, senyum.
"Iya." Dengan cepat Angela bergerak, nain ke atas motor Rendy.
"Udah?" tanya Rendy, memastikan.
"Uda, Ren," jawab Angela, diiringin anggukan pelan.
"Oke, pegangan Ngel!" Segera Rendy melajuka motornya dengan cepat.
__ADS_1
Bersambung → → → →