
Sekarang jam menunjukkan tepat pukul enam lewat lima menit. Seperti pagi-pagi sebelumnya, Ana_Ibunda windy yang baru selesai menyiapkan sarapan. Kini ia berjalan menuju ke kamar putrinya untuk membangunkan kedua putrinya, yang masih tertidur nyenyak di atas kasur singer mereka masing-masing.
"Windy! Lita! Bangun!" Ana bergerak membuka horden jendela, agar cahaya matahari dapat masuk ke dalam kamar putrinya.
"Hoam. Bangun pagi lagi ... sekolah lagi ... belajar lagi ..." Windy mengucek matanya pelan.
"Jangan ngeluh terus Windy, kamu tuh masih muda harus menikmati masa sekolah kamu dengan baik. Lagian kamu juga bisa cari cowok di sekolah, Bunda dukung kok ... selagi cowok itu membawa pengaruh positif untuk kamu," tutur Ana.
"Bunda ... Windy gak tertarik tuh sama yang namanya pacaran," balas Windy.
"Bunda gatau yaa, kakak itu ga laku tau!
cowok-cowok yang baru liat dia, uda kabur duluan karena takut," cerocos Lita. Ia baru bangun dari tidur dan ucapannya langsung berhasil membuat Windy jengkel.
"Ihh apaan sih bocah, ikut campur aja!" Windy menoyor pelan kepala Lita
"Aishh sakit kak, Bunda ... kakak jahat," keluh Lita dramatis.
"Orang pelan, lebay ih dek." Windy menatap Lita malas.
"Lita ... kamu jangan godain kakak kamu mulu. Sana kalian mandi, nanti malah telat lagi." Bunda berjalan keluar dari kamar putrinya.
"Dasar kakak galak!" Lita melompat dari kasur dan berlari cepat menyusul Ana.
"Adek siapa sih? nyebelin banget, " Windy menarik selimutnya dan kembali tertidur.
Lima menit berlalu, Bunda kembali mengecek kamar putrinya. Karena ia merasa heran, mengapa Windy sejak tadi tidak keluar dari kamar.
"Ya ... ampun, Windy ayo cepat bangun!" seru Ana.
"Iya ... iya ... Bunda." Windy segera bangun dari kasur dan berjalan keluar kamar, tidak lupa ia handuk.
✺ ✺ ✺ ✺
Windy dan Lita telah siap. Seragam yang rapi sudah melekat pada tubuh mereka dan sekarang mereka duduk bersama Ana di meja makan untuk menyatap sarapan sebelun berakat sekolah.
"Bunda masak apa?" tanya Windy, penasaran.
"Cumi goreng sama sup kentang, sini piringnya bunda ambilkan nasi buat kamu." Ana meraih piring dari tangan Windh.
"Ihh kakak manja banget, gak bisa ambil nasi sendiri ya?" Lita melirik Windy sembari terkekeh.
"Sirik aja kemu dek," celetuk Windy, jengkel.
"Ini Lita senang banget godain kakaknya." Ana menghelai napas berat, melihat tingkah putri bungsunya itu.
Lita cengengesan menatap Ana. "Ampun bunda."
"Ini Windy,"-Ana menyerah sepiring nasi kepada Windy-"Lita, sini piring kamu!"
"Ini Bunda Cantik mengalahkan bidadari." Lita menyerahkan piring kosong kepada Ana.
"Kenapa punya adik satu-satunya, malah lebay sih," batin Windy.
✺ ✺ ✺ ✺
"Bunda, Windy uda selesai sarapan nya, windy berangkat dulu yaa." Tubuh Windy hendak berdiri untuk pergi memakai sepatu.
"Bentar windy, tungguin Lita dulu!" pinta Ana.
"Kebiasaan kan kalau makan suka lama," celetuk Windy jengkel.
"Ini namanya menikmati makanan kak," Lita langsung buru-buru menyelesaikan sarapannya.
"Cepetan! nanti malah telat." Dengan menggendong tas ransel, Windy berjalan meninggalkan ruang dapur.
"Ini uda kak! Bunda Lita pergi ya," Lita segera bangkit dari kursi, lalu berjalan cepat mengejar Windy.
"Iya, hati-hati," ujar Ana.
✺ ✺ ✺ ✺
__ADS_1
Tepat pada pukul enam lewat lima pulu menit, Windy dan Lita baru tiba di sekolah. Windy yang sudah berdiri di depan kelas pun membuka pintu dan masuk ke dalam ruang kelas. Suasana kelas ramai dan berisik seperti kemarin. Dan kebisingan tersebut sudah terbiasa di dengar oleh telinga gadis itu.
"Hai, pagi ngel." Windy meletakkan tasnya di atas meja, kemudian duduk.
"Pagi juga win." Angela mengamati raut wajah Windy yang terlihat sedikit kesal.
"Kok wajah mu masem gitu?" tanya Angela, heran.
"Biasa ... di isengin adek aku, tadi pagi," balas Windy, tidak bersemangat.
"Lucu banget adek Kamu, pasti rumah kam jadi ramai, gara-gara ada dia." Angela terkekeh sembari menompang dagu dengan tangannya.
"Apaan ... malah naik darah aku setiap pagi," ujar Windy, kesal.
"Oh yaa ... lupa." Angela mengambil coklat dari kolong mejanya dan coklat tersebut kepada Windy.
"Nih buat kamu," lanjut Angela, senyum.
Windy tersenyum lalu menerima coklat tersebut. "Makasih loh Ngel!"
Angela memutar kedua bola matanya, malas. "Bukan dari aku."
" Terus dari siapa dong? kalau bukan dari kamu," tanya Windy, bingung.
"Dari kakak kelas XII IPS, namanya Fernando," jawab Angela.
"Siapa tuh? Kok aku gak kenal." Windy terlihat berpikir.
"Iya emang kamu gak kenal dia, tapi kata kak Fernando 'dia kenal kamu', nanti deh kapan-kapan aku kasi tau orangnya yang mana kalau ketemu," tutur Angela.
"Oke deh." Windy mengancungkan satu jempol kepada Angela.
Windy melirik kursi sebelahnya kanannya, yang tak terisi. "ngomong-ngomong si Reza di belakang sekolah lagi?"
"Iya, Ciee ... nyariin," goda Angela.
"Apaan sih ... bukan nyariin tapi kasian aku kasian sama ortunya yang uda bayar uang sekolah dia. Tapi dianya malah bolos setiap jam pelajaran pertama," terang windy, panjang lebar.
"Ga bakal," ketus Windy.
"Dasar ... Tsudenre," tutur Angela, terkekeh.
"Apaan itu Tsundere?" Windy tampak bingung, mendengr kata yang asing di telinganya.
"Tsundere itu orang yang dalam hatinya suka, tapi malah pura-pura bersikap cuek," jelas Angela.
Windy menggeleng, seraya bterdecak pelan. "Bahasa dari mana lagi ...."
✺ ✺ ✺ ✺
Jam menunjukkan pukul tujuh pagi.Bel masuk baru saja berbunyi, sehingga membuat Guru melangkah ke kelas untuk mengajar.
Ruang kelas yang sebelumnya ramai dan berisik bagaikan di pasar, sekejap menjadi sunyi seperti di kuburan. Hal itu terjadi karena semua murid di kelas melihat Guru sudah berada di ambang pintung.
"Siap beri salam!" seru cowok manis berkaca mata, yang menjabat sebakai ketu kelas. Nama cowok tersebut adalah Felix Isky.
Saat mendengar teriakan dari sang Ketua kelas, serentak semua murid berseru. "Selamat pagi Pak ...."
"Pagi, silakan kalian duduk, dan buka bukunya halaman 43." ujar Pak samat, Guru yang dikenal killer di SMA Cendrawasih.
Di tengah aktivitas Pak samat mengajar, murid-murid berusaha menahan kantuk. Namanya juga belajar matematika. Emang suka bikin orang ngantuk, apalagi kalau gak ngerti sama sekali. Lihat saja sekarang beberapa murid ada yang bersembunyi di balik badan temannya untuk tidur, bahkan ada yang menggunakan buku menutup wajahnya yang sedang tertidur, hingga terlihat sepertu sedang membaca buku.
"Hoam ...." Suara menguap yang sangat keras terdengar oleh telinga Pak Samat dan juga murid-murid di kelas.
"Siapa yang menguap sangat keras di kelas, apa orang yang menguap barusan itu tidak tahu, kalau Pak Samat adalah guru killer yang ditakuti oleh setuap murid," pikir murid-murid yang mendengar suara menguap tersebut.
"Siapa yang menguap?" tanya Pak Samat, lantang.
wajah Pak Samat tidak terlihat marah, tapi terlihat serius. pak Samat itu selain killer dia juga usil. Usil dalam memberikan hukuman kepada setiap muridnya. pernah seorang murid telat masuk jam pelajarannya dan Pak Samat meminta murid tersebut, untuk kuda-kuda di depan kelas sampai Ia selesai mengajar.
"Aduh win ... kenapa nguapnya pas di jam pelajaran Guru killer sih?" bisik Angela, panik.
__ADS_1
"Kalau tidak ada yang mengaku, satu kelas saya hukum lari lapangan sebanyak 20 kali! " Pak Samat melirik setiap murid, yang mulai panik.
"Siapa tuh ... ngaku dong," ucap Felix, seakan memohon.
"Cepetan jujur," geram gadis bertubuh gemuk.
"Jangan jadi pengucut," sindir seorang gadis yang duduk di depan Windy.
"Lari nya sih gak seberapa ... malunya cuy, apalagi kalau dia liat kakel cantik," ungkap seorang cowok bermata sipit.
Windy merasa dipojokkan, segala sindirian dan permohonan tak henti-henti keluar dari mulut teman-teman sekelasnya. Windy menghelai napas pelan, lalu mengangkat tangan takut-takut. "Sa_ saya Pak."
Pak Samat melirik ke arah Windy, lalu menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Karena kamu menguap sewaktu saya mengajar, kamu harus mendapat sanksi. Dan karena kamu anak , kamu saya hukum untuk membujuk Reza agar tidak membolos di jam pelajaran pertama lagi!"
Windy takut. Dia tidak berani menolak, ia hanya bisa pasrah lalu mengangguk pelan. "Iya Pak."
"Saya tunggu kabar baiknya." Pak Samat kembali menulis di papan tulis, untuk menerangkan materi kepada muridnya.
"Kamu dikerjan tuh ama Pak Samat" bisik Angela, Terkekeh palan.
Kedua mata Windy membulat. " Serius?"
"Iya." Angela menutup mulutnya dengan tangan, agar suara kekehannya yang semakin keras tidak terdengar.
"Gimana coba aku bisa bujuk si Reza," gumam Windy, frustasi.
✺ ✺ ✺ ✺
Waktu istirahat yang di nantikan oleh semua murid pun tiba, guru yang mengajar di kelas baru saja beranjak pergi meninggalkan kelas. Para murid langsung buru-buru keluar kelas menuju kantin untuk membeli makanan, berkumpul betrsama teman, atau melihat gebetan.
Angela teman sebangku Windy hendak bangkit berdiri. "Ke kantin gak Win?"
"Gak deh ngel, aku mau ke belakang sekolah buat samperin Reza," ujar Windy.
"Cielah ... yauda. aku duluan ya win." Setelah mendapat anggukan dari Windy, Angela pun berjalan keluar kelas.
"Harus cepat nih , nanti keburu masuk" Windy dengan semangat bangkit dari kursi dan berjalan cepat keluar sari kelas yang sudah sunyi.
"Aduh ..." Windy terlalu fokus memikirkan cara untuk membujuk Reza, hingga membuat dirinya menabrak orang lain.
" Maaf ... maaf ... gak sengaja," ucap Windy, panik.
Orang yang ditabrak Windy adalah cowok dan cowok itu mengenal Windy begitu juga sebaliknya.
"Lahh Windy? Mau kemana?" celetuk Rendy, heboh. Ya, orang itu adalah Rendy Lono. Cowok tampan yang memiliki senyum manis.
"Mau ke belakang sekolah Ren" jawab Windy, lembut.
"Sama dong! Bareng aja yuk!" ajak Rendy.
"Yauda deh Ren, yuk!" Windy dan Rendy mulai berjalan secara beriringan, menuju tempat yang ingin mereka kujungin. Kurang dari lima menit, mereka berdua pun tiba dan berhenti dibelakang sekolah.
"Aku mau nyamperin anak cowok kelas ku dulu ya." Windy meninggalkan Rendy dibelakang.
"Mana?" Rendy penasaran, ia menyusul dan berdiri di belakang Windy sekarang.
"Tuh yang lagi duduk sendiri." Windy menunjuk dan menghampiri Reza.
Rendy mengikuti Windy dar belakang, ia ingin memastikan. Bahwa cowok yang ditunjuk Windy barusan, adalah teman dekatnya. "Lah ... Reza? "
Windy menoleh berhenti dan menoleh ke belakanh. "Kamu kenal Reza?"
"Kenal lah, dia kan teman dekat gw. Terus gw kesini buat ketemu dia juga dan lu inget gak? Rumah di samping lu yang gw bilang itu rumah temen gw, nah itu rumahnya Reza," jawab Rendy sembari tersenyum.
Reza yang dari tadi tertidur dan menyender pada tembok, tiba-tiba terbangun karena mendengar suara bising. Reza menoleh ke belakang melihat dua orang tengah berdiri disana. "Ren lu ngapain?"
"Gw kesini buat nyarti lu. Oh ya ... lu mau kenalan sama Windy kan?" celetuk Rendy, membuat Windy dan Reza terkejut.
"Hah?" Windy melirik bingung Rendy dan Reza secara bergantian.
Bersambung ➽➽➽➽
__ADS_1